Saga Suara Sari

Saya suka segala hal tentang suara Sari: kombinasi serak dan sengau yang saya rasa seksi sekali. Saya selalu senang kalau jam siarannya sudah mulai: dari langit sempurna gelap sampai embun berdatangan pagi-pagi. Kebanyakan dia bicara saja dan bukan menutupi pakai lagu, dia bacakan berita-berita kemarin saja dan bukan berkejaran demi mengumumkan berita baru. Sari mengulang-ulang saja kalimatnya; propaganda, kurasa; pedagogi, kurasa; disuruh orang, pastinya. Beberapa nama lancar disebutnya. Beberapa tempat, beberapa kenangan, beberapa target. Saya tak mau tahu apa yang Sari bicarakan dan mengapa dia bicarakan itu. Saya rela tidak minum tidak makan tidak dilumas berhari-hari, atau juga tak perlu jalanlah beberapa hari, kalau saya bisa terus mendengarkan suara Sari.

Suatu hari, Sari tidak siaran. Penyiar penggantinya, yang sedari sore sibuk memutar lagu-lagu barat kelabu, bilang bahwa dia sakit. Kernet satu dua dan tiga bertanya, saya jawab lempeng, “Sari sakit.” Mereka tak puas. Suara penyiar pengganti itu mereka keraskan, sampai separuh terminal bisa mendengar. Tak biasa: penyiar laki-laki itu menyampaikan berita, paling kini, tentang penangkapan. Penangkapan apa atau siapa, saya tak paham. Di dekat saya, kernet-kernet saling sikut kepengin maju. Telinga mereka terpasang antara dua kutub: seperti panji dan seperti panci; sementara saya terjepit di tengah-tengah, megap-megap menjulurkan antena.

Gelombang penasaran masih terus datang. Iklan operator telepon genggam yang tukang curi pulsa, disambung iklan layanan masyarakat tentang aturan jam malam. Bulu kudukku meremang, seiring semua kernet diam kerontang. Ketika penyiar pengganti buru-buru menyudahi iklan ketiga yang baru saja mulai, kami semua tahu. Ada sesuatu. 

Benar. Ada sirene mobil polisi datang. Tidak cuma satu. Hampir dua belas. Yang mereka teriakkan sama: “Radio! Radio! Musnahkan Radio, pusat penyebar berita kebencian!” Semua kernet tunggang-langgang. Semua lupa pada saya. Tanpa sadar, air mata saya berhamburan, seiring sadarnya saya: saya baru dicari hanya ketika kernet ingin mendengarkan saya, dan saya langsung dilupakan ketika polisi hendak membunuh saya.

Dalam hitungan detik, saya diangkat tinggi-tinggi ke udara. Beberapa seringai polisi tampak di bawah, berlawanan dengan arah antena saya, dan saya tak bisa berbuat apa-apa. Siaran yang berkumandang lewat tubuh saya belum selesai. Penyiar pengganti itu terdengar sedang tunggang-langgang juga, diteriaki “Radio! Radio! Musnahkan Radio, pusat penyebar berita kebencian!” ketika sebuah erangan yang tadinya jauh, makin dekat, makin dekat….

…dan sekarang erangan itu bernyanyi, mengantar remuk badan saya menuju tidur.

Saya suka segala hal tentang suara Sari. Setelah sadar saya segera mati dan Sari yang bernyanyi buat saya, saya senang sekali.

 


Jakarta, 29/05/2018, 393 kata. Prompt Ramadan #7 di komunitas Monday Flash Fiction, kata kunci “radio”.

Advertisements

Menumpang Lewat

Obrolan intraaplikasi situs Tokorporat dot com, 12 November 2016

[guest1155, 11/12/16, 1.24 PM]: Siang
[guest1155, 11/12/16, 1.24 PM]: Toko Klandestian?
[diarmaid1311, 11/12/16, 1.26 PM]: Siang Mbak
[diarmaid1311, 11/12/16, 1.27 PM]: Iya betul
[diarmaid1311, 11/12/16, 1.27 PM]: Ada yg bisa saya bantu?
[guest1155, 11/12/16, 1.27 PM]: Sy minat beli kameranya
[guest1155, 11/12/16, 1.28 PM]: Yg Arsenalic MXIR 2275
[diarmaid1311, 11/12/16, 1.28 PM]: Oh
[diarmaid1311, 11/12/16, 1.29 PM]: Yg edisi spesial
[guest1155, 11/12/16, 1.30 PM]: Iya
[guest1155, 11/12/16, 1.31 PM]: Harganya itu bener cm 1.4 jt?
[guest1155, 11/12/16, 1.31 PM]: Kok murah
[diarmaid1311, 11/12/16, 1.32 PM]: Emang segt Mbak
[guest1155, 11/12/16, 1.33 PM]: Fiturnya apa aj?
[diarmaid1311, 11/12/16, 1.33 PM]: 16 mp, bawaan f/2, iso sampe 1600, zoom sampai 28x, flash, infrared, nightvision
[diarmaid1311, 11/12/16, 1.34 PM]: bisa liat t4 gelap
[diarmaid1311, 11/12/16, 1.34 PM]: foto malam2
[diarmaid1311, 11/12/16, 1.35 PM]: bawah tanah, panorama malam
[guest1155, 11/12/16, 1.35 PM]: Eh?
[guest1155, 11/12/16, 1.36 PM]: Ada IR?
[diarmaid1311, 11/12/16, 1.36 PM]: Namanya aj MXIR mba
[guest1155, 11/12/16, 1.36 PM]: Oh iya ya
[guest1155, 11/12/16, 1.39 PM]: Ok
[guest1155, 11/12/16, 1.39 PM]: Sy bungkus
[guest1155, 11/12/16, 1.40 PM]: Deal
[diarmaid1311, 11/12/16, 1.42 PM]: Oke
[diarmaid1311, 11/12/16, 1.43 PM]: Tlg transfer ya Mbak
[diarmaid1311, 11/12/16, 1.43 PM]: Ke rekening ini
[diarmaid1311, 11/12/16, 1.43 PM]: Bank Portalmess Fathom
[diarmaid1311, 11/12/16, 1.44 PM]: Diarmaid Caperland
[diarmaid1311, 11/12/16, 1.44 PM]: 9903.2018.74691
[diarmaid1311, 11/12/16, 1.45 PM]: Plus ongkir ya Mbak
[diarmaid1311, 11/12/16, 1.45 PM]: Ini dgn mbak siapa?
[guest1155, 11/12/16, 1.45 PM]: Armenta
[guest1155, 11/12/16, 1.46 PM]: Oke Mbak
[guest1155, 11/12/16, 1.46 PM]: Sip
[guest1155, 11/12/16, 1.46 PM]: Ditunggu
[guest1155, 11/12/16, 1.55 PM]: Sy udh transfer ya
[diarmaid1311, 11/12/16, 1.57 PM]: Sip
[diarmaid1311, 11/12/16, 1.58 PM]: Segera dikirim Mbak
[guest1155, 11/12/16, 1.59 PM]: Tengkyu

