Saga Suara Sari

Saya suka segala hal tentang suara Sari: kombinasi serak dan sengau yang saya rasa seksi sekali. Saya selalu senang kalau jam siarannya sudah mulai: dari langit sempurna gelap sampai embun berdatangan pagi-pagi. Kebanyakan dia bicara saja dan bukan menutupi pakai lagu, dia bacakan berita-berita kemarin saja dan bukan berkejaran demi mengumumkan berita baru. Sari mengulang-ulang saja kalimatnya; propaganda, kurasa; pedagogi, kurasa; disuruh orang, pastinya. Beberapa nama lancar disebutnya. Beberapa tempat, beberapa kenangan, beberapa target. Saya tak mau tahu apa yang Sari bicarakan dan mengapa dia bicarakan itu. Saya rela tidak minum tidak makan tidak dilumas berhari-hari, atau juga tak perlu jalanlah beberapa hari, kalau saya bisa terus mendengarkan suara Sari.

Suatu hari, Sari tidak siaran. Penyiar penggantinya, yang sedari sore sibuk memutar lagu-lagu barat kelabu, bilang bahwa dia sakit. Kernet satu dua dan tiga bertanya, saya jawab lempeng, “Sari sakit.” Mereka tak puas. Suara penyiar pengganti itu mereka keraskan, sampai separuh terminal bisa mendengar. Tak biasa: penyiar laki-laki itu menyampaikan berita, paling kini, tentang penangkapan. Penangkapan apa atau siapa, saya tak paham. Di dekat saya, kernet-kernet saling sikut kepengin maju. Telinga mereka terpasang antara dua kutub: seperti panji dan seperti panci; sementara saya terjepit di tengah-tengah, megap-megap menjulurkan antena.

Gelombang penasaran masih terus datang. Iklan operator telepon genggam yang tukang curi pulsa, disambung iklan layanan masyarakat tentang aturan jam malam. Bulu kudukku meremang, seiring semua kernet diam kerontang. Ketika penyiar pengganti buru-buru menyudahi iklan ketiga yang baru saja mulai, kami semua tahu. Ada sesuatu. 

Benar. Ada sirene mobil polisi datang. Tidak cuma satu. Hampir dua belas. Yang mereka teriakkan sama: “Radio! Radio! Musnahkan Radio, pusat penyebar berita kebencian!” Semua kernet tunggang-langgang. Semua lupa pada saya. Tanpa sadar, air mata saya berhamburan, seiring sadarnya saya: saya baru dicari hanya ketika kernet ingin mendengarkan saya, dan saya langsung dilupakan ketika polisi hendak membunuh saya.

Dalam hitungan detik, saya diangkat tinggi-tinggi ke udara. Beberapa seringai polisi tampak di bawah, berlawanan dengan arah antena saya, dan saya tak bisa berbuat apa-apa. Siaran yang berkumandang lewat tubuh saya belum selesai. Penyiar pengganti itu terdengar sedang tunggang-langgang juga, diteriaki “Radio! Radio! Musnahkan Radio, pusat penyebar berita kebencian!” ketika sebuah erangan yang tadinya jauh, makin dekat, makin dekat….

…dan sekarang erangan itu bernyanyi, mengantar remuk badan saya menuju tidur.

Saya suka segala hal tentang suara Sari. Setelah sadar saya segera mati dan Sari yang bernyanyi buat saya, saya senang sekali.

 


Jakarta, 29/05/2018, 393 kata. Prompt Ramadan #7 di komunitas Monday Flash Fiction, kata kunci “radio”.

Advertisements

Es Cokelat Mick

Sejak Mick dititipkan sekamar dan seranjang denganku, aku selalu bermimpi aneh. Sudah empat malam berturut-turut. Di dunia mimpi, aku dan Mick sama saja dengan versi dunia nyata, hanya saja ada tiga perbedaan besar: satu, kami jadi anak kecil lagi; dua, di bawah kami cuma ada kasur yang teramat luas dan tak habis-habis; dan tiga, gravitasi di sini tak sekuat biasanya. Alhasil, yang kami lakukan tiap malam—dalam mimpi, tentunya—juga sama terus: melompat-lompat melawan pegas kasur. Siapa yang melayang terlama, dia yang menang; dan yang menang wajib mentraktir yang kalah dengan es cokelat.

Empat hari berturut-turut, Mick mudah sekali dikalahkan. Dalam mimpi dia pun duduk di kursi roda, sama dengan di dunia nyata. Aku berhasil melayang di udara hingga tujuh detik, sementara Mick masih merangkak sehabis jatuh berkali-kali. Sesekali dia meratap agar aku tidak menginjak dan mengeset di atas rekor buruknya terus. Aku tak indahkan ratap Mick itu, nikmat di atas seluncur es cokelat ke dalam mulutku. Skor semalam delapan detik lawan sedetik-pun-tak-ada dan aku sedang menyuap es cokelat, sewaktu dia tersungkur ditimpa kursinya sendiri. Usai tertawa hingga menitikkan air mata dan sakit perut melilit, baru kusodorka sesendok buat Mick. Tak biasanya, Mick memalingkan muka, tak mau menjawabku. Begitu saja, dan aku terbangun.

Baru saja, mimpi sama kembali lagi. Aku dan Mick bersiap lomba lompat kasur untuk kelima kalinya. Hari ini Mick tampak beda. Selain muncul dalam posisi berdiri, tanpa kursi roda dan tanpa tongkat, Mick mendingin. Sedingin es cokelat, dia tak berkata apa-apa: mohon, aduh, tolong. Benar-benar tak biasanya. Giliran pertama, aku yang melompat, delapan detik lebih sedikit. Gantian Mick. Satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh… dia masih melambung dan belum ada tanda akan kembali. Aku memejam dengan panas malu yang tak tertahankan.

Dan aku terjaga.

Mick tak ada di sebelahku. Tinggal kursi rodanya yang menganggur. Pintu balkon terbuka, padahal berani sumpah semalam sudah kututup. Sambil menahan gejolak tak enak dalam perut, aku terburu berlari ke pegangan balkon, mengabaikan kibar-kibar angin gasal pada kerai.

Ada selembar kertas menempel pada pegangan balkon. “Esnya ada di dapur.” Sepele, tetapi cukup membuatku bingung aku tengah ada di dunia mana. Dengan enggan, aku menoleh ke bawah, dua puluh lantai menuju tanah.

Di atas aspal keras, Mick menyeringai padaku. Di kepalanya ada kucur seperti longsor. Seperti es cokelat yang biasa kusuap.


Jakarta, 28/05/2018, 373 kata. Prompt Ramadan #6 di komunitas Monday Flash Fiction, kata kunci “kasur”.

