Lima Cara Meramaikan Kembali Bayi yang Terdiam

Selama semua pintu tutup, semua jendela redup; rasa tenteram akan tangkup: aku aman dari segala kejar.

Begitu saja, sudah paling benar. Penghilang sakit habis, warung tutup, dia raung-raung menangis, amarahku meletup. Bukan salahku.

Anak itu belum naik-naik, aku mengurut dada.

Ada bunyi tetes-tetes memercik, tadi tidak ada. 

Otakku memutar, terbelah antara kepala pengar dan payudara memar.

Dalam mimpi Rangga membisikiku beberapa baris kalimat. Di sebelahku ada dua gelas. Persis sama, tanpa isi, dengan sisa lipstik di salah satu pinggir. Mereka bisa kuadu biar denting. Kupecahkan saja biar ramai. Biar hanya aku yang mengaduh, tidak apa. Itu baru satu cara. Selain itu, seharusnya minimal ada lima cara meributkan kembali bayi yang telanjur diam, tanpa harus menengoknya di bawah sana.

Pasti ada jalan. Pertama-tama, aku perlu menemukan sandalku.

Cara 1:

Kuturunkan kaki ke tempat biasa kutaruh sepasang sandal putih biru: sebelah kiri tempat tidur, agak menjorok dekat tiang jauh, hanya butuh tiga langkah ke pintu. Sandal itu tinggal sebelah. Yang satu entah ada di mana. Kuraba-raba dengan kaki, dia ada di bawah pintu rak. Ibu jari dan telunjuk kaki mengempit jepitnya, lapik karet pletak-pletok, aku lolos dari daun pintu. Engsel pintu kurang minyak, derit menjerit melarangku pindah tempat, sakit kepala kembali tanpa permisi. Kugerakkan lagi daun pintu, makin keras jerit engsel itu. Kuintip di selongsong paku dan selot pintu, karat-karat mengerat dan menunggu. Mereka siap sambut dan jambak kepalaku, kalau-kalau mereka terus kuganggu.

Inilah yang kulakukan: kuceraikan paku dan selot dan selongsong dan semua. Daun pintu lepas berayun-ayun, nyaris ambruk menimpa kepalaku. Semua tetes minyak kuperas habis, hingga tak ada lagi sisanya buat engsel itu agar leluasa. Derit yang tercipta kemudian terlalu keras. Terlalu menusuk kuping sampai membuat pusing.

Kuintip ke dalam kamar. Tepat ke ranjang.

Tetap, tak ada kepala yang terjulur di tepi sana.

Cara 2:

Kemarin Mirat berjualan keliling. Sepasang panci-wajan terlego dari kepalanya ke dapurku. Uang hasil mengoper susu ke tetangga-lah yang membuatku sanggup membelinya; kebetulan panci lama sudah penuh jelaga, wajan juga tak jelas lagi bedanya dengan jelantah. Transaksi kami mulus sampai akhir. Satu-satunya yang kulupa hanya bahwa Mirat mengambil uang kertasku terlalu banyak, dan wajan yang kudapatkan rupanya bocor.

Aku tak pernah diajari cara menambal wajan yang sudah berlubang di dekat kutub terendahnya. Aku juga tak tahu bahan apa bisa menambal wajan bocor tetapi tidak merusak makanan yang kumasak. Menambal wajan dengan panci pun rasanya tidak tepat. Menggunakan panci sebagai pengganti wajan juga sepertinya aneh—beberapa jenis makanan tak suka memanjat dinding, lebih suka mendaki bukit.

Inilah yang kulakukan: mengoyak tepi wajan lamaku yang belum tersaru jelantah, lalu menjahitnya dengan segala cara—aku lupa jenis benang dan jarumnya—sampai mereka bersatu. Wajan hasil tambalanku itu kemudian kupakai untuk memasak kapal selam yang melempem dan tinggal satu-satunya. Sesekali ikan bertarung lawan minyak dan sesuatu melencit, mendarat cepat di punggung tanganku, melentingkan kulit di situ dalam hitungan detik: teriakku sejadi-jadinya.

Seharusnya ada orang yang mengiraku dirampok, atau mau digerayangi, atau tengah berhadapan dengan sabet bilah pisau yang siaga di antara rahang dan batang tenggorok. 

Tidak. 

Tidak ada. 

Tak ada kepala yang terjulur di tepi sana.

Cara 3:

Beberapa paman mengeluh nasib sial menimpa mereka tanpa ujung ketika cermin mereka terbelah. Pepatah yang bukan Rangga bilang buruk mukalah penyebab pembelahan cermin yang paling sering. Namun, karena aku tahu persis muka paman-pamanku tidaklah buruk, pasti cermin itulah yang seperti makhluk bersel satu, bisa membelah dirinya sendiri.

Setidaknya, itulah yang kupercayai ketika pecahan beling yang kutempel di salah satu pintu lemari tiba-tiba membesar jadi berbentuk seperti benua Australia yang termosaik.

Letak lemari itu persis di luar pintu kamarku, rapat ke dinding tanpa sela sedikit pun untuk napas sang tembok. Setiap hari aku mematut diri di sana sehabis mandi, telanjang maupun berpakaian. Tentu setiap hari juga aku melihat mukaku; tahu seberapa memburuknya muka itu dari hari ke hari, dan berapa besar peluang keburukan mukaku itu akan membelah cerminku pada akhirnya. Yang kutahu Mirat mengataiku cantik dan pemuda warung mengataiku manis. Aku tak pernah tahu seperti apa mukaku waktu marah, apalagi kalau marahnya karena pelantang hidup itu meraung.