Portalmess Lighthouse Daily, 16 November 2016, rubrik Lintas Negara

Portalmess, Selasa 11/15 – Kasus pembunuhan terhadap Dvorak Garinkov (41), yang sudah menjadi misteri sejak Mei lalu, baru saja mendapat titik terang anyar. Diarmaid Caperland (28), seorang pemilik toko daring, tiba-tiba muncul dan memberikan kesaksian mengejutkan. Ia mengatakan bahwa pembunuh sebenarnya bisa dicari dengan menggunakan bantuan kamera infrared. Anehnya, kamera tersebut baru saja dijualnya ke seorang pembeli, hari Minggu lalu.

Dicap ingin cuci tangan dari masalah, Diarmaid mengamuk saat diserbu awak media. “Pokoknya saya gak mau buka identitas pembelinya. Kasihan, dia perempuan single. Saya akan ngomong ke polisi soal ini, tapi tidak ke kalian! Titik!” tandas Diarmaid saat diwawancarai oleh kru kami.

Liputan komprehensif menyusul.

Yahoo! Messenger, 18 November 2016

armenta0704 (18:11): Mas wasis
armenta0704 (18:12): Saya udh di t4
wasissamulya4ever (18:12): Oh sip
wasissamulya4ever (18:13): Kmu kebagian foto rubanah ya
wasissamulya4ever (18:13): Lgsg aja ke sana
wasissamulya4ever (18:13): Foto yg bnyk
armenta0704 (18:15): Oke mas

wasissamulya4ever is away

wasissamulya4ever (18:18): Armen?
wasissamulya4ever (18:18): Kmu di mn?
armenta0704 (18:19): Mas wasis
armenta0704 (18:19): Ini kamera serem e
armenta0704 (18:20): Kok bs lihat mcm2 yak
wasissamulya4ever (18:21): Mksudmu apa men?
armenta0704 (18:22): Kek ada hantunya gt
wasissamulya4ever (18:22): Heh?
armenta0704 (18:23): Td aku foto 2x
armenta0704 (18:23): Tau2 ada muka org
armenta0704 (18:24): Mirip sm si anu
wasissamulya4ever (18:24): Siapa?
armenta0704 (18:25): Siapa namanya? Dvorak?
armenta0704 (18:26): Yg mati Mei kmrn
wasissamulya4ever (18:26): Hah?
armenta0704 (18:26): Sama pembunuhnya mgkn
wasissamulya4ever (18:27): Eh
wasissamulya4ever (18:27): Ini kamera Diarmaid yak?
armenta0704 (18:28): Ho oh
armenta0704 (18:28): Aku beli di tokorporat
armenta0704 (18:28): Kok mas tau?
wasissamulya4ever (18:28): Ya iyalah
wasissamulya4ever (18:29): Itu lg heboh
armenta0704 (18:29): Kok aku ga tau?
wasissamulya4ever (18:29): Sini, tak kirimi fotone si diarmaid
wasissamulya4ever (18:31): [image0439.jpeg 122 kb – sent]
armenta0704 (18:32): Waaa
armenta0704 (18:33): Ternyata dia yg bunuh ya
armenta0704 (18:33): Si penjualnya
wasissamulya4ever (18:34): Ih, buang deh tuh kamera, men
wasissamulya4ever (18:34): Pakek kameraku
armenta0704 (18:35): Oh bntr mas
armenta0704 (18:35): Aku naik
armenta0704 (18:36): Aku msh di basement
wasissamulya4ever (18:36): Ya udh
wasissamulya4ever (18:37): Kutungguin

armenta0704 is away

wasissamulya4ever (18:42): Armen?
wasissamulya4ever (18:43): Kmu di mana?

armenta0704 is offline

wasissamulya4ever (18:51): Armen?

armenta0704 is offline

Portalmess Lighthouse Daily, 22 November 2016, rubrik Lintas Negara

Portalmess, Sabtu 11/20 – Diarmaid Caperland (28), pelapor tindak pidana teranyar dari kasus pembunuhan Dvorak Garinkov (41), dilaporkan menghilang secara misterius. Keluarga sudah dimintai keterangan, namun tidak ada yang mengetahui keberadaan pemilik toko daring Klandestian itu.

Di waktu nyaris bersamaan, Armenta Windrati (30), fotografer interior yang diduga kuat membeli kamera inframerah dari Diarmaid, ditemukan tewas, di tangga rubanah gedung Sempreverde Soho, Jumat 11/18. Tidak ditemukan tanda kekerasan di tubuh korban. Saksi Wasis Samulya (31) bungkam saat ditanyai para wartawan. Anehnya, sama sekali tidak ada kamera yang ditemukan di tempat kejadian.

Laporan komprehensif akan menyusul.

Surel wasissamulya@gmail.com, 23 November 2016

From : Wasis Samulya [wasissamulya@gmail.com]
To : Caperland, Diarmaid [diarmaid.caperland@gmail.com]
Date : Wed, 23 Nov 2016, 04:27 am
Subject : Kamera Armenta – Arsenalic MXIR 2275
Mailed-by : gmail.com
Signed-by : gmail.com
Message :

Dear Diarmaid,

Mungkin Anda sudah tahu bahwa Armenta, rekan saya yang membeli kamera Anda, tewas secara misterius. Konon sebelum tewas, Armenta sempat bilang bahwa kamera ini bisa menangkap citra Dvorak Garinkov dan Anda, meskipun jelas di sana tidak ada kalian. Kejadiannya di rubanah rumah yang sedang kami garap, alamatnya di Harvestry Road nomor 91.

Anehnya, kamera itu menghilang begitu saja.

Setelah mendengar bahwa kemarin Anda mencari saya, baiklah. Intinya, saya tidak ingin memperpanjang masalah. Saya juga tidak berniat mencari kamera itu kembali. Saya hanya ingin hidup tenang.

Terima kasih.

