Pujasera(m)

Abaikan wejangan dokter untuk olahraga sesering mungkin dan duduk-duduk bercamilan sejarang mungkin, ambisinya menjadi manusia terberat di dunia justru dimulai dari duduk di depan televisi. Mula-mula matanya mengudap saluran kuliner, menelan ludah yang dibuat-buat ketika sup diaduk dan remah bumbu dituang. Seleranya cepat mencicit: dia pindah ke saluran yang saban hari membahas bakso daging tikus, dari penjual yang itu-itu lagi, siaran ulang empat kali sebulan. Seleranya cepat mengarnivora: dia pindah ke kanal binatang buas, ikut mencecap waktu taring predator mengoyak buruannya. Dan terakhir, ketika nafsu kanibalnya membinal, memuncaki klasemen nasional; dia pindah ke saluran kriminal. Manusia tengah berimpit-impit di stasiun, berebut tempat yang diperjuangkan dari pagi, direbus matahari sandal jepit dan keringat, hidup-hidup. Jarinya menjentik, masuk ke televisi, dan—pakai telunjuk dan jempol—memunguti pepes manusia itu. Hari ini, tiga dulu.


Jakarta, 06.07.2018

Advertisements

Jakarta Tanpa Kata Kerja

Gelap Jakarta, pengumuman tak tuntas. Tak boleh lagi, layanan jual-beli begini, di minimarket. Lewat internet saja. Semua lewat internet. Semua sudah di internet. Kaset tua, sayuran segar, cakram porno, daging merah, kecap asin, telur bebek, majalah bekas, air mineral—rasa langu atau segar, aroma tengik atau busuk, kedaluwarsa di depan mata, di monitor saja. Tak sempat lebih dekat, tak bisa lebih jauh. Generasi langgas segenap kabinet, satu tombol untuk semua. Kupon beras tak ada sisa, listrik tak ada, gelap semena-mena, baterai-baterai kosong terlunta-lunta, daya punah oleh tangan-tangan dan kaki-kaki patung manekin.

Begini Jakarta, tanpa listrik, tanpa suara, tanpa kata kerja.


Jakarta, 05.07.2018

Es Cokelat Mick

Sejak Mick dititipkan sekamar dan seranjang denganku, aku selalu bermimpi aneh. Sudah empat malam berturut-turut. Di dunia mimpi, aku dan Mick sama saja dengan versi dunia nyata, hanya saja ada tiga perbedaan besar: satu, kami jadi anak kecil lagi; dua, di bawah kami cuma ada kasur yang teramat luas dan tak habis-habis; dan tiga, gravitasi di sini tak sekuat biasanya. Alhasil, yang kami lakukan tiap malam—dalam mimpi, tentunya—juga sama terus: melompat-lompat melawan pegas kasur. Siapa yang melayang terlama, dia yang menang; dan yang menang wajib mentraktir yang kalah dengan es cokelat.

Empat hari berturut-turut, Mick mudah sekali dikalahkan. Dalam mimpi dia pun duduk di kursi roda, sama dengan di dunia nyata. Aku berhasil melayang di udara hingga tujuh detik, sementara Mick masih merangkak sehabis jatuh berkali-kali. Sesekali dia meratap agar aku tidak menginjak dan mengeset di atas rekor buruknya terus. Aku tak indahkan ratap Mick itu, nikmat di atas seluncur es cokelat ke dalam mulutku. Skor semalam delapan detik lawan sedetik-pun-tak-ada dan aku sedang menyuap es cokelat, sewaktu dia tersungkur ditimpa kursinya sendiri. Usai tertawa hingga menitikkan air mata dan sakit perut melilit, baru kusodorka sesendok buat Mick. Tak biasanya, Mick memalingkan muka, tak mau menjawabku. Begitu saja, dan aku terbangun.

Baru saja, mimpi sama kembali lagi. Aku dan Mick bersiap lomba lompat kasur untuk kelima kalinya. Hari ini Mick tampak beda. Selain muncul dalam posisi berdiri, tanpa kursi roda dan tanpa tongkat, Mick mendingin. Sedingin es cokelat, dia tak berkata apa-apa: mohon, aduh, tolong. Benar-benar tak biasanya. Giliran pertama, aku yang melompat, delapan detik lebih sedikit. Gantian Mick. Satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh… dia masih melambung dan belum ada tanda akan kembali. Aku memejam dengan panas malu yang tak tertahankan.

