Saga Suara Sari

Saya suka segala hal tentang suara Sari: kombinasi serak dan sengau yang saya rasa seksi sekali. Saya selalu senang kalau jam siarannya sudah mulai: dari langit sempurna gelap sampai embun berdatangan pagi-pagi. Kebanyakan dia bicara saja dan bukan menutupi pakai lagu, dia bacakan berita-berita kemarin saja dan bukan berkejaran demi mengumumkan berita baru. Sari mengulang-ulang saja kalimatnya; propaganda, kurasa; pedagogi, kurasa; disuruh orang, pastinya. Beberapa nama lancar disebutnya. Beberapa tempat, beberapa kenangan, beberapa target. Saya tak mau tahu apa yang Sari bicarakan dan mengapa dia bicarakan itu. Saya rela tidak minum tidak makan tidak dilumas berhari-hari, atau juga tak perlu jalanlah beberapa hari, kalau saya bisa terus mendengarkan suara Sari.

Suatu hari, Sari tidak siaran. Penyiar penggantinya, yang sedari sore sibuk memutar lagu-lagu barat kelabu, bilang bahwa dia sakit. Kernet satu dua dan tiga bertanya, saya jawab lempeng, “Sari sakit.” Mereka tak puas. Suara penyiar pengganti itu mereka keraskan, sampai separuh terminal bisa mendengar. Tak biasa: penyiar laki-laki itu menyampaikan berita, paling kini, tentang penangkapan. Penangkapan apa atau siapa, saya tak paham. Di dekat saya, kernet-kernet saling sikut kepengin maju. Telinga mereka terpasang antara dua kutub: seperti panji dan seperti panci; sementara saya terjepit di tengah-tengah, megap-megap menjulurkan antena.

Gelombang penasaran masih terus datang. Iklan operator telepon genggam yang tukang curi pulsa, disambung iklan layanan masyarakat tentang aturan jam malam. Bulu kudukku meremang, seiring semua kernet diam kerontang. Ketika penyiar pengganti buru-buru menyudahi iklan ketiga yang baru saja mulai, kami semua tahu. Ada sesuatu. 

Benar. Ada sirene mobil polisi datang. Tidak cuma satu. Hampir dua belas. Yang mereka teriakkan sama: “Radio! Radio! Musnahkan Radio, pusat penyebar berita kebencian!” Semua kernet tunggang-langgang. Semua lupa pada saya. Tanpa sadar, air mata saya berhamburan, seiring sadarnya saya: saya baru dicari hanya ketika kernet ingin mendengarkan saya, dan saya langsung dilupakan ketika polisi hendak membunuh saya.

Dalam hitungan detik, saya diangkat tinggi-tinggi ke udara. Beberapa seringai polisi tampak di bawah, berlawanan dengan arah antena saya, dan saya tak bisa berbuat apa-apa. Siaran yang berkumandang lewat tubuh saya belum selesai. Penyiar pengganti itu terdengar sedang tunggang-langgang juga, diteriaki “Radio! Radio! Musnahkan Radio, pusat penyebar berita kebencian!” ketika sebuah erangan yang tadinya jauh, makin dekat, makin dekat….

…dan sekarang erangan itu bernyanyi, mengantar remuk badan saya menuju tidur.

Saya suka segala hal tentang suara Sari. Setelah sadar saya segera mati dan Sari yang bernyanyi buat saya, saya senang sekali.

 


Jakarta, 29/05/2018, 393 kata. Prompt Ramadan #7 di komunitas Monday Flash Fiction, kata kunci “radio”.

Advertisements

Lima Cara Meramaikan Kembali Bayi yang Terdiam

Selama semua pintu tutup, semua jendela redup; rasa tenteram akan tangkup: aku aman dari segala kejar.

Begitu saja, sudah paling benar. Penghilang sakit habis, warung tutup, dia raung-raung menangis, amarahku meletup. Bukan salahku.

Anak itu belum naik-naik, aku mengurut dada.

Ada bunyi tetes-tetes memercik, tadi tidak ada. 

Otakku memutar, terbelah antara kepala pengar dan payudara memar.

Dalam mimpi Rangga membisikiku beberapa baris kalimat. Di sebelahku ada dua gelas. Persis sama, tanpa isi, dengan sisa lipstik di salah satu pinggir. Mereka bisa kuadu biar denting. Kupecahkan saja biar ramai. Biar hanya aku yang mengaduh, tidak apa. Itu baru satu cara. Selain itu, seharusnya minimal ada lima cara meributkan kembali bayi yang telanjur diam, tanpa harus menengoknya di bawah sana.

Pasti ada jalan. Pertama-tama, aku perlu menemukan sandalku.

Cara 1:

Kuturunkan kaki ke tempat biasa kutaruh sepasang sandal putih biru: sebelah kiri tempat tidur, agak menjorok dekat tiang jauh, hanya butuh tiga langkah ke pintu. Sandal itu tinggal sebelah. Yang satu entah ada di mana. Kuraba-raba dengan kaki, dia ada di bawah pintu rak. Ibu jari dan telunjuk kaki mengempit jepitnya, lapik karet pletak-pletok, aku lolos dari daun pintu. Engsel pintu kurang minyak, derit menjerit melarangku pindah tempat, sakit kepala kembali tanpa permisi. Kugerakkan lagi daun pintu, makin keras jerit engsel itu. Kuintip di selongsong paku dan selot pintu, karat-karat mengerat dan menunggu. Mereka siap sambut dan jambak kepalaku, kalau-kalau mereka terus kuganggu.

Inilah yang kulakukan: kuceraikan paku dan selot dan selongsong dan semua. Daun pintu lepas berayun-ayun, nyaris ambruk menimpa kepalaku. Semua tetes minyak kuperas habis, hingga tak ada lagi sisanya buat engsel itu agar leluasa. Derit yang tercipta kemudian terlalu keras. Terlalu menusuk kuping sampai membuat pusing.

Kuintip ke dalam kamar. Tepat ke ranjang.

Tetap, tak ada kepala yang terjulur di tepi sana.