Wasis Samulya

Akun Twitter Portalmess Safety, 24 November 2016

Portalmess Safety
@PortalmessSafe

Wasis Samulya, fotografer interior, ditemukan tewas di rubanah Harvestry Road 91. Tidak ada tanda kekerasan lain. http://t.co/ue92osjp

11/24/16, 19:40

Akun Twitter Portalmess Safety, 26 November 2016

Portalmess Safety
@PortalmessSafe

Ditemukan mayat yg diperkirakan sdh tewas >3 bulan di Harvestry Road 91, teridentifikasi sebagai Diarmaid Caperland. http://t.co/1a34ogjr

11/26/16, 12:49


(Jakarta, 12/11/2016935 kata. Pernah diikutsertakan dalam kompetisi Creepypasta Bukune dalam rangka Halloween 29 Oktober s/d 14 November 2016. Tidak ada pengumuman hasil lomba hingga enam bulan berselang, sehingga kuanggap tulisan ini kembali jadi milikku. Epistolari ini ditulis hanya dalam satu jam.)

Lima Cara Meramaikan Kembali Bayi yang Terdiam

Selama semua pintu tutup, semua jendela redup; rasa tenteram akan tangkup: aku aman dari segala kejar.

Begitu saja, sudah paling benar. Penghilang sakit habis, warung tutup, dia raung-raung menangis, amarahku meletup. Bukan salahku.

Anak itu belum naik-naik, aku mengurut dada.

Ada bunyi tetes-tetes memercik, tadi tidak ada. 

Otakku memutar, terbelah antara kepala pengar dan payudara memar.

Dalam mimpi Rangga membisikiku beberapa baris kalimat. Di sebelahku ada dua gelas. Persis sama, tanpa isi, dengan sisa lipstik di salah satu pinggir. Mereka bisa kuadu biar denting. Kupecahkan saja biar ramai. Biar hanya aku yang mengaduh, tidak apa. Itu baru satu cara. Selain itu, seharusnya minimal ada lima cara meributkan kembali bayi yang telanjur diam, tanpa harus menengoknya di bawah sana.

Pasti ada jalan. Pertama-tama, aku perlu menemukan sandalku.

Cara 1:

Kuturunkan kaki ke tempat biasa kutaruh sepasang sandal putih biru: sebelah kiri tempat tidur, agak menjorok dekat tiang jauh, hanya butuh tiga langkah ke pintu. Sandal itu tinggal sebelah. Yang satu entah ada di mana. Kuraba-raba dengan kaki, dia ada di bawah pintu rak. Ibu jari dan telunjuk kaki mengempit jepitnya, lapik karet pletak-pletok, aku lolos dari daun pintu. Engsel pintu kurang minyak, derit menjerit melarangku pindah tempat, sakit kepala kembali tanpa permisi. Kugerakkan lagi daun pintu, makin keras jerit engsel itu. Kuintip di selongsong paku dan selot pintu, karat-karat mengerat dan menunggu. Mereka siap sambut dan jambak kepalaku, kalau-kalau mereka terus kuganggu.

Inilah yang kulakukan: kuceraikan paku dan selot dan selongsong dan semua. Daun pintu lepas berayun-ayun, nyaris ambruk menimpa kepalaku. Semua tetes minyak kuperas habis, hingga tak ada lagi sisanya buat engsel itu agar leluasa. Derit yang tercipta kemudian terlalu keras. Terlalu menusuk kuping sampai membuat pusing.

Kuintip ke dalam kamar. Tepat ke ranjang.

Tetap, tak ada kepala yang terjulur di tepi sana.

Cara 2:

Kemarin Mirat berjualan keliling. Sepasang panci-wajan terlego dari kepalanya ke dapurku. Uang hasil mengoper susu ke tetangga-lah yang membuatku sanggup membelinya; kebetulan panci lama sudah penuh jelaga, wajan juga tak jelas lagi bedanya dengan jelantah. Transaksi kami mulus sampai akhir. Satu-satunya yang kulupa hanya bahwa Mirat mengambil uang kertasku terlalu banyak, dan wajan yang kudapatkan rupanya bocor.

Aku tak pernah diajari cara menambal wajan yang sudah berlubang di dekat kutub terendahnya. Aku juga tak tahu bahan apa bisa menambal wajan bocor tetapi tidak merusak makanan yang kumasak. Menambal wajan dengan panci pun rasanya tidak tepat. Menggunakan panci sebagai pengganti wajan juga sepertinya aneh—beberapa jenis makanan tak suka memanjat dinding, lebih suka mendaki bukit.

Inilah yang kulakukan: mengoyak tepi wajan lamaku yang belum tersaru jelantah, lalu menjahitnya dengan segala cara—aku lupa jenis benang dan jarumnya—sampai mereka bersatu. Wajan hasil tambalanku itu kemudian kupakai untuk memasak kapal selam yang melempem dan tinggal satu-satunya. Sesekali ikan bertarung lawan minyak dan sesuatu melencit, mendarat cepat di punggung tanganku, melentingkan kulit di situ dalam hitungan detik: teriakku sejadi-jadinya.

Seharusnya ada orang yang mengiraku dirampok, atau mau digerayangi, atau tengah berhadapan dengan sabet bilah pisau yang siaga di antara rahang dan batang tenggorok. 

Tidak. 

Tidak ada. 

Tak ada kepala yang terjulur di tepi sana.

Cara 3:

Beberapa paman mengeluh nasib sial menimpa mereka tanpa ujung ketika cermin mereka terbelah. Pepatah yang bukan Rangga bilang buruk mukalah penyebab pembelahan cermin yang paling sering. Namun, karena aku tahu persis muka paman-pamanku tidaklah buruk, pasti cermin itulah yang seperti makhluk bersel satu, bisa membelah dirinya sendiri.

Setidaknya, itulah yang kupercayai ketika pecahan beling yang kutempel di salah satu pintu lemari tiba-tiba membesar jadi berbentuk seperti benua Australia yang termosaik.

Letak lemari itu persis di luar pintu kamarku, rapat ke dinding tanpa sela sedikit pun untuk napas sang tembok. Setiap hari aku mematut diri di sana sehabis mandi, telanjang maupun berpakaian. Tentu setiap hari juga aku melihat mukaku; tahu seberapa memburuknya muka itu dari hari ke hari, dan berapa besar peluang keburukan mukaku itu akan membelah cerminku pada akhirnya. Yang kutahu Mirat mengataiku cantik dan pemuda warung mengataiku manis. Aku tak pernah tahu seperti apa mukaku waktu marah, apalagi kalau marahnya karena pelantang hidup itu meraung.