Dan aku terjaga.

Mick tak ada di sebelahku. Tinggal kursi rodanya yang menganggur. Pintu balkon terbuka, padahal berani sumpah semalam sudah kututup. Sambil menahan gejolak tak enak dalam perut, aku terburu berlari ke pegangan balkon, mengabaikan kibar-kibar angin gasal pada kerai.

Ada selembar kertas menempel pada pegangan balkon. “Esnya ada di dapur.” Sepele, tetapi cukup membuatku bingung aku tengah ada di dunia mana. Dengan enggan, aku menoleh ke bawah, dua puluh lantai menuju tanah.

Di atas aspal keras, Mick menyeringai padaku. Di kepalanya ada kucur seperti longsor. Seperti es cokelat yang biasa kusuap.


Jakarta, 28/05/2018, 373 kata. Prompt Ramadan #6 di komunitas Monday Flash Fiction, kata kunci “kasur”.

Pengkhianatan dalam Tujuh Ratus Kata

Untuk kali pertama dalam hidupnya, gadis itu melihat. Ketika dahinya lepas dari pelukan lutut, yang dilihatnya pertama ialah gelap yang berangsur remang. Kedua ialah remang buram yang berangsur nyata. Ketiga ialah nyata lantas berbeda antara padang dan bulan. Rumput dan kembang dan cercah menghampar gelap nun jauh di bawah, bulan dan pelesatan bintang bergelantungan di atas jumantara ungu. Rumput itu tajam, kembang itu tumpul, bintang itu cepat, bulan itu bulat dan senyum. Purnama, kata mereka.

Gadis itu luruskan kaki, tangan, punggung, dan menapak. Rumput tajam menyambutnya. Karena rumput itu tajam jadilah telapaknya terluka-luka. Meraung-raunglah dia. Datang kembang untuk teteskan sarinya ke atas luka gadis itu. Datang juga sungai untuk teteskan air mata duka citanya ke sana. Ada yang memanggil gemintang berjatuhan, menyinar terang pada merah gelap darahnya. Rumput tertunduk malu dan minta maaf. Gadis itu meringkuk lagi. Dahinya mau dia benamkan lagi dalam pelukan lutut.

Lalu dia yang bersinar terang, paling terang di langit, menyibak-nyibak kawanan awan. Lantas menyapa gadis itu.

Dia Purnama. Sang bulan yang memacak di ubun-ubun gadis itu ketika hari pertama dia melihat.

Dengan sinarnya yang danta dingin, dia panggilkan beberapa gadis yang serupa sebangun sama sisi dengan gadis itu, yang betisnya juga terbaret-baret dan kelim celana di lututnya tercompang-camping. Mereka semua menghampar di padang luas, minum segar dari belaian hangat sungai dan makan langsung dari daging buah ranum dan ranting pohon rindang kala Purnama bilang ingin jalan-jalan sebentar karena bosan. Dia menitipkan sepotong kunci pada gadis itu. Gadis itu bertanya kunci apakah itu. Purnama cuma menjawab singkat. Itu kunci untuk membebaskan bunga dari gerumbul kelopak yang hangat, agar putiknya mencuat. Gadis itu belum juga paham tetapi Purnama pergi juga.

Gadis itu kembali bermain. Dia penasaran di manakah letak bunga dan kelopak yang dibicarakan Purnama. Gadis itu panggilkan sebatang pohon baobab, minta ditunjukkan arah perihal anak kunci. Sungai datang dan bilang jangan, meronta-ronta dalam kecipak demi baobab paham dan lebih baik bungkam saja. Bintang berkerumun berembuk minta waktu tambahan. Hara di bumi dan embun di daun balik badan. Gadis itu menuntut tanpa jemu. Sungai dipanggil gadis-gadis lain yang ingin mandi pagi. Bintang-bintang juga dipanggil ke rumah-rumah untuk mendengarkan potong-potong doa pagi. Tinggallah baobab, renta dan lupa wejang-wejang dari Purnama. Dia tuntun gadis itu ke sebuah palang.