Cara 2:

Kemarin Mirat berjualan keliling. Sepasang panci-wajan terlego dari kepalanya ke dapurku. Uang hasil mengoper susu ke tetangga-lah yang membuatku sanggup membelinya; kebetulan panci lama sudah penuh jelaga, wajan juga tak jelas lagi bedanya dengan jelantah. Transaksi kami mulus sampai akhir. Satu-satunya yang kulupa hanya bahwa Mirat mengambil uang kertasku terlalu banyak, dan wajan yang kudapatkan rupanya bocor.

Aku tak pernah diajari cara menambal wajan yang sudah berlubang di dekat kutub terendahnya. Aku juga tak tahu bahan apa bisa menambal wajan bocor tetapi tidak merusak makanan yang kumasak. Menambal wajan dengan panci pun rasanya tidak tepat. Menggunakan panci sebagai pengganti wajan juga sepertinya aneh—beberapa jenis makanan tak suka memanjat dinding, lebih suka mendaki bukit.

Inilah yang kulakukan: mengoyak tepi wajan lamaku yang belum tersaru jelantah, lalu menjahitnya dengan segala cara—aku lupa jenis benang dan jarumnya—sampai mereka bersatu. Wajan hasil tambalanku itu kemudian kupakai untuk memasak kapal selam yang melempem dan tinggal satu-satunya. Sesekali ikan bertarung lawan minyak dan sesuatu melencit, mendarat cepat di punggung tanganku, melentingkan kulit di situ dalam hitungan detik: teriakku sejadi-jadinya.

Seharusnya ada orang yang mengiraku dirampok, atau mau digerayangi, atau tengah berhadapan dengan sabet bilah pisau yang siaga di antara rahang dan batang tenggorok. 

Tidak. 

Tidak ada. 

Tak ada kepala yang terjulur di tepi sana.

Cara 3:

Beberapa paman mengeluh nasib sial menimpa mereka tanpa ujung ketika cermin mereka terbelah. Pepatah yang bukan Rangga bilang buruk mukalah penyebab pembelahan cermin yang paling sering. Namun, karena aku tahu persis muka paman-pamanku tidaklah buruk, pasti cermin itulah yang seperti makhluk bersel satu, bisa membelah dirinya sendiri.

Setidaknya, itulah yang kupercayai ketika pecahan beling yang kutempel di salah satu pintu lemari tiba-tiba membesar jadi berbentuk seperti benua Australia yang termosaik.

Letak lemari itu persis di luar pintu kamarku, rapat ke dinding tanpa sela sedikit pun untuk napas sang tembok. Setiap hari aku mematut diri di sana sehabis mandi, telanjang maupun berpakaian. Tentu setiap hari juga aku melihat mukaku; tahu seberapa memburuknya muka itu dari hari ke hari, dan berapa besar peluang keburukan mukaku itu akan membelah cerminku pada akhirnya. Yang kutahu Mirat mengataiku cantik dan pemuda warung mengataiku manis. Aku tak pernah tahu seperti apa mukaku waktu marah, apalagi kalau marahnya karena pelantang hidup itu meraung.

Inilah yang kulakukan: aku mengambil martil, satu-satunya perkakas kelaki-lakian yang kusimpan di gudang belakang dekat dapur, lalu mengayunkannya kuat-kuat, tepat ke tengah benua Australia di lemariku.

Mendengar cerai-berai cerminku, seharusnya semua nyawa yang berungu bangun mencariku.

Tetapi tetap tak ada kepala pegari dari mana-mana.

Cara 4:

Dedi gemar mendengarkan lagu-lagu Arctic Monkeys dengan volume yang dia sangka menggetarkan jiwa raga, tetapi bagiku menggetarkan nafsu marah paling membara. Sial bukan kepalang, orang tua Dedi tinggal persis di sebelahku, dan sudah barang tentu Dedi ikut pula tinggal di situ. Bapak-ibunya takluk pada Arctic Monkeys, membiarkan anak kecil itu memasang setengah-jambul-setengah-pompadour seperti Alex Turner, juga membiarkan anak itu menulikan seisi jalanan dengan kekencangan putaran kasetnya.

Aku juga punya pemutar kaset di rumah. Dulu waktu semua masih baik-baik saja, lagu dangdut paling sering berkumandang, diikuti beberapa lagu pop cengeng masa lalu dan lagu kacangan—teman guncangan truk ketika menempuh jalan antarkota yang tiga tapak tanpa aspal. Perlahan lagu-lagu memudar dan hilang, dan pemutar kaset itu membalas perselingkuhan kami darinya dengan menyulam debu setebal-tebalnya.

Ini yang kulakukan: aku sudah mengamati Dedi sepanjang malam selama seratus hari lebih. Sewaktu Dedi berangkat sekolah, aku memanjat tali jemuran untuk mengurangi kecurigaan, dan mendaratlah aku di tempat tujuan: dapur. Di sanalah Dedi menaruh semua kaset berisiknya. Kukantongi album AM, kupanjat balik tali. Jemuran terjengkang, juga pemutar kasetku yang tiba-tiba saja terpuaskan dahaganya. Berisik musik rock menyambangi udara dengan cepat—persetan dengan suara pekik Dedi yang mulai melengking di luar sana—termasuk ke kamarku.

Tetapi tetap tak ada kepala yang mencuat dan menandakan kehidupan.

Cara 5:

Semua kucoba. Semua tak mempan. Semua ujung lagu Arctic Monkeys hangus, semua pemain orkestra tak mangkus, suara lesap ke pampat udara; aku tahu aku tak becus. Aku mengambil botol sambal, membuang kutang, pulang ke ranjang, kembali ke posisi baringku yang semula. Aku mengurut dada dan mengusap kepala yang dari tadi sudah tak ada. Aku memberanikan diri menoleh ke bawah. Ke tempat di mana kepalanya kutunggu-tunggu.

Kepala itu keras di beberapa tempat, lembek di tempat-tempat lain. Rabaanku dulu tak pernah keliru tetapi aku berharap sekali saja aku akan keliru: tak ada denyut di kepala itu. Lalu kubalik badannya, juga kepala yang terkulai lemas di puncak leher gempalnya. Mata itu membuka. Mulutnya juga. Kuselipkan puting bersambal pada langit-langitnya. Orkestra siap mulai lagi. Giliran mereka yang menunggu aba-abaku.

Dalam ketenangan yang telanjur diam.