Inilah yang kulakukan: aku mengambil martil, satu-satunya perkakas kelaki-lakian yang kusimpan di gudang belakang dekat dapur, lalu mengayunkannya kuat-kuat, tepat ke tengah benua Australia di lemariku.

Mendengar cerai-berai cerminku, seharusnya semua nyawa yang berungu bangun mencariku.

Tetapi tetap tak ada kepala pegari dari mana-mana.

Cara 4:

Dedi gemar mendengarkan lagu-lagu Arctic Monkeys dengan volume yang dia sangka menggetarkan jiwa raga, tetapi bagiku menggetarkan nafsu marah paling membara. Sial bukan kepalang, orang tua Dedi tinggal persis di sebelahku, dan sudah barang tentu Dedi ikut pula tinggal di situ. Bapak-ibunya takluk pada Arctic Monkeys, membiarkan anak kecil itu memasang setengah-jambul-setengah-pompadour seperti Alex Turner, juga membiarkan anak itu menulikan seisi jalanan dengan kekencangan putaran kasetnya.

Aku juga punya pemutar kaset di rumah. Dulu waktu semua masih baik-baik saja, lagu dangdut paling sering berkumandang, diikuti beberapa lagu pop cengeng masa lalu dan lagu kacangan—teman guncangan truk ketika menempuh jalan antarkota yang tiga tapak tanpa aspal. Perlahan lagu-lagu memudar dan hilang, dan pemutar kaset itu membalas perselingkuhan kami darinya dengan menyulam debu setebal-tebalnya.

Ini yang kulakukan: aku sudah mengamati Dedi sepanjang malam selama seratus hari lebih. Sewaktu Dedi berangkat sekolah, aku memanjat tali jemuran untuk mengurangi kecurigaan, dan mendaratlah aku di tempat tujuan: dapur. Di sanalah Dedi menaruh semua kaset berisiknya. Kukantongi album AM, kupanjat balik tali. Jemuran terjengkang, juga pemutar kasetku yang tiba-tiba saja terpuaskan dahaganya. Berisik musik rock menyambangi udara dengan cepat—persetan dengan suara pekik Dedi yang mulai melengking di luar sana—termasuk ke kamarku.

Tetapi tetap tak ada kepala yang mencuat dan menandakan kehidupan.

Cara 5:

Semua kucoba. Semua tak mempan. Semua ujung lagu Arctic Monkeys hangus, semua pemain orkestra tak mangkus, suara lesap ke pampat udara; aku tahu aku tak becus. Aku mengambil botol sambal, membuang kutang, pulang ke ranjang, kembali ke posisi baringku yang semula. Aku mengurut dada dan mengusap kepala yang dari tadi sudah tak ada. Aku memberanikan diri menoleh ke bawah. Ke tempat di mana kepalanya kutunggu-tunggu.

Kepala itu keras di beberapa tempat, lembek di tempat-tempat lain. Rabaanku dulu tak pernah keliru tetapi aku berharap sekali saja aku akan keliru: tak ada denyut di kepala itu. Lalu kubalik badannya, juga kepala yang terkulai lemas di puncak leher gempalnya. Mata itu membuka. Mulutnya juga. Kuselipkan puting bersambal pada langit-langitnya. Orkestra siap mulai lagi. Giliran mereka yang menunggu aba-abaku.

Dalam ketenangan yang telanjur diam.

Jakarta, 19/05/2018 | 1050 kata
Dimaksudkan sebagai sekuel CUBIT oleh Harun Malaia (a.k.a. Aulia Rahman), untuk diikutsertakan dalam giveaway di sini.

Kembar Siam

Karena aku terlalu takut tenggelam pada pesona seseorang yang tiba-tiba saja menumbuhkan rambut kasar di rahang bayanganku tapi tidak pada rahangku, membidangkan otot pada kedang dada bayanganku tapi tidak pada bulat dadaku, dan menajamkan tatapan dari matanya tapi tidak pada tatapanku; meskipun aku tahu ada yang salah dengan cerminku tapi tidak tahu apa sebabnya; kubiarkan pria baru-tapi-semu itu melekatkan bibirnya pada bibirku, kubiarkan ia melumatnya, sambil diam-diam kuambil pisau dengan tangan di balik punggung, lalu kuayunkan cepat ke bawah perutnya, menancapkannya erat di sana; hanya untuk mendapati pisau yang sama mencelat keluar dari sela katup gigiku.

 


(Jakarta, 05/10/2017, Monday Flash Fiction #FFKamis 100 kata, kata kunci: cermin. Hasil eksperimen membuat 100 kata dalam satu kalimat.)

Adam yang Disempurnakan

Ganjil. Ini benar-benar ganjil.

Dua tangannya, yang seharusnya hangat di telapak, melandai di belikat, menangkup bahuku. Justru sengat dingin yang kurasakan. Tak mau pergi-pergi.

Semua berawal dari berbulan-bulan yang lalu. Aku tahu kata kunci komputernya, namun aku menyangkal itu sekadar ingin tahu atau percik cemburu yang terburu-buru. Sepasang karcis. Tanggal sebelas. Jam tujuh. Film yang sudah kami tonton di tanggal sembilan. Aku tidak diberitahu. Kutelan saja semuanya, tanpa bertanya.

Satu lengannya menggeleser perlahan, melingkar ke depan. Ia merangkumku sempurna dari belakang. Rangkum itu, entahkah lengan yang dulu biasa melindungiku dari bahaya, entahkah itu harum yang dulu meyakinkanku bahwa itu memang dirinya.

Indra pertama tidak melihat dan indra kedua tidak mendengar, tapi indra ketigaku tak pernah bisa dibohongi. Tanggal lima belas, ia pulang terlalu larut. Dilemparnya saja kemeja itu ke dalam baskom kering. Besok jadwal tukang cucian datang, jadi aku harus menghitung dengan tepat isi baskom sebelum menyerahkan isinya. Aroma kemejanya beda. Segar kayu itu masih tegas, namun ada semilir bunga bercampur sitrun. Aku tak pernah menyukai aroma jeruk. Aku tidak diberitahu. Masih kupaksakan semua ini melewati kerongkongan, masih tanpa bertanya.

Rahangnya menyapa tengkukku. Ia mengatur napas. Masih canggung. Ia ingin mendesah, namun ia urung. Aku menggigil kian hebat. Kian takut.