Sesuatu di seberang palang itu indah. Tak cuma rumput dan gadis-gadis lain di sana. Banyak gedung bertingkat. Banyak manusia-manusia bertubuh kekar, kedang, tegap, pejal, sensual. Banyak peranti bertebaran. Banyak kereta berselang-selingan. Namun tak ada sungai. Tak ada juga padang rumput, gadis-gadis, bahkan baobab lain. Gadis itu menoleh pada baobab dan bilang dia sungguh ingin ke sana. Diam-diam saja. Hanya mereka yang tahu. Dia buka genggamannya, dia pasangkan kuncinya, dan bebaslah dia selamanya.

Gadis itu berlari dengan rasa yang dia pikir sepuasnya. Dia mencomot gelas, mengisi sendiri dari keran, minum sepuasnya. Lalu dia menggelayut pada sesosok manusia, memeluk dan mencium sepuasnya. Lalu dia masuk ke kendaraan, menyuruh-nyuruh tak tentu arah, masih dengan sepuasnya. Lalu dia turun dan memilih-milih rumah mana yang kira-kira patut buatnya, tentulah dengan sepuasnya.

Tak lama, gadis itu tersadar.

Jumantara yang tadinya luas, mulai mengecil. Mungkin dia yang membesar. Tungkai dan tungkainya mulai pampat. Tengkuk ke ubun-ubunnya kian lesak. Ada beberapa yang datang, tunjuk-tunjuk mukanya, bilang dia perompak. Apa-apa main minum saja, tidak bayar. Apa-apa main peluk saja, tidak beradab. Apa-apa main naik saja, tidak bayar ongkos pula. Apa-apa main masuk saja, seperti maling.

Lalu kaki dan tangannya terbelenggu.

Malam tiba. Purnama kembali. Dia mampir di belakang gadis itu, menumpang permisi saja. Sekelebatan saja. Belenggu itu dia lepaskan. Gadis itu dia persilakan mengendap-endap kabur. Kepada Purnama, gadis itu memohon minta dipulangkan ke padang dan bulan. Purnama menggeleng.

“Kamu pengkhianat. Kamu sudah salah gunakan kunciku.”

Purnama pergi dan gadis itu terkapar. Pingsan. Atau mungkin juga dia tidur.

Keesokan harinya bukanlah hari Purnama lagi. Untuk kali kedua dalam hidupnya, gadis itu melihat. Ketika dahinya lepas dari pelukan lutut, yang dilihatnya sama persis seperti kemarin. Namun sedikit beda. Semua lebih kecil, semua begitu jauh, dan semua begitu kering. Lengang. Tenang.

“Hei,” sahut sepucuk terang di sebelahnya.

Itu Bintang.

“Mana Purnama?” tanya gadis itu.

“Itu,” tunjuk Bintang pada gadis yang tengah berbisik dengan baobab, “Jadi? Bagaimana rasanya pengkhianatan?”

Gadis itu diam dalam danta dinginnya.

Dia tak peduli lagi apakah dia Purnama atau bukan.

 

 


[Jakarta, 23/02/2018, 700 kata. #NulisKilat 23 Februari 2018, tokoh utama perempuan, kata kunci Purnama, kalimat pertama “Untuk kali pertama dalam hidupnya, gadis itu melihat….”]

Siang dan Malam

Kami tutup jam sepuluh. Luka itu terbuka jam sepuluh lewat lima.

Awalnya tidak sakit, seperti biasa. Tanganku tergelincir saat merapikan piring dan cangkir. Garpu dan pisau berdentingan karena kutumpuk saja sembarangan. Tanpa kusadari, ada satu pisau yang tergelincir. Coba kutangkap dengan telapak tangan, begitu lugunya. Memang pisau itu tak jadi membentur lantai. Namun telapakku yang terbeset.

Banda berteriak, berlari ke arahku. Lucunya, aku tak ingat apakah sebelumnya aku berteriak atau tidak.

“Naira! Kamu tidak apa-apa?”

