Cara-cara Menghindari Liontin Waktu: mengelola waktu dalam menulis

(ringkasan materi sharing “Mengelola Waktu dalam Menulis” di grup kepenulisan ProsaTujuh, 29 Mei 2018)

  1. Membagi waktu buat menulis adalah persoalan prioritas. Jika saat ini ada setidaknya tiga hal yang lebih penting dan mendesak buat hidupmu daripada menulis, jangan menulis dulu. Bereskan setidaknya satu dari tiga urusanmu, baru pikirkan menulis. Percayalah: kita tidak akan bisa menulis dengan baik dalam pikiran kalut (atau kalau ada yang mengaku bisa, aku tidak percaya itu).
  2. Milikilah pekerjaan primer dan jadikan menulis pekerjaan sekunder—tolong realistislah. Tentang ini, aku juga pernah membahasnya di Quora Indonesia.
  3. Sama seperti hobi lain, menulis butuh pengorbanan (waktu). Jika ingin serius menulis, kurangi waktumu untuk hobi lain, atau kalau tidak bisa, kurangi jam tidurmu.
  4. Jangan lupa bahwa menulis itu hobi yang ke mana-mana berbarengan dengan kebiasaan membaca. Jadi, kalau mau menekuni hobi menulis, harus ikut menekuni hobi membaca. Sama saja dengan sekali mendayung harus lewat dua pulau.
  5. Kalau buat menulis saja kita masih menuruti mood, artinya kita belum menganggap menulis sebagai hal yang penting buat kita. Menulis seharusnya tidak menunggu mood. Mau mood bagus atau jelek—hajar.
  6. Kecepatan itu penting. Bukan segala-galanya, tetapi menurutku tetap penting. Dengan kemampuan mengetik atau menulis tangan dengan cepat, kita bisa mengalirkan kata-kata ke tulisan lebih cepat, daripada kalau tidak bisa mengetik atau menulis tangan dengan cepat.
  7. Ciptakan kebiasaan menulis rutin, sebaiknya setiap hari. Tidak harus banyak, 300-700 kata per hari saja cukup. Yang penting terbiasa.
  8. Makanlah bacaan yang sesuai selera dan kebutuhan. Jangan memaksakan diri membaca buku yang sedang hype, padahal tak sesuai selera dan tak cocok dengan kebutuhan pengembangan kepenulisan—itu cuma buang waktu, mending putar-putarin koin Go-Pay.
  9. Kalau bukunya memang kalian butuh buat belajar dan mengembangkan ciri kepenulisan, atau buat riset—belilah. Jangan kikir-kikir amat kalau mau maju. Menabunglah, jangan main pesan Go-Food atau main PUBG terus.
  10. Ikut kelas menulis itu perlu, tapi tidak wajib. Carilah pemateri yang keterampilan menulisnya lebih mumpuni daripada diri sendiri, dan—lagi-lagi—materinya harus cocok dengan kebutuhan pengembangan kepenulisan.
  11. Aplikasi pengetik cukup Notes di ponsel dan Word processor bawaan di komputer. Kalau ada dana lebih, beli Scrivener saja—aplikasi ini bagus sekali dan amat memudahkan kerja novelis.
  12. Ikut lomba penting untuk menguji kemampuan. Menang lomba bukan keharusan dalam karir kepenulisan seseorang. Menang lomba biasanya menandakan tulisan kita tepat seperti yang dibutuhkan para juri dan menunjukkan karir kepenulisan berkembang ke arah yang baik. Namun, kalah lomba tidak langsung berarti tulisan buruk—sangat sering kekalahan terjadi karena kekeliruan substansial seperti salah sasaran, tak sesuai selera juri, dsb—dan tidak juga berarti karir kepenulisan berjalan ke arah turun. Kalau menang jangan lalu mengejek karya orang. Kalau kalah jangan lantas berhenti menulis.
Advertisements

Pujasera(m)

Abaikan wejangan dokter untuk olahraga sesering mungkin dan duduk-duduk bercamilan sejarang mungkin, ambisinya menjadi manusia terberat di dunia justru dimulai dari duduk di depan televisi. Mula-mula matanya mengudap saluran kuliner, menelan ludah yang dibuat-buat ketika sup diaduk dan remah bumbu dituang. Seleranya cepat mencicit: dia pindah ke saluran yang saban hari membahas bakso daging tikus, dari penjual yang itu-itu lagi, siaran ulang empat kali sebulan. Seleranya cepat mengarnivora: dia pindah ke kanal binatang buas, ikut mencecap waktu taring predator mengoyak buruannya. Dan terakhir, ketika nafsu kanibalnya membinal, memuncaki klasemen nasional; dia pindah ke saluran kriminal. Manusia tengah berimpit-impit di stasiun, berebut tempat yang diperjuangkan dari pagi, direbus matahari sandal jepit dan keringat, hidup-hidup. Jarinya menjentik, masuk ke televisi, dan—pakai telunjuk dan jempol—memunguti pepes manusia itu. Hari ini, tiga dulu.


Jakarta, 06.07.2018

Jakarta Tanpa Kata Kerja

Gelap Jakarta, pengumuman tak tuntas. Tak boleh lagi, layanan jual-beli begini, di minimarket. Lewat internet saja. Semua lewat internet. Semua sudah di internet. Kaset tua, sayuran segar, cakram porno, daging merah, kecap asin, telur bebek, majalah bekas, air mineral—rasa langu atau segar, aroma tengik atau busuk, kedaluwarsa di depan mata, di monitor saja. Tak sempat lebih dekat, tak bisa lebih jauh. Generasi langgas segenap kabinet, satu tombol untuk semua. Kupon beras tak ada sisa, listrik tak ada, gelap semena-mena, baterai-baterai kosong terlunta-lunta, daya punah oleh tangan-tangan dan kaki-kaki patung manekin.

Begini Jakarta, tanpa listrik, tanpa suara, tanpa kata kerja.


Jakarta, 05.07.2018

Kumpulan RT #nulismini @nulisbuku 2018

Aku baru pertama kali mengikuti program #nulismini-nya @nulisbuku pada 17 Februari 2017. Sebelumnya, aku sudah sering mengamati fiksimini besutan akun @fiksimini sejak tahun 2010. Memang membuatnya susah, sampai sekarang aku belum berhasil-berhasil juga membuat fiksimini yang sesuai dengan maunya akun @fiksimini. Tetapi hal itulah yang membuatku memasukkan RT #nulismini @nulisbuku dalam target kepenulisan 2018–dan celakanya target itu (yang cuma 15) sudah terpenuhi di 3 Juni 2018.