Tanggal satu, ia terburu-buru melewati pintu depan. Kotak besar berhias pita manis nyaris terjungkal dari tangan itu. Indra keenamku bilang, ia baru ingat sepenuhnya itu hari ulang tahunku. Secepat kilat lagi ia letakkan kado di meja. Sebelah tangannya meraih punggungku, sembari bibirnya memulai ritual tahunan kami dengan segera. Indra keempatku mencecap sesuatu yang tak sama. Sesuatu yang terlalu manis dari bibirnya yang biasa. Bekas dilumat seseorang. Indra kelimaku meraba benda tak lazim dari saku belakang celananya. Kutarik. Itu kain. Merah. Satin.

Ia bisa mencekikku sekarang. Ia bisa menerkamku sekarang.

“Lisa,” bisiknya tepat di balik daun telinga kananku, “aku mau bilang sesuatu.”

Aku menggeliat sekilas, namun enggan membalik badan, enggan menatapnya dalam-dalam. Ini lebih mirip semacam usaha mempertahankan diri. Usaha melarikan diri kalau ada apa-apa.

“Harus sekarangkah?”

“Kita sudah lama tak saling bicara, Lisa.”

Dengan sebelah lengannya yang masih memelukku di dada dan bahu, dengan sebelah pipi dan rahangnya yang masih menempel di tengkuk, aku tak bisa berbuat banyak. Percuma saja.

“Aku akan menikah lagi.”

Tanpa memberiku jeda, ia mengeratkan rangkul. Tanganku terkunci rapat. Ia lupa dengan tanganku yang satunya. Menjelujur rusuk demi rusuk dari balik dada kirinya. Dari bawah.

Satu, dua, tiga…. 

“Dengan perempuan itu? Yang parfumnya sitrun itu?”

“Lisa, Lisa. Kamu tak pernah berubah. Cerdas. Aku suka,” seringainya, kian lebar.

Empat, lima, enam, tujuh…. Degup jantungnya…. 

“Kalau aku bilang tak boleh, bagaimana?” 

Delapan, sembilan, sepuluh….

“Tidak mungkin, Lisa. Kamu tak bisa bilang tak boleh.” 

Sebelas…. 

Napasku tertahan, “M-m-memangnya…. Kenapa?

Dua belas…. 

Tunggu.

“Karena Tuhan saja menciptakanku dengan tiga belas rusuk ketika pria lain cuma punya sebelas. Aku berhak atas dua istri, bukan?”

Tiga belas. Tepat di lehernya.

Hitunganku terhenti.

Terlambat.

Dadu dari Tuhan sudah kuambil. Tak bisa ditukar, apalagi dikembalikan.

 


(Jakarta, 17/07/2017. Monday Flash Fiction Prompt #145: Tiga belas. Cerita ini terpilih untuk bahan diskusi pada minggu keempat Juli 2017. 481, jumlah kata dalam cerita mini ini, adalah hasil perkalian 13 dan 37.)

(Dalam aspek anatomi manusia, dikenal sejenis kelainan bernama 13th rib atau cervical rib, yang terletak di leher (dekat tulang selangka). Kelainan ini ditemukan pada 1 dari 150 orang, dan sebagian besar tidak bergejala apa pun. Di lain sisi, mitos bahwa pria hanya memiliki sebelas ruas iga kiri adalah tidak benar – semua manusia normal memiliki dua belas pasang iga. [dari berbagai sumber])

Mense Terribilis

Bukan warna campuranku lagi yang kukhawatirkan. Bukan kanvasku lagi. Awalnya aku cuma tak ingin mengecewakan Lucy. Perintahnya jelas, masih begitu sampai hari ini setelah dua tahun berselang. Jangan perkenalkan dirimu. Kejermananmu. Karena ini Amerika. Sebut nama depanmu saja. Selesai. Kamu cuma pelukisnya, bukan siapa-siapanya. Tidak seperti aku. Tidak seperti … ehem … Eleanor.

Kamera Nicholas yang memotretnya telah diturunkan. Belum ada pengawal lain. Beliau masih duduk — begitulah caranya menghabiskan nyaris seperempat abad belakangan ini — dan menatapku. Lurus. Tajam. Senyata pisau meskipun tampak begitu rapuh. Akibatnya jelas. Bahkan aku tak berani memperkenalkan diri terlebih dahulu.

“Perkenalkan dirimu, Nona.”

Aku memang sedang menunduk, merapikan warna-warna cat air ini hingga sungguh siap. Kata mereka, jangan pernah lihat kakinya — kau akan menyesal kalau beliau sudah mendelikmu. Kunaikkan saja pandangan, hanya demi mendapati pasang mata yang lebih cekung dari dugaanku, dari foto yang kulihat dari Yalta minggu lalu.

Sesuatu. Ada sesuatu.

“Heidi,” aku menahan napas sesaat, “Heidi, Tuan Presiden.”

“Baiklah,” ucapnya tegas, seraya mendesah dan memandang keluar jendela. Beliau tampak begitu lelah. Aku sudah hampir menyuruhnya bersandar saja, sebelum tiba-tiba rentetan perintah Lucy kembali menyahut di dalam kepala. Alih-alih menunjukkan perhatian, aku hanya berkata, “Bisa kita mulai, Tuan?”

Beliau mengangguk. Segera beliau merapikan posisi duduk, terdiam, namun sama sekali tak tampak terkantuk atau lelah dan ingin menunduk. Sementara aku terus berpura-pura menunduk, berdalih cat air ini harus diaduk-aduk. Menit demi menit, beberapa pengawal silih berganti mengawasiku, seolah mau menengarai bulir keringatku satu demi satu.

“Heidi,” sahutnya mendadak, “aku lelah. Sebentar, aku perlu minum dulu.”

Seorang pengawal masuk membawa segelas air. Bening, pertanda itu air putih biasa. Namun bukan itu yang menarik perhatianku. Melainkan gelasnya. Aku bertemu dengan gelas itu tadi, tepat sebelum masuk ke ruangan ini.

Beliau minum. Tiga teguk, kuhitung. Itu cukup.

“Tuan Presiden,” sebutku perlahan, sembari terus mengitarkan tatapan ke selaksa gurat-gurat ringkih itu. Seharusnya, tanpa kusiksa pun, malaikat arit itu bakal segera datang, “kurasa dasi merah lebih bagus buat Anda. Lebih berwibawa.” Kali itu, aku tak berkedip barang sekali pun. Kurapal hitungan dalam hati. Begitu tiba waktunya, kubenamkan lagi mata pada kanvas dan cat air. Tak keluar-keluar lagi.

