Pujasera(m)

Abaikan wejangan dokter untuk olahraga sesering mungkin dan duduk-duduk bercamilan sejarang mungkin, ambisinya menjadi manusia terberat di dunia justru dimulai dari duduk di depan televisi. Mula-mula matanya mengudap saluran kuliner, menelan ludah yang dibuat-buat ketika sup diaduk dan remah bumbu dituang. Seleranya cepat mencicit: dia pindah ke saluran yang saban hari membahas bakso daging tikus, dari penjual yang itu-itu lagi, siaran ulang empat kali sebulan. Seleranya cepat mengarnivora: dia pindah ke kanal binatang buas, ikut mencecap waktu taring predator mengoyak buruannya. Dan terakhir, ketika nafsu kanibalnya membinal, memuncaki klasemen nasional; dia pindah ke saluran kriminal. Manusia tengah berimpit-impit di stasiun, berebut tempat yang diperjuangkan dari pagi, direbus matahari sandal jepit dan keringat, hidup-hidup. Jarinya menjentik, masuk ke televisi, dan—pakai telunjuk dan jempol—memunguti pepes manusia itu. Hari ini, tiga dulu.


Jakarta, 06.07.2018

Advertisements

Jakarta Tanpa Kata Kerja

Gelap Jakarta, pengumuman tak tuntas. Tak boleh lagi, layanan jual-beli begini, di minimarket. Lewat internet saja. Semua lewat internet. Semua sudah di internet. Kaset tua, sayuran segar, cakram porno, daging merah, kecap asin, telur bebek, majalah bekas, air mineral—rasa langu atau segar, aroma tengik atau busuk, kedaluwarsa di depan mata, di monitor saja. Tak sempat lebih dekat, tak bisa lebih jauh. Generasi langgas segenap kabinet, satu tombol untuk semua. Kupon beras tak ada sisa, listrik tak ada, gelap semena-mena, baterai-baterai kosong terlunta-lunta, daya punah oleh tangan-tangan dan kaki-kaki patung manekin.

Begini Jakarta, tanpa listrik, tanpa suara, tanpa kata kerja.


Jakarta, 05.07.2018

Es Cokelat Mick

Sejak Mick dititipkan sekamar dan seranjang denganku, aku selalu bermimpi aneh. Sudah empat malam berturut-turut. Di dunia mimpi, aku dan Mick sama saja dengan versi dunia nyata, hanya saja ada tiga perbedaan besar: satu, kami jadi anak kecil lagi; dua, di bawah kami cuma ada kasur yang teramat luas dan tak habis-habis; dan tiga, gravitasi di sini tak sekuat biasanya. Alhasil, yang kami lakukan tiap malam—dalam mimpi, tentunya—juga sama terus: melompat-lompat melawan pegas kasur. Siapa yang melayang terlama, dia yang menang; dan yang menang wajib mentraktir yang kalah dengan es cokelat.

Empat hari berturut-turut, Mick mudah sekali dikalahkan. Dalam mimpi dia pun duduk di kursi roda, sama dengan di dunia nyata. Aku berhasil melayang di udara hingga tujuh detik, sementara Mick masih merangkak sehabis jatuh berkali-kali. Sesekali dia meratap agar aku tidak menginjak dan mengeset di atas rekor buruknya terus. Aku tak indahkan ratap Mick itu, nikmat di atas seluncur es cokelat ke dalam mulutku. Skor semalam delapan detik lawan sedetik-pun-tak-ada dan aku sedang menyuap es cokelat, sewaktu dia tersungkur ditimpa kursinya sendiri. Usai tertawa hingga menitikkan air mata dan sakit perut melilit, baru kusodorka sesendok buat Mick. Tak biasanya, Mick memalingkan muka, tak mau menjawabku. Begitu saja, dan aku terbangun.

Baru saja, mimpi sama kembali lagi. Aku dan Mick bersiap lomba lompat kasur untuk kelima kalinya. Hari ini Mick tampak beda. Selain muncul dalam posisi berdiri, tanpa kursi roda dan tanpa tongkat, Mick mendingin. Sedingin es cokelat, dia tak berkata apa-apa: mohon, aduh, tolong. Benar-benar tak biasanya. Giliran pertama, aku yang melompat, delapan detik lebih sedikit. Gantian Mick. Satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh… dia masih melambung dan belum ada tanda akan kembali. Aku memejam dengan panas malu yang tak tertahankan.

Dan aku terjaga.

Mick tak ada di sebelahku. Tinggal kursi rodanya yang menganggur. Pintu balkon terbuka, padahal berani sumpah semalam sudah kututup. Sambil menahan gejolak tak enak dalam perut, aku terburu berlari ke pegangan balkon, mengabaikan kibar-kibar angin gasal pada kerai.

Ada selembar kertas menempel pada pegangan balkon. “Esnya ada di dapur.” Sepele, tetapi cukup membuatku bingung aku tengah ada di dunia mana. Dengan enggan, aku menoleh ke bawah, dua puluh lantai menuju tanah.

Di atas aspal keras, Mick menyeringai padaku. Di kepalanya ada kucur seperti longsor. Seperti es cokelat yang biasa kusuap.


Jakarta, 28/05/2018, 373 kata. Prompt Ramadan #6 di komunitas Monday Flash Fiction, kata kunci “kasur”.

Kisi-Kisi Ujian Akhir Gelar Presiden

Kuis: Yuk Ukur Kemampuanmu dalam Membangun Sebuah Negara!