Jujur, aku belum pernah teriris pisau selebar itu; meskipun aku sering menyaksikan orang teriris di film-film. Belum pernah menyaksikan darahku sendiri mengucur dari luka seperti itu; meskipun aku sering mendengar kisah-kisah penuh darah dari berbagai penjuru. Aku tidak tahu apakah aku akan kehabisan darah. Aku tidak tahu apakah aku memang tidak apa-apa.

Jadi, aku tidak menjawab Banda.

Ia menggenggam punggung tanganku dari bawah. Keras.

“Naira, darahmu harus distop dulu. Nanti kamu kehabisan darah.”

“Kamu punya plester?”

“Luka segede gitu mau langsung kamu plester? Mana bisa, Ra….”

Memang logikaku sering macet kalau sedang bingung begini.

“Sebentar, Ra.”

Ia melepaskan genggaman. Dari gerak-geriknya, aku bisa menduga apa yang akan Banda lakukan. Sesuatu yang buruk, kalau sampai penyelia kami tahu.

“Banda, jangan! Bubuk itu baru datang kemarin….”

“Tapi, Ra? Kalau kamu sampai kehabisan darah, gimana?”

Aku disuruhnya duduk di meja nomor dua, sementara ia membuka tutup stoples yang baru kukemas kemarin sore. Harum. Menguatkan. Memberiku semacam energi baru. Lalu ia mengambil bubuk itu, sejumput saja. Ditaburkannya ke atas luka menganga di tanganku. Sejenak, kami sepakat bahwa jumputannya kurang. Ia mengambil lagi sejumput. Proses itu berulang hingga tiga kali.

Ajaib. Tak lama kemudian, darah berhenti menetes-netes dari sana.

Banda menghela napas. Ia mengempaskan bokong ke kursi di sebelahku.

“Kamu ceroboh amat.”

“Kamu juga sama.”

“Hei. Sekarang, jelaskan padaku apakah ada cara lebih baik untuk menghentikan lukamu itu?” deliknya. Ia memang sering begitu kalau kami berselisih pendapat. Aku nyaris selalu memutuskan untuk mengalah.

Tapi tidak, untuk kali itu.

“Ada jurnal ilmiah yang bilang,” ucapku pelan, “kalau bubuk itu justru memperlambat berhentinya luka. Kafein mengeluarkan zat tertentu yang menghambat regenerasi sel di sekitar luka.”

“Kata siapa? Buktinya? Lihat sendiri, Ra. Kamu terlalu textbook, sih, ah.”

Satu per satu toko tutup. Sementara kami belum selesai!

“Kamu bisa pakai kain di wastafel. Pura-pura jadikan itu bebat, Ban.”

Ia menggeleng yakin, “Kain itu tidak bisa menyerap darah.”

“Kamu tidak perlu kain yang menyerap darah. Kamu cuma perlu mengikat.”

Tak kusangka, Banda menarik kursi. Kami begitu dekat kini. Bisik-bisik pun, kami bisa saling dengar.

“Ra, kamu tidak perlu protes. Pakai alasan jurnal, segala. Kamu tahu tidak, jurnal lain yang bilang bahwa kafein justru bisa menyembuhkan luka?”

Ganti aku yang terdiam.

“Mau debat sampai besok pagi pun, kamu bisa benar, bisa salah. Aku pun,” ujar Banda sembari bangkit dari kursinya. Ia mendekat ke wastafel, jelas bermaksud melanjutkan mencuci shaker-nya. “Kamu tahu kalau aku pun takut didenda bos gara-gara aku mengambil bubuk tadi.”

Banda ini. Apa pun yang ia lakukan dan pikirkan, benar-benar tak pernah bisa kuprediksi!

“Heh?”

“Iya. Aku melakukan itu karena yakin cuma itulah satu-satunya cara cepat untuk menutup lukamu. Soal denda…. Ah, besok sajalah baru dipikirkan. Aku tinggal bilang aku menumpahkannya sedikit….”

Kami berpandangan.

Saling mencari jawaban.

Saling melupakan argumen.

Ya, kami bahkan lupa. Jam setengah sebelas. Antara siang atau malam.

 


[Jakarta, 04/08/2017, 537 kata. Diikutkan ke #NulisKilat dengan latar tempat coffee shop, genre romance]

[Penafian: Cara penanganan luka dalam cerita ini tidak direkomendasikan untuk ditiru dalam kehidupan sehari-hari. Tetap ikuti prosedur P3K, dan hubungi instalasi medis jika luka cukup serius.]