Inilah yang kulakukan: aku mengambil martil, satu-satunya perkakas kelaki-lakian yang kusimpan di gudang belakang dekat dapur, lalu mengayunkannya kuat-kuat, tepat ke tengah benua Australia di lemariku.

Mendengar cerai-berai cerminku, seharusnya semua nyawa yang berungu bangun mencariku.

Tetapi tetap tak ada kepala pegari dari mana-mana.

Cara 4:

Dedi gemar mendengarkan lagu-lagu Arctic Monkeys dengan volume yang dia sangka menggetarkan jiwa raga, tetapi bagiku menggetarkan nafsu marah paling membara. Sial bukan kepalang, orang tua Dedi tinggal persis di sebelahku, dan sudah barang tentu Dedi ikut pula tinggal di situ. Bapak-ibunya takluk pada Arctic Monkeys, membiarkan anak kecil itu memasang setengah-jambul-setengah-pompadour seperti Alex Turner, juga membiarkan anak itu menulikan seisi jalanan dengan kekencangan putaran kasetnya.

Aku juga punya pemutar kaset di rumah. Dulu waktu semua masih baik-baik saja, lagu dangdut paling sering berkumandang, diikuti beberapa lagu pop cengeng masa lalu dan lagu kacangan—teman guncangan truk ketika menempuh jalan antarkota yang tiga tapak tanpa aspal. Perlahan lagu-lagu memudar dan hilang, dan pemutar kaset itu membalas perselingkuhan kami darinya dengan menyulam debu setebal-tebalnya.

Ini yang kulakukan: aku sudah mengamati Dedi sepanjang malam selama seratus hari lebih. Sewaktu Dedi berangkat sekolah, aku memanjat tali jemuran untuk mengurangi kecurigaan, dan mendaratlah aku di tempat tujuan: dapur. Di sanalah Dedi menaruh semua kaset berisiknya. Kukantongi album AM, kupanjat balik tali. Jemuran terjengkang, juga pemutar kasetku yang tiba-tiba saja terpuaskan dahaganya. Berisik musik rock menyambangi udara dengan cepat—persetan dengan suara pekik Dedi yang mulai melengking di luar sana—termasuk ke kamarku.

Tetapi tetap tak ada kepala yang mencuat dan menandakan kehidupan.

Cara 5:

Semua kucoba. Semua tak mempan. Semua ujung lagu Arctic Monkeys hangus, semua pemain orkestra tak mangkus, suara lesap ke pampat udara; aku tahu aku tak becus. Aku mengambil botol sambal, membuang kutang, pulang ke ranjang, kembali ke posisi baringku yang semula. Aku mengurut dada dan mengusap kepala yang dari tadi sudah tak ada. Aku memberanikan diri menoleh ke bawah. Ke tempat di mana kepalanya kutunggu-tunggu.

Kepala itu keras di beberapa tempat, lembek di tempat-tempat lain. Rabaanku dulu tak pernah keliru tetapi aku berharap sekali saja aku akan keliru: tak ada denyut di kepala itu. Lalu kubalik badannya, juga kepala yang terkulai lemas di puncak leher gempalnya. Mata itu membuka. Mulutnya juga. Kuselipkan puting bersambal pada langit-langitnya. Orkestra siap mulai lagi. Giliran mereka yang menunggu aba-abaku.

Dalam ketenangan yang telanjur diam.

Jakarta, 19/05/2018 | 1050 kata
Dimaksudkan sebagai sekuel CUBIT oleh Harun Malaia (a.k.a. Aulia Rahman), untuk diikutsertakan dalam giveaway di sini.

Advertisements

Remis

Valeska mengetatkan pegangan ke tepi kursi sebelum beranjak tegak. Decit karet roda, berpadu dengan kelentingan metalik dan kasak-kusuk bariton, serta-merta menghampiri pintu. Sesaat kemudian, mereka semua hening. Daun pintu berat membuka perlahan.

Meranti. Satu dari hanya tiga manusia yang diyakini Valeska mampu menggantikannya beberapa bulan lagi. Di belakangnya, kanan dan kiri, sepasang pria berkacamata hitam berjalan pelan, mengimbangi kecepatan gelinding sepasang roda berkaret hitam di bawah pinggangnya. Mereka bertiga menghampiri meja Valeska. Ia buru-buru menolak, mengarahkan mereka ke sebuah meja luas yang membentang di pojok kosong ruangan.

“Di sana saja. Aku perlu bicara dengannya di depan meja yang itu.”

Dua pengawal itu sudah tahu apa maksud Valeska. Pengawal pertama menghidupkan sebuah kenop hingga meja itu bergetar pelan, lalu berpendar menyilaukan, sebelum meredup kembali dan dunia datar palsu di dalam sana memasuki mode siaga. Penuh kenop lain, namun semuanya virtual. Pengawal itu lalu lenyap sesaat, untuk kembali dengan dua seloki yang sama-sama telah dituangi anggur putih. Pengawal kedua memastikan semua baut, mur, dan sambungan logam beroda itu tidak mungkin cerai-berai seketika. Tak perlu menunggu lama, mereka berdua pamit. Valeska mengangguk, lalu menunggu hingga mereka menghilang di balik daun pintu.