 

Survei dari Nelson mengemukakan bahwa 53% dari kaum pria kalangan atas di era 2210-an ini bercita-cita mendirikan negara sendiri dan menghimpun kekuatan berupa rakyat yang disebut juga minion—sesuai akronim “maju, intelek, nasionalis, imajinatif, orisinal, dan nyaman”. Bahkan 24% dari pria berusia 25-40 di negara kita ini sudah punya pekerjaan sampingan sebagai presiden para minion, lo!

Nah, bagaimana dengan kamu, para Tislers? Mungkin saja para Tislers sudah ada yang berencana menunggangi feri dan berlayar ke pulau kecil terdekat untuk membeli dan mendirikan negara di sana? Sebelum sauh ferimu bertolak, yuk, simak dulu peluang keberhasilanmu dalam membangun negara!

SOAL 1

Apa yang memotivasi kamu membangun suatu negara?

A. Ikut-ikutan teman, demi memuaskan kedengkian. Dia bisa, kenapa saya tidak?
B. Saya bercita-cita mendirikan partai; sudah punya duit, tetapi belum kesampaian.
C. Saya tidak tahu mau menghabiskan uang saya ke mana.
D. Saya sudah siap mencalonkan diri jadi bupati di tahun 2217. Membangun negara bisa jadi ajang saya latihan. Semacam simulator.

SOAL 2

Kamu punya 1.000 minion. Berapa lama waktu yang dibutuhkan negaramu untuk menghasilkan 50.000 potong pai?

A. Tergantung minion itu ada di kasta mana. Kasta nirwana: 1 tahun (mereka perlu waktu menanak pikiran). Kasta semenjana: 3 hari (mereka terbiasa kerja cepat, kok).
B. Tergantung saya sedang suka pai atau tidak. Sedang suka: 3 hari. Sedang tidak suka: 1 tahun.
C. 3 hari.
D. 1 tahun.

SOAL 3

Bagaimana tindakan kamu sebagai Bapak Peneroka Negara kalau ada minionmu yang berselisih paham sampai ramai?

A. Diam saja. Minion saya sudah dewasa dan saya bukan orang tua mereka. Biar mereka yang selesaikan masalah mereka sendiri.
B. Melerai dan membela salah satu, lalu memvonis yang satunya. Keadilan harus ditegakkan demi rasa aman minion!
C. Melerai dan melenggang seperti tidak ada apa-apa yang terjadi. Yang penting tenang, jangan ribut.
D. Siapa ribut, saya hilangkan!

SOAL 4

Apa yang akan kamu lakukan apabila negara milik sahabatmu berhasil menghelat pagelaran seni hebat macam Glastonbury atau Java Jazz?

A. Kepanasan, dong! Saya akan buru-buru cari sponsor, gelontorkan modal dan duit dan saham dan kalau perlu celana saya atau sarung bantal saya yang beriler juga boleh, demi bisa bikin acara atau festival yang lebih besar!
B. Saya masukkan wacana itu dalam daftar pencapaian negara dalam lima tahun ke depan. Selama itu, saya akan pelan-pelan cari modal.
C. Saya kenal sama vokalis sebuah band terkenal. Coba saya lobi lewat dia dulu.
D. Daripada menggelar acara begitu, mending saya menggelar festival memandikan luak pakai tuak.

SOAL 5

Seperti apa cara kamu mulai membangun ekonomi para minion?

A. Tawarkan sistem pasar yang menarik. Mereka bisa jualan apa saja.
B. Berikan celengan babi dengan saldo sama rata ke semua minion lalu didik mereka dengan materi kursus Kelola Uang Lintas Klasifikasi Aset (KULKAS).
C. Menanggung pangan sandang papan pendidikan minion dan buka lapangan-lapangan pekerjaan yang saya biayai langsung. Lalu saya tarik pajak yang besar.
D. Membagikan aset kepada minion lalu memasukkan hiu besar ke dalam kolam tempat minion hidup.

SOAL 6

Kamu mungkin mendengar berita bahwa belakangan ini daya beli minion sedang lesu karena omset jualan masing-masing sedang tipis. Bagaimana tindak lanjut kamu sebagai Bapak Peneroka Negara?

A. Tetap selenggarakan acara atau festival! Yang penting nama negara saya dikenal orang!
B. Gelontorkan yang lagi buat para minion. Saatnya bakar duit!
C. Saya teliti komoditi mana yang bisa dijual minion ke luar negeri dan coba saya optimalkan.
D. Pinjam modal saja ke teman saya yang bapak ibunya konglomerat, buat disuntikkan ke minion. Gampang.

SOAL 7

Apa yang kamu utamakan ketika membangun fasilitas ranah umum bagi para minion?

A. Tampilan. Asal keren dulu, deh. Fungsi-fungsi nanti saja, sambil jalan.
B. Ketahanan. Yang penting pakai material terbaik dan jangan lapuk oleh cuaca.
C. Kemudahan akses.
D. Jumlah dan pemerataannya.

SOAL 8

Bagaimana kamu menyemangati minionmu yang patah semangat kalau bisnisnya tak laku?

A. Itu artinya mereka kurang getol berpromosi. Saya akan suruh mereka promosi terus saja.
B. Perbantukan tim marketing. Mungkin minion-minion itu butuh teman untuk menggali potensi mereka.
C. Gelar acara dan festival.
D. Ajak pesta, minum tuak.