[Referensi yang disebut Naira bisa kalian cek di: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/25041108%5D

Remis

Valeska mengetatkan pegangan ke tepi kursi sebelum beranjak tegak. Decit karet roda, berpadu dengan kelentingan metalik dan kasak-kusuk bariton, serta-merta menghampiri pintu. Sesaat kemudian, mereka semua hening. Daun pintu berat membuka perlahan.

Meranti. Satu dari hanya tiga manusia yang diyakini Valeska mampu menggantikannya beberapa bulan lagi. Di belakangnya, kanan dan kiri, sepasang pria berkacamata hitam berjalan pelan, mengimbangi kecepatan gelinding sepasang roda berkaret hitam di bawah pinggangnya. Mereka bertiga menghampiri meja Valeska. Ia buru-buru menolak, mengarahkan mereka ke sebuah meja luas yang membentang di pojok kosong ruangan.

“Di sana saja. Aku perlu bicara dengannya di depan meja yang itu.”

Dua pengawal itu sudah tahu apa maksud Valeska. Pengawal pertama menghidupkan sebuah kenop hingga meja itu bergetar pelan, lalu berpendar menyilaukan, sebelum meredup kembali dan dunia datar palsu di dalam sana memasuki mode siaga. Penuh kenop lain, namun semuanya virtual. Pengawal itu lalu lenyap sesaat, untuk kembali dengan dua seloki yang sama-sama telah dituangi anggur putih. Pengawal kedua memastikan semua baut, mur, dan sambungan logam beroda itu tidak mungkin cerai-berai seketika. Tak perlu menunggu lama, mereka berdua pamit. Valeska mengangguk, lalu menunggu hingga mereka menghilang di balik daun pintu.

“Well. Terima kasih sudah datang, Bu Ranti.” Valeska mengangkat gelasnya. Ranti mengikuti. Gelas berdentingan. Valeska merapatkan tepi seloki ke bibirnya yang berpulas merah menyala. Ranti tergeragap sesaat, seperti ingin bicara, tapi ditahannya. Valeska mengintip dengan ekor mata. Ditunggunya beberapa detik, diharapnya raut Ranti berubah. Ternyata tidak.

“Bu Presiden….”

“Panggil saya Leska saja, Bu. Ibu lebih berpengalaman,” Valeska berdeham, “saya pikir Ibu-lah yang harus memilih permainan apa buat kita berdua hari ini.”

“Bu Pre—maaf, Leska… aku tahu maksud Anda mengundangku ke sini. Soal pemilihan pimpinan, kan?” Meranti menggeleng, “Semua orang membahas itu saja. Padahal masih setahun lagi. Anda masih punya banyak opsi.”

“Tidak, Bu.”

“Anda harus belajar menaruh percaya ke orang lain, Leska. Anda presidennya.” Jari itu memilih dakon. Tanpa aura, tanpa angin, tanpa tanda-tanda. Dalam sekejap, di hadapan mereka muncul serentetan lubang. Satu lubang besar di ujung kiri, satu di ujung kanan, dan dua belas di antaranya. “Tidak mungkin Anda cuma punya tiga calon, sudah menemui dua di antaranya sebelum aku, lantas Anda berharap aku adalah jawaban yang Anda cari.” Meranti menggeleng, membetulkan duduknya sembari memajumundurkan sepasang roda itu beberapa kali.

Wajah Valeska memadam. Entah karena ia tak terlalu pandai bermain dakon, ataukah karena ia malu rencananya dilucuti sampai bugil. Sebagai penganut aliran konservatif, Valeska tak pernah mau cuma berpangku tangan menunggu afirmasi rakyat jelata lewat omong dan aksi kosong yang bertajuk pemilihan pimpinan. Itu seperti meletakkan negara di atas putaran rolet. Bahkan setelah tahu ia tak bisa menjabat lagi sehabis ini, ia tetap ingin jabatannya jatuh ke orang yang bisa ia percayai. Orang yang mana bahunya bisa ia pakai bersandar; tanpa peduli dia lelaki atau perempuan, tanpa peduli ia sanggup berdiri dengan dua telapak kaki atau harus selalu berkendaraan.