“Well. Terima kasih sudah datang, Bu Ranti.” Valeska mengangkat gelasnya. Ranti mengikuti. Gelas berdentingan. Valeska merapatkan tepi seloki ke bibirnya yang berpulas merah menyala. Ranti tergeragap sesaat, seperti ingin bicara, tapi ditahannya. Valeska mengintip dengan ekor mata. Ditunggunya beberapa detik, diharapnya raut Ranti berubah. Ternyata tidak.

“Bu Presiden….”

“Panggil saya Leska saja, Bu. Ibu lebih berpengalaman,” Valeska berdeham, “saya pikir Ibu-lah yang harus memilih permainan apa buat kita berdua hari ini.”

“Bu Pre—maaf, Leska… aku tahu maksud Anda mengundangku ke sini. Soal pemilihan pimpinan, kan?” Meranti menggeleng, “Semua orang membahas itu saja. Padahal masih setahun lagi. Anda masih punya banyak opsi.”

“Tidak, Bu.”

“Anda harus belajar menaruh percaya ke orang lain, Leska. Anda presidennya.” Jari itu memilih dakon. Tanpa aura, tanpa angin, tanpa tanda-tanda. Dalam sekejap, di hadapan mereka muncul serentetan lubang. Satu lubang besar di ujung kiri, satu di ujung kanan, dan dua belas di antaranya. “Tidak mungkin Anda cuma punya tiga calon, sudah menemui dua di antaranya sebelum aku, lantas Anda berharap aku adalah jawaban yang Anda cari.” Meranti menggeleng, membetulkan duduknya sembari memajumundurkan sepasang roda itu beberapa kali.

Wajah Valeska memadam. Entah karena ia tak terlalu pandai bermain dakon, ataukah karena ia malu rencananya dilucuti sampai bugil. Sebagai penganut aliran konservatif, Valeska tak pernah mau cuma berpangku tangan menunggu afirmasi rakyat jelata lewat omong dan aksi kosong yang bertajuk pemilihan pimpinan. Itu seperti meletakkan negara di atas putaran rolet. Bahkan setelah tahu ia tak bisa menjabat lagi sehabis ini, ia tetap ingin jabatannya jatuh ke orang yang bisa ia percayai. Orang yang mana bahunya bisa ia pakai bersandar; tanpa peduli dia lelaki atau perempuan, tanpa peduli ia sanggup berdiri dengan dua telapak kaki atau harus selalu berkendaraan.

Susah payah dikumpulkannya lagi serakan harga diri yang berkeping di tanah itu, Valeska mendesis, “Bu Ranti, saya tidak memilih satu dari tiga. Satu dari lima. Saya menguji lewat permainan.” Sambil menunggu Meranti—yang tanpa permisi langsung mengambil giliran jalan duluan—Valeska memutar-mutarkan jari telunjuk mengelilingi pinggir lubang besar miliknya.

“Aku sudah tahu reputasimu dalam hal permainan, Bu Presiden. Masalahnya, Presiden seharusnya tidak bermain di layar.” Decit roda itu menggeleser mendekati Valeska. Semakin dekat, semakin decit itu ia telingai dengan nyerinya. Meranti telah berhadap-hadapan dengan Valeska. Nyaris rapat. Tangan mereka bisa saling jangkau. Atau saling jambak.

Telunjuk renta berkuku pendek rapi itu senada dengan kerimut wajahnya, siap menunjuk, “Bermain itu di sini, Leska.” Pelipis itu belum lagi ditinggal pergi sang nyeri, kini disiksa lagi dengan hunjaman ujung jari itu. “Dan di sini,” seraya Meranti memindahkan jari yang sama tepat ke tengah dada Valeska. Ia menjauhkan badan, “Giliranmu. Kita lihat, apa yang akan terjadi dengan permainan ini.”

Valeska mengambil biji-bijian virtual dari lubang yang isinya paling sedikit. Disebarnya biji-bijian itu ke lubang-lubang berikutnya. Pendar layar menunjukkan skor sama kuat. “Bukan soal menang atau kalah, Bu. Dulu sekali, kita diajari orang tua untuk bermain seperti ini. Memangnya mereka mengajari kita untuk bertanding semata-mata demi menang dan kalah?”

“Aku tidak ingat, Bu Presiden.”

“Seingat saya tidak. Entah siapa yang memulainya, Bu.”

Salah satu lubang milik Valeska tinggal berisi satu biji. Meranti mulai menerawang, berpura-pura tidak memperhatikan. “Aku memang tidak ingat. Seingatku, hidup kita terlalu banyak diisi urusan menang dan kalah. Sekolah. Ekonomi. Percintaan. Politik. Perang. Semua berebutan tahta yang bernama menang. Orang hidup untuk menang dan hanya untuk menang. Tentara negara tetangga itu dulu berpikir kalau aku dibuat jadi begini, mereka menang. Buktinya? Akhirnya kita yang memenangkan perang itu, kan?”

Belum sadar akan bahaya yang mengancam biji-bijinya, Valeska menjentikkan jari beberapa kali, “Menang dan kalah itu ada ketika sesuatu dikuantifikasi. Kalau tidak?”

“Koalisi akan terasa sangat salah kalau Anda tidak tahu berapa persentase suara yang mereka dapat, bukan?”

