Pujasera(m)

Abaikan wejangan dokter untuk olahraga sesering mungkin dan duduk-duduk bercamilan sejarang mungkin, ambisinya menjadi manusia terberat di dunia justru dimulai dari duduk di depan televisi. Mula-mula matanya mengudap saluran kuliner, menelan ludah yang dibuat-buat ketika sup diaduk dan remah bumbu dituang. Seleranya cepat mencicit: dia pindah ke saluran yang saban hari membahas bakso daging tikus, dari penjual yang itu-itu lagi, siaran ulang empat kali sebulan. Seleranya cepat mengarnivora: dia pindah ke kanal binatang buas, ikut mencecap waktu taring predator mengoyak buruannya. Dan terakhir, ketika nafsu kanibalnya membinal, memuncaki klasemen nasional; dia pindah ke saluran kriminal. Manusia tengah berimpit-impit di stasiun, berebut tempat yang diperjuangkan dari pagi, direbus matahari sandal jepit dan keringat, hidup-hidup. Jarinya menjentik, masuk ke televisi, dan—pakai telunjuk dan jempol—memunguti pepes manusia itu. Hari ini, tiga dulu.


Jakarta, 06.07.2018

Advertisements

Jakarta Tanpa Kata Kerja

Gelap Jakarta, pengumuman tak tuntas. Tak boleh lagi, layanan jual-beli begini, di minimarket. Lewat internet saja. Semua lewat internet. Semua sudah di internet. Kaset tua, sayuran segar, cakram porno, daging merah, kecap asin, telur bebek, majalah bekas, air mineral—rasa langu atau segar, aroma tengik atau busuk, kedaluwarsa di depan mata, di monitor saja. Tak sempat lebih dekat, tak bisa lebih jauh. Generasi langgas segenap kabinet, satu tombol untuk semua. Kupon beras tak ada sisa, listrik tak ada, gelap semena-mena, baterai-baterai kosong terlunta-lunta, daya punah oleh tangan-tangan dan kaki-kaki patung manekin.

Begini Jakarta, tanpa listrik, tanpa suara, tanpa kata kerja.


Jakarta, 05.07.2018

Kembar Siam

Karena aku terlalu takut tenggelam pada pesona seseorang yang tiba-tiba saja menumbuhkan rambut kasar di rahang bayanganku tapi tidak pada rahangku, membidangkan otot pada kedang dada bayanganku tapi tidak pada bulat dadaku, dan menajamkan tatapan dari matanya tapi tidak pada tatapanku; meskipun aku tahu ada yang salah dengan cerminku tapi tidak tahu apa sebabnya; kubiarkan pria baru-tapi-semu itu melekatkan bibirnya pada bibirku, kubiarkan ia melumatnya, sambil diam-diam kuambil pisau dengan tangan di balik punggung, lalu kuayunkan cepat ke bawah perutnya, menancapkannya erat di sana; hanya untuk mendapati pisau yang sama mencelat keluar dari sela katup gigiku.

 


(Jakarta, 05/10/2017, Monday Flash Fiction #FFKamis 100 kata, kata kunci: cermin. Hasil eksperimen membuat 100 kata dalam satu kalimat.)

Kutukan Kencing

Ada sebuah takik pertanda bocor di langit-langit kamar Milo, persis di atas mejanya. Ia kerap meneteskan air, seperti malaikat yang sedang kencing dari baliknya.

Suatu hari, ponsel Milo ketiban pulung: layarnya teperciki tiga tetes dari takik itu. Esoknya, ponsel itu rusak.

Beberapa hari kemudian, buku catatan Milo yang mengonggok di sanalah korban pengencingan selanjutnya, basah tiga titik di sampul. Esoknya, buku itu lenyap.

Milo bergidik. Segera ia panggil seorang tukang untuk membetulkannya. Dasar tukang batil, bocor itu masih saja; seminggu berselang.

Kemarin, Milo mencoba menambalnya sendiri. Tepat saat ia menunduk dan memejam untuk berpikir, tiga tetesan hangat mendarat di tengkuknya.

 

 


(London, 27/04/2017. Diikutsertakan ke #FFKamis untuk komunitas Monday Flash Fiction dengan kata kunci “takut” dan harus 100 kata pas. Gagal karena jumlah kata akhirnya 99, dan curang dengan selisih jam. Per Maret 2018, komunitas Monday Flash Fiction sedang hiatus.)

(Terinspirasi dari toilet umum yang jorok, dikombinasi dengan judul Cerpen Terbaik Kompas 2015 “Anak Ini Ingin Mengencingi Jakarta” dan faktor takhyul.)

Tingtur Cinderella

Hadiahnya bukan uang puluhan juta, melainkan kursi sebagai penyiar.

Aku bersiap. Berhenti merokok sejak Jumat. Tidak minum arak sejak Minggu. Banyak makan mi, disambi air putih dan sari buah, ditutup tidur cukup seusai berlatih.

Hari Kamis tiba. Usai mematut rupa terbaik dan minum seteguk, aku berangkat. Dua setengah jam di jalan. Tidak terlambat, malah sejam lebih awal.

Tibalah giliranku. Diawali batuk kecil, aku merapal doa, lalu berucap.

Hei!

Bukan alunan mulus bening, melainkan entakan dentum serak. Mereka menggeleng masam, aku menunduk muram.

Keluar ruangan, aku melirik botol itu. Baru kusadari.

“Perhatian: Ramuan pengubah suara ini hanya bekerja selama tiga jam.”

 


(Jakarta, 23/03/2017. Monday Flash Fiction #FFKamis 100 kata, kata kunci: suara. Konsep ini bersumber dari ide “kalau ada larutan pengubah suara yang bisa membuat suaramu beda selama beberapa jam, maukah kamu meminumnya?”)

Bermain Pintu

Ada sebuah pintu yang suka bermain denganku.

Mula-mula, kami bermain dengan cara biasa. Kupegangi gagang perunggunya, ia mengangguk, maka daunnya menggeleser, aku diizinkan lewat. Kudorong daunnya, ia pun menutup dan aku tak bisa melintas.

Rupanya, aku lebih cepat bosan. Segera kuganti cara main kami. Aku menyerempet engselnya, ia balas menggigitku di kelingking kaki dengan bantuan lantai. Begitu aku mencolokkan sebilah galah lewat lubang kuncinya, ia mengaduh-aduh.

Suatu ketika, aku berniat menghancurkannya. Sepertinya dia tahu, jadi dia diam saja. Kuguncang-guncang gagangnya, kutendang-tendang daunnya, ia tetap geming saja.

Kucoba ajak dia beradu badan.

Ternyata, sekarang aku bisa menembus pintu itu tanpa membukanya.

 

 


(Jakarta, 16/03/2017. Diikutsertakan ke #FFKamis untuk komunitas Monday Flash Fiction dengan kata kunci “abnormal” dan harus 100 kata pas. Fiksikilat ini kemudian menjadi #FFKamis Pilihan di 22 Maret 2017. Per Maret 2018, komunitas Monday Flash Fiction sedang hiatus.)