Menumpang Lewat

Obrolan intraaplikasi situs Tokorporat dot com, 12 November 2016

[guest1155, 11/12/16, 1.24 PM]: Siang
[guest1155, 11/12/16, 1.24 PM]: Toko Klandestian?
[diarmaid1311, 11/12/16, 1.26 PM]: Siang Mbak
[diarmaid1311, 11/12/16, 1.27 PM]: Iya betul
[diarmaid1311, 11/12/16, 1.27 PM]: Ada yg bisa saya bantu?
[guest1155, 11/12/16, 1.27 PM]: Sy minat beli kameranya
[guest1155, 11/12/16, 1.28 PM]: Yg Arsenalic MXIR 2275
[diarmaid1311, 11/12/16, 1.28 PM]: Oh
[diarmaid1311, 11/12/16, 1.29 PM]: Yg edisi spesial
[guest1155, 11/12/16, 1.30 PM]: Iya
[guest1155, 11/12/16, 1.31 PM]: Harganya itu bener cm 1.4 jt?
[guest1155, 11/12/16, 1.31 PM]: Kok murah
[diarmaid1311, 11/12/16, 1.32 PM]: Emang segt Mbak
[guest1155, 11/12/16, 1.33 PM]: Fiturnya apa aj?
[diarmaid1311, 11/12/16, 1.33 PM]: 16 mp, bawaan f/2, iso sampe 1600, zoom sampai 28x, flash, infrared, nightvision
[diarmaid1311, 11/12/16, 1.34 PM]: bisa liat t4 gelap
[diarmaid1311, 11/12/16, 1.34 PM]: foto malam2
[diarmaid1311, 11/12/16, 1.35 PM]: bawah tanah, panorama malam
[guest1155, 11/12/16, 1.35 PM]: Eh?
[guest1155, 11/12/16, 1.36 PM]: Ada IR?
[diarmaid1311, 11/12/16, 1.36 PM]: Namanya aj MXIR mba
[guest1155, 11/12/16, 1.36 PM]: Oh iya ya
[guest1155, 11/12/16, 1.39 PM]: Ok
[guest1155, 11/12/16, 1.39 PM]: Sy bungkus
[guest1155, 11/12/16, 1.40 PM]: Deal
[diarmaid1311, 11/12/16, 1.42 PM]: Oke
[diarmaid1311, 11/12/16, 1.43 PM]: Tlg transfer ya Mbak
[diarmaid1311, 11/12/16, 1.43 PM]: Ke rekening ini
[diarmaid1311, 11/12/16, 1.43 PM]: Bank Portalmess Fathom
[diarmaid1311, 11/12/16, 1.44 PM]: Diarmaid Caperland
[diarmaid1311, 11/12/16, 1.44 PM]: 9903.2018.74691
[diarmaid1311, 11/12/16, 1.45 PM]: Plus ongkir ya Mbak
[diarmaid1311, 11/12/16, 1.45 PM]: Ini dgn mbak siapa?
[guest1155, 11/12/16, 1.45 PM]: Armenta
[guest1155, 11/12/16, 1.46 PM]: Oke Mbak
[guest1155, 11/12/16, 1.46 PM]: Sip
[guest1155, 11/12/16, 1.46 PM]: Ditunggu
[guest1155, 11/12/16, 1.55 PM]: Sy udh transfer ya
[diarmaid1311, 11/12/16, 1.57 PM]: Sip
[diarmaid1311, 11/12/16, 1.58 PM]: Segera dikirim Mbak
[guest1155, 11/12/16, 1.59 PM]: Tengkyu

Portalmess Lighthouse Daily, 16 November 2016, rubrik Lintas Negara

Portalmess, Selasa 11/15 – Kasus pembunuhan terhadap Dvorak Garinkov (41), yang sudah menjadi misteri sejak Mei lalu, baru saja mendapat titik terang anyar. Diarmaid Caperland (28), seorang pemilik toko daring, tiba-tiba muncul dan memberikan kesaksian mengejutkan. Ia mengatakan bahwa pembunuh sebenarnya bisa dicari dengan menggunakan bantuan kamera infrared. Anehnya, kamera tersebut baru saja dijualnya ke seorang pembeli, hari Minggu lalu.

Dicap ingin cuci tangan dari masalah, Diarmaid mengamuk saat diserbu awak media. “Pokoknya saya gak mau buka identitas pembelinya. Kasihan, dia perempuan single. Saya akan ngomong ke polisi soal ini, tapi tidak ke kalian! Titik!” tandas Diarmaid saat diwawancarai oleh kru kami.

Liputan komprehensif menyusul.

Yahoo! Messenger, 18 November 2016

armenta0704 (18:11): Mas wasis
armenta0704 (18:12): Saya udh di t4
wasissamulya4ever (18:12): Oh sip
wasissamulya4ever (18:13): Kmu kebagian foto rubanah ya
wasissamulya4ever (18:13): Lgsg aja ke sana
wasissamulya4ever (18:13): Foto yg bnyk
armenta0704 (18:15): Oke mas

wasissamulya4ever is away

wasissamulya4ever (18:18): Armen?
wasissamulya4ever (18:18): Kmu di mn?
armenta0704 (18:19): Mas wasis
armenta0704 (18:19): Ini kamera serem e
armenta0704 (18:20): Kok bs lihat mcm2 yak
wasissamulya4ever (18:21): Mksudmu apa men?
armenta0704 (18:22): Kek ada hantunya gt
wasissamulya4ever (18:22): Heh?
armenta0704 (18:23): Td aku foto 2x
armenta0704 (18:23): Tau2 ada muka org
armenta0704 (18:24): Mirip sm si anu
wasissamulya4ever (18:24): Siapa?
armenta0704 (18:25): Siapa namanya? Dvorak?
armenta0704 (18:26): Yg mati Mei kmrn
wasissamulya4ever (18:26): Hah?
armenta0704 (18:26): Sama pembunuhnya mgkn
wasissamulya4ever (18:27): Eh
wasissamulya4ever (18:27): Ini kamera Diarmaid yak?
armenta0704 (18:28): Ho oh
armenta0704 (18:28): Aku beli di tokorporat
armenta0704 (18:28): Kok mas tau?
wasissamulya4ever (18:28): Ya iyalah
wasissamulya4ever (18:29): Itu lg heboh
armenta0704 (18:29): Kok aku ga tau?
wasissamulya4ever (18:29): Sini, tak kirimi fotone si diarmaid
wasissamulya4ever (18:31): [image0439.jpeg 122 kb – sent]
armenta0704 (18:32): Waaa
armenta0704 (18:33): Ternyata dia yg bunuh ya
armenta0704 (18:33): Si penjualnya
wasissamulya4ever (18:34): Ih, buang deh tuh kamera, men
wasissamulya4ever (18:34): Pakek kameraku
armenta0704 (18:35): Oh bntr mas
armenta0704 (18:35): Aku naik
armenta0704 (18:36): Aku msh di basement
wasissamulya4ever (18:36): Ya udh
wasissamulya4ever (18:37): Kutungguin

armenta0704 is away

wasissamulya4ever (18:42): Armen?
wasissamulya4ever (18:43): Kmu di mana?

armenta0704 is offline

wasissamulya4ever (18:51): Armen?

armenta0704 is offline

Portalmess Lighthouse Daily, 22 November 2016, rubrik Lintas Negara

Portalmess, Sabtu 11/20 – Diarmaid Caperland (28), pelapor tindak pidana teranyar dari kasus pembunuhan Dvorak Garinkov (41), dilaporkan menghilang secara misterius. Keluarga sudah dimintai keterangan, namun tidak ada yang mengetahui keberadaan pemilik toko daring Klandestian itu.

Di waktu nyaris bersamaan, Armenta Windrati (30), fotografer interior yang diduga kuat membeli kamera inframerah dari Diarmaid, ditemukan tewas, di tangga rubanah gedung Sempreverde Soho, Jumat 11/18. Tidak ditemukan tanda kekerasan di tubuh korban. Saksi Wasis Samulya (31) bungkam saat ditanyai para wartawan. Anehnya, sama sekali tidak ada kamera yang ditemukan di tempat kejadian.

Laporan komprehensif akan menyusul.

Surel wasissamulya@gmail.com, 23 November 2016

From : Wasis Samulya [wasissamulya@gmail.com]
To : Caperland, Diarmaid [diarmaid.caperland@gmail.com]
Date : Wed, 23 Nov 2016, 04:27 am
Subject : Kamera Armenta – Arsenalic MXIR 2275
Mailed-by : gmail.com
Signed-by : gmail.com
Message :

Dear Diarmaid,

Mungkin Anda sudah tahu bahwa Armenta, rekan saya yang membeli kamera Anda, tewas secara misterius. Konon sebelum tewas, Armenta sempat bilang bahwa kamera ini bisa menangkap citra Dvorak Garinkov dan Anda, meskipun jelas di sana tidak ada kalian. Kejadiannya di rubanah rumah yang sedang kami garap, alamatnya di Harvestry Road nomor 91.

Anehnya, kamera itu menghilang begitu saja.

Setelah mendengar bahwa kemarin Anda mencari saya, baiklah. Intinya, saya tidak ingin memperpanjang masalah. Saya juga tidak berniat mencari kamera itu kembali. Saya hanya ingin hidup tenang.