“Permainan ini juga begitu.”

“Maksudmu?”

“Permainan ini akan berakhir lucu kalau kita memutuskan tidak ada menang dan kalah. Aku pernah melakukannya beberapa kali,” Valeska mengambil bijinya banyak-banyak. “Namun, apakah kita puas jika kita cuma bermain demi kesenangan? Masih maukah kita bermain kalau menang dan kalah itu tak pernah ada?”

“Kalau jawabanku tidak?”

“Kita bisa akhiri sekarang juga, Bu.”

“Aneh. Aneh sekali. Kenapa, Bu Presiden? Aku pernah menjawab ya, dan beginilah aku sekarang. Inilah akibatnya!” Ia menunjuk sambungan antara pinggangnya dan perangkat logam beroda dua yang rumit itu; pengganti kedua tungkainya mulai dari paha. “Mereka minta kedua tungkaiku! Cuma gara-gara aku menawarkan kemungkinan untuk meniadakan menang dan kalah! Aku tidak pernah tahu apa yang akan Anda lakukan nanti, Bu Presiden.”

Meranti meninggalkan Valeska yang masih mengernyit, menghitung saksama. Siasatnya tidak boleh gagal. Kepalanya tidak boleh hilang. Ia mengambil sejumput biji, tidak banyak, namun berakhir pada satu lubang kosong yang bersarang tepat di hadapan Valeska. Serangan berikutnya mendarat. Lagi, lagi, dan lagi. Sudah jelas presiden petahana itu akan kalah bermain. Amat telak. Ia sadar, itu pun sangat jelas. Gerakan selanjutnya kaku. Mau dihitung dari sebelah mana pun, ia akan bertekuk lutut.

“Lebih baik begini, Bu Presiden,” Meranti setengah berbisik, “aku tahu Anda kehabisan calon. Aku bersedia jadi calon penggantimu, dengan satu syarat.”

Valeska menimbang. Ia kalah berstrategi. Memang cuma permainan dakon. Besok, mungkin cuma perihal menerjemahkan nomor telepon musuh dengan dekak-dekak. Besoknya lagi, mungkin cuma soal membubuhkan tanda tangan. Mungkin semuanya begitu sepele.

Namun….

“Aku tak mau negara kita hancur karena kita sibuk dengan urusan menang dan kalah melawan orang-orang kita sendiri, Bu Ranti,” Valeska menelan ludah.

“Silakan.”

Serangan terakhir. Layar berpendar lebih terang. Empat puluh empat lawan lima. Permainan selesai.

“Lupakan soal ketiadaan menang dan kalah. Kita anggap kita remis. Jadi, Anda cuma punya satu pilihan. Selanjutnya, kita cuma punya satu pilihan.”

Valeska menatap Meranti. Ia mencari tanda. Ia mencari pertanda. Ia menyelidik sinar pengkhianatan. Tidak ada.

“Pilihan Anda adalah saya, Bu Presiden.”

Seketika, Valeska memperoleh jawaban atas kalimat selanjutnya. Sekali lagi, ia mengetatkan pegangan pada tepi kursi. Kali ini, ke tepi kursi roda Meranti.

“Pilihan kita selanjutnya adalah menang,” bisiknya.

Meranti menyungging puas.

 


(Jakarta, 19/07/2017, 1146 kata. Juara III Kompetisi Cerita Pendek Storial-NulisBuku-Giordano #Agustusan #OneIndonesia Let’s Play and Stand Together, 15-21 Juli 2017. Dimuat dalam antologi tanpa ISBN dari NulisBuku: Kaki Kayu Mak Leha–Kumpulan 15 Cerita Terbaik #Agustusan)

 

Kakisthimatos

Kekuatan semprotan air derajat dua. Suhu dua pertiga ke arah kenop biru, sepertiga ke merah. Kenyal sampo memercik sebesar dua butir jagung setiap tiga detik. Didiamkan tiga puluh detik mengucur deras, bolak-balik menerpa punggung dan telapak tangan. Kadang kunaikkan jadi derajat empat dan kuulang semuanya tiga kali, kalau suasana hatiku sedang buruk. Seperti hari ini.

Kini tujuanku cuma satu: Membersihkan jari-jari tanganku dari jejak kulit kepalanya.

Kepala yang kutahu takkan pernah kembali. Yang takkan pernah jadi milikku.

*

Kelir di panggung sudah bersinar terang sejak tadi, dihajar lampu proyektor. Aku saja yang terlambat menyeruak di balik gegundukan surai beraneka warna dan ketinggian, demi menyimak tetirahnya. Duduk di baris kedua dari belakang di amfiteater ini memaksaku memicingkan mata, meskipun sudah memakai lensa spesial. Terpampang jelas di layar, sebuah angka satu, diikuti sebelas buah angka nol.

“Kita semua tahu, bahwa otak kita begitu hebat. Otak kita ini punya seratus miliar sinaps,” seiring lincah perpindahan pendar lingkaran hijau dari tangan sang profesor, mengitari sebuah angka satu yang dibuntuti sebelas nol, “yang menjembatani berbagai fungsi kehidupan sebagai manusia.”

Kasak-kusuk gerombolan mahasiswa di sebelahku makin menjadi. Mereka berlomba membocorkan proyek sang profesor ke teman-teman, demi terlihat keren dan mirip intel. Aku menggeleng dalam geming.