 

SKOR KAMU

1. A = 0, B = 1, C = 2, D = 3
2. A = 0, B = 1, C = 2, D = 3
3. A = 0, B = 1, C = 2, D = 3
4. A = 0, B = 1, C = 2.5, D = 2.5
5. A = 0.5, B = 0.5, C = 2.5, D = 2.5
6. A = 0, B = 1, C = 2.5, D = 2.5
7. A = 0, B = 2.5, C = 2.5, D = 1
8. A = 0, B = 3, C = 2, D = 1

 

INTERPRETASI

Skor total 26.5-30
Selamat! Kamu adalah calon presiden terkemuka yang akan memimpin minion menuju ekonomi dunia baru yang cemerlang! Saat ini, di seluruh penjuru dunia memang sudah terlengkapi berbagai fasilitas canggih, keamanan, kemudahan, dan otomatisasi. Kamu tinggal mempermulus itu semua dan memberi minion-minionmu akses. Selesai. Mereka akan mendukungmu penuh dan mengelu-elukan namamu di pemilihan pimpinan periode berikut, menyematkan gelar pahlawan pada namamu. Salut!
Skor total 22.5-26
Kamu berpotensi menjadi Bapak Peneroka Negara yang baik, tetapi kamu harus berkaca pada beberapa faktor yang mungkin perlu kamu perbaiki. Coba ambil kursus manajemen, perilaku, atau kepemimpinan untuk mengasah potensi dan keterampilanmu.
Skor total 22 atau kurang
Sayang sekali. Kamu bakal jadi Bapak Peneroka Negara yang gagal. Sifatmu yang keburu nafsu dan segera kepanasan ketika melihat negara tetangga yang lebih hijau atau lebih piawai berstrategi bakal menggiring para minion untuk menjauhimu dan memilih presiden baru. Atau yang lebih buruk, satu per satu minionmu akan mengajukan diri untuk menggantikanmu. Tak ada lagi yang mau jadi rakyat karena semua mau jadi penguasa. Jadi, maaf, kamu tidak cocok berhadapan dengan emban tugas membangun negara baru. Sebaiknya urungkan niatmu sekarang, pulang saja ke istanamu, dan main Sims City saja lewat komputer layar mutakhirmu.

[Jakarta, 16/03/2018, 996 kata] [Diikutkan pada #NulisKilat Storial Platform, ketentuan: premis “seorang pria mendirikan negara baru namun kesulitan mencari rakyatnya”, genre utopia, ending sedih]

Biar Kekallah Kami di Bumi

Seratus lima puluh Desember yang lalu, Kakek pernah mengajariku mengenali Natal dengan mengamati butir salju yang berkejaran turun. Ia membuka mulut. Lantun perlahan dan tatapan purbanya kubalas dengan decak dan delik marah.

“Cara macam apa itu, Kek?”

“Dengar dulu, Nev.”

“Tidak, Kek. Itu tak masuk akal!”

“Ya tidak apa! Yang penting kamu tahu sendiri, sudah cukup!”

Aku menyerah.

“Kamu lihat, Nev, kalau ada satu saja butiran salju yang bisa mengejar butiran salju di bawahnya, berarti sudah tanggal 24.”

Aku mendengarkan. Kurang saksama, tapi cukup menancap dalam ingatan. Otakku yang masih lugu—dan belum dicekoki teori-teori fisika dari para dosen dan profesorku—mengamini saja. Memang beberapa butir salju seolah lebih cepat daripada kawanannya. Mereka, lambang dingin yang hakiki, saling tak mau kalah, meskipun sama-sama dipasung gravitasi, jatuh ke pelukan bumi.

Aha! Itu dia! Salju sekepalan tanganku membalap bola salju yang sebesar kerikil.

“Benar, kan, Nev?”

Aku tertawa.

Kakek semringah.

Aku pun semringah kalau ingat masa-masa itu. Ketika Kakek masih ada, ketika umur bisa ditera dengan perpaduan aktuaria dan peta bintang di jumantara. Masa-masa ketika semesta masih mengembang, ketika semua tak masalah saling menjauh.

Sampai berpuluh Desember kemudian.

*

Lima puluh Desember yang lalu, semesta berhenti menjauh. Perlahan, mereka sepakat saling berpelukan kembali. Ahli fisika dibuat terperangah, hingga merasa perlu mengecek sampai lima puluh kali hanya untuk menemukan fakta yang sama dan sama lagi. Hingga kini, alam semesta menyempit, saling dekat, menunggu debum terakhir.

Semacam ketuk palu kiamat.

“Benar, kan, Nev?”

Suara itu tidak purba dan tidak serak. Beratnya penuh, kuat, bergelora di tengah beku. Jelas itu bukan Kakek.

Itu Kaspar.

Ujaran itu selalu hadir tiap Desember, ketika aku duduk meringkuk dekat kosen jendela, sambil menatap hujan salju yang kecepatannya tak lagi sama dengan hipotesis Kakek. Sekarang, mereka semua turun lebih tergesa, lebih tegak lurus. Tak lagi ada tarian miring kanan atau miring kiri seperti dulu. Semua sama cepat.

“Benar apanya?”

Dengan sigap, Kaspar menarikku keluar dari kabut lamunan. Jemariku dan jemarinya bersentuhan, saling mengait.

“Benar bahwa teori kakekmu salah.”

“Newton bisa murka. Atau justru dia tertawa dari dalam kubur.”