Jakarta, 19/05/2018 | 1050 kata
Dimaksudkan sebagai sekuel CUBIT oleh Harun Malaia (a.k.a. Aulia Rahman), untuk diikutsertakan dalam giveaway di sini.

Tukar Rumah

Dengan takzim kupandangi benda itu. Dia baru selesai dirakit sepasang tukang, terpajang begitu saja di pojok ruang tidurku yang usang. Kucoba satu-satu isinya. Semua jalan, semua nyaman. Aku membayar separuh kontan separuh cek. Memang lantas habislah tabunganku. Sama seperti badanku. Juga umurku. Jangan salah. Aku sudah menimbang semuanya: pakai hati, pakai kalkulator, pakai timbangan. Aku sudah mantap.

Awal mulanya sederhana saja: kupingan yang tak pernah kusengajai.

“Giliran dia kapan? Aku capek mengurusnya. Bujangan tua tak berguna. Coba saja dia punya anak yang mau mengurusnya!” seru pengasuhku—yang saban hari memandikanku memakaikanku baju menyuapiku serta membantuku buang air—kala dia pikir aku tak dengar ocehannya dari balik jendela.

“Dia bisa saja pakai depositonya buat sewa ginoid. Biar ginoid itu yang piara dia sampai dia jadi debu,” sahut suara yang satunya. Ini perawat yang biasa datang kepadaku seminggu sekali untuk mengganti perban dan menyunduk jarum infus.

“Bukankah kamu bilang dia sudah tak punya harapan?” Mereka lanjut bercakap, tanpa tahu telingaku—yang masih tegap—masih bersigap.

“Benar. Kata dokter, umurnya paling tinggal dua bulan lagi.”

“Sudah, kaubaik-baiki saja dia. Siapa tahu warisannya yang bejibun itu jatuh kepadamu.”

Ada lagi.

Tamu satu. Datang langsung ke depan mataku.

“Tuan, kami dari Yayasan Penyembah Literasi. Kami tahu Tuan punya begitu banyak buku koleksi pribadi. Kami bermaksud untuk….”

Kuingat tumpukan buku yang dulu pernah kupamerkan di Instagram. Ternyata yang melihat dan terkesan bukanlah penulisnya, bukan juga sesama penyuka buku, melainkan kawanan burung pemakan bangkai. Kuusir mereka, bahkan sebelum kalimat pertama berhasil mereka tuntaskan.

Tamu dua. Menyahut-nyahut di telepon seperti perkutut.

“Tuan, kenapa tidak datang lagi? Kami butuh Tuan! Tidak ada relawan lain yang cekatan seperti Tuan. Kami sungguh rindu, Tuan! Kapan datang lagi? Atau kalau tidak, kirim uang saja. Pakai transfer kan bisa, ke nomor rekening…. Sebentar….”

Mereka mengaku mengharapkan bantuan yang tulus. Namun, rupanya mereka tak tulus kehilanganku ketika ketiadaan empat jari kaki dan munculnya borok di bokong yang tak sembuh-sembuh membuatku tak bisa berjalan jauh lagi. Kututup telepon sebelum dia kembali. Biar saja.

Begini.

Mereka tahu aku akan mati. Aku tahu uang tak bisa kubawa mati. Lebih baik, kusimpan saja uangku di suatu tempat, supaya mereka tidak tahu akan mengapakan aku setelah aku mati.

Cara yang cerdas, bukan?

Maka, kuteleponlah sepasang tukang itu.

*

Dia menyurel, tak kubalas.

Dia menelepon, tak kuangkat.

Dia mengirim bunga, tak kuucap terima kasih.

Ketika dia memutuskan nekat mendatangiku, aku bergeming. Tak bisa berbuat apa-apa selain meluluskan paksaan pembantuku yang cuma datang di Senin dan Kamis pagi. Dari mana dia tahu hari-hari kapan pembantuku ada dan tiada? Entahlah. Aku sudah lelah untuk berpikir seperti detektif.

Kalimat pertamanya sesuai dugaanku.

“Kenapa kaudiamkan semua surelku? Teleponku? SMS-ku? Kenapa tidak kaujawab? Aku peduli padamu. Sungguh peduli. Makanya aku nekat saja datang.”

Alih-alih menjawab, kupalingkan mukaku ke jendela, menonton burung-burung yang meningkahi jatuhnya dedaunan.

“Jawab aku.”

Perlahan kupalingkan muka ke mukanya. Muka yang tak asing tetapi terus otakku tolak demi kedamaian batin dari kecamuk perasaan. Jenis kelaminnya beda denganku, tetapi rautnya mirip aku… yah, tiga puluh lima sampai empat puluh lima persen. Tak lebih. Warna rambutnya beda denganku. Tingginya jauh lebih dariku. Namun kekerasan hatinya mirip aku. Itulah kali pertama aku menyimak fisiknya setelah dua puluh tahun.

Kusempatkan penasaran akan siapa ibunya menyisip di benak. Pastilah cantik.

Dua puluh tahun, tetapi aku masih ingat namanya. Nama asli, nama panggilan. Sekali sebut sudah cukup, karena aku belum (dan tak akan sempat) pikun.

“Aku tak bisa, Nami.”

“Bohong. Kau tak mau, kan?”

Beberapa daun limbung dari ranting. Menunggu nasib, menunggu mati. Sama denganku.

“Aku ke sini bukan untuk minta apa-apa. Minta harta? Ah. Aku sudah tahu kalau mereka-merekalah yang lebih berhak. Minta pengakuan? Aku tahu keras kepalanya kau. Aku mungkin mendapatkan sifat ini darimu.”

Aku mendelik padanya.

“Maaf,” tunduknya, tetap tegar, “aku tak bermaksud….”

“Jangan sebut-sebut itu lagi.”

“Aku tahu.”

“Jadi?”

“Aku cuma ingin tanya soal benda itu.”

Aku menjengit sembari melihat arah telunjuknya. Ke pojok kamarku. Ke benda itu. Buru-buru kubalas dengan kedikan dua bahu.

“Untuk apa kaulakukan itu?”

Kembali, aku diam. Kupalingkan mukaku ke jendela, lagi dan lagi. Dari samping tempat tidurku, kudengar suara derit kursi yang baru dia tinggalkan, langkah-langkahnya yang cepat, dan kelebat gerak tangkasnya. Lalu cengkeraman tangannya pada tanganku. Kanan dan kiri.