“Kalian lihat, robot terbaru yang diproduksi masal oleh pemerintah sudah ditanami sirkuit elektrik termutakhir,” sang profesor berujar saat ia berjingkat ke samping. Pendaran lampu di dalam ruang amfiteater meremang, menguarkan aura antusias kehausan yang menggelantung dalam senyap. “Kecanggihan sirkuit otak ini tidak perlu diragukan lagi. Semua informasi komplet di sana. Atau Anda kurang puas? Tinggal pesan ke pemerintah, mau paket apa. Paket hakim, pilot, dokter, insinyur mesin, semuanya ada. Sirkuit bisa dipilih sesuai bundel pengetahuan yang Anda mau. Tinggal disempalkan ke tempurung kepalanya. Kalau dirasa kurang, tinggal dijejalkan lagi. Diutak-atik saja seperti Lego.”

Kerumunan mahasiswa terperangah dengan perumpamaan sang profesor. Begitu mudahnya kecerdasan buatan para robot dipermainkan seenak membangun rumah boneka. Riuh rendah gaduh mulai mendengung dari berbagai penjuru, menghantarkan getar yang menggidikkan kedua gendang telingaku.

“Kekurangannya, robot generasi dua tahun yang lalu belum diperkaya sistem sinaptik menyeluruh. Mereka pintar, cerdas, punya kapasitas otak yang mahabesar, tapi tidak punya perasaan. Tidak mengenal emosi manusia. Cuma bermodalkan rancang ruwet berbagai komponen elektrik di atas sirkuit, yang ternyata tidak cukup. Begitu banyak pekerjaan robotik yang ternyata masih membutuhkan empati,” ia berdeham sejenak, sebelum memberikan tatapan misterius, “Tapi jangan khawatir. Inilah solusinya.”

Kerai jendela di satu sisi amfiteater ditutup, pertanda sang profesor ingin menyingkap sebuah kejutan. Proyektor masih setia menembakkan sinar tajamnya, seraya lembar di atas kelir beralih. Hadirin diam dalam upaya mencerna makna foto potongan melintang rambut yang terpampang dengan rincian sempurna itu.

“Kini kita memasuki gerbang baru era robotik. Robot kita akan dilengkapi sistem sinapsis sebagai pelengkap sistem sirkuit. Seratus ribu helai rambut di kepala setiap robot akan merangkum seratus miliar sinaps di otaknya, lengkap dengan neurotransmiter. Jadi, di setiap helai rambut kepalanya, akan mencuat sejuta sinaps. Selain cerdas dan pintar; mereka pun akan dipersenjatai dengan emosi,” tandas sang profesor. Ia memutar badan, menghadap para hadirin, menyilangkan satu tangan di depan, dan melipat yang lainnya di punggung ketika membungkuk, “Sekian dan terima kasih. Pertanyaan menyusul di sesi berikut.”

Kelebatan memori datang seketika, tepat saat sang profesor terlesap oleh tirai di balik panggung. Memori tentang mengapa aku mendapatkan undangan untuk hadir di kuliah umum Profesor Garveaux. Aku, yang bukan mahasiswa, dan bukan siapa-siapanya.

Kuncinya ada di jari-jari tanganku.

*

Kelakar sejak beratus tahun silam berkata, bahwa pekerjaan itu belum layak disebut pekerjaan kalau sang pekerja belum pernah mengeluh tentangnya. Faktanya, pekerjaan di era ini lebih sesuai disebut siksaan, ketimbang pekerjaan. Robot selalu ada, sejauh mata memandang, sebagai bukti bahwa di sebagian besar aspek kehidupan, tenaga dan otak itu jauh lebih superior manfaatnya daripada seonggok timbang rasa bertajuk empati.

Ketika manusia mulai enggan berprokreasi dengan sejuta alasan, berbagai lapangan kerja mulai terbiar kosong. Pemerintah mencari akal. Memberi insentif supaya mau punya keturunan, satu pun jadi. Awalnya manjur, lama-kelamaan tidak lagi. Demi tetap jalannya perekonomian — demi uang, dalam bahasa kasarnya — pemerintah menempuh jalan pintas. Perlahan tapi pasti, robot mulai menggantikan fungsi manusia. Kemajuan akan kecanggihan robot pun semakin tak terbayangkan. Jika awalnya robot hanya mampu bekerja kasar, kini robot sudah bisa menggantikan sejumlah pekerjaan kerah putih. Jika awalnya robot cuma berbentuk gumpalan-gumpalan berkabel dengan kompleksitas biasa saja, kini robot sudah sangat mirip manusia. Mereka punya rambut — jumlahnya juga seratus ribu — dengan fungsi ganda: Demi kemolekan fisik sekaligus sebagai selubung miliaran sinaps. Sinaps yang disebut-sebut Profesor Gavreaux sebagai kunci empati dan persepsi emosi, untuk menunjang adidaya otak dari sirkuit elektrik.