Kaspar mendecak. “Kakekmu bisa saja mendebat Newton di sana. Kalau perlu sama Tyson, Sagan, Hawking, Thorne, Feynman….”

“Kaspar,” jemariku naik, hendak menyisipkan rambut ke belakang telinganya, “itu bukan urusan kita lagi.”

Ia mengelak. Aku tahu ia tak suka rambut lebatnya diperlakukan bak rambut gadis. Ia melompat ke sebelahku, ikut duduk di kosen. Sesuatu yang jarang ia mau lakukan. Dingin, katanya tempo hari.

“Kamu tahu tempat paling aman di dunia ini seandainya kiamat itu memang ada?”

Aku menggeleng. “Di bawah dedalu api?”

“Bukan.”

“Depan perapian?”

“Bukan! Lebih salah lagi.”

“Jadi?”

Kaspar menunjuk ke cemara palsu buatan kami. Ia ada di sebelah jendela yang satunya. Baru selesai kami rakit kemarin malam. Belum banyak lampu tersemat di dedaunannya. Belum ada pula hadiah yang tergeletak di bawahnya. Padahal tinggal tiga hari.

“Kita belum menghiasnya, Kaspar!” pekikku panik, segera bergegas bangkit dari duduk.

Barulah saat itu kulihat, ada salju mengonggok di salah satu sisinya. Jendela kami tak menutup sempurna. Seseorang di antara kami telah ceroboh.

“Oke, Nevada. Sebentar.”

Kaspar naik ke loteng. Aku tahu ia ingin mengambil sekop. Pekerjaan mudah, mengingat aku tak pernah mengemaskan sekop sampai dalam-dalam atau ke tempat sulit. Sementara, aku beranjak ke kamar mandi. Sudah seharian kami tidak berendam air hangat. Lebih baik kusiapkan dulu.

Kejadiannya begitu cepat. Kaspar turun dengan mengempit sekop. Ia mengangkat penutup jendela sedikit, bermaksud menutupnya. Berat. Jadilah ia berjinjit, berdiri ke pinggir kosen. Namun, ia memegang kenop dengan terbalik. Jendela menyentak, angin menyerbu masuk, dan ia terpeleset.

Kupikir, ia lenyap di balik berkah di pohon Natal.

Aku merutuk mengapa aku begitu bodoh.

Keajaiban itu tidak ada.

Aku menangis.

Aku mencari-cari Kaspar.

Badai tak berhenti hingga tujuh hari berselang.

Barulah, ia muncul dalam keadaan yang mengejutkan.

*

Ketika badai putih mengamuk menjelang Natal, aku naik ke loteng. Desember demi Desember, sendi-sendiku semakin tak mengizinkanku melakukannya. Biar.

Kubuka pasu yang kusimpan dalam peti itu Bunga-bunga salju menyambutku. Sedikit serpihnya melompat ke pipi, membelai lembut, dingin sekaligus hangat.

Nadir semesta tak jauh lagi. Menunggu kiamat, kupikir Kaspar setuju untuk masuk ke tubuhku, menjadi darahku, mengikat dagingku. Sesekali, jika aku mau, aku mengambil sejumput Kaspar. Kuseduh dalam air yang habis kujerang, kuseruput perlahan, selagi hangat.

Biar kekallah kami di bumi.

 

 


[Jakarta, 22/12/2017, 699 kata. #NulisKilat 22 Desember 2017, tema Natal, kata kunci Salju, genre bebas. 

[1. Semesta saat ini sebetulnya masih mengembang (inflasi). Ini adalah gambaran dunia di mana semesta sudah mengerut (deflasi), yang belum diketahui akan terjadi kapan.
2. Nama karakter: Nevada (Spanyol, salju), Kaspar (Jerman, nama salah satu dari tiga raja yang mengunjungi Nabi Isa/Yesus saat baru dilahirkan).
3. Nama-nama yang disebut Kaspar: (Richard) Feynman, (Stephen) Hawking, (Isaac) Newton, (Carl) Sagan, (Kip) Thorne, (Neil deGrasse) Tyson.
4. Dedalu api = mistletoe dalam bahasa Indonesia.]

Siang dan Malam

Kami tutup jam sepuluh. Luka itu terbuka jam sepuluh lewat lima.

Awalnya tidak sakit, seperti biasa. Tanganku tergelincir saat merapikan piring dan cangkir. Garpu dan pisau berdentingan karena kutumpuk saja sembarangan. Tanpa kusadari, ada satu pisau yang tergelincir. Coba kutangkap dengan telapak tangan, begitu lugunya. Memang pisau itu tak jadi membentur lantai. Namun telapakku yang terbeset.

Banda berteriak, berlari ke arahku. Lucunya, aku tak ingat apakah sebelumnya aku berteriak atau tidak.

“Naira! Kamu tidak apa-apa?”

Jujur, aku belum pernah teriris pisau selebar itu; meskipun aku sering menyaksikan orang teriris di film-film. Belum pernah menyaksikan darahku sendiri mengucur dari luka seperti itu; meskipun aku sering mendengar kisah-kisah penuh darah dari berbagai penjuru. Aku tidak tahu apakah aku akan kehabisan darah. Aku tidak tahu apakah aku memang tidak apa-apa.

Jadi, aku tidak menjawab Banda.

Ia menggenggam punggung tanganku dari bawah. Keras.

“Naira, darahmu harus distop dulu. Nanti kamu kehabisan darah.”

“Kamu punya plester?”

“Luka segede gitu mau langsung kamu plester? Mana bisa, Ra….”