Mungkin ada yang penasaran mengapa aku biasanya menghapus semua #nulismini @nulisbuku-ku yang tidak di-RT? Jawabannya sederhana saja: untuk mengurangi risiko diplagiasi saja.

Ini adalah daftar #NulisMini dari @nulisbuku yang kuikuti di 2018 selama periode Januari s/d Juni dan mendapat RT. Semua tagar dan mention kuhapus agar lebih rapi.

  1. 21 Januari 2018 (kata kunci: Akhir)

MENOLAK RUNTUH. Sudah lima gubernur, rumah sakit tua itu belum juga dibongkar. Pasien terakhir mereka tak kunjung dijemput.

  1. 4 Februari 2018 (kata kunci: Lapar)

LAPAR MATA. Ia mengunyah nasi goreng, lahap sekali, dengan kedua matanya.

  1. 24 Februari 2018 (kata kunci: Pohon)

TAK SEJALAN. Aku menanam wejangan Ibu di awan. Sial, aku terpelanting ke bumi tak lama kemudian, menemui benih yang disemai Ayah.

  1. 9 Maret 2018 (kata kunci: Mata)

SALING TERBUKA AGAR BERJAYA. Pilih kami jadi pimpinan Anda, dan kami akan menjahit ribuan bola mata di awan—satu setiap dua meter. Niscaya tak ada lagi kejahatan dan korupsi di sini.

  1. 17 Maret 2018 (kata kunci: Kepung)

BERPIKIR DI LUAR KOTAK. Demikian keras Dani berusaha. Lima menit kemudian, dia lolos dari kepungan musuh, dengan meninggalkan tubuh lemasnya di lantai.

  1. 17 Maret 2018 (kata kunci: Kepung)

CARA TERJITU. Diadang delapan belas tagihan dan sebelas surat utang, Dani memfotokopi saldo rekeningnya, dua puluh kali sebulan.

  1. 25 Maret 2018 (kata kunci: Kabur)

KERJA PAKSA. Dimulai ketika Sabtu dan Minggu memutuskan kawin lari.

  1. 31 Maret 2018 (kata kunci: Pintu)

CARA MERUSAK PINTU SURGA. Aku dan kakak terlalu tergesa. Kelingking kaki kanan Ibu terjepit tutup peti jenazah.

  1. 31 Maret 2018 (kata kunci: Pintu)

SELAMAT MENEMPUH HIDUP BARU. Bosan dengan omelan istriku, aku nekat menerobos pintu ke mana saja.

  1. 14 April 2018 (kata kunci: Minggu)

RAKYAT PENURUT. Kalender kami ikut kata Presiden saja. Kalau beliau bilang “Istirahat!”, itu artinya hari Minggu.

  1. 22 April 2018 (kata kunci: Tumpah)

CARA JITU DAPAT SERATUS. Siapkan baskom. Siapkan gergaji. Panggil seorang temanmu. Suruh dia buka batok kepalamu. Tumpahkan isinya ke dalam baskom. Bakar sedikit. Siap diminum hangat-hangat, semalam sebelum ujian.

  1. 5 Mei 2018 (kata kunci: Jendela)

METAMORFOSIS PERAMPOK. Rumah korban ternyata belum berjendela. Terpaksa Dani kabur ke dalam tanah. Malang, dia terjebak adonan semen.

  1. 19 Mei 2018 (kata kunci: Menikah)

MENIKAH ITU MAHAL. Tak punya uang untuk beli dua cincin, seorang tukang las menyolder jari manisnya dengan jari manis istrinya.

  1. 26 Mei 2018 (kata kunci: Jalan Raya)

BAGAIMANA AKU DIBUNUH DUA KALI. Jalan raya ke neraka macet total lebih dari seratus kilometer. Tak mau mengantre kelamaan; pembunuhku mengurut dada, memutar balik, dan pulang ke kamarku sekali lagi.

  1. 3 Juni 2018 (kata kunci: Tidur)

PEJUDI KAKAP KALAH TARUHAN. Buku primbonnya tertinggal di alam mimpi.

  1. 9 Juni 2018 (kata kunci: Kutuk)

BALAS DENDAM. Malin pelan-pelan bangkit dari sungkur, meraih badan ibunya, dan memahatnya menjadi patung berlian.

 

Saga Suara Sari

Saya suka segala hal tentang suara Sari: kombinasi serak dan sengau yang saya rasa seksi sekali. Saya selalu senang kalau jam siarannya sudah mulai: dari langit sempurna gelap sampai embun berdatangan pagi-pagi. Kebanyakan dia bicara saja dan bukan menutupi pakai lagu, dia bacakan berita-berita kemarin saja dan bukan berkejaran demi mengumumkan berita baru. Sari mengulang-ulang saja kalimatnya; propaganda, kurasa; pedagogi, kurasa; disuruh orang, pastinya. Beberapa nama lancar disebutnya. Beberapa tempat, beberapa kenangan, beberapa target. Saya tak mau tahu apa yang Sari bicarakan dan mengapa dia bicarakan itu. Saya rela tidak minum tidak makan tidak dilumas berhari-hari, atau juga tak perlu jalanlah beberapa hari, kalau saya bisa terus mendengarkan suara Sari.

Suatu hari, Sari tidak siaran. Penyiar penggantinya, yang sedari sore sibuk memutar lagu-lagu barat kelabu, bilang bahwa dia sakit. Kernet satu dua dan tiga bertanya, saya jawab lempeng, “Sari sakit.” Mereka tak puas. Suara penyiar pengganti itu mereka keraskan, sampai separuh terminal bisa mendengar. Tak biasa: penyiar laki-laki itu menyampaikan berita, paling kini, tentang penangkapan. Penangkapan apa atau siapa, saya tak paham. Di dekat saya, kernet-kernet saling sikut kepengin maju. Telinga mereka terpasang antara dua kutub: seperti panji dan seperti panci; sementara saya terjepit di tengah-tengah, megap-megap menjulurkan antena.

Gelombang penasaran masih terus datang. Iklan operator telepon genggam yang tukang curi pulsa, disambung iklan layanan masyarakat tentang aturan jam malam. Bulu kudukku meremang, seiring semua kernet diam kerontang. Ketika penyiar pengganti buru-buru menyudahi iklan ketiga yang baru saja mulai, kami semua tahu. Ada sesuatu. 