Sore tiba. Lukisanku masih lubang-lubang. Wajah Beliau bahkan belum rampung. Aku minta maaf, minta maaf lagi, sambil buru-buru berkemas sebelum tersandung. Ingin cepat-cepat lari saja. Aku berpapasan dengannya malam itu. Malaikat yang membawa arit dan menjulang tinggi. Ia mengangguk kepadaku, aku mengangguk kepadanya. Aku berjalan keluar Gedung Putih dengan kempitan dua pengawal, ia malah dibiarkan bebas berkelana sendirian di dalam tanpa pengawasan.

Ingat caranya, Heidi? Tatap ia lama-lama. Ia akan risau sendiri, sehebat apa pun dia. Ingat, tatapan dalammu akan melemparkan kekuatan mematikan. Kamu yang melempar, namun ia sendiri yang memutuskan untuk mati. Sakit. Bunuh diri. Kecelakaan. Takkan ada yang menudingmu, Heidi Manshoff, keturunan terakhir Merlin yang masih betah bersembunyi di Jerman Barat.

Lalu kudengar kisah selanjutnya. Emma Shoumatoff menggantikanku keesokan harinya, tanggal dua belas. Di tengah prosesnya melukis Franklin Delano Roosevelt — itulah namanya — Beliau kesakitan, tersungkur, pingsan, dan lalu pergi selamanya. Harry Truman disumpah sebagai presiden baru, sementara Emma Shoumatoff — ya, Emma yang itu — tak pernah muncul lagi.

Aku tersenyum kecut sendiri, sambil menuju pelabuhan udara. Aku harus cepat menuju Berlin, Jerman Barat — ya, negeriku sendiri — sambil membayangkan betapa jemu sayuran mengonggok dalam mangkuk sup vegetariannya.

Kamu pasti tahu siapa tujuanku selanjutnya.

 

 


(Jakarta, 09/06/2017, 537 kata. Cerita terpilih #NulisKilat 9 Juni 2017, tema Historical Fiction. Mense terribilis = bahasa Latin untuk “bulan yang buruk”, dalam hal ini April 1945.)

[Tokoh-tokoh nyata dalam cerita ini: Franklin Franklin D. Roosevelt (1882-1945), Lucy Rutherfurd (1891-1948), Eleanor Roosevelt (1884-1962), dan Adolf Hitler (1889-1945)]

 

Evanescencia

Peraturan nomor satu: Isi dokumen yang kalian lihat selama bekerja tidak boleh memengaruhi sikap dan tindak tanduk kalian.

Kupikir bos kami sengaja meletakkan kalimat itu sebagai peraturan teratas, karena jelas inilah peraturan yang tersulit dipatuhi sampai paripurna. Nafsu iblis selalu menggerayangi otak dan mata kami ketika memegang helai demi helai kertas, sebelum maupun sesudah kami menggandakannya.

Di atas pandang remeh masyarakat terhadap profesi tukang fotokopi, kurasa kami boleh jemawa. Kamilah saksi berbagai jenis torehan di atas kertas, mulai dari jejak terpentin berlepotan hingga pelitur tinta mesin cetak berbarisan; yang melancarkan pekerjaan orang banyak, membukakan pintu-pintu tertutup, dan menguak berbagai misteri. Ada dokumen yang cuma sesederhana soal les anak-anak sekolah dasar dan ditulis tangan, ada yang sepelik pasal-pasal polis asuransi, bahkan ada yang bernada mengancam menyerupai surat kaleng. Aku pernah menemukan material bocoran soal ujian akhir sekolah (yang kemudian dikonfirmasi sebagai bocoran yang diburu pemerintah). Teman seperjuanganku yang dulu, Dirga, malah pernah disiksa permintaan mahasiswa untuk dibuatkan salinan buku teks kedokteran yang tebalnya minta ampun. Kembali lagi ke pasal tadi, kami tidak boleh mengeluh, apalagi menolak dokumen yang disodorkan pelanggan, seajaib apa pun itu. Semua tetap harus digandakan dengan baik, karena pelanggan adalah raja yang titahnya tak terbantahkan. Hanya terkalahkan oleh titah bos kami.

Tahun pertama bekerja di gerai Frontliner Photocopier, aku masih menganggap remeh peraturan nomor satu itu. Kupikir, cih, kertas? Takkan sanggup lembar bubur kulit kayu pohon menggoda iman manusia hingga sedahsyat itu. Toh, memang dokumen yang lewat di depanku tidak pernah aneh: Selembar surat cinta receh, artikel majalah, hasil cetakan skripsi mahasiswa tingkat akhir, dan setumpuk kertas-tetek-bengek-yang-aku-pun-kadang-tidak-paham-apa-isinya. Entah memang anak baru tidak boleh menangani dokumen-dokumen aneh, ataukah nasibku yang memang bagus.

Semua berubah di awal tahun keduaku, ketika pelanggan misterius itu datang.

@@@@@@

Aku dan Devon melihatnya pertama kali di suatu Rabu siang. Pintu kaca terayun, diikuti masuknya seorang wanita bertubuh kecil. Tingginya kutaksir tidak lebih dari seratus lima puluh sentimeter, bobot tidak lebih dari empat puluh lima kilogram. Rambut hitamnya dicepol sebagian, sisanya terurai mirip misai panjang yang melewati leher kaosnya. Ia menyandang sebuah ransel merah, terbuka sebagian. Satu tangannya membawa map, dan satunya menjepit sepuntung rokok di antara telunjuk dan jari tengah.

Frontliner Photocopier, ada yang bisa kami bantu, Mbak?” sapa Devon.

“Mau fotokopi ini, Mas. Sekali aja.”

“Oke. Mbak mau ini dijilid?”

“Belum, Mas. Ini sepuluh lembar dulu, besok masih ada lagi.”

Devon menyambut dokumen, sementara wanita itu menyesapkan rokok tepat di atas anting perak yang menembus garis tengah bibir bawahnya yang merah. Mengintip pula gigi-gigi depannya yang kecil-kecil, putih gading, dan rata.

“Masih banyak, Mas. Nanti juga bakal dijilid, kok.”

Devon memeriksa dokumen yang diserahkan kepadanya. Tepat sepuluh lembar, tertata dalam kempitan sebuah klip segitiga, tepi bertemu tepi dengan rapi. Beberapa ujung kertas sudah berumbai, mungkin pernah dibasahi percik kopi atau tetes hujan. Ia terdiam.

Sesudahnya, mesin fotokopi pun masih diam. Aku yang sedang mengerjakan penjilidan, berjingkat mengintip ada apa gerangan.