Terima kasih.

Wasis Samulya

Akun Twitter Portalmess Safety, 24 November 2016

Portalmess Safety
@PortalmessSafe

Wasis Samulya, fotografer interior, ditemukan tewas di rubanah Harvestry Road 91. Tidak ada tanda kekerasan lain. http://t.co/ue92osjp

11/24/16, 19:40

Akun Twitter Portalmess Safety, 26 November 2016

Portalmess Safety
@PortalmessSafe

Ditemukan mayat yg diperkirakan sdh tewas >3 bulan di Harvestry Road 91, teridentifikasi sebagai Diarmaid Caperland. http://t.co/1a34ogjr

11/26/16, 12:49


(Jakarta, 12/11/2016935 kata. Pernah diikutsertakan dalam kompetisi Creepypasta Bukune dalam rangka Halloween 29 Oktober s/d 14 November 2016. Tidak ada pengumuman hasil lomba hingga enam bulan berselang, sehingga kuanggap tulisan ini kembali jadi milikku. Epistolari ini ditulis hanya dalam satu jam.)

Kisi-Kisi Ujian Akhir Gelar Presiden

Kuis: Yuk Ukur Kemampuanmu dalam Membangun Sebuah Negara!

 

Survei dari Nelson mengemukakan bahwa 53% dari kaum pria kalangan atas di era 2210-an ini bercita-cita mendirikan negara sendiri dan menghimpun kekuatan berupa rakyat yang disebut juga minion—sesuai akronim “maju, intelek, nasionalis, imajinatif, orisinal, dan nyaman”. Bahkan 24% dari pria berusia 25-40 di negara kita ini sudah punya pekerjaan sampingan sebagai presiden para minion, lo!

Nah, bagaimana dengan kamu, para Tislers? Mungkin saja para Tislers sudah ada yang berencana menunggangi feri dan berlayar ke pulau kecil terdekat untuk membeli dan mendirikan negara di sana? Sebelum sauh ferimu bertolak, yuk, simak dulu peluang keberhasilanmu dalam membangun negara!

SOAL 1

Apa yang memotivasi kamu membangun suatu negara?

A. Ikut-ikutan teman, demi memuaskan kedengkian. Dia bisa, kenapa saya tidak?
B. Saya bercita-cita mendirikan partai; sudah punya duit, tetapi belum kesampaian.
C. Saya tidak tahu mau menghabiskan uang saya ke mana.
D. Saya sudah siap mencalonkan diri jadi bupati di tahun 2217. Membangun negara bisa jadi ajang saya latihan. Semacam simulator.

SOAL 2

Kamu punya 1.000 minion. Berapa lama waktu yang dibutuhkan negaramu untuk menghasilkan 50.000 potong pai?

A. Tergantung minion itu ada di kasta mana. Kasta nirwana: 1 tahun (mereka perlu waktu menanak pikiran). Kasta semenjana: 3 hari (mereka terbiasa kerja cepat, kok).
B. Tergantung saya sedang suka pai atau tidak. Sedang suka: 3 hari. Sedang tidak suka: 1 tahun.
C. 3 hari.
D. 1 tahun.

SOAL 3

Bagaimana tindakan kamu sebagai Bapak Peneroka Negara kalau ada minionmu yang berselisih paham sampai ramai?

A. Diam saja. Minion saya sudah dewasa dan saya bukan orang tua mereka. Biar mereka yang selesaikan masalah mereka sendiri.
B. Melerai dan membela salah satu, lalu memvonis yang satunya. Keadilan harus ditegakkan demi rasa aman minion!
C. Melerai dan melenggang seperti tidak ada apa-apa yang terjadi. Yang penting tenang, jangan ribut.
D. Siapa ribut, saya hilangkan!

SOAL 4

Apa yang akan kamu lakukan apabila negara milik sahabatmu berhasil menghelat pagelaran seni hebat macam Glastonbury atau Java Jazz?

A. Kepanasan, dong! Saya akan buru-buru cari sponsor, gelontorkan modal dan duit dan saham dan kalau perlu celana saya atau sarung bantal saya yang beriler juga boleh, demi bisa bikin acara atau festival yang lebih besar!
B. Saya masukkan wacana itu dalam daftar pencapaian negara dalam lima tahun ke depan. Selama itu, saya akan pelan-pelan cari modal.
C. Saya kenal sama vokalis sebuah band terkenal. Coba saya lobi lewat dia dulu.
D. Daripada menggelar acara begitu, mending saya menggelar festival memandikan luak pakai tuak.

SOAL 5

Seperti apa cara kamu mulai membangun ekonomi para minion?

A. Tawarkan sistem pasar yang menarik. Mereka bisa jualan apa saja.
B. Berikan celengan babi dengan saldo sama rata ke semua minion lalu didik mereka dengan materi kursus Kelola Uang Lintas Klasifikasi Aset (KULKAS).
C. Menanggung pangan sandang papan pendidikan minion dan buka lapangan-lapangan pekerjaan yang saya biayai langsung. Lalu saya tarik pajak yang besar.
D. Membagikan aset kepada minion lalu memasukkan hiu besar ke dalam kolam tempat minion hidup.

SOAL 6

Kamu mungkin mendengar berita bahwa belakangan ini daya beli minion sedang lesu karena omset jualan masing-masing sedang tipis. Bagaimana tindak lanjut kamu sebagai Bapak Peneroka Negara?

A. Tetap selenggarakan acara atau festival! Yang penting nama negara saya dikenal orang!
B. Gelontorkan yang lagi buat para minion. Saatnya bakar duit!
C. Saya teliti komoditi mana yang bisa dijual minion ke luar negeri dan coba saya optimalkan.
D. Pinjam modal saja ke teman saya yang bapak ibunya konglomerat, buat disuntikkan ke minion. Gampang.

SOAL 7

Apa yang kamu utamakan ketika membangun fasilitas ranah umum bagi para minion?

A. Tampilan. Asal keren dulu, deh. Fungsi-fungsi nanti saja, sambil jalan.
B. Ketahanan. Yang penting pakai material terbaik dan jangan lapuk oleh cuaca.
C. Kemudahan akses.
D. Jumlah dan pemerataannya.

SOAL 8

Bagaimana kamu menyemangati minionmu yang patah semangat kalau bisnisnya tak laku?

A. Itu artinya mereka kurang getol berpromosi. Saya akan suruh mereka promosi terus saja.
B. Perbantukan tim marketing. Mungkin minion-minion itu butuh teman untuk menggali potensi mereka.
C. Gelar acara dan festival.
D. Ajak pesta, minum tuak.

 

SKOR KAMU

1. A = 0, B = 1, C = 2, D = 3
2. A = 0, B = 1, C = 2, D = 3
3. A = 0, B = 1, C = 2, D = 3
4. A = 0, B = 1, C = 2.5, D = 2.5
5. A = 0.5, B = 0.5, C = 2.5, D = 2.5
6. A = 0, B = 1, C = 2.5, D = 2.5
7. A = 0, B = 2.5, C = 2.5, D = 1
8. A = 0, B = 3, C = 2, D = 1

 

INTERPRETASI

Skor total 26.5-30
Selamat! Kamu adalah calon presiden terkemuka yang akan memimpin minion menuju ekonomi dunia baru yang cemerlang! Saat ini, di seluruh penjuru dunia memang sudah terlengkapi berbagai fasilitas canggih, keamanan, kemudahan, dan otomatisasi. Kamu tinggal mempermulus itu semua dan memberi minion-minionmu akses. Selesai. Mereka akan mendukungmu penuh dan mengelu-elukan namamu di pemilihan pimpinan periode berikut, menyematkan gelar pahlawan pada namamu. Salut!
Skor total 22.5-26
Kamu berpotensi menjadi Bapak Peneroka Negara yang baik, tetapi kamu harus berkaca pada beberapa faktor yang mungkin perlu kamu perbaiki. Coba ambil kursus manajemen, perilaku, atau kepemimpinan untuk mengasah potensi dan keterampilanmu.
Skor total 22 atau kurang
Sayang sekali. Kamu bakal jadi Bapak Peneroka Negara yang gagal. Sifatmu yang keburu nafsu dan segera kepanasan ketika melihat negara tetangga yang lebih hijau atau lebih piawai berstrategi bakal menggiring para minion untuk menjauhimu dan memilih presiden baru. Atau yang lebih buruk, satu per satu minionmu akan mengajukan diri untuk menggantikanmu. Tak ada lagi yang mau jadi rakyat karena semua mau jadi penguasa. Jadi, maaf, kamu tidak cocok berhadapan dengan emban tugas membangun negara baru. Sebaiknya urungkan niatmu sekarang, pulang saja ke istanamu, dan main Sims City saja lewat komputer layar mutakhirmu.