Benar. Ada sirene mobil polisi datang. Tidak cuma satu. Hampir dua belas. Yang mereka teriakkan sama: “Radio! Radio! Musnahkan Radio, pusat penyebar berita kebencian!” Semua kernet tunggang-langgang. Semua lupa pada saya. Tanpa sadar, air mata saya berhamburan, seiring sadarnya saya: saya baru dicari hanya ketika kernet ingin mendengarkan saya, dan saya langsung dilupakan ketika polisi hendak membunuh saya.

Dalam hitungan detik, saya diangkat tinggi-tinggi ke udara. Beberapa seringai polisi tampak di bawah, berlawanan dengan arah antena saya, dan saya tak bisa berbuat apa-apa. Siaran yang berkumandang lewat tubuh saya belum selesai. Penyiar pengganti itu terdengar sedang tunggang-langgang juga, diteriaki “Radio! Radio! Musnahkan Radio, pusat penyebar berita kebencian!” ketika sebuah erangan yang tadinya jauh, makin dekat, makin dekat….

…dan sekarang erangan itu bernyanyi, mengantar remuk badan saya menuju tidur.

Saya suka segala hal tentang suara Sari. Setelah sadar saya segera mati dan Sari yang bernyanyi buat saya, saya senang sekali.

 


Jakarta, 29/05/2018, 393 kata. Prompt Ramadan #7 di komunitas Monday Flash Fiction, kata kunci “radio”.

Es Cokelat Mick

Sejak Mick dititipkan sekamar dan seranjang denganku, aku selalu bermimpi aneh. Sudah empat malam berturut-turut. Di dunia mimpi, aku dan Mick sama saja dengan versi dunia nyata, hanya saja ada tiga perbedaan besar: satu, kami jadi anak kecil lagi; dua, di bawah kami cuma ada kasur yang teramat luas dan tak habis-habis; dan tiga, gravitasi di sini tak sekuat biasanya. Alhasil, yang kami lakukan tiap malam—dalam mimpi, tentunya—juga sama terus: melompat-lompat melawan pegas kasur. Siapa yang melayang terlama, dia yang menang; dan yang menang wajib mentraktir yang kalah dengan es cokelat.

Empat hari berturut-turut, Mick mudah sekali dikalahkan. Dalam mimpi dia pun duduk di kursi roda, sama dengan di dunia nyata. Aku berhasil melayang di udara hingga tujuh detik, sementara Mick masih merangkak sehabis jatuh berkali-kali. Sesekali dia meratap agar aku tidak menginjak dan mengeset di atas rekor buruknya terus. Aku tak indahkan ratap Mick itu, nikmat di atas seluncur es cokelat ke dalam mulutku. Skor semalam delapan detik lawan sedetik-pun-tak-ada dan aku sedang menyuap es cokelat, sewaktu dia tersungkur ditimpa kursinya sendiri. Usai tertawa hingga menitikkan air mata dan sakit perut melilit, baru kusodorka sesendok buat Mick. Tak biasanya, Mick memalingkan muka, tak mau menjawabku. Begitu saja, dan aku terbangun.

Baru saja, mimpi sama kembali lagi. Aku dan Mick bersiap lomba lompat kasur untuk kelima kalinya. Hari ini Mick tampak beda. Selain muncul dalam posisi berdiri, tanpa kursi roda dan tanpa tongkat, Mick mendingin. Sedingin es cokelat, dia tak berkata apa-apa: mohon, aduh, tolong. Benar-benar tak biasanya. Giliran pertama, aku yang melompat, delapan detik lebih sedikit. Gantian Mick. Satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh… dia masih melambung dan belum ada tanda akan kembali. Aku memejam dengan panas malu yang tak tertahankan.

Dan aku terjaga.

Mick tak ada di sebelahku. Tinggal kursi rodanya yang menganggur. Pintu balkon terbuka, padahal berani sumpah semalam sudah kututup. Sambil menahan gejolak tak enak dalam perut, aku terburu berlari ke pegangan balkon, mengabaikan kibar-kibar angin gasal pada kerai.

Ada selembar kertas menempel pada pegangan balkon. “Esnya ada di dapur.” Sepele, tetapi cukup membuatku bingung aku tengah ada di dunia mana. Dengan enggan, aku menoleh ke bawah, dua puluh lantai menuju tanah.

Di atas aspal keras, Mick menyeringai padaku. Di kepalanya ada kucur seperti longsor. Seperti es cokelat yang biasa kusuap.


Jakarta, 28/05/2018, 373 kata. Prompt Ramadan #6 di komunitas Monday Flash Fiction, kata kunci “kasur”.