“Untuk apa, Ayah? Kau lupa ada aku?”

Aku terlalu lemah untuk berpaling lagi. Tenagaku habis.

“Bukan begitu, Nami.”

“Lalu?”

“Aku… c-cuma tak mau jadi korban. Semacam bangkai yang dipanen.”

Anamnesis mengernyit. Memicing. Lalu mengendurkan cengkeraman sedikit.

“Lepaskan, tolong,” pintaku. Agak merintih, mungkin. Anamnesis menurut.

“Nami, aku tak punya siapa-siapa. Kamu tahu kamu itu milik ibumu. Aku cuma penyumbang sperma anonim yang kemudian jadi bernama karena kamu berhasil melacakku lewat aplikasi genetik. Aku tak berhak mengakuimu. Sementara mereka… mereka tahu aku tak punya siapa-siapa, jadilah mereka menungguku cepat mati saja. Toh waktuku juga tidak lama lagi. Jadi, anggap saja benda itu sebagai kenang-kenangan,” tunjukku ke pojok ruangan.

“Maksud Ayah?”

“Aku akan menghabiskan waktuku di sana. Tenang dan nyaman. Kamu kan tahu kalau mati itu hanya perkara pindah tempat. Nah, aku mau pindah ke…. Ke sana. Tolong, Nami.”

Anamnesis bergegas menghampiri peti mati termutakhir itu. Dia buka kedua daun pintunya. Ada kasur pegas paling nyaman, bantal empuk, selimut hangat. Pemanas mungil. Kulkas mini. Bak mandi. Pancuran air. Seperangkat televisi dan video. Sebundel cakram film. Rak buku. Poster perempuan-perempuan cantik. Jendela dengan wallpaper dusta. Banyak lagi.

Dia paham sekarang.

Dia membalik badan, bertanya padaku.

“Memangnya, waktu Ayah seharusnya kapan?”

Kuceritakan bahwa aku sudah kalahkan prediksi dokter, juga gunjingan perawat. Dua bulan jadi lima bulan dan masih terus, meskipun luka bokongku sudah berbelatung dan analgesik suntikku terus sinambung. Aku terus menderita dan Anamnesis tak tega.

“Ayah harus ingat aku di sana. Harus.”

Aku mengangguk, mengaku kalah.

Jadilah dia menggendongku susah payah, lalu membaringkanku ke dalamnya. Tak lupa dia titipkan pas foto berwarnanya yang terbaru, tepat di silangan dua tanganku di dada. Dia rapalkan doa terindah waktu isi jarum itu didorongnya masuk ke darahku, mengantarku ke perjalanan terjauh, dalam kereta surga ini.

Aku akan baik-baik saja, katanya.

Dalam pekat kantukku, aku percaya saja, abai akan seserapah mereka yang bukan dia.

Lalu memejam selamanya.

 


(Jakarta, 11.02.2018. 999 kata)

Trivia:
1. Ginoid = android wanita
2. Anamnesis = (Gre) kenangan. Istilah ini lebih sering dikenal di kedokteran, yang artinya “proses wawancara oleh tenaga medis untuk mendapatkan] riwayat kesehatan pasien”.
3. Inspirasi/interpretasi bebas atas puisi “Di Toko Peti” (buku puisi Belajar Melucu dengan Serius, Hasta Indriyana, GPU/2017) dan lagu Banda Neira “Sampai Jadi Debu” (album Yang Patah Tumbuh, Yang Hilang Berganti, 2016).

Biar Kekallah Kami di Bumi

Seratus lima puluh Desember yang lalu, Kakek pernah mengajariku mengenali Natal dengan mengamati butir salju yang berkejaran turun. Ia membuka mulut. Lantun perlahan dan tatapan purbanya kubalas dengan decak dan delik marah.

“Cara macam apa itu, Kek?”

“Dengar dulu, Nev.”

“Tidak, Kek. Itu tak masuk akal!”

“Ya tidak apa! Yang penting kamu tahu sendiri, sudah cukup!”

Aku menyerah.

“Kamu lihat, Nev, kalau ada satu saja butiran salju yang bisa mengejar butiran salju di bawahnya, berarti sudah tanggal 24.”

Aku mendengarkan. Kurang saksama, tapi cukup menancap dalam ingatan. Otakku yang masih lugu—dan belum dicekoki teori-teori fisika dari para dosen dan profesorku—mengamini saja. Memang beberapa butir salju seolah lebih cepat daripada kawanannya. Mereka, lambang dingin yang hakiki, saling tak mau kalah, meskipun sama-sama dipasung gravitasi, jatuh ke pelukan bumi.

Aha! Itu dia! Salju sekepalan tanganku membalap bola salju yang sebesar kerikil.

“Benar, kan, Nev?”

Aku tertawa.

Kakek semringah.

Aku pun semringah kalau ingat masa-masa itu. Ketika Kakek masih ada, ketika umur bisa ditera dengan perpaduan aktuaria dan peta bintang di jumantara. Masa-masa ketika semesta masih mengembang, ketika semua tak masalah saling menjauh.

Sampai berpuluh Desember kemudian.

*

Lima puluh Desember yang lalu, semesta berhenti menjauh. Perlahan, mereka sepakat saling berpelukan kembali. Ahli fisika dibuat terperangah, hingga merasa perlu mengecek sampai lima puluh kali hanya untuk menemukan fakta yang sama dan sama lagi. Hingga kini, alam semesta menyempit, saling dekat, menunggu debum terakhir.

Semacam ketuk palu kiamat.

“Benar, kan, Nev?”

Suara itu tidak purba dan tidak serak. Beratnya penuh, kuat, bergelora di tengah beku. Jelas itu bukan Kakek.

Itu Kaspar.

Ujaran itu selalu hadir tiap Desember, ketika aku duduk meringkuk dekat kosen jendela, sambil menatap hujan salju yang kecepatannya tak lagi sama dengan hipotesis Kakek. Sekarang, mereka semua turun lebih tergesa, lebih tegak lurus. Tak lagi ada tarian miring kanan atau miring kiri seperti dulu. Semua sama cepat.

“Benar apanya?”

Dengan sigap, Kaspar menarikku keluar dari kabut lamunan. Jemariku dan jemarinya bersentuhan, saling mengait.