[Jakarta, 16/03/2018, 996 kata] [Diikutkan pada #NulisKilat Storial Platform, ketentuan: premis “seorang pria mendirikan negara baru namun kesulitan mencari rakyatnya”, genre utopia, ending sedih]

Pengkhianatan dalam Tujuh Ratus Kata

Untuk kali pertama dalam hidupnya, gadis itu melihat. Ketika dahinya lepas dari pelukan lutut, yang dilihatnya pertama ialah gelap yang berangsur remang. Kedua ialah remang buram yang berangsur nyata. Ketiga ialah nyata lantas berbeda antara padang dan bulan. Rumput dan kembang dan cercah menghampar gelap nun jauh di bawah, bulan dan pelesatan bintang bergelantungan di atas jumantara ungu. Rumput itu tajam, kembang itu tumpul, bintang itu cepat, bulan itu bulat dan senyum. Purnama, kata mereka.

Gadis itu luruskan kaki, tangan, punggung, dan menapak. Rumput tajam menyambutnya. Karena rumput itu tajam jadilah telapaknya terluka-luka. Meraung-raunglah dia. Datang kembang untuk teteskan sarinya ke atas luka gadis itu. Datang juga sungai untuk teteskan air mata duka citanya ke sana. Ada yang memanggil gemintang berjatuhan, menyinar terang pada merah gelap darahnya. Rumput tertunduk malu dan minta maaf. Gadis itu meringkuk lagi. Dahinya mau dia benamkan lagi dalam pelukan lutut.

Lalu dia yang bersinar terang, paling terang di langit, menyibak-nyibak kawanan awan. Lantas menyapa gadis itu.

Dia Purnama. Sang bulan yang memacak di ubun-ubun gadis itu ketika hari pertama dia melihat.

Dengan sinarnya yang danta dingin, dia panggilkan beberapa gadis yang serupa sebangun sama sisi dengan gadis itu, yang betisnya juga terbaret-baret dan kelim celana di lututnya tercompang-camping. Mereka semua menghampar di padang luas, minum segar dari belaian hangat sungai dan makan langsung dari daging buah ranum dan ranting pohon rindang kala Purnama bilang ingin jalan-jalan sebentar karena bosan. Dia menitipkan sepotong kunci pada gadis itu. Gadis itu bertanya kunci apakah itu. Purnama cuma menjawab singkat. Itu kunci untuk membebaskan bunga dari gerumbul kelopak yang hangat, agar putiknya mencuat. Gadis itu belum juga paham tetapi Purnama pergi juga.

Gadis itu kembali bermain. Dia penasaran di manakah letak bunga dan kelopak yang dibicarakan Purnama. Gadis itu panggilkan sebatang pohon baobab, minta ditunjukkan arah perihal anak kunci. Sungai datang dan bilang jangan, meronta-ronta dalam kecipak demi baobab paham dan lebih baik bungkam saja. Bintang berkerumun berembuk minta waktu tambahan. Hara di bumi dan embun di daun balik badan. Gadis itu menuntut tanpa jemu. Sungai dipanggil gadis-gadis lain yang ingin mandi pagi. Bintang-bintang juga dipanggil ke rumah-rumah untuk mendengarkan potong-potong doa pagi. Tinggallah baobab, renta dan lupa wejang-wejang dari Purnama. Dia tuntun gadis itu ke sebuah palang.

Sesuatu di seberang palang itu indah. Tak cuma rumput dan gadis-gadis lain di sana. Banyak gedung bertingkat. Banyak manusia-manusia bertubuh kekar, kedang, tegap, pejal, sensual. Banyak peranti bertebaran. Banyak kereta berselang-selingan. Namun tak ada sungai. Tak ada juga padang rumput, gadis-gadis, bahkan baobab lain. Gadis itu menoleh pada baobab dan bilang dia sungguh ingin ke sana. Diam-diam saja. Hanya mereka yang tahu. Dia buka genggamannya, dia pasangkan kuncinya, dan bebaslah dia selamanya.

Gadis itu berlari dengan rasa yang dia pikir sepuasnya. Dia mencomot gelas, mengisi sendiri dari keran, minum sepuasnya. Lalu dia menggelayut pada sesosok manusia, memeluk dan mencium sepuasnya. Lalu dia masuk ke kendaraan, menyuruh-nyuruh tak tentu arah, masih dengan sepuasnya. Lalu dia turun dan memilih-milih rumah mana yang kira-kira patut buatnya, tentulah dengan sepuasnya.

Tak lama, gadis itu tersadar.

Jumantara yang tadinya luas, mulai mengecil. Mungkin dia yang membesar. Tungkai dan tungkainya mulai pampat. Tengkuk ke ubun-ubunnya kian lesak. Ada beberapa yang datang, tunjuk-tunjuk mukanya, bilang dia perompak. Apa-apa main minum saja, tidak bayar. Apa-apa main peluk saja, tidak beradab. Apa-apa main naik saja, tidak bayar ongkos pula. Apa-apa main masuk saja, seperti maling.

Lalu kaki dan tangannya terbelenggu.

Malam tiba. Purnama kembali. Dia mampir di belakang gadis itu, menumpang permisi saja. Sekelebatan saja. Belenggu itu dia lepaskan. Gadis itu dia persilakan mengendap-endap kabur. Kepada Purnama, gadis itu memohon minta dipulangkan ke padang dan bulan. Purnama menggeleng.

“Kamu pengkhianat. Kamu sudah salah gunakan kunciku.”

Purnama pergi dan gadis itu terkapar. Pingsan. Atau mungkin juga dia tidur.

Keesokan harinya bukanlah hari Purnama lagi. Untuk kali kedua dalam hidupnya, gadis itu melihat. Ketika dahinya lepas dari pelukan lutut, yang dilihatnya sama persis seperti kemarin. Namun sedikit beda. Semua lebih kecil, semua begitu jauh, dan semua begitu kering. Lengang. Tenang.

“Hei,” sahut sepucuk terang di sebelahnya.

Itu Bintang.

“Mana Purnama?” tanya gadis itu.

“Itu,” tunjuk Bintang pada gadis yang tengah berbisik dengan baobab, “Jadi? Bagaimana rasanya pengkhianatan?”

Gadis itu diam dalam danta dinginnya.

Dia tak peduli lagi apakah dia Purnama atau bukan.

 

 


[Jakarta, 23/02/2018, 700 kata. #NulisKilat 23 Februari 2018, tokoh utama perempuan, kata kunci Purnama, kalimat pertama “Untuk kali pertama dalam hidupnya, gadis itu melihat….”]

Tukar Rumah

Dengan takzim kupandangi benda itu. Dia baru selesai dirakit sepasang tukang, terpajang begitu saja di pojok ruang tidurku yang usang. Kucoba satu-satu isinya. Semua jalan, semua nyaman. Aku membayar separuh kontan separuh cek. Memang lantas habislah tabunganku. Sama seperti badanku. Juga umurku. Jangan salah. Aku sudah menimbang semuanya: pakai hati, pakai kalkulator, pakai timbangan. Aku sudah mantap.

Awal mulanya sederhana saja: kupingan yang tak pernah kusengajai.

