Remis

Valeska mengetatkan pegangan ke tepi kursi sebelum beranjak tegak. Decit karet roda, berpadu dengan kelentingan metalik dan kasak-kusuk bariton, serta-merta menghampiri pintu. Sesaat kemudian, mereka semua hening. Daun pintu berat membuka perlahan.

Meranti. Satu dari hanya tiga manusia yang diyakini Valeska mampu menggantikannya beberapa bulan lagi. Di belakangnya, kanan dan kiri, sepasang pria berkacamata hitam berjalan pelan, mengimbangi kecepatan gelinding sepasang roda berkaret hitam di bawah pinggangnya. Mereka bertiga menghampiri meja Valeska. Ia buru-buru menolak, mengarahkan mereka ke sebuah meja luas yang membentang di pojok kosong ruangan.

“Di sana saja. Aku perlu bicara dengannya di depan meja yang itu.”

Dua pengawal itu sudah tahu apa maksud Valeska. Pengawal pertama menghidupkan sebuah kenop hingga meja itu bergetar pelan, lalu berpendar menyilaukan, sebelum meredup kembali dan dunia datar palsu di dalam sana memasuki mode siaga. Penuh kenop lain, namun semuanya virtual. Pengawal itu lalu lenyap sesaat, untuk kembali dengan dua seloki yang sama-sama telah dituangi anggur putih. Pengawal kedua memastikan semua baut, mur, dan sambungan logam beroda itu tidak mungkin cerai-berai seketika. Tak perlu menunggu lama, mereka berdua pamit. Valeska mengangguk, lalu menunggu hingga mereka menghilang di balik daun pintu.

“Well. Terima kasih sudah datang, Bu Ranti.” Valeska mengangkat gelasnya. Ranti mengikuti. Gelas berdentingan. Valeska merapatkan tepi seloki ke bibirnya yang berpulas merah menyala. Ranti tergeragap sesaat, seperti ingin bicara, tapi ditahannya. Valeska mengintip dengan ekor mata. Ditunggunya beberapa detik, diharapnya raut Ranti berubah. Ternyata tidak.

“Bu Presiden….”

“Panggil saya Leska saja, Bu. Ibu lebih berpengalaman,” Valeska berdeham, “saya pikir Ibu-lah yang harus memilih permainan apa buat kita berdua hari ini.”

“Bu Pre—maaf, Leska… aku tahu maksud Anda mengundangku ke sini. Soal pemilihan pimpinan, kan?” Meranti menggeleng, “Semua orang membahas itu saja. Padahal masih setahun lagi. Anda masih punya banyak opsi.”

“Tidak, Bu.”

“Anda harus belajar menaruh percaya ke orang lain, Leska. Anda presidennya.” Jari itu memilih dakon. Tanpa aura, tanpa angin, tanpa tanda-tanda. Dalam sekejap, di hadapan mereka muncul serentetan lubang. Satu lubang besar di ujung kiri, satu di ujung kanan, dan dua belas di antaranya. “Tidak mungkin Anda cuma punya tiga calon, sudah menemui dua di antaranya sebelum aku, lantas Anda berharap aku adalah jawaban yang Anda cari.” Meranti menggeleng, membetulkan duduknya sembari memajumundurkan sepasang roda itu beberapa kali.

Wajah Valeska memadam. Entah karena ia tak terlalu pandai bermain dakon, ataukah karena ia malu rencananya dilucuti sampai bugil. Sebagai penganut aliran konservatif, Valeska tak pernah mau cuma berpangku tangan menunggu afirmasi rakyat jelata lewat omong dan aksi kosong yang bertajuk pemilihan pimpinan. Itu seperti meletakkan negara di atas putaran rolet. Bahkan setelah tahu ia tak bisa menjabat lagi sehabis ini, ia tetap ingin jabatannya jatuh ke orang yang bisa ia percayai. Orang yang mana bahunya bisa ia pakai bersandar; tanpa peduli dia lelaki atau perempuan, tanpa peduli ia sanggup berdiri dengan dua telapak kaki atau harus selalu berkendaraan.

Susah payah dikumpulkannya lagi serakan harga diri yang berkeping di tanah itu, Valeska mendesis, “Bu Ranti, saya tidak memilih satu dari tiga. Satu dari lima. Saya menguji lewat permainan.” Sambil menunggu Meranti—yang tanpa permisi langsung mengambil giliran jalan duluan—Valeska memutar-mutarkan jari telunjuk mengelilingi pinggir lubang besar miliknya.

“Aku sudah tahu reputasimu dalam hal permainan, Bu Presiden. Masalahnya, Presiden seharusnya tidak bermain di layar.” Decit roda itu menggeleser mendekati Valeska. Semakin dekat, semakin decit itu ia telingai dengan nyerinya. Meranti telah berhadap-hadapan dengan Valeska. Nyaris rapat. Tangan mereka bisa saling jangkau. Atau saling jambak.

Telunjuk renta berkuku pendek rapi itu senada dengan kerimut wajahnya, siap menunjuk, “Bermain itu di sini, Leska.” Pelipis itu belum lagi ditinggal pergi sang nyeri, kini disiksa lagi dengan hunjaman ujung jari itu. “Dan di sini,” seraya Meranti memindahkan jari yang sama tepat ke tengah dada Valeska. Ia menjauhkan badan, “Giliranmu. Kita lihat, apa yang akan terjadi dengan permainan ini.”