“Benar bahwa teori kakekmu salah.”

“Newton bisa murka. Atau justru dia tertawa dari dalam kubur.”

Kaspar mendecak. “Kakekmu bisa saja mendebat Newton di sana. Kalau perlu sama Tyson, Sagan, Hawking, Thorne, Feynman….”

“Kaspar,” jemariku naik, hendak menyisipkan rambut ke belakang telinganya, “itu bukan urusan kita lagi.”

Ia mengelak. Aku tahu ia tak suka rambut lebatnya diperlakukan bak rambut gadis. Ia melompat ke sebelahku, ikut duduk di kosen. Sesuatu yang jarang ia mau lakukan. Dingin, katanya tempo hari.

“Kamu tahu tempat paling aman di dunia ini seandainya kiamat itu memang ada?”

Aku menggeleng. “Di bawah dedalu api?”

“Bukan.”

“Depan perapian?”

“Bukan! Lebih salah lagi.”

“Jadi?”

Kaspar menunjuk ke cemara palsu buatan kami. Ia ada di sebelah jendela yang satunya. Baru selesai kami rakit kemarin malam. Belum banyak lampu tersemat di dedaunannya. Belum ada pula hadiah yang tergeletak di bawahnya. Padahal tinggal tiga hari.

“Kita belum menghiasnya, Kaspar!” pekikku panik, segera bergegas bangkit dari duduk.

Barulah saat itu kulihat, ada salju mengonggok di salah satu sisinya. Jendela kami tak menutup sempurna. Seseorang di antara kami telah ceroboh.

“Oke, Nevada. Sebentar.”

Kaspar naik ke loteng. Aku tahu ia ingin mengambil sekop. Pekerjaan mudah, mengingat aku tak pernah mengemaskan sekop sampai dalam-dalam atau ke tempat sulit. Sementara, aku beranjak ke kamar mandi. Sudah seharian kami tidak berendam air hangat. Lebih baik kusiapkan dulu.

Kejadiannya begitu cepat. Kaspar turun dengan mengempit sekop. Ia mengangkat penutup jendela sedikit, bermaksud menutupnya. Berat. Jadilah ia berjinjit, berdiri ke pinggir kosen. Namun, ia memegang kenop dengan terbalik. Jendela menyentak, angin menyerbu masuk, dan ia terpeleset.

Kupikir, ia lenyap di balik berkah di pohon Natal.

Aku merutuk mengapa aku begitu bodoh.

Keajaiban itu tidak ada.

Aku menangis.

Aku mencari-cari Kaspar.

Badai tak berhenti hingga tujuh hari berselang.

Barulah, ia muncul dalam keadaan yang mengejutkan.

*

Ketika badai putih mengamuk menjelang Natal, aku naik ke loteng. Desember demi Desember, sendi-sendiku semakin tak mengizinkanku melakukannya. Biar.

Kubuka pasu yang kusimpan dalam peti itu Bunga-bunga salju menyambutku. Sedikit serpihnya melompat ke pipi, membelai lembut, dingin sekaligus hangat.

Nadir semesta tak jauh lagi. Menunggu kiamat, kupikir Kaspar setuju untuk masuk ke tubuhku, menjadi darahku, mengikat dagingku. Sesekali, jika aku mau, aku mengambil sejumput Kaspar. Kuseduh dalam air yang habis kujerang, kuseruput perlahan, selagi hangat.

Biar kekallah kami di bumi.

 

 


[Jakarta, 22/12/2017, 699 kata. #NulisKilat 22 Desember 2017, tema Natal, kata kunci Salju, genre bebas. 

[1. Semesta saat ini sebetulnya masih mengembang (inflasi). Ini adalah gambaran dunia di mana semesta sudah mengerut (deflasi), yang belum diketahui akan terjadi kapan.
2. Nama karakter: Nevada (Spanyol, salju), Kaspar (Jerman, nama salah satu dari tiga raja yang mengunjungi Nabi Isa/Yesus saat baru dilahirkan).
3. Nama-nama yang disebut Kaspar: (Richard) Feynman, (Stephen) Hawking, (Isaac) Newton, (Carl) Sagan, (Kip) Thorne, (Neil deGrasse) Tyson.
4. Dedalu api = mistletoe dalam bahasa Indonesia.]

Kembar Siam

Karena aku terlalu takut tenggelam pada pesona seseorang yang tiba-tiba saja menumbuhkan rambut kasar di rahang bayanganku tapi tidak pada rahangku, membidangkan otot pada kedang dada bayanganku tapi tidak pada bulat dadaku, dan menajamkan tatapan dari matanya tapi tidak pada tatapanku; meskipun aku tahu ada yang salah dengan cerminku tapi tidak tahu apa sebabnya; kubiarkan pria baru-tapi-semu itu melekatkan bibirnya pada bibirku, kubiarkan ia melumatnya, sambil diam-diam kuambil pisau dengan tangan di balik punggung, lalu kuayunkan cepat ke bawah perutnya, menancapkannya erat di sana; hanya untuk mendapati pisau yang sama mencelat keluar dari sela katup gigiku.

 


(Jakarta, 05/10/2017, Monday Flash Fiction #FFKamis 100 kata, kata kunci: cermin. Hasil eksperimen membuat 100 kata dalam satu kalimat.)

Adam yang Disempurnakan

Ganjil. Ini benar-benar ganjil.

Dua tangannya, yang seharusnya hangat di telapak, melandai di belikat, menangkup bahuku. Justru sengat dingin yang kurasakan. Tak mau pergi-pergi.

Semua berawal dari berbulan-bulan yang lalu. Aku tahu kata kunci komputernya, namun aku menyangkal itu sekadar ingin tahu atau percik cemburu yang terburu-buru. Sepasang karcis. Tanggal sebelas. Jam tujuh. Film yang sudah kami tonton di tanggal sembilan. Aku tidak diberitahu. Kutelan saja semuanya, tanpa bertanya.

Satu lengannya menggeleser perlahan, melingkar ke depan. Ia merangkumku sempurna dari belakang. Rangkum itu, entahkah lengan yang dulu biasa melindungiku dari bahaya, entahkah itu harum yang dulu meyakinkanku bahwa itu memang dirinya.