“Giliran dia kapan? Aku capek mengurusnya. Bujangan tua tak berguna. Coba saja dia punya anak yang mau mengurusnya!” seru pengasuhku—yang saban hari memandikanku memakaikanku baju menyuapiku serta membantuku buang air—kala dia pikir aku tak dengar ocehannya dari balik jendela.

“Dia bisa saja pakai depositonya buat sewa ginoid. Biar ginoid itu yang piara dia sampai dia jadi debu,” sahut suara yang satunya. Ini perawat yang biasa datang kepadaku seminggu sekali untuk mengganti perban dan menyunduk jarum infus.

“Bukankah kamu bilang dia sudah tak punya harapan?” Mereka lanjut bercakap, tanpa tahu telingaku—yang masih tegap—masih bersigap.

“Benar. Kata dokter, umurnya paling tinggal dua bulan lagi.”

“Sudah, kaubaik-baiki saja dia. Siapa tahu warisannya yang bejibun itu jatuh kepadamu.”

Ada lagi.

Tamu satu. Datang langsung ke depan mataku.

“Tuan, kami dari Yayasan Penyembah Literasi. Kami tahu Tuan punya begitu banyak buku koleksi pribadi. Kami bermaksud untuk….”

Kuingat tumpukan buku yang dulu pernah kupamerkan di Instagram. Ternyata yang melihat dan terkesan bukanlah penulisnya, bukan juga sesama penyuka buku, melainkan kawanan burung pemakan bangkai. Kuusir mereka, bahkan sebelum kalimat pertama berhasil mereka tuntaskan.

Tamu dua. Menyahut-nyahut di telepon seperti perkutut.

“Tuan, kenapa tidak datang lagi? Kami butuh Tuan! Tidak ada relawan lain yang cekatan seperti Tuan. Kami sungguh rindu, Tuan! Kapan datang lagi? Atau kalau tidak, kirim uang saja. Pakai transfer kan bisa, ke nomor rekening…. Sebentar….”

Mereka mengaku mengharapkan bantuan yang tulus. Namun, rupanya mereka tak tulus kehilanganku ketika ketiadaan empat jari kaki dan munculnya borok di bokong yang tak sembuh-sembuh membuatku tak bisa berjalan jauh lagi. Kututup telepon sebelum dia kembali. Biar saja.

Begini.

Mereka tahu aku akan mati. Aku tahu uang tak bisa kubawa mati. Lebih baik, kusimpan saja uangku di suatu tempat, supaya mereka tidak tahu akan mengapakan aku setelah aku mati.

Cara yang cerdas, bukan?

Maka, kuteleponlah sepasang tukang itu.

*

Dia menyurel, tak kubalas.

Dia menelepon, tak kuangkat.

Dia mengirim bunga, tak kuucap terima kasih.

Ketika dia memutuskan nekat mendatangiku, aku bergeming. Tak bisa berbuat apa-apa selain meluluskan paksaan pembantuku yang cuma datang di Senin dan Kamis pagi. Dari mana dia tahu hari-hari kapan pembantuku ada dan tiada? Entahlah. Aku sudah lelah untuk berpikir seperti detektif.

Kalimat pertamanya sesuai dugaanku.

“Kenapa kaudiamkan semua surelku? Teleponku? SMS-ku? Kenapa tidak kaujawab? Aku peduli padamu. Sungguh peduli. Makanya aku nekat saja datang.”

Alih-alih menjawab, kupalingkan mukaku ke jendela, menonton burung-burung yang meningkahi jatuhnya dedaunan.

“Jawab aku.”

Perlahan kupalingkan muka ke mukanya. Muka yang tak asing tetapi terus otakku tolak demi kedamaian batin dari kecamuk perasaan. Jenis kelaminnya beda denganku, tetapi rautnya mirip aku… yah, tiga puluh lima sampai empat puluh lima persen. Tak lebih. Warna rambutnya beda denganku. Tingginya jauh lebih dariku. Namun kekerasan hatinya mirip aku. Itulah kali pertama aku menyimak fisiknya setelah dua puluh tahun.

Kusempatkan penasaran akan siapa ibunya menyisip di benak. Pastilah cantik.

Dua puluh tahun, tetapi aku masih ingat namanya. Nama asli, nama panggilan. Sekali sebut sudah cukup, karena aku belum (dan tak akan sempat) pikun.

“Aku tak bisa, Nami.”

“Bohong. Kau tak mau, kan?”

Beberapa daun limbung dari ranting. Menunggu nasib, menunggu mati. Sama denganku.

“Aku ke sini bukan untuk minta apa-apa. Minta harta? Ah. Aku sudah tahu kalau mereka-merekalah yang lebih berhak. Minta pengakuan? Aku tahu keras kepalanya kau. Aku mungkin mendapatkan sifat ini darimu.”

Aku mendelik padanya.

“Maaf,” tunduknya, tetap tegar, “aku tak bermaksud….”

“Jangan sebut-sebut itu lagi.”

“Aku tahu.”

“Jadi?”

“Aku cuma ingin tanya soal benda itu.”

Aku menjengit sembari melihat arah telunjuknya. Ke pojok kamarku. Ke benda itu. Buru-buru kubalas dengan kedikan dua bahu.

“Untuk apa kaulakukan itu?”

Kembali, aku diam. Kupalingkan mukaku ke jendela, lagi dan lagi. Dari samping tempat tidurku, kudengar suara derit kursi yang baru dia tinggalkan, langkah-langkahnya yang cepat, dan kelebat gerak tangkasnya. Lalu cengkeraman tangannya pada tanganku. Kanan dan kiri.

“Untuk apa, Ayah? Kau lupa ada aku?”

Aku terlalu lemah untuk berpaling lagi. Tenagaku habis.

“Bukan begitu, Nami.”

“Lalu?”

“Aku… c-cuma tak mau jadi korban. Semacam bangkai yang dipanen.”

Anamnesis mengernyit. Memicing. Lalu mengendurkan cengkeraman sedikit.

“Lepaskan, tolong,” pintaku. Agak merintih, mungkin. Anamnesis menurut.

“Nami, aku tak punya siapa-siapa. Kamu tahu kamu itu milik ibumu. Aku cuma penyumbang sperma anonim yang kemudian jadi bernama karena kamu berhasil melacakku lewat aplikasi genetik. Aku tak berhak mengakuimu. Sementara mereka… mereka tahu aku tak punya siapa-siapa, jadilah mereka menungguku cepat mati saja. Toh waktuku juga tidak lama lagi. Jadi, anggap saja benda itu sebagai kenang-kenangan,” tunjukku ke pojok ruangan.

“Maksud Ayah?”

“Aku akan menghabiskan waktuku di sana. Tenang dan nyaman. Kamu kan tahu kalau mati itu hanya perkara pindah tempat. Nah, aku mau pindah ke…. Ke sana. Tolong, Nami.”

Anamnesis bergegas menghampiri peti mati termutakhir itu. Dia buka kedua daun pintunya. Ada kasur pegas paling nyaman, bantal empuk, selimut hangat. Pemanas mungil. Kulkas mini. Bak mandi. Pancuran air. Seperangkat televisi dan video. Sebundel cakram film. Rak buku. Poster perempuan-perempuan cantik. Jendela dengan wallpaper dusta. Banyak lagi.

Dia paham sekarang.

Dia membalik badan, bertanya padaku.

“Memangnya, waktu Ayah seharusnya kapan?”

Kuceritakan bahwa aku sudah kalahkan prediksi dokter, juga gunjingan perawat. Dua bulan jadi lima bulan dan masih terus, meskipun luka bokongku sudah berbelatung dan analgesik suntikku terus sinambung. Aku terus menderita dan Anamnesis tak tega.

“Ayah harus ingat aku di sana. Harus.”

Aku mengangguk, mengaku kalah.