Susah payah dikumpulkannya lagi serakan harga diri yang berkeping di tanah itu, Valeska mendesis, “Bu Ranti, saya tidak memilih satu dari tiga. Satu dari lima. Saya menguji lewat permainan.” Sambil menunggu Meranti—yang tanpa permisi langsung mengambil giliran jalan duluan—Valeska memutar-mutarkan jari telunjuk mengelilingi pinggir lubang besar miliknya.

“Aku sudah tahu reputasimu dalam hal permainan, Bu Presiden. Masalahnya, Presiden seharusnya tidak bermain di layar.” Decit roda itu menggeleser mendekati Valeska. Semakin dekat, semakin decit itu ia telingai dengan nyerinya. Meranti telah berhadap-hadapan dengan Valeska. Nyaris rapat. Tangan mereka bisa saling jangkau. Atau saling jambak.

Telunjuk renta berkuku pendek rapi itu senada dengan kerimut wajahnya, siap menunjuk, “Bermain itu di sini, Leska.” Pelipis itu belum lagi ditinggal pergi sang nyeri, kini disiksa lagi dengan hunjaman ujung jari itu. “Dan di sini,” seraya Meranti memindahkan jari yang sama tepat ke tengah dada Valeska. Ia menjauhkan badan, “Giliranmu. Kita lihat, apa yang akan terjadi dengan permainan ini.”

Valeska mengambil biji-bijian virtual dari lubang yang isinya paling sedikit. Disebarnya biji-bijian itu ke lubang-lubang berikutnya. Pendar layar menunjukkan skor sama kuat. “Bukan soal menang atau kalah, Bu. Dulu sekali, kita diajari orang tua untuk bermain seperti ini. Memangnya mereka mengajari kita untuk bertanding semata-mata demi menang dan kalah?”

“Aku tidak ingat, Bu Presiden.”

“Seingat saya tidak. Entah siapa yang memulainya, Bu.”

Salah satu lubang milik Valeska tinggal berisi satu biji. Meranti mulai menerawang, berpura-pura tidak memperhatikan. “Aku memang tidak ingat. Seingatku, hidup kita terlalu banyak diisi urusan menang dan kalah. Sekolah. Ekonomi. Percintaan. Politik. Perang. Semua berebutan tahta yang bernama menang. Orang hidup untuk menang dan hanya untuk menang. Tentara negara tetangga itu dulu berpikir kalau aku dibuat jadi begini, mereka menang. Buktinya? Akhirnya kita yang memenangkan perang itu, kan?”

Belum sadar akan bahaya yang mengancam biji-bijinya, Valeska menjentikkan jari beberapa kali, “Menang dan kalah itu ada ketika sesuatu dikuantifikasi. Kalau tidak?”

“Koalisi akan terasa sangat salah kalau Anda tidak tahu berapa persentase suara yang mereka dapat, bukan?”

“Permainan ini juga begitu.”

“Maksudmu?”

“Permainan ini akan berakhir lucu kalau kita memutuskan tidak ada menang dan kalah. Aku pernah melakukannya beberapa kali,” Valeska mengambil bijinya banyak-banyak. “Namun, apakah kita puas jika kita cuma bermain demi kesenangan? Masih maukah kita bermain kalau menang dan kalah itu tak pernah ada?”

“Kalau jawabanku tidak?”

“Kita bisa akhiri sekarang juga, Bu.”

“Aneh. Aneh sekali. Kenapa, Bu Presiden? Aku pernah menjawab ya, dan beginilah aku sekarang. Inilah akibatnya!” Ia menunjuk sambungan antara pinggangnya dan perangkat logam beroda dua yang rumit itu; pengganti kedua tungkainya mulai dari paha. “Mereka minta kedua tungkaiku! Cuma gara-gara aku menawarkan kemungkinan untuk meniadakan menang dan kalah! Aku tidak pernah tahu apa yang akan Anda lakukan nanti, Bu Presiden.”