Indra pertama tidak melihat dan indra kedua tidak mendengar, tapi indra ketigaku tak pernah bisa dibohongi. Tanggal lima belas, ia pulang terlalu larut. Dilemparnya saja kemeja itu ke dalam baskom kering. Besok jadwal tukang cucian datang, jadi aku harus menghitung dengan tepat isi baskom sebelum menyerahkan isinya. Aroma kemejanya beda. Segar kayu itu masih tegas, namun ada semilir bunga bercampur sitrun. Aku tak pernah menyukai aroma jeruk. Aku tidak diberitahu. Masih kupaksakan semua ini melewati kerongkongan, masih tanpa bertanya.

Rahangnya menyapa tengkukku. Ia mengatur napas. Masih canggung. Ia ingin mendesah, namun ia urung. Aku menggigil kian hebat. Kian takut.

Tanggal satu, ia terburu-buru melewati pintu depan. Kotak besar berhias pita manis nyaris terjungkal dari tangan itu. Indra keenamku bilang, ia baru ingat sepenuhnya itu hari ulang tahunku. Secepat kilat lagi ia letakkan kado di meja. Sebelah tangannya meraih punggungku, sembari bibirnya memulai ritual tahunan kami dengan segera. Indra keempatku mencecap sesuatu yang tak sama. Sesuatu yang terlalu manis dari bibirnya yang biasa. Bekas dilumat seseorang. Indra kelimaku meraba benda tak lazim dari saku belakang celananya. Kutarik. Itu kain. Merah. Satin.

Ia bisa mencekikku sekarang. Ia bisa menerkamku sekarang.

“Lisa,” bisiknya tepat di balik daun telinga kananku, “aku mau bilang sesuatu.”

Aku menggeliat sekilas, namun enggan membalik badan, enggan menatapnya dalam-dalam. Ini lebih mirip semacam usaha mempertahankan diri. Usaha melarikan diri kalau ada apa-apa.

“Harus sekarangkah?”

“Kita sudah lama tak saling bicara, Lisa.”

Dengan sebelah lengannya yang masih memelukku di dada dan bahu, dengan sebelah pipi dan rahangnya yang masih menempel di tengkuk, aku tak bisa berbuat banyak. Percuma saja.

“Aku akan menikah lagi.”

Tanpa memberiku jeda, ia mengeratkan rangkul. Tanganku terkunci rapat. Ia lupa dengan tanganku yang satunya. Menjelujur rusuk demi rusuk dari balik dada kirinya. Dari bawah.

Satu, dua, tiga…. 

“Dengan perempuan itu? Yang parfumnya sitrun itu?”

“Lisa, Lisa. Kamu tak pernah berubah. Cerdas. Aku suka,” seringainya, kian lebar.

Empat, lima, enam, tujuh…. Degup jantungnya…. 

“Kalau aku bilang tak boleh, bagaimana?” 

Delapan, sembilan, sepuluh….

“Tidak mungkin, Lisa. Kamu tak bisa bilang tak boleh.” 

Sebelas…. 

Napasku tertahan, “M-m-memangnya…. Kenapa?

Dua belas…. 

Tunggu.

“Karena Tuhan saja menciptakanku dengan tiga belas rusuk ketika pria lain cuma punya sebelas. Aku berhak atas dua istri, bukan?”

Tiga belas. Tepat di lehernya.

Hitunganku terhenti.

Terlambat.

Dadu dari Tuhan sudah kuambil. Tak bisa ditukar, apalagi dikembalikan.

 


(Jakarta, 17/07/2017. Monday Flash Fiction Prompt #145: Tiga belas. Cerita ini terpilih untuk bahan diskusi pada minggu keempat Juli 2017. 481, jumlah kata dalam cerita mini ini, adalah hasil perkalian 13 dan 37.)

(Dalam aspek anatomi manusia, dikenal sejenis kelainan bernama 13th rib atau cervical rib, yang terletak di leher (dekat tulang selangka). Kelainan ini ditemukan pada 1 dari 150 orang, dan sebagian besar tidak bergejala apa pun. Di lain sisi, mitos bahwa pria hanya memiliki sebelas ruas iga kiri adalah tidak benar – semua manusia normal memiliki dua belas pasang iga. [dari berbagai sumber])

Mense Terribilis

Bukan warna campuranku lagi yang kukhawatirkan. Bukan kanvasku lagi. Awalnya aku cuma tak ingin mengecewakan Lucy. Perintahnya jelas, masih begitu sampai hari ini setelah dua tahun berselang. Jangan perkenalkan dirimu. Kejermananmu. Karena ini Amerika. Sebut nama depanmu saja. Selesai. Kamu cuma pelukisnya, bukan siapa-siapanya. Tidak seperti aku. Tidak seperti … ehem … Eleanor.

Kamera Nicholas yang memotretnya telah diturunkan. Belum ada pengawal lain. Beliau masih duduk — begitulah caranya menghabiskan nyaris seperempat abad belakangan ini — dan menatapku. Lurus. Tajam. Senyata pisau meskipun tampak begitu rapuh. Akibatnya jelas. Bahkan aku tak berani memperkenalkan diri terlebih dahulu.

“Perkenalkan dirimu, Nona.”

Aku memang sedang menunduk, merapikan warna-warna cat air ini hingga sungguh siap. Kata mereka, jangan pernah lihat kakinya — kau akan menyesal kalau beliau sudah mendelikmu. Kunaikkan saja pandangan, hanya demi mendapati pasang mata yang lebih cekung dari dugaanku, dari foto yang kulihat dari Yalta minggu lalu.

Sesuatu. Ada sesuatu.

“Heidi,” aku menahan napas sesaat, “Heidi, Tuan Presiden.”

“Baiklah,” ucapnya tegas, seraya mendesah dan memandang keluar jendela. Beliau tampak begitu lelah. Aku sudah hampir menyuruhnya bersandar saja, sebelum tiba-tiba rentetan perintah Lucy kembali menyahut di dalam kepala. Alih-alih menunjukkan perhatian, aku hanya berkata, “Bisa kita mulai, Tuan?”

Beliau mengangguk. Segera beliau merapikan posisi duduk, terdiam, namun sama sekali tak tampak terkantuk atau lelah dan ingin menunduk. Sementara aku terus berpura-pura menunduk, berdalih cat air ini harus diaduk-aduk. Menit demi menit, beberapa pengawal silih berganti mengawasiku, seolah mau menengarai bulir keringatku satu demi satu.