Menumpang Lewat

Obrolan intraaplikasi situs Tokorporat dot com, 12 November 2016

[guest1155, 11/12/16, 1.24 PM]: Siang
[guest1155, 11/12/16, 1.24 PM]: Toko Klandestian?
[diarmaid1311, 11/12/16, 1.26 PM]: Siang Mbak
[diarmaid1311, 11/12/16, 1.27 PM]: Iya betul
[diarmaid1311, 11/12/16, 1.27 PM]: Ada yg bisa saya bantu?
[guest1155, 11/12/16, 1.27 PM]: Sy minat beli kameranya
[guest1155, 11/12/16, 1.28 PM]: Yg Arsenalic MXIR 2275
[diarmaid1311, 11/12/16, 1.28 PM]: Oh
[diarmaid1311, 11/12/16, 1.29 PM]: Yg edisi spesial
[guest1155, 11/12/16, 1.30 PM]: Iya
[guest1155, 11/12/16, 1.31 PM]: Harganya itu bener cm 1.4 jt?
[guest1155, 11/12/16, 1.31 PM]: Kok murah
[diarmaid1311, 11/12/16, 1.32 PM]: Emang segt Mbak
[guest1155, 11/12/16, 1.33 PM]: Fiturnya apa aj?
[diarmaid1311, 11/12/16, 1.33 PM]: 16 mp, bawaan f/2, iso sampe 1600, zoom sampai 28x, flash, infrared, nightvision
[diarmaid1311, 11/12/16, 1.34 PM]: bisa liat t4 gelap
[diarmaid1311, 11/12/16, 1.34 PM]: foto malam2
[diarmaid1311, 11/12/16, 1.35 PM]: bawah tanah, panorama malam
[guest1155, 11/12/16, 1.35 PM]: Eh?
[guest1155, 11/12/16, 1.36 PM]: Ada IR?
[diarmaid1311, 11/12/16, 1.36 PM]: Namanya aj MXIR mba
[guest1155, 11/12/16, 1.36 PM]: Oh iya ya
[guest1155, 11/12/16, 1.39 PM]: Ok
[guest1155, 11/12/16, 1.39 PM]: Sy bungkus
[guest1155, 11/12/16, 1.40 PM]: Deal
[diarmaid1311, 11/12/16, 1.42 PM]: Oke
[diarmaid1311, 11/12/16, 1.43 PM]: Tlg transfer ya Mbak
[diarmaid1311, 11/12/16, 1.43 PM]: Ke rekening ini
[diarmaid1311, 11/12/16, 1.43 PM]: Bank Portalmess Fathom
[diarmaid1311, 11/12/16, 1.44 PM]: Diarmaid Caperland
[diarmaid1311, 11/12/16, 1.44 PM]: 9903.2018.74691
[diarmaid1311, 11/12/16, 1.45 PM]: Plus ongkir ya Mbak
[diarmaid1311, 11/12/16, 1.45 PM]: Ini dgn mbak siapa?
[guest1155, 11/12/16, 1.45 PM]: Armenta
[guest1155, 11/12/16, 1.46 PM]: Oke Mbak
[guest1155, 11/12/16, 1.46 PM]: Sip
[guest1155, 11/12/16, 1.46 PM]: Ditunggu
[guest1155, 11/12/16, 1.55 PM]: Sy udh transfer ya
[diarmaid1311, 11/12/16, 1.57 PM]: Sip
[diarmaid1311, 11/12/16, 1.58 PM]: Segera dikirim Mbak
[guest1155, 11/12/16, 1.59 PM]: Tengkyu

Portalmess Lighthouse Daily, 16 November 2016, rubrik Lintas Negara

Portalmess, Selasa 11/15 – Kasus pembunuhan terhadap Dvorak Garinkov (41), yang sudah menjadi misteri sejak Mei lalu, baru saja mendapat titik terang anyar. Diarmaid Caperland (28), seorang pemilik toko daring, tiba-tiba muncul dan memberikan kesaksian mengejutkan. Ia mengatakan bahwa pembunuh sebenarnya bisa dicari dengan menggunakan bantuan kamera infrared. Anehnya, kamera tersebut baru saja dijualnya ke seorang pembeli, hari Minggu lalu.

Dicap ingin cuci tangan dari masalah, Diarmaid mengamuk saat diserbu awak media. “Pokoknya saya gak mau buka identitas pembelinya. Kasihan, dia perempuan single. Saya akan ngomong ke polisi soal ini, tapi tidak ke kalian! Titik!” tandas Diarmaid saat diwawancarai oleh kru kami.

Liputan komprehensif menyusul.

Yahoo! Messenger, 18 November 2016

armenta0704 (18:11): Mas wasis
armenta0704 (18:12): Saya udh di t4
wasissamulya4ever (18:12): Oh sip
wasissamulya4ever (18:13): Kmu kebagian foto rubanah ya
wasissamulya4ever (18:13): Lgsg aja ke sana
wasissamulya4ever (18:13): Foto yg bnyk
armenta0704 (18:15): Oke mas

wasissamulya4ever is away

wasissamulya4ever (18:18): Armen?
wasissamulya4ever (18:18): Kmu di mn?
armenta0704 (18:19): Mas wasis
armenta0704 (18:19): Ini kamera serem e
armenta0704 (18:20): Kok bs lihat mcm2 yak
wasissamulya4ever (18:21): Mksudmu apa men?
armenta0704 (18:22): Kek ada hantunya gt
wasissamulya4ever (18:22): Heh?
armenta0704 (18:23): Td aku foto 2x
armenta0704 (18:23): Tau2 ada muka org
armenta0704 (18:24): Mirip sm si anu
wasissamulya4ever (18:24): Siapa?
armenta0704 (18:25): Siapa namanya? Dvorak?
armenta0704 (18:26): Yg mati Mei kmrn
wasissamulya4ever (18:26): Hah?
armenta0704 (18:26): Sama pembunuhnya mgkn
wasissamulya4ever (18:27): Eh
wasissamulya4ever (18:27): Ini kamera Diarmaid yak?
armenta0704 (18:28): Ho oh
armenta0704 (18:28): Aku beli di tokorporat
armenta0704 (18:28): Kok mas tau?
wasissamulya4ever (18:28): Ya iyalah
wasissamulya4ever (18:29): Itu lg heboh
armenta0704 (18:29): Kok aku ga tau?
wasissamulya4ever (18:29): Sini, tak kirimi fotone si diarmaid
wasissamulya4ever (18:31): [image0439.jpeg 122 kb – sent]
armenta0704 (18:32): Waaa
armenta0704 (18:33): Ternyata dia yg bunuh ya
armenta0704 (18:33): Si penjualnya
wasissamulya4ever (18:34): Ih, buang deh tuh kamera, men
wasissamulya4ever (18:34): Pakek kameraku
armenta0704 (18:35): Oh bntr mas
armenta0704 (18:35): Aku naik
armenta0704 (18:36): Aku msh di basement
wasissamulya4ever (18:36): Ya udh
wasissamulya4ever (18:37): Kutungguin

armenta0704 is away

wasissamulya4ever (18:42): Armen?
wasissamulya4ever (18:43): Kmu di mana?

armenta0704 is offline

wasissamulya4ever (18:51): Armen?

armenta0704 is offline

Portalmess Lighthouse Daily, 22 November 2016, rubrik Lintas Negara

Portalmess, Sabtu 11/20 – Diarmaid Caperland (28), pelapor tindak pidana teranyar dari kasus pembunuhan Dvorak Garinkov (41), dilaporkan menghilang secara misterius. Keluarga sudah dimintai keterangan, namun tidak ada yang mengetahui keberadaan pemilik toko daring Klandestian itu.

Di waktu nyaris bersamaan, Armenta Windrati (30), fotografer interior yang diduga kuat membeli kamera inframerah dari Diarmaid, ditemukan tewas, di tangga rubanah gedung Sempreverde Soho, Jumat 11/18. Tidak ditemukan tanda kekerasan di tubuh korban. Saksi Wasis Samulya (31) bungkam saat ditanyai para wartawan. Anehnya, sama sekali tidak ada kamera yang ditemukan di tempat kejadian.