Meranti meninggalkan Valeska yang masih mengernyit, menghitung saksama. Siasatnya tidak boleh gagal. Kepalanya tidak boleh hilang. Ia mengambil sejumput biji, tidak banyak, namun berakhir pada satu lubang kosong yang bersarang tepat di hadapan Valeska. Serangan berikutnya mendarat. Lagi, lagi, dan lagi. Sudah jelas presiden petahana itu akan kalah bermain. Amat telak. Ia sadar, itu pun sangat jelas. Gerakan selanjutnya kaku. Mau dihitung dari sebelah mana pun, ia akan bertekuk lutut.

“Lebih baik begini, Bu Presiden,” Meranti setengah berbisik, “aku tahu Anda kehabisan calon. Aku bersedia jadi calon penggantimu, dengan satu syarat.”

Valeska menimbang. Ia kalah berstrategi. Memang cuma permainan dakon. Besok, mungkin cuma perihal menerjemahkan nomor telepon musuh dengan dekak-dekak. Besoknya lagi, mungkin cuma soal membubuhkan tanda tangan. Mungkin semuanya begitu sepele.

Namun….

“Aku tak mau negara kita hancur karena kita sibuk dengan urusan menang dan kalah melawan orang-orang kita sendiri, Bu Ranti,” Valeska menelan ludah.

“Silakan.”

Serangan terakhir. Layar berpendar lebih terang. Empat puluh empat lawan lima. Permainan selesai.

“Lupakan soal ketiadaan menang dan kalah. Kita anggap kita remis. Jadi, Anda cuma punya satu pilihan. Selanjutnya, kita cuma punya satu pilihan.”

Valeska menatap Meranti. Ia mencari tanda. Ia mencari pertanda. Ia menyelidik sinar pengkhianatan. Tidak ada.

“Pilihan Anda adalah saya, Bu Presiden.”

Seketika, Valeska memperoleh jawaban atas kalimat selanjutnya. Sekali lagi, ia mengetatkan pegangan pada tepi kursi. Kali ini, ke tepi kursi roda Meranti.

“Pilihan kita selanjutnya adalah menang,” bisiknya.

Meranti menyungging puas.

 


(Jakarta, 19/07/2017, 1146 kata. Juara III Kompetisi Cerita Pendek Storial-NulisBuku-Giordano #Agustusan #OneIndonesia Let’s Play and Stand Together, 15-21 Juli 2017. Dimuat dalam antologi tanpa ISBN dari NulisBuku: Kaki Kayu Mak Leha–Kumpulan 15 Cerita Terbaik #Agustusan)

 

Kutukan Kencing

Ada sebuah takik pertanda bocor di langit-langit kamar Milo, persis di atas mejanya. Ia kerap meneteskan air, seperti malaikat yang sedang kencing dari baliknya.

Suatu hari, ponsel Milo ketiban pulung: layarnya teperciki tiga tetes dari takik itu. Esoknya, ponsel itu rusak.

Beberapa hari kemudian, buku catatan Milo yang mengonggok di sanalah korban pengencingan selanjutnya, basah tiga titik di sampul. Esoknya, buku itu lenyap.

Milo bergidik. Segera ia panggil seorang tukang untuk membetulkannya. Dasar tukang batil, bocor itu masih saja; seminggu berselang.

Kemarin, Milo mencoba menambalnya sendiri. Tepat saat ia menunduk dan memejam untuk berpikir, tiga tetesan hangat mendarat di tengkuknya.

 

 


(London, 27/04/2017. Diikutsertakan ke #FFKamis untuk komunitas Monday Flash Fiction dengan kata kunci “takut” dan harus 100 kata pas. Gagal karena jumlah kata akhirnya 99, dan curang dengan selisih jam. Per Maret 2018, komunitas Monday Flash Fiction sedang hiatus.)

(Terinspirasi dari toilet umum yang jorok, dikombinasi dengan judul Cerpen Terbaik Kompas 2015 “Anak Ini Ingin Mengencingi Jakarta” dan faktor takhyul.)

Typing Master

Malam itu malam Thanksgiving, lima puluh tahun dari sekarang. Semua manusia yang tersisa di muka bumi menggelar ritual bicara dengan cermin, yang dipercayai dapat mengubah keberuntungan seseorang. Salah satu dari mereka adalah Dermot.