“Heidi,” sahutnya mendadak, “aku lelah. Sebentar, aku perlu minum dulu.”

Seorang pengawal masuk membawa segelas air. Bening, pertanda itu air putih biasa. Namun bukan itu yang menarik perhatianku. Melainkan gelasnya. Aku bertemu dengan gelas itu tadi, tepat sebelum masuk ke ruangan ini.

Beliau minum. Tiga teguk, kuhitung. Itu cukup.

“Tuan Presiden,” sebutku perlahan, sembari terus mengitarkan tatapan ke selaksa gurat-gurat ringkih itu. Seharusnya, tanpa kusiksa pun, malaikat arit itu bakal segera datang, “kurasa dasi merah lebih bagus buat Anda. Lebih berwibawa.” Kali itu, aku tak berkedip barang sekali pun. Kurapal hitungan dalam hati. Begitu tiba waktunya, kubenamkan lagi mata pada kanvas dan cat air. Tak keluar-keluar lagi.

Sore tiba. Lukisanku masih lubang-lubang. Wajah Beliau bahkan belum rampung. Aku minta maaf, minta maaf lagi, sambil buru-buru berkemas sebelum tersandung. Ingin cepat-cepat lari saja. Aku berpapasan dengannya malam itu. Malaikat yang membawa arit dan menjulang tinggi. Ia mengangguk kepadaku, aku mengangguk kepadanya. Aku berjalan keluar Gedung Putih dengan kempitan dua pengawal, ia malah dibiarkan bebas berkelana sendirian di dalam tanpa pengawasan.

Ingat caranya, Heidi? Tatap ia lama-lama. Ia akan risau sendiri, sehebat apa pun dia. Ingat, tatapan dalammu akan melemparkan kekuatan mematikan. Kamu yang melempar, namun ia sendiri yang memutuskan untuk mati. Sakit. Bunuh diri. Kecelakaan. Takkan ada yang menudingmu, Heidi Manshoff, keturunan terakhir Merlin yang masih betah bersembunyi di Jerman Barat.

Lalu kudengar kisah selanjutnya. Emma Shoumatoff menggantikanku keesokan harinya, tanggal dua belas. Di tengah prosesnya melukis Franklin Delano Roosevelt — itulah namanya — Beliau kesakitan, tersungkur, pingsan, dan lalu pergi selamanya. Harry Truman disumpah sebagai presiden baru, sementara Emma Shoumatoff — ya, Emma yang itu — tak pernah muncul lagi.

Aku tersenyum kecut sendiri, sambil menuju pelabuhan udara. Aku harus cepat menuju Berlin, Jerman Barat — ya, negeriku sendiri — sambil membayangkan betapa jemu sayuran mengonggok dalam mangkuk sup vegetariannya.

Kamu pasti tahu siapa tujuanku selanjutnya.

 

 


(Jakarta, 09/06/2017, 537 kata. Cerita terpilih #NulisKilat 9 Juni 2017, tema Historical Fiction. Mense terribilis = bahasa Latin untuk “bulan yang buruk”, dalam hal ini April 1945.)

[Tokoh-tokoh nyata dalam cerita ini: Franklin Franklin D. Roosevelt (1882-1945), Lucy Rutherfurd (1891-1948), Eleanor Roosevelt (1884-1962), dan Adolf Hitler (1889-1945)]

 

Aku, Kamu, dan Lidahmu

Dulu sekali, aku sudah lupa berapa tahun yang lalu. Menurutku, kamu pintar bicara; buktinya aku saja bisa kaubuat terpana. Sementara menurutmu, aku begitu sempurna; meskipun aku tahu maksudmu – yang sempurna itu fisikku.

Dua tahun kemudian, kita sudah saling kenal, lebih dekat, jauh lebih dekat dari sebelumnya. Menurutku, kamu punya kosakata yang begitu banyak, luas, dan dalam; kata-kata sastra kuno saja kadang kaupakai ketika melamarku. Sementara menurutmu, aku cocok sekali jadi ibu dari anak-anakmu – dengan syarat bentuk badanku tak akan berubah-ubah lagi nanti (eh, tapi, memangnya aku bisa menjamin itu?)

Lima tahun kemudian, kita bertumbuh dari berdua jadi berempat. Menurutku, kamu seharusnya mulai menulis kamus bahasa kasar sedunia; pasti laku. Sementara menurutmu, aku – yang gagal lolos garansi soal bentuk tubuh – sudah terlalu melar seperti donat, sehingga kauboleh melongokkan kepala tinggi-tinggi dan jauh-jauh.

Setahun kemudian, kesabaranku habis juga. Menurutku, mulutmu patut disumpal dengan gabungan isi tangki septik dan pusat pengolahan sampah, seraya kujahit kerongkonganmu sampai puntung. Sementara menurutmu, aku tak lebih dari tukang mengomel berperut gendut dan berpinggang gentong.

Awalnya aku tak setuju; aku butuh uang darimu. Kamu pun tak setuju; kamu butuh anak laki-laki lagi untuk melawanku. Kita tak bersepakat. Tak pernah. Jadi, akhirnya kuputuskan untuk memotongmu kecil-kecil, menempatkan setiap bagianmu dalam stoples, memberinya adonan garam-gula-cuka dalam takaran yang kumau, menguncinya, dan memajangnya di galeriku.

Oh ya, aku lupa satu hal. Lidahmu. Lidahmu yang penuh iris-iris, yang pangkalnya tercabik-cabik; boleh dipinjam oleh siapa saja, asalkan ia tidak lupa menggaraminya setiap hari. Dengan demikian, aku dapat uang darimu, tapi kamu tak dapat anak laki-laki lagi dariku.

Bukankah itu cukup adil?

 


(London/Manchester, 26/04/2017. 270 kata. Monday Flash Fiction Prompt #139: “Boleh kupinjam lelakimu? Hanya hangat lidahnya. Tak lebih.” Prompt tercepat yang hanya diselesaikan dalam 17 menit.)