Kedangan empat belas buku dari sepuluh jariku yang sidik-sidiknya kian kesat, dinyana pemerintah sebagai yang terbaik sedunia. Tadinya aku karyawan salon biasa yang paling disukai untuk melakukan creambath ke pelanggan. Namun semakin sedikitnya manusia membuatku terancam kehilangan pekerjaan. Rambut robot tidak tumbuh, sehingga tidak perlu dipotong. Ia juga artifisial dan berjejal sinaps, jadi tidak bisa sembarang di-creambath, atau aku bisa tersetrum. Aku sudah tahu dan berhati-hati, namun masih saja aku terpeleset. Nyawaku hampir hilang. Berita yang tersiar ke seluruh pelosok, termasuk telinga Profesor Gavreaux. Ia berpikir tanganku bisa memijat dengan kekuatan dan akurasi tepat, sehingga….

Ketukan di pintu menyadarkanku dari lamunan siang terik. Kurirku datang membawa sebuah kotak logam. Tanpa bertanya, aku sudah tahu isinya.

Kuhela napas sambil berdoa, semoga aku masih sanggup melewati ini.

*

Kubuka kotak logam itu, kuangkat isinya, dan kuletakkan di sandaran kepala kursi keramas. Kepala manusia. Dari puncaknya ia identik dengan manusia, namun hanya sampai sebatas pertengahan leher. Selanjutnya, tampak burai serat-serat kabel, karet sintetik, dan silikon. Ia memiliki rambut cokelat legam, kulit serupa kombinasi pualam dan gading, mata ungu kebiruan yang berkilauan, batang hidung tinggi, dan garis-garis wajah yang sempurna bagiku. Agar ia tidak terguling, kupasangkan ganjalan berupa bantal-bantal dakron di bawahnya. Sempat kupandangi wajahnya sekilas. Tanpa emosi, datar, membosankan. Namun tetap saja aku enggan berlama-lama.

“Keramas, ya.”

“Keramas butuh sampo setidaknya sepertiga telapak tangan. Basahi rambut, lalu oleskan sampo di kulit kepala, diamkan selama lima menit.” Mulutnya berucap sekian petunjuk faktual, tanpa intonasi. Begitu hampa.

Kuhidupkan panel keramas. Aku memulai prosedur, memijati kepalanya. Teknik yang sudah kukuasai sejak lama: Pijat tempat keluarnya rambut dari kulit kepala, dengan gerak spiral, lembut saja, jangan keras, dan jangan sampai rambutnya tercerabut. Harus memilin minimal 290–510 juta sinaps saraf, agar seluruh neurotransmiter keluar, berfungsi dengan baik. Jangan lebih, karena belum jelas apa akibatnya. Seharusnya ini mudah. Namun, ada sesuatu yang membuatku tak bisa tetap diam….

“Kelewat kencang, tidak, pijatanku?”

“Kamu tidak capek memijat-mijat begitu terus, Kitara? Tidak terlalu kencang, sih.”

Kaget sangat, aku memejamkan mata sesaat. Kubuka kembali. Kitara. Dia tahu namaku. Sungguh anomali. Kutatap wajahnya dalam posisi terbalik dari belakang kursi keramas. Ia tersenyum. Semakin lebar dan tulus, dengan barisan gigi depan putih gading rata tanpa cela. Mungkin karena aku diam, ia menatap heran, balik memelas.

“Kitara, kenapa?”

“Ku-kupikir aku salah pijat, tadi. Sakit?”

Kepala tak berbadan itu menggeleng dengan caranya sendiri: Beringsut kanan kiri seperti kepiting. Lalu ia tergelak, “Pijatanmu nyaman, tahu! Aku suka sekali! Teruskan, ya.”

Kuturuti pintanya, sembari kian dekat ke puncak kursi. Tiba-tiba terasa semilir udara hangat. Sesuatu yang belum pernah kurasakan selama bertahun-tahun.

“Kitara … ah, andai saja aku bisa dikeramasi setiap hari olehmu.”

“Khayalanmu aneh-aneh saja,” balasku, pura-pura menyengir karena menahan getir, “aku hanya ditugasi mengeramasimu sekali, Tuan Robot. Selanjutnya, kau akan dirakit jadi orang hebat. Kelak bisa menggantikan kami, para manusia yang kian punah dan lemah,” tanganku masih memilin pangkal rambutnya, sambil berharap waktu bisa mundur kembali dan dialog ini tak perlu ada.

“Kok begitu? Kamu tidak minta izin biar kamu boleh menikah dengan robot?”

Kugigiti bibir bawahku. Sakit. Fakta bahwa manusia dan robot bagaikan air dan minyak, takkan bisa bersatu tanpa lupa mengungkit kembali aroma borok dan luka lama yang masih menganga, justru menarikku mendekat kepadanya. Ini jelas-jelas terlarang, namun mengapa aku justru semakin ingin?

“Kitara, cepat selesaikan keramasku. Aku mau mencari badanku. Nanti aku akan kembali kepadamu, ya. Kamu tunggu, ya?”

Kupaksakan senyum sepahitnya dan anggukan samar, saat meneciskan rambut gelapnya. Setiap gerakan sisir serasa irisan pisau ke telapak tanganku. Selanjutnya rambut di sekitar wajahnya. Setiap telusuran jari serasa bara api. Memanaskan segalanya, termasuk melengaskan mata. Tangisku jelas bukan karena takut berkomitmen. Bukan, bukan itu. Namun aku takut hal lain.

Ketika robot cuma terjalin oleh sebuah sirkuit elektrik, manusia jelas tahu dialah tuan atas mereka, karena manusia tak tahu perasaan kaum robot. Namun ketika robot bisa berempati, perlahan manusia tak tahu lagi di manakah posisi mereka. Di tengah keramaian menunggu undian; di atas, menyaksikan dunia baru yang gelap; ataukah di bawah, meringkuk nelangsa dalam pasungan robot.