Memang logikaku sering macet kalau sedang bingung begini.

“Sebentar, Ra.”

Ia melepaskan genggaman. Dari gerak-geriknya, aku bisa menduga apa yang akan Banda lakukan. Sesuatu yang buruk, kalau sampai penyelia kami tahu.

“Banda, jangan! Bubuk itu baru datang kemarin….”

“Tapi, Ra? Kalau kamu sampai kehabisan darah, gimana?”

Aku disuruhnya duduk di meja nomor dua, sementara ia membuka tutup stoples yang baru kukemas kemarin sore. Harum. Menguatkan. Memberiku semacam energi baru. Lalu ia mengambil bubuk itu, sejumput saja. Ditaburkannya ke atas luka menganga di tanganku. Sejenak, kami sepakat bahwa jumputannya kurang. Ia mengambil lagi sejumput. Proses itu berulang hingga tiga kali.

Ajaib. Tak lama kemudian, darah berhenti menetes-netes dari sana.

Banda menghela napas. Ia mengempaskan bokong ke kursi di sebelahku.

“Kamu ceroboh amat.”

“Kamu juga sama.”

“Hei. Sekarang, jelaskan padaku apakah ada cara lebih baik untuk menghentikan lukamu itu?” deliknya. Ia memang sering begitu kalau kami berselisih pendapat. Aku nyaris selalu memutuskan untuk mengalah.

Tapi tidak, untuk kali itu.

“Ada jurnal ilmiah yang bilang,” ucapku pelan, “kalau bubuk itu justru memperlambat berhentinya luka. Kafein mengeluarkan zat tertentu yang menghambat regenerasi sel di sekitar luka.”

“Kata siapa? Buktinya? Lihat sendiri, Ra. Kamu terlalu textbook, sih, ah.”

Satu per satu toko tutup. Sementara kami belum selesai!

“Kamu bisa pakai kain di wastafel. Pura-pura jadikan itu bebat, Ban.”

Ia menggeleng yakin, “Kain itu tidak bisa menyerap darah.”

“Kamu tidak perlu kain yang menyerap darah. Kamu cuma perlu mengikat.”

Tak kusangka, Banda menarik kursi. Kami begitu dekat kini. Bisik-bisik pun, kami bisa saling dengar.

“Ra, kamu tidak perlu protes. Pakai alasan jurnal, segala. Kamu tahu tidak, jurnal lain yang bilang bahwa kafein justru bisa menyembuhkan luka?”

Ganti aku yang terdiam.

“Mau debat sampai besok pagi pun, kamu bisa benar, bisa salah. Aku pun,” ujar Banda sembari bangkit dari kursinya. Ia mendekat ke wastafel, jelas bermaksud melanjutkan mencuci shaker-nya. “Kamu tahu kalau aku pun takut didenda bos gara-gara aku mengambil bubuk tadi.”

Banda ini. Apa pun yang ia lakukan dan pikirkan, benar-benar tak pernah bisa kuprediksi!

“Heh?”

“Iya. Aku melakukan itu karena yakin cuma itulah satu-satunya cara cepat untuk menutup lukamu. Soal denda…. Ah, besok sajalah baru dipikirkan. Aku tinggal bilang aku menumpahkannya sedikit….”

Kami berpandangan.

Saling mencari jawaban.

Saling melupakan argumen.

Ya, kami bahkan lupa. Jam setengah sebelas. Antara siang atau malam.

 


[Jakarta, 04/08/2017, 537 kata. Diikutkan ke #NulisKilat dengan latar tempat coffee shop, genre romance]

[Penafian: Cara penanganan luka dalam cerita ini tidak direkomendasikan untuk ditiru dalam kehidupan sehari-hari. Tetap ikuti prosedur P3K, dan hubungi instalasi medis jika luka cukup serius.]

[Referensi yang disebut Naira bisa kalian cek di: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/25041108%5D

Adam yang Disempurnakan

Ganjil. Ini benar-benar ganjil.

Dua tangannya, yang seharusnya hangat di telapak, melandai di belikat, menangkup bahuku. Justru sengat dingin yang kurasakan. Tak mau pergi-pergi.

Semua berawal dari berbulan-bulan yang lalu. Aku tahu kata kunci komputernya, namun aku menyangkal itu sekadar ingin tahu atau percik cemburu yang terburu-buru. Sepasang karcis. Tanggal sebelas. Jam tujuh. Film yang sudah kami tonton di tanggal sembilan. Aku tidak diberitahu. Kutelan saja semuanya, tanpa bertanya.

Satu lengannya menggeleser perlahan, melingkar ke depan. Ia merangkumku sempurna dari belakang. Rangkum itu, entahkah lengan yang dulu biasa melindungiku dari bahaya, entahkah itu harum yang dulu meyakinkanku bahwa itu memang dirinya.

Indra pertama tidak melihat dan indra kedua tidak mendengar, tapi indra ketigaku tak pernah bisa dibohongi. Tanggal lima belas, ia pulang terlalu larut. Dilemparnya saja kemeja itu ke dalam baskom kering. Besok jadwal tukang cucian datang, jadi aku harus menghitung dengan tepat isi baskom sebelum menyerahkan isinya. Aroma kemejanya beda. Segar kayu itu masih tegas, namun ada semilir bunga bercampur sitrun. Aku tak pernah menyukai aroma jeruk. Aku tidak diberitahu. Masih kupaksakan semua ini melewati kerongkongan, masih tanpa bertanya.