Jadilah dia menggendongku susah payah, lalu membaringkanku ke dalamnya. Tak lupa dia titipkan pas foto berwarnanya yang terbaru, tepat di silangan dua tanganku di dada. Dia rapalkan doa terindah waktu isi jarum itu didorongnya masuk ke darahku, mengantarku ke perjalanan terjauh, dalam kereta surga ini.

Aku akan baik-baik saja, katanya.

Dalam pekat kantukku, aku percaya saja, abai akan seserapah mereka yang bukan dia.

Lalu memejam selamanya.

 


(Jakarta, 11.02.2018. 999 kata)

Trivia:
1. Ginoid = android wanita
2. Anamnesis = (Gre) kenangan. Istilah ini lebih sering dikenal di kedokteran, yang artinya “proses wawancara oleh tenaga medis untuk mendapatkan] riwayat kesehatan pasien”.
3. Inspirasi/interpretasi bebas atas puisi “Di Toko Peti” (buku puisi Belajar Melucu dengan Serius, Hasta Indriyana, GPU/2017) dan lagu Banda Neira “Sampai Jadi Debu” (album Yang Patah Tumbuh, Yang Hilang Berganti, 2016).

Biar Kekallah Kami di Bumi

Seratus lima puluh Desember yang lalu, Kakek pernah mengajariku mengenali Natal dengan mengamati butir salju yang berkejaran turun. Ia membuka mulut. Lantun perlahan dan tatapan purbanya kubalas dengan decak dan delik marah.

“Cara macam apa itu, Kek?”

“Dengar dulu, Nev.”

“Tidak, Kek. Itu tak masuk akal!”

“Ya tidak apa! Yang penting kamu tahu sendiri, sudah cukup!”

Aku menyerah.

“Kamu lihat, Nev, kalau ada satu saja butiran salju yang bisa mengejar butiran salju di bawahnya, berarti sudah tanggal 24.”

Aku mendengarkan. Kurang saksama, tapi cukup menancap dalam ingatan. Otakku yang masih lugu—dan belum dicekoki teori-teori fisika dari para dosen dan profesorku—mengamini saja. Memang beberapa butir salju seolah lebih cepat daripada kawanannya. Mereka, lambang dingin yang hakiki, saling tak mau kalah, meskipun sama-sama dipasung gravitasi, jatuh ke pelukan bumi.

Aha! Itu dia! Salju sekepalan tanganku membalap bola salju yang sebesar kerikil.

“Benar, kan, Nev?”

Aku tertawa.

Kakek semringah.

Aku pun semringah kalau ingat masa-masa itu. Ketika Kakek masih ada, ketika umur bisa ditera dengan perpaduan aktuaria dan peta bintang di jumantara. Masa-masa ketika semesta masih mengembang, ketika semua tak masalah saling menjauh.

Sampai berpuluh Desember kemudian.

*

Lima puluh Desember yang lalu, semesta berhenti menjauh. Perlahan, mereka sepakat saling berpelukan kembali. Ahli fisika dibuat terperangah, hingga merasa perlu mengecek sampai lima puluh kali hanya untuk menemukan fakta yang sama dan sama lagi. Hingga kini, alam semesta menyempit, saling dekat, menunggu debum terakhir.

Semacam ketuk palu kiamat.

“Benar, kan, Nev?”

Suara itu tidak purba dan tidak serak. Beratnya penuh, kuat, bergelora di tengah beku. Jelas itu bukan Kakek.

Itu Kaspar.

Ujaran itu selalu hadir tiap Desember, ketika aku duduk meringkuk dekat kosen jendela, sambil menatap hujan salju yang kecepatannya tak lagi sama dengan hipotesis Kakek. Sekarang, mereka semua turun lebih tergesa, lebih tegak lurus. Tak lagi ada tarian miring kanan atau miring kiri seperti dulu. Semua sama cepat.

“Benar apanya?”

Dengan sigap, Kaspar menarikku keluar dari kabut lamunan. Jemariku dan jemarinya bersentuhan, saling mengait.

“Benar bahwa teori kakekmu salah.”

“Newton bisa murka. Atau justru dia tertawa dari dalam kubur.”

Kaspar mendecak. “Kakekmu bisa saja mendebat Newton di sana. Kalau perlu sama Tyson, Sagan, Hawking, Thorne, Feynman….”

“Kaspar,” jemariku naik, hendak menyisipkan rambut ke belakang telinganya, “itu bukan urusan kita lagi.”

Ia mengelak. Aku tahu ia tak suka rambut lebatnya diperlakukan bak rambut gadis. Ia melompat ke sebelahku, ikut duduk di kosen. Sesuatu yang jarang ia mau lakukan. Dingin, katanya tempo hari.

“Kamu tahu tempat paling aman di dunia ini seandainya kiamat itu memang ada?”

Aku menggeleng. “Di bawah dedalu api?”

“Bukan.”

“Depan perapian?”

“Bukan! Lebih salah lagi.”

“Jadi?”

Kaspar menunjuk ke cemara palsu buatan kami. Ia ada di sebelah jendela yang satunya. Baru selesai kami rakit kemarin malam. Belum banyak lampu tersemat di dedaunannya. Belum ada pula hadiah yang tergeletak di bawahnya. Padahal tinggal tiga hari.

“Kita belum menghiasnya, Kaspar!” pekikku panik, segera bergegas bangkit dari duduk.

Barulah saat itu kulihat, ada salju mengonggok di salah satu sisinya. Jendela kami tak menutup sempurna. Seseorang di antara kami telah ceroboh.

“Oke, Nevada. Sebentar.”

Kaspar naik ke loteng. Aku tahu ia ingin mengambil sekop. Pekerjaan mudah, mengingat aku tak pernah mengemaskan sekop sampai dalam-dalam atau ke tempat sulit. Sementara, aku beranjak ke kamar mandi. Sudah seharian kami tidak berendam air hangat. Lebih baik kusiapkan dulu.

Kejadiannya begitu cepat. Kaspar turun dengan mengempit sekop. Ia mengangkat penutup jendela sedikit, bermaksud menutupnya. Berat. Jadilah ia berjinjit, berdiri ke pinggir kosen. Namun, ia memegang kenop dengan terbalik. Jendela menyentak, angin menyerbu masuk, dan ia terpeleset.

Kupikir, ia lenyap di balik berkah di pohon Natal.

Aku merutuk mengapa aku begitu bodoh.

Keajaiban itu tidak ada.

Aku menangis.

Aku mencari-cari Kaspar.

Badai tak berhenti hingga tujuh hari berselang.

Barulah, ia muncul dalam keadaan yang mengejutkan.

*

Ketika badai putih mengamuk menjelang Natal, aku naik ke loteng. Desember demi Desember, sendi-sendiku semakin tak mengizinkanku melakukannya. Biar.

Kubuka pasu yang kusimpan dalam peti itu Bunga-bunga salju menyambutku. Sedikit serpihnya melompat ke pipi, membelai lembut, dingin sekaligus hangat.

Nadir semesta tak jauh lagi. Menunggu kiamat, kupikir Kaspar setuju untuk masuk ke tubuhku, menjadi darahku, mengikat dagingku. Sesekali, jika aku mau, aku mengambil sejumput Kaspar. Kuseduh dalam air yang habis kujerang, kuseruput perlahan, selagi hangat.

Biar kekallah kami di bumi.

 

 


[Jakarta, 22/12/2017, 699 kata. #NulisKilat 22 Desember 2017, tema Natal, kata kunci Salju, genre bebas. 

[1. Semesta saat ini sebetulnya masih mengembang (inflasi). Ini adalah gambaran dunia di mana semesta sudah mengerut (deflasi), yang belum diketahui akan terjadi kapan.
2. Nama karakter: Nevada (Spanyol, salju), Kaspar (Jerman, nama salah satu dari tiga raja yang mengunjungi Nabi Isa/Yesus saat baru dilahirkan).
3. Nama-nama yang disebut Kaspar: (Richard) Feynman, (Stephen) Hawking, (Isaac) Newton, (Carl) Sagan, (Kip) Thorne, (Neil deGrasse) Tyson.
4. Dedalu api = mistletoe dalam bahasa Indonesia.]