*

Kepala itu sudah resik. Wajah itu semakin tampan. Tak bisa kubedakan dari manusia biasa. Aku luluh meleleh sehabis-habisnya, saat ia tersenyum dan tergelak lagi, bersamaku.

Kurir datang menjemputnya, sejam kemudian. Kulambaikan tangan ketika mengepaknya kembali ke dalam kotak. Ia masih tersenyum saat kotak kututup. Saat pandangan kami bertemu untuk terakhir kalinya. Saat kukubur dalam-dalam keinginanku mendobrak kemurnian umat manusia dari jamahan kaum robot.

Kini, kunyalakan semprotan air di kursi keramas. Menangis sekerasnya, mengusir sisa genggam partikel raganya dari jari, mengutuk sejadinya. Atas perasaan yang terburuk.

Keparat benar hasil selinapan sinaps ini di sirkuit otaknya!

 


(Jakarta, 24.01.20171497 kata. Pemenang IV Sayembara Cerita Pendek Fiksi Ilmiah Serana42, 14 Januari s/d 14 Februari 2017. Kakisthimatos: (Gre. faux constructed word) kakistos = terburuk, aisthima = perasaan. Seluruh paragraf dalam cerita ini dimulai dengan huruf K.)

 

Evanescencia

Peraturan nomor satu: Isi dokumen yang kalian lihat selama bekerja tidak boleh memengaruhi sikap dan tindak tanduk kalian.

Kupikir bos kami sengaja meletakkan kalimat itu sebagai peraturan teratas, karena jelas inilah peraturan yang tersulit dipatuhi sampai paripurna. Nafsu iblis selalu menggerayangi otak dan mata kami ketika memegang helai demi helai kertas, sebelum maupun sesudah kami menggandakannya.

Di atas pandang remeh masyarakat terhadap profesi tukang fotokopi, kurasa kami boleh jemawa. Kamilah saksi berbagai jenis torehan di atas kertas, mulai dari jejak terpentin berlepotan hingga pelitur tinta mesin cetak berbarisan; yang melancarkan pekerjaan orang banyak, membukakan pintu-pintu tertutup, dan menguak berbagai misteri. Ada dokumen yang cuma sesederhana soal les anak-anak sekolah dasar dan ditulis tangan, ada yang sepelik pasal-pasal polis asuransi, bahkan ada yang bernada mengancam menyerupai surat kaleng. Aku pernah menemukan material bocoran soal ujian akhir sekolah (yang kemudian dikonfirmasi sebagai bocoran yang diburu pemerintah). Teman seperjuanganku yang dulu, Dirga, malah pernah disiksa permintaan mahasiswa untuk dibuatkan salinan buku teks kedokteran yang tebalnya minta ampun. Kembali lagi ke pasal tadi, kami tidak boleh mengeluh, apalagi menolak dokumen yang disodorkan pelanggan, seajaib apa pun itu. Semua tetap harus digandakan dengan baik, karena pelanggan adalah raja yang titahnya tak terbantahkan. Hanya terkalahkan oleh titah bos kami.

Tahun pertama bekerja di gerai Frontliner Photocopier, aku masih menganggap remeh peraturan nomor satu itu. Kupikir, cih, kertas? Takkan sanggup lembar bubur kulit kayu pohon menggoda iman manusia hingga sedahsyat itu. Toh, memang dokumen yang lewat di depanku tidak pernah aneh: Selembar surat cinta receh, artikel majalah, hasil cetakan skripsi mahasiswa tingkat akhir, dan setumpuk kertas-tetek-bengek-yang-aku-pun-kadang-tidak-paham-apa-isinya. Entah memang anak baru tidak boleh menangani dokumen-dokumen aneh, ataukah nasibku yang memang bagus.

Semua berubah di awal tahun keduaku, ketika pelanggan misterius itu datang.

@@@@@@

Aku dan Devon melihatnya pertama kali di suatu Rabu siang. Pintu kaca terayun, diikuti masuknya seorang wanita bertubuh kecil. Tingginya kutaksir tidak lebih dari seratus lima puluh sentimeter, bobot tidak lebih dari empat puluh lima kilogram. Rambut hitamnya dicepol sebagian, sisanya terurai mirip misai panjang yang melewati leher kaosnya. Ia menyandang sebuah ransel merah, terbuka sebagian. Satu tangannya membawa map, dan satunya menjepit sepuntung rokok di antara telunjuk dan jari tengah.

Frontliner Photocopier, ada yang bisa kami bantu, Mbak?” sapa Devon.

“Mau fotokopi ini, Mas. Sekali aja.”

“Oke. Mbak mau ini dijilid?”

“Belum, Mas. Ini sepuluh lembar dulu, besok masih ada lagi.”

Devon menyambut dokumen, sementara wanita itu menyesapkan rokok tepat di atas anting perak yang menembus garis tengah bibir bawahnya yang merah. Mengintip pula gigi-gigi depannya yang kecil-kecil, putih gading, dan rata.

“Masih banyak, Mas. Nanti juga bakal dijilid, kok.”

