Adam yang Disempurnakan

Ganjil. Ini benar-benar ganjil.

Dua tangannya, yang seharusnya hangat di telapak, melandai di belikat, menangkup bahuku. Justru sengat dingin yang kurasakan. Tak mau pergi-pergi.

Semua berawal dari berbulan-bulan yang lalu. Aku tahu kata kunci komputernya, namun aku menyangkal itu sekadar ingin tahu atau percik cemburu yang terburu-buru. Sepasang karcis. Tanggal sebelas. Jam tujuh. Film yang sudah kami tonton di tanggal sembilan. Aku tidak diberitahu. Kutelan saja semuanya, tanpa bertanya.

Satu lengannya menggeleser perlahan, melingkar ke depan. Ia merangkumku sempurna dari belakang. Rangkum itu, entahkah lengan yang dulu biasa melindungiku dari bahaya, entahkah itu harum yang dulu meyakinkanku bahwa itu memang dirinya.

Indra pertama tidak melihat dan indra kedua tidak mendengar, tapi indra ketigaku tak pernah bisa dibohongi. Tanggal lima belas, ia pulang terlalu larut. Dilemparnya saja kemeja itu ke dalam baskom kering. Besok jadwal tukang cucian datang, jadi aku harus menghitung dengan tepat isi baskom sebelum menyerahkan isinya. Aroma kemejanya beda. Segar kayu itu masih tegas, namun ada semilir bunga bercampur sitrun. Aku tak pernah menyukai aroma jeruk. Aku tidak diberitahu. Masih kupaksakan semua ini melewati kerongkongan, masih tanpa bertanya.

Rahangnya menyapa tengkukku. Ia mengatur napas. Masih canggung. Ia ingin mendesah, namun ia urung. Aku menggigil kian hebat. Kian takut.

Tanggal satu, ia terburu-buru melewati pintu depan. Kotak besar berhias pita manis nyaris terjungkal dari tangan itu. Indra keenamku bilang, ia baru ingat sepenuhnya itu hari ulang tahunku. Secepat kilat lagi ia letakkan kado di meja. Sebelah tangannya meraih punggungku, sembari bibirnya memulai ritual tahunan kami dengan segera. Indra keempatku mencecap sesuatu yang tak sama. Sesuatu yang terlalu manis dari bibirnya yang biasa. Bekas dilumat seseorang. Indra kelimaku meraba benda tak lazim dari saku belakang celananya. Kutarik. Itu kain. Merah. Satin.

Ia bisa mencekikku sekarang. Ia bisa menerkamku sekarang.

“Lisa,” bisiknya tepat di balik daun telinga kananku, “aku mau bilang sesuatu.”

Aku menggeliat sekilas, namun enggan membalik badan, enggan menatapnya dalam-dalam. Ini lebih mirip semacam usaha mempertahankan diri. Usaha melarikan diri kalau ada apa-apa.

“Harus sekarangkah?”

“Kita sudah lama tak saling bicara, Lisa.”

Dengan sebelah lengannya yang masih memelukku di dada dan bahu, dengan sebelah pipi dan rahangnya yang masih menempel di tengkuk, aku tak bisa berbuat banyak. Percuma saja.

“Aku akan menikah lagi.”

Tanpa memberiku jeda, ia mengeratkan rangkul. Tanganku terkunci rapat. Ia lupa dengan tanganku yang satunya. Menjelujur rusuk demi rusuk dari balik dada kirinya. Dari bawah.

Satu, dua, tiga…. 

“Dengan perempuan itu? Yang parfumnya sitrun itu?”

“Lisa, Lisa. Kamu tak pernah berubah. Cerdas. Aku suka,” seringainya, kian lebar.

Empat, lima, enam, tujuh…. Degup jantungnya…. 

“Kalau aku bilang tak boleh, bagaimana?” 

Delapan, sembilan, sepuluh….

“Tidak mungkin, Lisa. Kamu tak bisa bilang tak boleh.” 

Sebelas…. 

Napasku tertahan, “M-m-memangnya…. Kenapa?

Dua belas…. 

Tunggu.

“Karena Tuhan saja menciptakanku dengan tiga belas rusuk ketika pria lain cuma punya sebelas. Aku berhak atas dua istri, bukan?”

Tiga belas. Tepat di lehernya.

Hitunganku terhenti.

Terlambat.

Dadu dari Tuhan sudah kuambil. Tak bisa ditukar, apalagi dikembalikan.

 


(Jakarta, 17/07/2017. Monday Flash Fiction Prompt #145: Tiga belas. Cerita ini terpilih untuk bahan diskusi pada minggu keempat Juli 2017. 481, jumlah kata dalam cerita mini ini, adalah hasil perkalian 13 dan 37.)

(Dalam aspek anatomi manusia, dikenal sejenis kelainan bernama 13th rib atau cervical rib, yang terletak di leher (dekat tulang selangka). Kelainan ini ditemukan pada 1 dari 150 orang, dan sebagian besar tidak bergejala apa pun. Di lain sisi, mitos bahwa pria hanya memiliki sebelas ruas iga kiri adalah tidak benar – semua manusia normal memiliki dua belas pasang iga. [dari berbagai sumber])

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s