Siang dan Malam

Kami tutup jam sepuluh. Luka itu terbuka jam sepuluh lewat lima.

Awalnya tidak sakit, seperti biasa. Tanganku tergelincir saat merapikan piring dan cangkir. Garpu dan pisau berdentingan karena kutumpuk saja sembarangan. Tanpa kusadari, ada satu pisau yang tergelincir. Coba kutangkap dengan telapak tangan, begitu lugunya. Memang pisau itu tak jadi membentur lantai. Namun telapakku yang terbeset.

Banda berteriak, berlari ke arahku. Lucunya, aku tak ingat apakah sebelumnya aku berteriak atau tidak.

“Naira! Kamu tidak apa-apa?”

Jujur, aku belum pernah teriris pisau selebar itu; meskipun aku sering menyaksikan orang teriris di film-film. Belum pernah menyaksikan darahku sendiri mengucur dari luka seperti itu; meskipun aku sering mendengar kisah-kisah penuh darah dari berbagai penjuru. Aku tidak tahu apakah aku akan kehabisan darah. Aku tidak tahu apakah aku memang tidak apa-apa.

Jadi, aku tidak menjawab Banda.

Ia menggenggam punggung tanganku dari bawah. Keras.

“Naira, darahmu harus distop dulu. Nanti kamu kehabisan darah.”

“Kamu punya plester?”

“Luka segede gitu mau langsung kamu plester? Mana bisa, Ra….”

Memang logikaku sering macet kalau sedang bingung begini.

“Sebentar, Ra.”

Ia melepaskan genggaman. Dari gerak-geriknya, aku bisa menduga apa yang akan Banda lakukan. Sesuatu yang buruk, kalau sampai penyelia kami tahu.

“Banda, jangan! Bubuk itu baru datang kemarin….”

“Tapi, Ra? Kalau kamu sampai kehabisan darah, gimana?”

Aku disuruhnya duduk di meja nomor dua, sementara ia membuka tutup stoples yang baru kukemas kemarin sore. Harum. Menguatkan. Memberiku semacam energi baru. Lalu ia mengambil bubuk itu, sejumput saja. Ditaburkannya ke atas luka menganga di tanganku. Sejenak, kami sepakat bahwa jumputannya kurang. Ia mengambil lagi sejumput. Proses itu berulang hingga tiga kali.

Ajaib. Tak lama kemudian, darah berhenti menetes-netes dari sana.

Banda menghela napas. Ia mengempaskan bokong ke kursi di sebelahku.

“Kamu ceroboh amat.”

“Kamu juga sama.”

“Hei. Sekarang, jelaskan padaku apakah ada cara lebih baik untuk menghentikan lukamu itu?” deliknya. Ia memang sering begitu kalau kami berselisih pendapat. Aku nyaris selalu memutuskan untuk mengalah.

Tapi tidak, untuk kali itu.

“Ada jurnal ilmiah yang bilang,” ucapku pelan, “kalau bubuk itu justru memperlambat berhentinya luka. Kafein mengeluarkan zat tertentu yang menghambat regenerasi sel di sekitar luka.”

“Kata siapa? Buktinya? Lihat sendiri, Ra. Kamu terlalu textbook, sih, ah.”

Satu per satu toko tutup. Sementara kami belum selesai!

“Kamu bisa pakai kain di wastafel. Pura-pura jadikan itu bebat, Ban.”

Ia menggeleng yakin, “Kain itu tidak bisa menyerap darah.”

“Kamu tidak perlu kain yang menyerap darah. Kamu cuma perlu mengikat.”

Tak kusangka, Banda menarik kursi. Kami begitu dekat kini. Bisik-bisik pun, kami bisa saling dengar.

“Ra, kamu tidak perlu protes. Pakai alasan jurnal, segala. Kamu tahu tidak, jurnal lain yang bilang bahwa kafein justru bisa menyembuhkan luka?”

Ganti aku yang terdiam.

“Mau debat sampai besok pagi pun, kamu bisa benar, bisa salah. Aku pun,” ujar Banda sembari bangkit dari kursinya. Ia mendekat ke wastafel, jelas bermaksud melanjutkan mencuci shaker-nya. “Kamu tahu kalau aku pun takut didenda bos gara-gara aku mengambil bubuk tadi.”

Banda ini. Apa pun yang ia lakukan dan pikirkan, benar-benar tak pernah bisa kuprediksi!

“Heh?”

“Iya. Aku melakukan itu karena yakin cuma itulah satu-satunya cara cepat untuk menutup lukamu. Soal denda…. Ah, besok sajalah baru dipikirkan. Aku tinggal bilang aku menumpahkannya sedikit….”

Kami berpandangan.

Saling mencari jawaban.

Saling melupakan argumen.

Ya, kami bahkan lupa. Jam setengah sebelas. Antara siang atau malam.

 


[Jakarta, 04/08/2017, 537 kata. Diikutkan ke #NulisKilat dengan latar tempat coffee shop, genre romance]

[Penafian: Cara penanganan luka dalam cerita ini tidak direkomendasikan untuk ditiru dalam kehidupan sehari-hari. Tetap ikuti prosedur P3K, dan hubungi instalasi medis jika luka cukup serius.]

[Referensi yang disebut Naira bisa kalian cek di: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/25041108%5D

Adam yang Disempurnakan

Ganjil. Ini benar-benar ganjil.

Dua tangannya, yang seharusnya hangat di telapak, melandai di belikat, menangkup bahuku. Justru sengat dingin yang kurasakan. Tak mau pergi-pergi.

Semua berawal dari berbulan-bulan yang lalu. Aku tahu kata kunci komputernya, namun aku menyangkal itu sekadar ingin tahu atau percik cemburu yang terburu-buru. Sepasang karcis. Tanggal sebelas. Jam tujuh. Film yang sudah kami tonton di tanggal sembilan. Aku tidak diberitahu. Kutelan saja semuanya, tanpa bertanya.

Satu lengannya menggeleser perlahan, melingkar ke depan. Ia merangkumku sempurna dari belakang. Rangkum itu, entahkah lengan yang dulu biasa melindungiku dari bahaya, entahkah itu harum yang dulu meyakinkanku bahwa itu memang dirinya.

Indra pertama tidak melihat dan indra kedua tidak mendengar, tapi indra ketigaku tak pernah bisa dibohongi. Tanggal lima belas, ia pulang terlalu larut. Dilemparnya saja kemeja itu ke dalam baskom kering. Besok jadwal tukang cucian datang, jadi aku harus menghitung dengan tepat isi baskom sebelum menyerahkan isinya. Aroma kemejanya beda. Segar kayu itu masih tegas, namun ada semilir bunga bercampur sitrun. Aku tak pernah menyukai aroma jeruk. Aku tidak diberitahu. Masih kupaksakan semua ini melewati kerongkongan, masih tanpa bertanya.

Rahangnya menyapa tengkukku. Ia mengatur napas. Masih canggung. Ia ingin mendesah, namun ia urung. Aku menggigil kian hebat. Kian takut.

Tanggal satu, ia terburu-buru melewati pintu depan. Kotak besar berhias pita manis nyaris terjungkal dari tangan itu. Indra keenamku bilang, ia baru ingat sepenuhnya itu hari ulang tahunku. Secepat kilat lagi ia letakkan kado di meja. Sebelah tangannya meraih punggungku, sembari bibirnya memulai ritual tahunan kami dengan segera. Indra keempatku mencecap sesuatu yang tak sama. Sesuatu yang terlalu manis dari bibirnya yang biasa. Bekas dilumat seseorang. Indra kelimaku meraba benda tak lazim dari saku belakang celananya. Kutarik. Itu kain. Merah. Satin.

Ia bisa mencekikku sekarang. Ia bisa menerkamku sekarang.

“Lisa,” bisiknya tepat di balik daun telinga kananku, “aku mau bilang sesuatu.”