Laporan komprehensif akan menyusul.

Surel wasissamulya@gmail.com, 23 November 2016

From : Wasis Samulya [wasissamulya@gmail.com]
To : Caperland, Diarmaid [diarmaid.caperland@gmail.com]
Date : Wed, 23 Nov 2016, 04:27 am
Subject : Kamera Armenta – Arsenalic MXIR 2275
Mailed-by : gmail.com
Signed-by : gmail.com
Message :

Dear Diarmaid,

Mungkin Anda sudah tahu bahwa Armenta, rekan saya yang membeli kamera Anda, tewas secara misterius. Konon sebelum tewas, Armenta sempat bilang bahwa kamera ini bisa menangkap citra Dvorak Garinkov dan Anda, meskipun jelas di sana tidak ada kalian. Kejadiannya di rubanah rumah yang sedang kami garap, alamatnya di Harvestry Road nomor 91.

Anehnya, kamera itu menghilang begitu saja.

Setelah mendengar bahwa kemarin Anda mencari saya, baiklah. Intinya, saya tidak ingin memperpanjang masalah. Saya juga tidak berniat mencari kamera itu kembali. Saya hanya ingin hidup tenang.

Terima kasih.

Wasis Samulya

Akun Twitter Portalmess Safety, 24 November 2016

Portalmess Safety
@PortalmessSafe

Wasis Samulya, fotografer interior, ditemukan tewas di rubanah Harvestry Road 91. Tidak ada tanda kekerasan lain. http://t.co/ue92osjp

11/24/16, 19:40

Akun Twitter Portalmess Safety, 26 November 2016

Portalmess Safety
@PortalmessSafe

Ditemukan mayat yg diperkirakan sdh tewas >3 bulan di Harvestry Road 91, teridentifikasi sebagai Diarmaid Caperland. http://t.co/1a34ogjr

11/26/16, 12:49


(Jakarta, 12/11/2016935 kata. Pernah diikutsertakan dalam kompetisi Creepypasta Bukune dalam rangka Halloween 29 Oktober s/d 14 November 2016. Tidak ada pengumuman hasil lomba hingga enam bulan berselang, sehingga kuanggap tulisan ini kembali jadi milikku. Epistolari ini ditulis hanya dalam satu jam.)

Lima Cara Meramaikan Kembali Bayi yang Terdiam

Selama semua pintu tutup, semua jendela redup; rasa tenteram akan tangkup: aku aman dari segala kejar.

Begitu saja, sudah paling benar. Penghilang sakit habis, warung tutup, dia raung-raung menangis, amarahku meletup. Bukan salahku.

Anak itu belum naik-naik, aku mengurut dada.

Ada bunyi tetes-tetes memercik, tadi tidak ada. 

Otakku memutar, terbelah antara kepala pengar dan payudara memar.

Dalam mimpi Rangga membisikiku beberapa baris kalimat. Di sebelahku ada dua gelas. Persis sama, tanpa isi, dengan sisa lipstik di salah satu pinggir. Mereka bisa kuadu biar denting. Kupecahkan saja biar ramai. Biar hanya aku yang mengaduh, tidak apa. Itu baru satu cara. Selain itu, seharusnya minimal ada lima cara meributkan kembali bayi yang telanjur diam, tanpa harus menengoknya di bawah sana.

Pasti ada jalan. Pertama-tama, aku perlu menemukan sandalku.

Cara 1:

Kuturunkan kaki ke tempat biasa kutaruh sepasang sandal putih biru: sebelah kiri tempat tidur, agak menjorok dekat tiang jauh, hanya butuh tiga langkah ke pintu. Sandal itu tinggal sebelah. Yang satu entah ada di mana. Kuraba-raba dengan kaki, dia ada di bawah pintu rak. Ibu jari dan telunjuk kaki mengempit jepitnya, lapik karet pletak-pletok, aku lolos dari daun pintu. Engsel pintu kurang minyak, derit menjerit melarangku pindah tempat, sakit kepala kembali tanpa permisi. Kugerakkan lagi daun pintu, makin keras jerit engsel itu. Kuintip di selongsong paku dan selot pintu, karat-karat mengerat dan menunggu. Mereka siap sambut dan jambak kepalaku, kalau-kalau mereka terus kuganggu.

Inilah yang kulakukan: kuceraikan paku dan selot dan selongsong dan semua. Daun pintu lepas berayun-ayun, nyaris ambruk menimpa kepalaku. Semua tetes minyak kuperas habis, hingga tak ada lagi sisanya buat engsel itu agar leluasa. Derit yang tercipta kemudian terlalu keras. Terlalu menusuk kuping sampai membuat pusing.

Kuintip ke dalam kamar. Tepat ke ranjang.

Tetap, tak ada kepala yang terjulur di tepi sana.

Cara 2:

Kemarin Mirat berjualan keliling. Sepasang panci-wajan terlego dari kepalanya ke dapurku. Uang hasil mengoper susu ke tetangga-lah yang membuatku sanggup membelinya; kebetulan panci lama sudah penuh jelaga, wajan juga tak jelas lagi bedanya dengan jelantah. Transaksi kami mulus sampai akhir. Satu-satunya yang kulupa hanya bahwa Mirat mengambil uang kertasku terlalu banyak, dan wajan yang kudapatkan rupanya bocor.

Aku tak pernah diajari cara menambal wajan yang sudah berlubang di dekat kutub terendahnya. Aku juga tak tahu bahan apa bisa menambal wajan bocor tetapi tidak merusak makanan yang kumasak. Menambal wajan dengan panci pun rasanya tidak tepat. Menggunakan panci sebagai pengganti wajan juga sepertinya aneh—beberapa jenis makanan tak suka memanjat dinding, lebih suka mendaki bukit.

Inilah yang kulakukan: mengoyak tepi wajan lamaku yang belum tersaru jelantah, lalu menjahitnya dengan segala cara—aku lupa jenis benang dan jarumnya—sampai mereka bersatu. Wajan hasil tambalanku itu kemudian kupakai untuk memasak kapal selam yang melempem dan tinggal satu-satunya. Sesekali ikan bertarung lawan minyak dan sesuatu melencit, mendarat cepat di punggung tanganku, melentingkan kulit di situ dalam hitungan detik: teriakku sejadi-jadinya.

Seharusnya ada orang yang mengiraku dirampok, atau mau digerayangi, atau tengah berhadapan dengan sabet bilah pisau yang siaga di antara rahang dan batang tenggorok. 