“Devon, kenapa enggak dikerjakan? Dokumen apa sih?”

Ia tak menjawab.

“Von! Aneh banget sih lu!?”

Berarti aku harus melihat dokumen itu dari dekat.

Kuambil paksa tumpukan kertas itu dari tangan Devon. Tidak ada sampul depan, atau apa pun yang sekiranya bisa jadi petunjuk garis besar. Terpaksa kubaca sebaris demi sebaris. Lembar pertama, kedua, dan seterusnya.

Mungkin aku sama tak pahamnya dengan Devon. Jadi kuterapkan saja metode eksklusi, sebelum aku harus mendedah sampai lembar kesepuluh.

Ini … jelas bukan buku teks yang tebalnya mencekik. Bukan soal ujian anak sekolah. Bukan surat receh biasa. Bukan naskah drama ataupun….

Hei. Apakah ini transkrip rekaman pembicaraan orang?

Kuamati saksama. Lembar keempat memuat nama Ibu Presiden. Tepat di bawahnya, tercantum nama ketua Asosiasi Penyelarasan Suhu Politik (ya, negara kami punya asosiasi sesinting itu) dan nama Menteri Riset dan Implementasi Sains. Lembar keenam, ada nama Raven Bucklow, seorang ahli bioetika yang baru dibunuh minggu lalu. Dia terkenal gemar mengkritik kebijakan riset dan implementasi sains yang dikeluarkan pemerintah.

Desir ganjil menjalari jantungku, lalu merambat ke tengkuk.

“Gus, Gus … kamu saja yang fotokopi ya, nanti kasihan mbak-nya kelamaan nunggu,” ucap Devon sambil berlalu, memeragakan gestur ingin buang air kecil.

Devon memang jagonya meloloskan diri dari masalah. Sebuah talenta yang sejak dulu aku ingin miliki, tetapi tak pernah kesampaian.

Dengan berat hati, kuraih panel salah satu mesin fotokopi, sambil berharap bahwa dokumen itu bukan apa-apa. Tombol-tombol angka untuk menentukan jumlah salinan sudah memanggil-manggil, saat kebimbanganku mencapai puncak.

Kuberanikan diri menekan tombol angka 2.

Lembar demi lembar berlalu. Semakin kubaca, isi transkrip itu kian terang. Semilir gerayangan di jantung pun kini berubah jadi gelegak.

Kepingan informasi demi informasi menyatu jadi sebentuk logika bagiku: Dokumen ini bicara tentang rencana pembunuhan.

@@@@@

“Apa? Heh, Gus, kamu kebanyakan baca Sherlock Holmes,” cerocos Devon usai menelan seteguk jus leci. Air mukanya kaget, lalu mencibir.

“Ini tidak ada hubungannya, Von.”

“Bagus, kamu itu gampang banget curigaan. Nama Bu Presiden dan nama ahli bioetika itu … siapa? Raven? Ha, iya, Raven Bucklow. Bisa saja kan, nama mereka berdua muncul di mana-mana? Seperti namamu, Bagus Prihardana, nongol di berita bersamaan dengan Devon Kampaleia. Kamu terlalu memaksakan kebetulan, Gus.”

Aku mengaduk kopi tubruk, tak tentu arah. Mataku tertuju pada cangkir kaca bening yang ternoda bubuk-bubuk hitam itu, namun pikiranku pada salinan dokumen yang kusembunyikan. Kuputuskan untuk tidak memberitahu Devon. Kami pasti bakal salah paham satu sama lain.

“Kita lihat saja deh, Gus. Asal dia bayarnya enggak kurang, aku sih fine-fine aja.”

“Serius gapapa lu, Von? Kalau itu betul rencana pembunuhan dan keluarga lu dibawa-bawa?”

“Tuh, kan? Kepalamu itu harus dibenamkan ke air dingin Sungai Thames, Gus! Mana mungkin keluargaku kena ancaman? Mereka sudah meninggal semua.”

Iya juga, ya?

“Kamu jangan aneh-aneh, Bagus. Jangan lapor Pak Bos, jangan lapor polisi, jangan sok-sok tiup peluit. Ingat kamu bukan siapa-siapa selain tukang fotokopi di Frontliner.”

Aku tak menjawab. Teguk berikutku begitu pahit dan kesat oleh sengat ampas kopi. Kupaksakan menelan semuanya, demi melancarkan keluarnya ucapan Devon barusan lewat telinga kiriku.

“Gus. Aku tahu kamu punya salinan ekstra dari dokumen itu,” sambar Devon. Ucapannya masih jelas meskipun ia sedang mengunyah gandasturi.

“Buktinya mana? Jangan-jangan lu….”

“Aku lihat kamu fotokopinya dua kali, Gus. Aku bahkan tahu kamu taruhnya di mana.”

Oke, sial. Satu talenta lagi dari Devon yang juga membuatku dengki: Lirikannya maut. Sekali lirik, dua tiga baris tulisan langsung terekam di otaknya. Cocok buat jadi agen rahasia.

“Gus, udah Gus, ngomong aja sama aku. Aku enggak cerita ke Pak Bos,” sikutnya. Bala-bala yang kupegang nyaris terlontar ke tanah. Ia malah pasang tampang tak berdosa, sambil menyilangkan jari seperti Spock.

Lebih baik kuberitahu Devon, atau kudiamkan saja?

@@@@

Lima hari berturut, wanita itu selalu muncul, selalu hanya membawa sepuluh lembar dokumen. Jam kedatangannya acak. Kadang pagi kadang malam.

Satu yang membingungkan: Tampilan fisiknya selalu berubah-ubah. Hari kedua ia tampil necis seperti wanita kantoran. Keesokannya jadi mirip anak band, lalu disusul berdandan anggun seperti mau ke undangan. Casing boleh berbeda-beda, namun sikapnya tetap sama. Dingin, menjaga jarak, tidak bisa diajak ngobrol. Kala menunggu, ia lebih memilih merapat ke pintu kaca, menyesap sepuntung rokok pendek, dan menguarkan asap tebal ke langit. Denganku, ia cuma memperhatikan urusan memberikan dokumen, kemudian menerima satu rangkap salinan dan dokumen asli, dan membayar. Sementara aku, hanya memperhatikan soal salinan rangkap kedua untuk hari kedua, ketiga, dan keempat. Semuanya kubaca dengan saksama, sebelum kujejalkan ke dalam laci.