Aku menggeliat sekilas, namun enggan membalik badan, enggan menatapnya dalam-dalam. Ini lebih mirip semacam usaha mempertahankan diri. Usaha melarikan diri kalau ada apa-apa.

“Harus sekarangkah?”

“Kita sudah lama tak saling bicara, Lisa.”

Dengan sebelah lengannya yang masih memelukku di dada dan bahu, dengan sebelah pipi dan rahangnya yang masih menempel di tengkuk, aku tak bisa berbuat banyak. Percuma saja.

“Aku akan menikah lagi.”

Tanpa memberiku jeda, ia mengeratkan rangkul. Tanganku terkunci rapat. Ia lupa dengan tanganku yang satunya. Menjelujur rusuk demi rusuk dari balik dada kirinya. Dari bawah.

Satu, dua, tiga…. 

“Dengan perempuan itu? Yang parfumnya sitrun itu?”

“Lisa, Lisa. Kamu tak pernah berubah. Cerdas. Aku suka,” seringainya, kian lebar.

Empat, lima, enam, tujuh…. Degup jantungnya…. 

“Kalau aku bilang tak boleh, bagaimana?” 

Delapan, sembilan, sepuluh….

“Tidak mungkin, Lisa. Kamu tak bisa bilang tak boleh.” 

Sebelas…. 

Napasku tertahan, “M-m-memangnya…. Kenapa?

Dua belas…. 

Tunggu.

“Karena Tuhan saja menciptakanku dengan tiga belas rusuk ketika pria lain cuma punya sebelas. Aku berhak atas dua istri, bukan?”

Tiga belas. Tepat di lehernya.

Hitunganku terhenti.

Terlambat.

Dadu dari Tuhan sudah kuambil. Tak bisa ditukar, apalagi dikembalikan.

 


(Jakarta, 17/07/2017. Monday Flash Fiction Prompt #145: Tiga belas. Cerita ini terpilih untuk bahan diskusi pada minggu keempat Juli 2017. 481, jumlah kata dalam cerita mini ini, adalah hasil perkalian 13 dan 37.)

(Dalam aspek anatomi manusia, dikenal sejenis kelainan bernama 13th rib atau cervical rib, yang terletak di leher (dekat tulang selangka). Kelainan ini ditemukan pada 1 dari 150 orang, dan sebagian besar tidak bergejala apa pun. Di lain sisi, mitos bahwa pria hanya memiliki sebelas ruas iga kiri adalah tidak benar – semua manusia normal memiliki dua belas pasang iga. [dari berbagai sumber])

Mense Terribilis

Bukan warna campuranku lagi yang kukhawatirkan. Bukan kanvasku lagi. Awalnya aku cuma tak ingin mengecewakan Lucy. Perintahnya jelas, masih begitu sampai hari ini setelah dua tahun berselang. Jangan perkenalkan dirimu. Kejermananmu. Karena ini Amerika. Sebut nama depanmu saja. Selesai. Kamu cuma pelukisnya, bukan siapa-siapanya. Tidak seperti aku. Tidak seperti … ehem … Eleanor.

Kamera Nicholas yang memotretnya telah diturunkan. Belum ada pengawal lain. Beliau masih duduk — begitulah caranya menghabiskan nyaris seperempat abad belakangan ini — dan menatapku. Lurus. Tajam. Senyata pisau meskipun tampak begitu rapuh. Akibatnya jelas. Bahkan aku tak berani memperkenalkan diri terlebih dahulu.

“Perkenalkan dirimu, Nona.”

Aku memang sedang menunduk, merapikan warna-warna cat air ini hingga sungguh siap. Kata mereka, jangan pernah lihat kakinya — kau akan menyesal kalau beliau sudah mendelikmu. Kunaikkan saja pandangan, hanya demi mendapati pasang mata yang lebih cekung dari dugaanku, dari foto yang kulihat dari Yalta minggu lalu.

Sesuatu. Ada sesuatu.

“Heidi,” aku menahan napas sesaat, “Heidi, Tuan Presiden.”

“Baiklah,” ucapnya tegas, seraya mendesah dan memandang keluar jendela. Beliau tampak begitu lelah. Aku sudah hampir menyuruhnya bersandar saja, sebelum tiba-tiba rentetan perintah Lucy kembali menyahut di dalam kepala. Alih-alih menunjukkan perhatian, aku hanya berkata, “Bisa kita mulai, Tuan?”

Beliau mengangguk. Segera beliau merapikan posisi duduk, terdiam, namun sama sekali tak tampak terkantuk atau lelah dan ingin menunduk. Sementara aku terus berpura-pura menunduk, berdalih cat air ini harus diaduk-aduk. Menit demi menit, beberapa pengawal silih berganti mengawasiku, seolah mau menengarai bulir keringatku satu demi satu.

“Heidi,” sahutnya mendadak, “aku lelah. Sebentar, aku perlu minum dulu.”

Seorang pengawal masuk membawa segelas air. Bening, pertanda itu air putih biasa. Namun bukan itu yang menarik perhatianku. Melainkan gelasnya. Aku bertemu dengan gelas itu tadi, tepat sebelum masuk ke ruangan ini.

Beliau minum. Tiga teguk, kuhitung. Itu cukup.

“Tuan Presiden,” sebutku perlahan, sembari terus mengitarkan tatapan ke selaksa gurat-gurat ringkih itu. Seharusnya, tanpa kusiksa pun, malaikat arit itu bakal segera datang, “kurasa dasi merah lebih bagus buat Anda. Lebih berwibawa.” Kali itu, aku tak berkedip barang sekali pun. Kurapal hitungan dalam hati. Begitu tiba waktunya, kubenamkan lagi mata pada kanvas dan cat air. Tak keluar-keluar lagi.

Sore tiba. Lukisanku masih lubang-lubang. Wajah Beliau bahkan belum rampung. Aku minta maaf, minta maaf lagi, sambil buru-buru berkemas sebelum tersandung. Ingin cepat-cepat lari saja. Aku berpapasan dengannya malam itu. Malaikat yang membawa arit dan menjulang tinggi. Ia mengangguk kepadaku, aku mengangguk kepadanya. Aku berjalan keluar Gedung Putih dengan kempitan dua pengawal, ia malah dibiarkan bebas berkelana sendirian di dalam tanpa pengawasan.

Ingat caranya, Heidi? Tatap ia lama-lama. Ia akan risau sendiri, sehebat apa pun dia. Ingat, tatapan dalammu akan melemparkan kekuatan mematikan. Kamu yang melempar, namun ia sendiri yang memutuskan untuk mati. Sakit. Bunuh diri. Kecelakaan. Takkan ada yang menudingmu, Heidi Manshoff, keturunan terakhir Merlin yang masih betah bersembunyi di Jerman Barat.

Lalu kudengar kisah selanjutnya. Emma Shoumatoff menggantikanku keesokan harinya, tanggal dua belas. Di tengah prosesnya melukis Franklin Delano Roosevelt — itulah namanya — Beliau kesakitan, tersungkur, pingsan, dan lalu pergi selamanya. Harry Truman disumpah sebagai presiden baru, sementara Emma Shoumatoff — ya, Emma yang itu — tak pernah muncul lagi.

Aku tersenyum kecut sendiri, sambil menuju pelabuhan udara. Aku harus cepat menuju Berlin, Jerman Barat — ya, negeriku sendiri — sambil membayangkan betapa jemu sayuran mengonggok dalam mangkuk sup vegetariannya.

Kamu pasti tahu siapa tujuanku selanjutnya.

 

 


(Jakarta, 09/06/2017, 537 kata. Cerita terpilih #NulisKilat 9 Juni 2017, tema Historical Fiction. Mense terribilis = bahasa Latin untuk “bulan yang buruk”, dalam hal ini April 1945.)

[Tokoh-tokoh nyata dalam cerita ini: Franklin Franklin D. Roosevelt (1882-1945), Lucy Rutherfurd (1891-1948), Eleanor Roosevelt (1884-1962), dan Adolf Hitler (1889-1945)]