Valeska mengambil biji-bijian virtual dari lubang yang isinya paling sedikit. Disebarnya biji-bijian itu ke lubang-lubang berikutnya. Pendar layar menunjukkan skor sama kuat. “Bukan soal menang atau kalah, Bu. Dulu sekali, kita diajari orang tua untuk bermain seperti ini. Memangnya mereka mengajari kita untuk bertanding semata-mata demi menang dan kalah?”

“Aku tidak ingat, Bu Presiden.”

“Seingat saya tidak. Entah siapa yang memulainya, Bu.”

Salah satu lubang milik Valeska tinggal berisi satu biji. Meranti mulai menerawang, berpura-pura tidak memperhatikan. “Aku memang tidak ingat. Seingatku, hidup kita terlalu banyak diisi urusan menang dan kalah. Sekolah. Ekonomi. Percintaan. Politik. Perang. Semua berebutan tahta yang bernama menang. Orang hidup untuk menang dan hanya untuk menang. Tentara negara tetangga itu dulu berpikir kalau aku dibuat jadi begini, mereka menang. Buktinya? Akhirnya kita yang memenangkan perang itu, kan?”

Belum sadar akan bahaya yang mengancam biji-bijinya, Valeska menjentikkan jari beberapa kali, “Menang dan kalah itu ada ketika sesuatu dikuantifikasi. Kalau tidak?”

“Koalisi akan terasa sangat salah kalau Anda tidak tahu berapa persentase suara yang mereka dapat, bukan?”

“Permainan ini juga begitu.”

“Maksudmu?”

“Permainan ini akan berakhir lucu kalau kita memutuskan tidak ada menang dan kalah. Aku pernah melakukannya beberapa kali,” Valeska mengambil bijinya banyak-banyak. “Namun, apakah kita puas jika kita cuma bermain demi kesenangan? Masih maukah kita bermain kalau menang dan kalah itu tak pernah ada?”

“Kalau jawabanku tidak?”

“Kita bisa akhiri sekarang juga, Bu.”

“Aneh. Aneh sekali. Kenapa, Bu Presiden? Aku pernah menjawab ya, dan beginilah aku sekarang. Inilah akibatnya!” Ia menunjuk sambungan antara pinggangnya dan perangkat logam beroda dua yang rumit itu; pengganti kedua tungkainya mulai dari paha. “Mereka minta kedua tungkaiku! Cuma gara-gara aku menawarkan kemungkinan untuk meniadakan menang dan kalah! Aku tidak pernah tahu apa yang akan Anda lakukan nanti, Bu Presiden.”

Meranti meninggalkan Valeska yang masih mengernyit, menghitung saksama. Siasatnya tidak boleh gagal. Kepalanya tidak boleh hilang. Ia mengambil sejumput biji, tidak banyak, namun berakhir pada satu lubang kosong yang bersarang tepat di hadapan Valeska. Serangan berikutnya mendarat. Lagi, lagi, dan lagi. Sudah jelas presiden petahana itu akan kalah bermain. Amat telak. Ia sadar, itu pun sangat jelas. Gerakan selanjutnya kaku. Mau dihitung dari sebelah mana pun, ia akan bertekuk lutut.

“Lebih baik begini, Bu Presiden,” Meranti setengah berbisik, “aku tahu Anda kehabisan calon. Aku bersedia jadi calon penggantimu, dengan satu syarat.”

Valeska menimbang. Ia kalah berstrategi. Memang cuma permainan dakon. Besok, mungkin cuma perihal menerjemahkan nomor telepon musuh dengan dekak-dekak. Besoknya lagi, mungkin cuma soal membubuhkan tanda tangan. Mungkin semuanya begitu sepele.

Namun….

“Aku tak mau negara kita hancur karena kita sibuk dengan urusan menang dan kalah melawan orang-orang kita sendiri, Bu Ranti,” Valeska menelan ludah.

“Silakan.”

Serangan terakhir. Layar berpendar lebih terang. Empat puluh empat lawan lima. Permainan selesai.

“Lupakan soal ketiadaan menang dan kalah. Kita anggap kita remis. Jadi, Anda cuma punya satu pilihan. Selanjutnya, kita cuma punya satu pilihan.”

Valeska menatap Meranti. Ia mencari tanda. Ia mencari pertanda. Ia menyelidik sinar pengkhianatan. Tidak ada.

“Pilihan Anda adalah saya, Bu Presiden.”

Seketika, Valeska memperoleh jawaban atas kalimat selanjutnya. Sekali lagi, ia mengetatkan pegangan pada tepi kursi. Kali ini, ke tepi kursi roda Meranti.

“Pilihan kita selanjutnya adalah menang,” bisiknya.

Meranti menyungging puas.

 


(Jakarta, 19/07/2017, 1146 kata. Juara III Kompetisi Cerita Pendek Storial-NulisBuku-Giordano #Agustusan #OneIndonesia Let’s Play and Stand Together, 15-21 Juli 2017. Dimuat dalam antologi tanpa ISBN dari NulisBuku: Kaki Kayu Mak Leha–Kumpulan 15 Cerita Terbaik #Agustusan)

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s