Rahangnya menyapa tengkukku. Ia mengatur napas. Masih canggung. Ia ingin mendesah, namun ia urung. Aku menggigil kian hebat. Kian takut.

Tanggal satu, ia terburu-buru melewati pintu depan. Kotak besar berhias pita manis nyaris terjungkal dari tangan itu. Indra keenamku bilang, ia baru ingat sepenuhnya itu hari ulang tahunku. Secepat kilat lagi ia letakkan kado di meja. Sebelah tangannya meraih punggungku, sembari bibirnya memulai ritual tahunan kami dengan segera. Indra keempatku mencecap sesuatu yang tak sama. Sesuatu yang terlalu manis dari bibirnya yang biasa. Bekas dilumat seseorang. Indra kelimaku meraba benda tak lazim dari saku belakang celananya. Kutarik. Itu kain. Merah. Satin.

Ia bisa mencekikku sekarang. Ia bisa menerkamku sekarang.

“Lisa,” bisiknya tepat di balik daun telinga kananku, “aku mau bilang sesuatu.”

Aku menggeliat sekilas, namun enggan membalik badan, enggan menatapnya dalam-dalam. Ini lebih mirip semacam usaha mempertahankan diri. Usaha melarikan diri kalau ada apa-apa.

“Harus sekarangkah?”

“Kita sudah lama tak saling bicara, Lisa.”

Dengan sebelah lengannya yang masih memelukku di dada dan bahu, dengan sebelah pipi dan rahangnya yang masih menempel di tengkuk, aku tak bisa berbuat banyak. Percuma saja.

“Aku akan menikah lagi.”

Tanpa memberiku jeda, ia mengeratkan rangkul. Tanganku terkunci rapat. Ia lupa dengan tanganku yang satunya. Menjelujur rusuk demi rusuk dari balik dada kirinya. Dari bawah.

Satu, dua, tiga…. 

“Dengan perempuan itu? Yang parfumnya sitrun itu?”

“Lisa, Lisa. Kamu tak pernah berubah. Cerdas. Aku suka,” seringainya, kian lebar.

Empat, lima, enam, tujuh…. Degup jantungnya…. 

“Kalau aku bilang tak boleh, bagaimana?” 

Delapan, sembilan, sepuluh….

“Tidak mungkin, Lisa. Kamu tak bisa bilang tak boleh.” 

Sebelas…. 

Napasku tertahan, “M-m-memangnya…. Kenapa?

Dua belas…. 

Tunggu.

“Karena Tuhan saja menciptakanku dengan tiga belas rusuk ketika pria lain cuma punya sebelas. Aku berhak atas dua istri, bukan?”

Tiga belas. Tepat di lehernya.

Hitunganku terhenti.

Terlambat.

Dadu dari Tuhan sudah kuambil. Tak bisa ditukar, apalagi dikembalikan.

 


(Jakarta, 17/07/2017. Monday Flash Fiction Prompt #145: Tiga belas. Cerita ini terpilih untuk bahan diskusi pada minggu keempat Juli 2017. 481, jumlah kata dalam cerita mini ini, adalah hasil perkalian 13 dan 37.)

(Dalam aspek anatomi manusia, dikenal sejenis kelainan bernama 13th rib atau cervical rib, yang terletak di leher (dekat tulang selangka). Kelainan ini ditemukan pada 1 dari 150 orang, dan sebagian besar tidak bergejala apa pun. Di lain sisi, mitos bahwa pria hanya memiliki sebelas ruas iga kiri adalah tidak benar – semua manusia normal memiliki dua belas pasang iga. [dari berbagai sumber])

Mense Terribilis

Bukan warna campuranku lagi yang kukhawatirkan. Bukan kanvasku lagi. Awalnya aku cuma tak ingin mengecewakan Lucy. Perintahnya jelas, masih begitu sampai hari ini setelah dua tahun berselang. Jangan perkenalkan dirimu. Kejermananmu. Karena ini Amerika. Sebut nama depanmu saja. Selesai. Kamu cuma pelukisnya, bukan siapa-siapanya. Tidak seperti aku. Tidak seperti … ehem … Eleanor.

Kamera Nicholas yang memotretnya telah diturunkan. Belum ada pengawal lain. Beliau masih duduk — begitulah caranya menghabiskan nyaris seperempat abad belakangan ini — dan menatapku. Lurus. Tajam. Senyata pisau meskipun tampak begitu rapuh. Akibatnya jelas. Bahkan aku tak berani memperkenalkan diri terlebih dahulu.

“Perkenalkan dirimu, Nona.”

Aku memang sedang menunduk, merapikan warna-warna cat air ini hingga sungguh siap. Kata mereka, jangan pernah lihat kakinya — kau akan menyesal kalau beliau sudah mendelikmu. Kunaikkan saja pandangan, hanya demi mendapati pasang mata yang lebih cekung dari dugaanku, dari foto yang kulihat dari Yalta minggu lalu.

Sesuatu. Ada sesuatu.

“Heidi,” aku menahan napas sesaat, “Heidi, Tuan Presiden.”

“Baiklah,” ucapnya tegas, seraya mendesah dan memandang keluar jendela. Beliau tampak begitu lelah. Aku sudah hampir menyuruhnya bersandar saja, sebelum tiba-tiba rentetan perintah Lucy kembali menyahut di dalam kepala. Alih-alih menunjukkan perhatian, aku hanya berkata, “Bisa kita mulai, Tuan?”