29, 30, 31

Centuries ago, people celebrated their love and affection towards each other in a month which often betrayed me. To cheer me up, others sent me gifts: Cinema tickets and new songs and fresh flowers and sharp tongue-lashes and knives and (even more) betrayals. When I thought about them, I often couldn’t hold my tears and eventually ended sobbing, day and night.

After fed up with too many sufferings in the past, it should be reasonable for me to grunt, or even roar, to see what Panumeria were about to announce. Rumors told us, it would be about calendar system. My heart sank at first, but I knew I had to face it eventually.

Ruler Of The World, whose embodiment was a ruler as well, had his command spoken loudly, propagated in all media. “Dear my fellow Panumerians! As you see these scales on my body,” he paused and pointed his diminutive finger up and down and up again towards his own metallic body, “We agree that EVERYTHING must be measurable to the tiniest scale from now on! Including our calendar system. We will adopt Fixed Calendar, rename it into Universal Fixed Date.”

I looked at my fellows within this lounge in House of Time. Sixth and Twelfth were watching nearby the television screen, while Twenty-First and Eighteenth were still sitting on our mini bar table, staring at single-digit kids, who were chasing each other all around, and chuckled occasionally.

“So, we’ll have day 1 to 28 every month. Thirteen months. This will make our days stay stable and predictable. First will always fall on Sunday. Thirteen on Friday. And so on, until twenty-eighth, Saturday.”

First, a lanky black-haired man, who was still leaning lazy on the couch, woke up in a rush, riveting his only slim elbow to his single meager leg, upon that acknowledgement. Thirteenth, who was rolling tightly in a “B” formation, drifted in reflex as she realized in desperation that Friday would be forever hers. The exclusivity right from medieval horror franchise had just vanished with the wind.

How about me? How should I feel? I am just removed from House of Time!

“But…. Wait a second.”

Ruler hanged a hope. Maybe it was high. I and Thirty-First, who just came and sat beside me, looked at each other, contemplated our telepathic minds and feelings of being dumped with no yellow-light warning at all. I didn’t have a heart to reassure him, as he was unstoppable from weeping until his eyes became red and puffy. Eventually, Thirty-First tapped my left shoulder, which was fuller than my right one, whispered slowly.

“Twenty-Ninth, you stand better chance to keep your seat.”

“Thirty-First….”

He shook his head as his hair swished smoothly. “I’ve done enough. I’ve done enough.” I tapped his right shoulder as he continued sobbing.

“My fellows! Twenty-eight times thirteen is three-hundred and sixty-four. We must have an additional one and a quarter day to balance our solar calendar as it was.”

My heart pounded faster. Thirty-First paused his weep, managed to force a slight smile for me.

“After the thirteen month, I will put a special day. It does not fall on any given day, doesn’t have a number. The length of this day will be 30 hours, instead of 24.”

Before we even managed to conclude what was going on with the new proposed calendar system, our lounge door was slammed as a man with a golden globe sneaked in.

Calendar Keeper.

“Twenty-Ninth, Thirtieth, and Thirty-First! Come with me. We have an important thing to discuss.”

 

*

 

Thirtieth’s fearful glare tried to intimidate us.

“To make it easier, people use me as denominator to count months. I should be still counted in. There is no reason for you to fire me.”

The Keeper turned his head to Thirty-First. He didn’t believe that he would go ahead of me. I could see him gulped three times. “Well… If you want to exclude me then I won’t object. But,” he exhaled hard, “but don’t you remember how sparse I appear in the past? Does Ruler think that I’m incapable?”

I elbowed him smoothly. He grunted. Calendar Keeper pouted while pointing his trembling finger towards me. “You, Twenty-Ninth. Why do I have to put you as Special Day Master?”

I recalled my fears. I was once a betrayed date in February. I had not always been a good penultimate while Thirtieth had been better. I heard people yelling about their salary, which had always run out by the day I’m working, no matter what day it was. I closed my eyes, conveyed my half-constructed-half-random words that just came up.

“Special Day would be a great day. It may need three masters, instead of one.”

“Why be different on that particular day when all the dates will eventually be the same?”

Calendar Keeper shrugged and touched his thick grey beard, upon listening to Thirtieth. We knew wrong answer would throw ourselves into an endless abyss, or plagued in a dreadful mundane life forever.

“Did I say that I would pick the answer that was ‘different’? Remember. This is Special Day.”

He eventually pointed finger towards one of us.

*

In the end, Thirty-First waved goodbye first. Upon leaving House of Time, Thirtieth cursed me, as he swore for his eternal grudge and threatened that he would join fellowship of Death Keeper, who managed running-out-of-time issues.

We never heard of him anymore since I was appointed to be the master of Special Day. Rumors said that he had merged with another devilish creature, namely Deadline. Nobody knew.

Now, I am watching the world from main tower, House of Time. People are dancing wildly and drinking madly, while laughter is heard everywhere, pinching my ears and piercing my eardrums, rolling inside my head.

Nevertheless, I am happy to hear that, Human.

 

 


(Jakarta, 04/04/2017, 973 words. Was written to be submitted for Dare to be Different Competition by Storial and The Jakarta Post, but the submission was cancelled due to personal reason. Was not proofread, was not checked for grammar.)

 

Tingtur Cinderella

Hadiahnya bukan uang puluhan juta, melainkan kursi sebagai penyiar.

Aku bersiap. Berhenti merokok sejak Jumat. Tidak minum arak sejak Minggu. Banyak makan mi, disambi air putih dan sari buah, ditutup tidur cukup seusai berlatih.

Hari Kamis tiba. Usai mematut rupa terbaik dan minum seteguk, aku berangkat. Dua setengah jam di jalan. Tidak terlambat, malah sejam lebih awal.

Tibalah giliranku. Diawali batuk kecil, aku merapal doa, lalu berucap.

Hei!

Bukan alunan mulus bening, melainkan entakan dentum serak. Mereka menggeleng masam, aku menunduk muram.

Keluar ruangan, aku melirik botol itu. Baru kusadari.

“Perhatian: Ramuan pengubah suara ini hanya bekerja selama tiga jam.”

 


(Jakarta, 23/03/2017. Monday Flash Fiction #FFKamis 100 kata, kata kunci: suara. Konsep ini bersumber dari ide “kalau ada larutan pengubah suara yang bisa membuat suaramu beda selama beberapa jam, maukah kamu meminumnya?”)