Tidak. 

Tidak ada. 

Tak ada kepala yang terjulur di tepi sana.

Cara 3:

Beberapa paman mengeluh nasib sial menimpa mereka tanpa ujung ketika cermin mereka terbelah. Pepatah yang bukan Rangga bilang buruk mukalah penyebab pembelahan cermin yang paling sering. Namun, karena aku tahu persis muka paman-pamanku tidaklah buruk, pasti cermin itulah yang seperti makhluk bersel satu, bisa membelah dirinya sendiri.

Setidaknya, itulah yang kupercayai ketika pecahan beling yang kutempel di salah satu pintu lemari tiba-tiba membesar jadi berbentuk seperti benua Australia yang termosaik.

Letak lemari itu persis di luar pintu kamarku, rapat ke dinding tanpa sela sedikit pun untuk napas sang tembok. Setiap hari aku mematut diri di sana sehabis mandi, telanjang maupun berpakaian. Tentu setiap hari juga aku melihat mukaku; tahu seberapa memburuknya muka itu dari hari ke hari, dan berapa besar peluang keburukan mukaku itu akan membelah cerminku pada akhirnya. Yang kutahu Mirat mengataiku cantik dan pemuda warung mengataiku manis. Aku tak pernah tahu seperti apa mukaku waktu marah, apalagi kalau marahnya karena pelantang hidup itu meraung.

Inilah yang kulakukan: aku mengambil martil, satu-satunya perkakas kelaki-lakian yang kusimpan di gudang belakang dekat dapur, lalu mengayunkannya kuat-kuat, tepat ke tengah benua Australia di lemariku.

Mendengar cerai-berai cerminku, seharusnya semua nyawa yang berungu bangun mencariku.

Tetapi tetap tak ada kepala pegari dari mana-mana.

Cara 4:

Dedi gemar mendengarkan lagu-lagu Arctic Monkeys dengan volume yang dia sangka menggetarkan jiwa raga, tetapi bagiku menggetarkan nafsu marah paling membara. Sial bukan kepalang, orang tua Dedi tinggal persis di sebelahku, dan sudah barang tentu Dedi ikut pula tinggal di situ. Bapak-ibunya takluk pada Arctic Monkeys, membiarkan anak kecil itu memasang setengah-jambul-setengah-pompadour seperti Alex Turner, juga membiarkan anak itu menulikan seisi jalanan dengan kekencangan putaran kasetnya.

Aku juga punya pemutar kaset di rumah. Dulu waktu semua masih baik-baik saja, lagu dangdut paling sering berkumandang, diikuti beberapa lagu pop cengeng masa lalu dan lagu kacangan—teman guncangan truk ketika menempuh jalan antarkota yang tiga tapak tanpa aspal. Perlahan lagu-lagu memudar dan hilang, dan pemutar kaset itu membalas perselingkuhan kami darinya dengan menyulam debu setebal-tebalnya.

Ini yang kulakukan: aku sudah mengamati Dedi sepanjang malam selama seratus hari lebih. Sewaktu Dedi berangkat sekolah, aku memanjat tali jemuran untuk mengurangi kecurigaan, dan mendaratlah aku di tempat tujuan: dapur. Di sanalah Dedi menaruh semua kaset berisiknya. Kukantongi album AM, kupanjat balik tali. Jemuran terjengkang, juga pemutar kasetku yang tiba-tiba saja terpuaskan dahaganya. Berisik musik rock menyambangi udara dengan cepat—persetan dengan suara pekik Dedi yang mulai melengking di luar sana—termasuk ke kamarku.

Tetapi tetap tak ada kepala yang mencuat dan menandakan kehidupan.

Cara 5:

Semua kucoba. Semua tak mempan. Semua ujung lagu Arctic Monkeys hangus, semua pemain orkestra tak mangkus, suara lesap ke pampat udara; aku tahu aku tak becus. Aku mengambil botol sambal, membuang kutang, pulang ke ranjang, kembali ke posisi baringku yang semula. Aku mengurut dada dan mengusap kepala yang dari tadi sudah tak ada. Aku memberanikan diri menoleh ke bawah. Ke tempat di mana kepalanya kutunggu-tunggu.

Kepala itu keras di beberapa tempat, lembek di tempat-tempat lain. Rabaanku dulu tak pernah keliru tetapi aku berharap sekali saja aku akan keliru: tak ada denyut di kepala itu. Lalu kubalik badannya, juga kepala yang terkulai lemas di puncak leher gempalnya. Mata itu membuka. Mulutnya juga. Kuselipkan puting bersambal pada langit-langitnya. Orkestra siap mulai lagi. Giliran mereka yang menunggu aba-abaku.

Dalam ketenangan yang telanjur diam.

Jakarta, 19/05/2018 | 1050 kata
Dimaksudkan sebagai sekuel CUBIT oleh Harun Malaia (a.k.a. Aulia Rahman), untuk diikutsertakan dalam giveaway di sini.

Kisi-Kisi Ujian Akhir Gelar Presiden

Kuis: Yuk Ukur Kemampuanmu dalam Membangun Sebuah Negara!

 

Survei dari Nelson mengemukakan bahwa 53% dari kaum pria kalangan atas di era 2210-an ini bercita-cita mendirikan negara sendiri dan menghimpun kekuatan berupa rakyat yang disebut juga minion—sesuai akronim “maju, intelek, nasionalis, imajinatif, orisinal, dan nyaman”. Bahkan 24% dari pria berusia 25-40 di negara kita ini sudah punya pekerjaan sampingan sebagai presiden para minion, lo!

Nah, bagaimana dengan kamu, para Tislers? Mungkin saja para Tislers sudah ada yang berencana menunggangi feri dan berlayar ke pulau kecil terdekat untuk membeli dan mendirikan negara di sana? Sebelum sauh ferimu bertolak, yuk, simak dulu peluang keberhasilanmu dalam membangun negara!

SOAL 1

Apa yang memotivasi kamu membangun suatu negara?

A. Ikut-ikutan teman, demi memuaskan kedengkian. Dia bisa, kenapa saya tidak?
B. Saya bercita-cita mendirikan partai; sudah punya duit, tetapi belum kesampaian.
C. Saya tidak tahu mau menghabiskan uang saya ke mana.
D. Saya sudah siap mencalonkan diri jadi bupati di tahun 2217. Membangun negara bisa jadi ajang saya latihan. Semacam simulator.