Beliau mengangguk. Segera beliau merapikan posisi duduk, terdiam, namun sama sekali tak tampak terkantuk atau lelah dan ingin menunduk. Sementara aku terus berpura-pura menunduk, berdalih cat air ini harus diaduk-aduk. Menit demi menit, beberapa pengawal silih berganti mengawasiku, seolah mau menengarai bulir keringatku satu demi satu.

“Heidi,” sahutnya mendadak, “aku lelah. Sebentar, aku perlu minum dulu.”

Seorang pengawal masuk membawa segelas air. Bening, pertanda itu air putih biasa. Namun bukan itu yang menarik perhatianku. Melainkan gelasnya. Aku bertemu dengan gelas itu tadi, tepat sebelum masuk ke ruangan ini.

Beliau minum. Tiga teguk, kuhitung. Itu cukup.

“Tuan Presiden,” sebutku perlahan, sembari terus mengitarkan tatapan ke selaksa gurat-gurat ringkih itu. Seharusnya, tanpa kusiksa pun, malaikat arit itu bakal segera datang, “kurasa dasi merah lebih bagus buat Anda. Lebih berwibawa.” Kali itu, aku tak berkedip barang sekali pun. Kurapal hitungan dalam hati. Begitu tiba waktunya, kubenamkan lagi mata pada kanvas dan cat air. Tak keluar-keluar lagi.

Sore tiba. Lukisanku masih lubang-lubang. Wajah Beliau bahkan belum rampung. Aku minta maaf, minta maaf lagi, sambil buru-buru berkemas sebelum tersandung. Ingin cepat-cepat lari saja. Aku berpapasan dengannya malam itu. Malaikat yang membawa arit dan menjulang tinggi. Ia mengangguk kepadaku, aku mengangguk kepadanya. Aku berjalan keluar Gedung Putih dengan kempitan dua pengawal, ia malah dibiarkan bebas berkelana sendirian di dalam tanpa pengawasan.

Ingat caranya, Heidi? Tatap ia lama-lama. Ia akan risau sendiri, sehebat apa pun dia. Ingat, tatapan dalammu akan melemparkan kekuatan mematikan. Kamu yang melempar, namun ia sendiri yang memutuskan untuk mati. Sakit. Bunuh diri. Kecelakaan. Takkan ada yang menudingmu, Heidi Manshoff, keturunan terakhir Merlin yang masih betah bersembunyi di Jerman Barat.

Lalu kudengar kisah selanjutnya. Emma Shoumatoff menggantikanku keesokan harinya, tanggal dua belas. Di tengah prosesnya melukis Franklin Delano Roosevelt — itulah namanya — Beliau kesakitan, tersungkur, pingsan, dan lalu pergi selamanya. Harry Truman disumpah sebagai presiden baru, sementara Emma Shoumatoff — ya, Emma yang itu — tak pernah muncul lagi.

Aku tersenyum kecut sendiri, sambil menuju pelabuhan udara. Aku harus cepat menuju Berlin, Jerman Barat — ya, negeriku sendiri — sambil membayangkan betapa jemu sayuran mengonggok dalam mangkuk sup vegetariannya.

Kamu pasti tahu siapa tujuanku selanjutnya.

 

 


(Jakarta, 09/06/2017, 537 kata. Cerita terpilih #NulisKilat 9 Juni 2017, tema Historical Fiction. Mense terribilis = bahasa Latin untuk “bulan yang buruk”, dalam hal ini April 1945.)

[Tokoh-tokoh nyata dalam cerita ini: Franklin Franklin D. Roosevelt (1882-1945), Lucy Rutherfurd (1891-1948), Eleanor Roosevelt (1884-1962), dan Adolf Hitler (1889-1945)]

 

Aku, Kamu, dan Lidahmu

Dulu sekali, aku sudah lupa berapa tahun yang lalu. Menurutku, kamu pintar bicara; buktinya aku saja bisa kaubuat terpana. Sementara menurutmu, aku begitu sempurna; meskipun aku tahu maksudmu – yang sempurna itu fisikku.

Dua tahun kemudian, kita sudah saling kenal, lebih dekat, jauh lebih dekat dari sebelumnya. Menurutku, kamu punya kosakata yang begitu banyak, luas, dan dalam; kata-kata sastra kuno saja kadang kaupakai ketika melamarku. Sementara menurutmu, aku cocok sekali jadi ibu dari anak-anakmu – dengan syarat bentuk badanku tak akan berubah-ubah lagi nanti (eh, tapi, memangnya aku bisa menjamin itu?)

Lima tahun kemudian, kita bertumbuh dari berdua jadi berempat. Menurutku, kamu seharusnya mulai menulis kamus bahasa kasar sedunia; pasti laku. Sementara menurutmu, aku – yang gagal lolos garansi soal bentuk tubuh – sudah terlalu melar seperti donat, sehingga kauboleh melongokkan kepala tinggi-tinggi dan jauh-jauh.

Setahun kemudian, kesabaranku habis juga. Menurutku, mulutmu patut disumpal dengan gabungan isi tangki septik dan pusat pengolahan sampah, seraya kujahit kerongkonganmu sampai puntung. Sementara menurutmu, aku tak lebih dari tukang mengomel berperut gendut dan berpinggang gentong.