 

Dulu, Dermot adalah penulis yang pernah terkenal dengan kecepatannya menelurkan karya-karya baru. Dalam setahun, ia pernah menerbitkan hingga delapan novel sekaligus. Bayangkan, ia pernah seproduktif itu. Namun, dalam tiga tahun terakhir, ia baru menerbitkan lima. Kecepatannya yang kian turun memang dinyana karena faktor usia. Ada pula yang menuduh ia depresi. Namun, karena telanjur terlena dengan manfaat yang ia dapat dari mengetik dan menulis cepat, Dermot selalu saja khawatir bahwa dunia tulis-menulis akan meninggalkannya. Di samping stres yang ia derita, ia merasakan tekanan dari berbagai penjuru, seolah ia adalah sapi perah yang susunya selalu ditunggu konsumen, tapi tak pernah dipedulikan nasibnya. Tak heran, apabila Dermot tak pernah putus memanjatkan doa ingin sanggup mengetik dan menulis dengan cepat lagi, setiap saat ia ingat, setiap saat ia terjaga.

Malam itu malam Thanksgiving. Dermot berdiri di depan pintu utama rumahnya sendiri, yang begitu kuno namun megah; menggenggam kunci perak yang berukir begitu rumit. Rumah itu baru berani diinjaknya lagi setelah ditinggal wafat sang istri. Mengumpulkan segenap keberanian; ia mendaki tangga solid berbalut marmer terbaik sedunia, sambil sesekali menyingkirkan gelitik sarang laba-laba yang satu-satu menjuntai dari tepi tangga dan tiang-tiangnya, memasuki ruangan yang menyimpan sebuah cermin bulat besar.

Ia menarik kursi bulat, duduk di atasnya, tepat di hadapan cermin, lalu memulai omelan.

“Sylvia, Sylvia. Aku tahu kamu ada di situ. Aku tahu kamu pulalah yang mengambil kecepatanku agar aku lebih memperhatikanmu. Ah, tapi aku ingin, aku ingin kembali seperti dulu. ‘Kan kamu sudah tidak….”

Ia membatuk dua kali. Dermot sadar ia mengambil kata-kata yang mungkin keliru. Dirapalnya ulang.

“Sylvia, Sylvia. Aku tahu kamu ada di situ. Aku tahu kamu pulalah yang mengambil kecepatanku dulu, agar aku lebih memperhatikanmu. Ah, tapi aku ingin, aku ingin sekali, kembali seperti dulu. Aku bisa produktif lagi, sembari berusaha….”

Ah, salah lagi! Kesempatan terakhir.

“Sylvia, Sylvia. Aku tahu kamu ada di situ. Aku tahu kamu pulalah yang mengambil kecepatanku dulu, agar aku lebih memperhatikanmu. Ah, tapi aku ingin, aku ingin sekali, kembali seperti dulu. Aku bisa produktif lagi. Kamu juga bisa tenang di sana.”

Entahlah ini benar atau salah.

Sembari menantikan jawaban, kepala Dermot mulai berputar. Makin cepat dan makin cepat saja. Tanpa ampun, tanpa henti. Ia meletakkan kedua tangan, satu di kiri kepala, satu di kanannya, menutupi kedua telinga yang berdengung begitu kencang. Tiba-tiba, ia mendengar bisikan ganjil. Suara Sylvia, istrinya.

“Tiga kesempatan, tiga kali kamu salah. Aku tersinggung. Kamu ingin aku cepat-cepat mati? Aku pun.”

Dermot ingat semuanya. Perselingkuhannya. Kehamilan luar nikah. Anak haram. Tuntutan dari istri muda. Dermot lupa satu hal. Istrinya itu penyihir, dan ia baru sadar ia sedang dikutuk.

Detik berikutnya, kepala Dermot pecah berantakan. Keluar tiga pasang tangan dari penggal lehernya.

“Bagaimana? Sekarang kamu punya delapan tangan. Selamat mengetik, Sayang. Jangan lupa, aku menunggu buku barumu!” balas Sylvia, untuk terakhir kalinya.

 

 


(Jakarta, 22/04/2017, 490 kata. Monday Flash Fiction weekly prompt #138: Tangan-tangan. Gambar dalam teks ini diberikan oleh Carolina Ratri.)