SOAL 2

Kamu punya 1.000 minion. Berapa lama waktu yang dibutuhkan negaramu untuk menghasilkan 50.000 potong pai?

A. Tergantung minion itu ada di kasta mana. Kasta nirwana: 1 tahun (mereka perlu waktu menanak pikiran). Kasta semenjana: 3 hari (mereka terbiasa kerja cepat, kok).
B. Tergantung saya sedang suka pai atau tidak. Sedang suka: 3 hari. Sedang tidak suka: 1 tahun.
C. 3 hari.
D. 1 tahun.

SOAL 3

Bagaimana tindakan kamu sebagai Bapak Peneroka Negara kalau ada minionmu yang berselisih paham sampai ramai?

A. Diam saja. Minion saya sudah dewasa dan saya bukan orang tua mereka. Biar mereka yang selesaikan masalah mereka sendiri.
B. Melerai dan membela salah satu, lalu memvonis yang satunya. Keadilan harus ditegakkan demi rasa aman minion!
C. Melerai dan melenggang seperti tidak ada apa-apa yang terjadi. Yang penting tenang, jangan ribut.
D. Siapa ribut, saya hilangkan!

SOAL 4

Apa yang akan kamu lakukan apabila negara milik sahabatmu berhasil menghelat pagelaran seni hebat macam Glastonbury atau Java Jazz?

A. Kepanasan, dong! Saya akan buru-buru cari sponsor, gelontorkan modal dan duit dan saham dan kalau perlu celana saya atau sarung bantal saya yang beriler juga boleh, demi bisa bikin acara atau festival yang lebih besar!
B. Saya masukkan wacana itu dalam daftar pencapaian negara dalam lima tahun ke depan. Selama itu, saya akan pelan-pelan cari modal.
C. Saya kenal sama vokalis sebuah band terkenal. Coba saya lobi lewat dia dulu.
D. Daripada menggelar acara begitu, mending saya menggelar festival memandikan luak pakai tuak.

SOAL 5

Seperti apa cara kamu mulai membangun ekonomi para minion?

A. Tawarkan sistem pasar yang menarik. Mereka bisa jualan apa saja.
B. Berikan celengan babi dengan saldo sama rata ke semua minion lalu didik mereka dengan materi kursus Kelola Uang Lintas Klasifikasi Aset (KULKAS).
C. Menanggung pangan sandang papan pendidikan minion dan buka lapangan-lapangan pekerjaan yang saya biayai langsung. Lalu saya tarik pajak yang besar.
D. Membagikan aset kepada minion lalu memasukkan hiu besar ke dalam kolam tempat minion hidup.

SOAL 6

Kamu mungkin mendengar berita bahwa belakangan ini daya beli minion sedang lesu karena omset jualan masing-masing sedang tipis. Bagaimana tindak lanjut kamu sebagai Bapak Peneroka Negara?

A. Tetap selenggarakan acara atau festival! Yang penting nama negara saya dikenal orang!
B. Gelontorkan yang lagi buat para minion. Saatnya bakar duit!
C. Saya teliti komoditi mana yang bisa dijual minion ke luar negeri dan coba saya optimalkan.
D. Pinjam modal saja ke teman saya yang bapak ibunya konglomerat, buat disuntikkan ke minion. Gampang.

SOAL 7

Apa yang kamu utamakan ketika membangun fasilitas ranah umum bagi para minion?

A. Tampilan. Asal keren dulu, deh. Fungsi-fungsi nanti saja, sambil jalan.
B. Ketahanan. Yang penting pakai material terbaik dan jangan lapuk oleh cuaca.
C. Kemudahan akses.
D. Jumlah dan pemerataannya.

SOAL 8

Bagaimana kamu menyemangati minionmu yang patah semangat kalau bisnisnya tak laku?

A. Itu artinya mereka kurang getol berpromosi. Saya akan suruh mereka promosi terus saja.
B. Perbantukan tim marketing. Mungkin minion-minion itu butuh teman untuk menggali potensi mereka.
C. Gelar acara dan festival.
D. Ajak pesta, minum tuak.

 

SKOR KAMU

1. A = 0, B = 1, C = 2, D = 3
2. A = 0, B = 1, C = 2, D = 3
3. A = 0, B = 1, C = 2, D = 3
4. A = 0, B = 1, C = 2.5, D = 2.5
5. A = 0.5, B = 0.5, C = 2.5, D = 2.5
6. A = 0, B = 1, C = 2.5, D = 2.5
7. A = 0, B = 2.5, C = 2.5, D = 1
8. A = 0, B = 3, C = 2, D = 1

 

INTERPRETASI

Skor total 26.5-30
Selamat! Kamu adalah calon presiden terkemuka yang akan memimpin minion menuju ekonomi dunia baru yang cemerlang! Saat ini, di seluruh penjuru dunia memang sudah terlengkapi berbagai fasilitas canggih, keamanan, kemudahan, dan otomatisasi. Kamu tinggal mempermulus itu semua dan memberi minion-minionmu akses. Selesai. Mereka akan mendukungmu penuh dan mengelu-elukan namamu di pemilihan pimpinan periode berikut, menyematkan gelar pahlawan pada namamu. Salut!
Skor total 22.5-26
Kamu berpotensi menjadi Bapak Peneroka Negara yang baik, tetapi kamu harus berkaca pada beberapa faktor yang mungkin perlu kamu perbaiki. Coba ambil kursus manajemen, perilaku, atau kepemimpinan untuk mengasah potensi dan keterampilanmu.
Skor total 22 atau kurang
Sayang sekali. Kamu bakal jadi Bapak Peneroka Negara yang gagal. Sifatmu yang keburu nafsu dan segera kepanasan ketika melihat negara tetangga yang lebih hijau atau lebih piawai berstrategi bakal menggiring para minion untuk menjauhimu dan memilih presiden baru. Atau yang lebih buruk, satu per satu minionmu akan mengajukan diri untuk menggantikanmu. Tak ada lagi yang mau jadi rakyat karena semua mau jadi penguasa. Jadi, maaf, kamu tidak cocok berhadapan dengan emban tugas membangun negara baru. Sebaiknya urungkan niatmu sekarang, pulang saja ke istanamu, dan main Sims City saja lewat komputer layar mutakhirmu.