Awalnya aku tak setuju; aku butuh uang darimu. Kamu pun tak setuju; kamu butuh anak laki-laki lagi untuk melawanku. Kita tak bersepakat. Tak pernah. Jadi, akhirnya kuputuskan untuk memotongmu kecil-kecil, menempatkan setiap bagianmu dalam stoples, memberinya adonan garam-gula-cuka dalam takaran yang kumau, menguncinya, dan memajangnya di galeriku.

Oh ya, aku lupa satu hal. Lidahmu. Lidahmu yang penuh iris-iris, yang pangkalnya tercabik-cabik; boleh dipinjam oleh siapa saja, asalkan ia tidak lupa menggaraminya setiap hari. Dengan demikian, aku dapat uang darimu, tapi kamu tak dapat anak laki-laki lagi dariku.

Bukankah itu cukup adil?

 


(London/Manchester, 26/04/2017. 270 kata. Monday Flash Fiction Prompt #139: “Boleh kupinjam lelakimu? Hanya hangat lidahnya. Tak lebih.” Prompt tercepat yang hanya diselesaikan dalam 17 menit.)

Typing Master

Malam itu malam Thanksgiving, lima puluh tahun dari sekarang. Semua manusia yang tersisa di muka bumi menggelar ritual bicara dengan cermin, yang dipercayai dapat mengubah keberuntungan seseorang. Salah satu dari mereka adalah Dermot.

 

Dulu, Dermot adalah penulis yang pernah terkenal dengan kecepatannya menelurkan karya-karya baru. Dalam setahun, ia pernah menerbitkan hingga delapan novel sekaligus. Bayangkan, ia pernah seproduktif itu. Namun, dalam tiga tahun terakhir, ia baru menerbitkan lima. Kecepatannya yang kian turun memang dinyana karena faktor usia. Ada pula yang menuduh ia depresi. Namun, karena telanjur terlena dengan manfaat yang ia dapat dari mengetik dan menulis cepat, Dermot selalu saja khawatir bahwa dunia tulis-menulis akan meninggalkannya. Di samping stres yang ia derita, ia merasakan tekanan dari berbagai penjuru, seolah ia adalah sapi perah yang susunya selalu ditunggu konsumen, tapi tak pernah dipedulikan nasibnya. Tak heran, apabila Dermot tak pernah putus memanjatkan doa ingin sanggup mengetik dan menulis dengan cepat lagi, setiap saat ia ingat, setiap saat ia terjaga.

Malam itu malam Thanksgiving. Dermot berdiri di depan pintu utama rumahnya sendiri, yang begitu kuno namun megah; menggenggam kunci perak yang berukir begitu rumit. Rumah itu baru berani diinjaknya lagi setelah ditinggal wafat sang istri. Mengumpulkan segenap keberanian; ia mendaki tangga solid berbalut marmer terbaik sedunia, sambil sesekali menyingkirkan gelitik sarang laba-laba yang satu-satu menjuntai dari tepi tangga dan tiang-tiangnya, memasuki ruangan yang menyimpan sebuah cermin bulat besar.

Ia menarik kursi bulat, duduk di atasnya, tepat di hadapan cermin, lalu memulai omelan.

“Sylvia, Sylvia. Aku tahu kamu ada di situ. Aku tahu kamu pulalah yang mengambil kecepatanku agar aku lebih memperhatikanmu. Ah, tapi aku ingin, aku ingin kembali seperti dulu. ‘Kan kamu sudah tidak….”

Ia membatuk dua kali. Dermot sadar ia mengambil kata-kata yang mungkin keliru. Dirapalnya ulang.

“Sylvia, Sylvia. Aku tahu kamu ada di situ. Aku tahu kamu pulalah yang mengambil kecepatanku dulu, agar aku lebih memperhatikanmu. Ah, tapi aku ingin, aku ingin sekali, kembali seperti dulu. Aku bisa produktif lagi, sembari berusaha….”

Ah, salah lagi! Kesempatan terakhir.

“Sylvia, Sylvia. Aku tahu kamu ada di situ. Aku tahu kamu pulalah yang mengambil kecepatanku dulu, agar aku lebih memperhatikanmu. Ah, tapi aku ingin, aku ingin sekali, kembali seperti dulu. Aku bisa produktif lagi. Kamu juga bisa tenang di sana.”

Entahlah ini benar atau salah.

Sembari menantikan jawaban, kepala Dermot mulai berputar. Makin cepat dan makin cepat saja. Tanpa ampun, tanpa henti. Ia meletakkan kedua tangan, satu di kiri kepala, satu di kanannya, menutupi kedua telinga yang berdengung begitu kencang. Tiba-tiba, ia mendengar bisikan ganjil. Suara Sylvia, istrinya.

“Tiga kesempatan, tiga kali kamu salah. Aku tersinggung. Kamu ingin aku cepat-cepat mati? Aku pun.”

Dermot ingat semuanya. Perselingkuhannya. Kehamilan luar nikah. Anak haram. Tuntutan dari istri muda. Dermot lupa satu hal. Istrinya itu penyihir, dan ia baru sadar ia sedang dikutuk.

Detik berikutnya, kepala Dermot pecah berantakan. Keluar tiga pasang tangan dari penggal lehernya.

“Bagaimana? Sekarang kamu punya delapan tangan. Selamat mengetik, Sayang. Jangan lupa, aku menunggu buku barumu!” balas Sylvia, untuk terakhir kalinya.

 

 


(Jakarta, 22/04/2017, 490 kata. Monday Flash Fiction weekly prompt #138: Tangan-tangan. Gambar dalam teks ini diberikan oleh Carolina Ratri.)