Hari kelima, ia datang dengan penampilan sama dengan hari pertama. Saat itu gerai fotokopi sedang sepi. Di luar dugaan, Devon menawarkan diri untuk membuatkan salinan. Dia sudah tahu, dua rangkap.

Kuberanikan diri bertanya lebih banyak. “Mbak, sendirian aja?”

Ia terkaget. Puntung rokok yang dipegangnya nyaris jatuh. Sejurus, ia mengangguk.

“Mbak, sorry nanya. Saya lihat Mbak bawa dokumennya sedikit, dicicil gitu. Padahal itu kayanya nyambung ya Mbak? Kenapa Mbak enggak bawa semua dokumennya sekaligus aja?”

Tatapannya masih kosong ke arah kemacetan. Sadar aku tengah menunggu jawabannya, ia mendelik, tanpa jawaban. Aku tak bisa membaca sorot matanya yang cuma sekejap bertemu pandang denganku; apakah itu takut atau marah.

“Mbak….”

“Jangan, Mas.”

Mungkin aku yang sudah kelewatan, tapi aku tak tahan lagi.

“Hati-hati, Mbak. Bahaya.”

Tiba-tiba Devon keluar dari ruang fotokopi, membawa dua gepok kertas, “Sepuluh lembar, seribu lima ratus.”

Wanita itu menyelonong, seolah aku tak ada di situ. Ia langsung menarik dua buah uang logam dari dalam dompet kecil, menyerahkannya kepada Devon tanpa mengucap terima kasih. Ia buru-buru mengayun pintu keluar, sampai lupa menutupnya kembali.

Apakah tadi aku terlalu berani menghunuskan pedang?

Setelah menunggu jarak aman dalam diam, Devon menyemprotku.

“Bagus! Kamu bikin dia takut! Gila kamu!”

“Gila apanya, Von?”

“Ya gila, lah! Oh iya, kamu ‘kan belum tahu apa isi salinan tadi.”

Aku bergeming. Aku belum siap menghadapi kenyataan.

“Tenang, Gus. Dokumen hari ini belum yang terakhir. Masih ada lagi, tapi kurasa memang sudah mau tamat.”

Memangnya ini film dokumenter?

“Raven Bucklow dibunuh dengan racun saat dalam karantina ulang alik. Pelakunya entah siapa, tapi dia disuruh oleh seseorang yang punya kuasa. Cuma….”

Lanjut, Devon. Aku bahkan tak bisa menggerakkan mulut!

“Belum dijelaskan racunnya apa, dan siapa yang menyuruh kroco itu melakukannya.”

Kami bersandar ke mesin fotokopi yang berhadapan, tanpa bisa berkata-kata. Dalam diam, kami bersepakat untuk menunggu fragmen terakhir.

Semoga besok ia datang tepat waktu.

@@@

Keesokan paginya, aku bangun oleh suara gelas pecah. Tanganku tak sengaja menyenggolnya ketika hendak mematikan alarm di ponsel.

Firasat buruk itu terbukti. Masih berbaring di ranjang, kubuka Twitter, dan muncullah berita sadis itu di linimasa hingga berkali-kali: Seorang wanita ditemukan tewas dengan luka tembak enam kali di dada dan perut, dengan senapan laras panjang tersodok dari kemaluan hingga menembus rongga perutnya, dan usus yang hancur terburai. Berita lain memperlihatkan foto wanita itu semasa hidup.

Seolah organ-organ dalamku bergelinjang, membuatku mual.

Wanita itu, yang lima hari berturut-turut datang ke gerai fotokopiku, ditemukan meninggal. Dibunuh. Dengan sadis.

Aku harus mengecek keberadaan dokumen itu! Sekarang!

@@

Devon sudah lebih dahulu ada di Frontliner. Ada satu mobil polisi bersamanya. Melihat itu, degup jantungku makin tak keruan.

“Bagus! Bagus! Sini!”

Aku mendekat, dengan napas tersengal.

“Gus, dokumen yang kamu simpan kemarin. Hilang.”

“Apa?”

“Iya, semalam gerai kita dirampok. Cuma aneh banget … enggak ada apa pun yang hilang. Cuma dokumen itu dan satu rim kertas. Duit masih utuh dalam brankas. Alat tulis, komputer, mesin jilid, paper shredder, semua masih ada,” cerocosnya dengan suara bergetar.

Jadi, dokumen salinan rahasiaku turut hilang.

Seketika, aku merasa kehilangan. Seperti sepatu bayi yang tak akan pernah terpakai. Seperti mobil pengantin yang tak akan pernah dinaiki. Seperti toga sarjana yang tak akan pernah kukenakan.

“Sudahlah, Gus.”

Aku menolak gamitan tangannya.

“Gus. Pengetahuan yang terlalu banyak bisa membunuhmu. Sudahlah, Gus.”

Aku mengatupkan rahang, berharap suaranya tak bisa masuk. Baik telinga kiri maupun kanan.

Cukup!

@

Dua hari berselang. Kami kembali ke rutinitas menjemukan, menghadapi kertas-kertas yang bukan milik kami.

Lima puluh lembar itu masih berkelebatan di kepalaku. Dokumen yang tak pernah sampai di gerai fotokopi kami hingga tuntas. Salinan dokumen yang tak pernah terlihat lagi. Hanya ingatankulah yang tersisa. Aku dan Devon pun sudah berjanji tak akan membahas masalah ini lagi.

Kertas itu bukan milikmu, Bagus. Itu bukan kehilangan, namanya.

Orang-orang akan menuduh aku mengarang cerita dan menyebarkan fitnah, kalau aku buka mulut tentang ingatanku. Aku akan menyeret diriku ke lembah peradilan, menunggu tanpa akhir ketika diperiksa polisi, dan jika terpeleset, aku bisa dipenjara, atau menjadi paria selamanya.

Karena ingatan bukanlah barang bukti yang otentik, kubur saja, Bagus. Lihat ke depan.

Aku mengiyakan nuraniku. Mungkin memang harus beginilah adanya.

Aku kembali memfotokopi, menjilid, dan menghitung uang kembalian; sambil berharap ada dokumen ganjil lagi.

 

 


(Jakarta, 12/12/2016. 1876 kata. Pemenang II TantanganNulis bertema #BlueValley dari Jia Effendie dan Falcon Fiksi, 29 November s/d 14 Desember 2016. Pernah dimuat di FB Notes dan di Medium-ku sebagai Medium Story.)

([la] evanescencia = istilah Spanyol untuk sesuatu yang menghilang dengan sangat cepat.)