[Jakarta, 16/03/2018, 996 kata] [Diikutkan pada #NulisKilat Storial Platform, ketentuan: premis “seorang pria mendirikan negara baru namun kesulitan mencari rakyatnya”, genre utopia, ending sedih]

Pengkhianatan dalam Tujuh Ratus Kata

Untuk kali pertama dalam hidupnya, gadis itu melihat. Ketika dahinya lepas dari pelukan lutut, yang dilihatnya pertama ialah gelap yang berangsur remang. Kedua ialah remang buram yang berangsur nyata. Ketiga ialah nyata lantas berbeda antara padang dan bulan. Rumput dan kembang dan cercah menghampar gelap nun jauh di bawah, bulan dan pelesatan bintang bergelantungan di atas jumantara ungu. Rumput itu tajam, kembang itu tumpul, bintang itu cepat, bulan itu bulat dan senyum. Purnama, kata mereka.

Gadis itu luruskan kaki, tangan, punggung, dan menapak. Rumput tajam menyambutnya. Karena rumput itu tajam jadilah telapaknya terluka-luka. Meraung-raunglah dia. Datang kembang untuk teteskan sarinya ke atas luka gadis itu. Datang juga sungai untuk teteskan air mata duka citanya ke sana. Ada yang memanggil gemintang berjatuhan, menyinar terang pada merah gelap darahnya. Rumput tertunduk malu dan minta maaf. Gadis itu meringkuk lagi. Dahinya mau dia benamkan lagi dalam pelukan lutut.

Lalu dia yang bersinar terang, paling terang di langit, menyibak-nyibak kawanan awan. Lantas menyapa gadis itu.

Dia Purnama. Sang bulan yang memacak di ubun-ubun gadis itu ketika hari pertama dia melihat.

Dengan sinarnya yang danta dingin, dia panggilkan beberapa gadis yang serupa sebangun sama sisi dengan gadis itu, yang betisnya juga terbaret-baret dan kelim celana di lututnya tercompang-camping. Mereka semua menghampar di padang luas, minum segar dari belaian hangat sungai dan makan langsung dari daging buah ranum dan ranting pohon rindang kala Purnama bilang ingin jalan-jalan sebentar karena bosan. Dia menitipkan sepotong kunci pada gadis itu. Gadis itu bertanya kunci apakah itu. Purnama cuma menjawab singkat. Itu kunci untuk membebaskan bunga dari gerumbul kelopak yang hangat, agar putiknya mencuat. Gadis itu belum juga paham tetapi Purnama pergi juga.

Gadis itu kembali bermain. Dia penasaran di manakah letak bunga dan kelopak yang dibicarakan Purnama. Gadis itu panggilkan sebatang pohon baobab, minta ditunjukkan arah perihal anak kunci. Sungai datang dan bilang jangan, meronta-ronta dalam kecipak demi baobab paham dan lebih baik bungkam saja. Bintang berkerumun berembuk minta waktu tambahan. Hara di bumi dan embun di daun balik badan. Gadis itu menuntut tanpa jemu. Sungai dipanggil gadis-gadis lain yang ingin mandi pagi. Bintang-bintang juga dipanggil ke rumah-rumah untuk mendengarkan potong-potong doa pagi. Tinggallah baobab, renta dan lupa wejang-wejang dari Purnama. Dia tuntun gadis itu ke sebuah palang.

Sesuatu di seberang palang itu indah. Tak cuma rumput dan gadis-gadis lain di sana. Banyak gedung bertingkat. Banyak manusia-manusia bertubuh kekar, kedang, tegap, pejal, sensual. Banyak peranti bertebaran. Banyak kereta berselang-selingan. Namun tak ada sungai. Tak ada juga padang rumput, gadis-gadis, bahkan baobab lain. Gadis itu menoleh pada baobab dan bilang dia sungguh ingin ke sana. Diam-diam saja. Hanya mereka yang tahu. Dia buka genggamannya, dia pasangkan kuncinya, dan bebaslah dia selamanya.

Gadis itu berlari dengan rasa yang dia pikir sepuasnya. Dia mencomot gelas, mengisi sendiri dari keran, minum sepuasnya. Lalu dia menggelayut pada sesosok manusia, memeluk dan mencium sepuasnya. Lalu dia masuk ke kendaraan, menyuruh-nyuruh tak tentu arah, masih dengan sepuasnya. Lalu dia turun dan memilih-milih rumah mana yang kira-kira patut buatnya, tentulah dengan sepuasnya.

Tak lama, gadis itu tersadar.

Jumantara yang tadinya luas, mulai mengecil. Mungkin dia yang membesar. Tungkai dan tungkainya mulai pampat. Tengkuk ke ubun-ubunnya kian lesak. Ada beberapa yang datang, tunjuk-tunjuk mukanya, bilang dia perompak. Apa-apa main minum saja, tidak bayar. Apa-apa main peluk saja, tidak beradab. Apa-apa main naik saja, tidak bayar ongkos pula. Apa-apa main masuk saja, seperti maling.

Lalu kaki dan tangannya terbelenggu.

Malam tiba. Purnama kembali. Dia mampir di belakang gadis itu, menumpang permisi saja. Sekelebatan saja. Belenggu itu dia lepaskan. Gadis itu dia persilakan mengendap-endap kabur. Kepada Purnama, gadis itu memohon minta dipulangkan ke padang dan bulan. Purnama menggeleng.

“Kamu pengkhianat. Kamu sudah salah gunakan kunciku.”

Purnama pergi dan gadis itu terkapar. Pingsan. Atau mungkin juga dia tidur.

Keesokan harinya bukanlah hari Purnama lagi. Untuk kali kedua dalam hidupnya, gadis itu melihat. Ketika dahinya lepas dari pelukan lutut, yang dilihatnya sama persis seperti kemarin. Namun sedikit beda. Semua lebih kecil, semua begitu jauh, dan semua begitu kering. Lengang. Tenang.

“Hei,” sahut sepucuk terang di sebelahnya.

Itu Bintang.

“Mana Purnama?” tanya gadis itu.

“Itu,” tunjuk Bintang pada gadis yang tengah berbisik dengan baobab, “Jadi? Bagaimana rasanya pengkhianatan?”

Gadis itu diam dalam danta dinginnya.

Dia tak peduli lagi apakah dia Purnama atau bukan.

 

 


[Jakarta, 23/02/2018, 700 kata. #NulisKilat 23 Februari 2018, tokoh utama perempuan, kata kunci Purnama, kalimat pertama “Untuk kali pertama dalam hidupnya, gadis itu melihat….”]