Devon memeriksa dokumen yang diserahkan kepadanya. Tepat sepuluh lembar, tertata dalam kempitan sebuah klip segitiga, tepi bertemu tepi dengan rapi. Beberapa ujung kertas sudah berumbai, mungkin pernah dibasahi percik kopi atau tetes hujan. Ia terdiam.

Sesudahnya, mesin fotokopi pun masih diam. Aku yang sedang mengerjakan penjilidan, berjingkat mengintip ada apa gerangan.

“Devon, kenapa enggak dikerjakan? Dokumen apa sih?”

Ia tak menjawab.

“Von! Aneh banget sih lu!?”

Berarti aku harus melihat dokumen itu dari dekat.

Kuambil paksa tumpukan kertas itu dari tangan Devon. Tidak ada sampul depan, atau apa pun yang sekiranya bisa jadi petunjuk garis besar. Terpaksa kubaca sebaris demi sebaris. Lembar pertama, kedua, dan seterusnya.

Mungkin aku sama tak pahamnya dengan Devon. Jadi kuterapkan saja metode eksklusi, sebelum aku harus mendedah sampai lembar kesepuluh.

Ini … jelas bukan buku teks yang tebalnya mencekik. Bukan soal ujian anak sekolah. Bukan surat receh biasa. Bukan naskah drama ataupun….

Hei. Apakah ini transkrip rekaman pembicaraan orang?

Kuamati saksama. Lembar keempat memuat nama Ibu Presiden. Tepat di bawahnya, tercantum nama ketua Asosiasi Penyelarasan Suhu Politik (ya, negara kami punya asosiasi sesinting itu) dan nama Menteri Riset dan Implementasi Sains. Lembar keenam, ada nama Raven Bucklow, seorang ahli bioetika yang baru dibunuh minggu lalu. Dia terkenal gemar mengkritik kebijakan riset dan implementasi sains yang dikeluarkan pemerintah.

Desir ganjil menjalari jantungku, lalu merambat ke tengkuk.

“Gus, Gus … kamu saja yang fotokopi ya, nanti kasihan mbak-nya kelamaan nunggu,” ucap Devon sambil berlalu, memeragakan gestur ingin buang air kecil.

Devon memang jagonya meloloskan diri dari masalah. Sebuah talenta yang sejak dulu aku ingin miliki, tetapi tak pernah kesampaian.

Dengan berat hati, kuraih panel salah satu mesin fotokopi, sambil berharap bahwa dokumen itu bukan apa-apa. Tombol-tombol angka untuk menentukan jumlah salinan sudah memanggil-manggil, saat kebimbanganku mencapai puncak.

Kuberanikan diri menekan tombol angka 2.

Lembar demi lembar berlalu. Semakin kubaca, isi transkrip itu kian terang. Semilir gerayangan di jantung pun kini berubah jadi gelegak.

Kepingan informasi demi informasi menyatu jadi sebentuk logika bagiku: Dokumen ini bicara tentang rencana pembunuhan.

@@@@@

“Apa? Heh, Gus, kamu kebanyakan baca Sherlock Holmes,” cerocos Devon usai menelan seteguk jus leci. Air mukanya kaget, lalu mencibir.

“Ini tidak ada hubungannya, Von.”

“Bagus, kamu itu gampang banget curigaan. Nama Bu Presiden dan nama ahli bioetika itu … siapa? Raven? Ha, iya, Raven Bucklow. Bisa saja kan, nama mereka berdua muncul di mana-mana? Seperti namamu, Bagus Prihardana, nongol di berita bersamaan dengan Devon Kampaleia. Kamu terlalu memaksakan kebetulan, Gus.”

Aku mengaduk kopi tubruk, tak tentu arah. Mataku tertuju pada cangkir kaca bening yang ternoda bubuk-bubuk hitam itu, namun pikiranku pada salinan dokumen yang kusembunyikan. Kuputuskan untuk tidak memberitahu Devon. Kami pasti bakal salah paham satu sama lain.

“Kita lihat saja deh, Gus. Asal dia bayarnya enggak kurang, aku sih fine-fine aja.”

“Serius gapapa lu, Von? Kalau itu betul rencana pembunuhan dan keluarga lu dibawa-bawa?”

“Tuh, kan? Kepalamu itu harus dibenamkan ke air dingin Sungai Thames, Gus! Mana mungkin keluargaku kena ancaman? Mereka sudah meninggal semua.”

Iya juga, ya?

“Kamu jangan aneh-aneh, Bagus. Jangan lapor Pak Bos, jangan lapor polisi, jangan sok-sok tiup peluit. Ingat kamu bukan siapa-siapa selain tukang fotokopi di Frontliner.”

Aku tak menjawab. Teguk berikutku begitu pahit dan kesat oleh sengat ampas kopi. Kupaksakan menelan semuanya, demi melancarkan keluarnya ucapan Devon barusan lewat telinga kiriku.

“Gus. Aku tahu kamu punya salinan ekstra dari dokumen itu,” sambar Devon. Ucapannya masih jelas meskipun ia sedang mengunyah gandasturi.

“Buktinya mana? Jangan-jangan lu….”

“Aku lihat kamu fotokopinya dua kali, Gus. Aku bahkan tahu kamu taruhnya di mana.”

Oke, sial. Satu talenta lagi dari Devon yang juga membuatku dengki: Lirikannya maut. Sekali lirik, dua tiga baris tulisan langsung terekam di otaknya. Cocok buat jadi agen rahasia.

“Gus, udah Gus, ngomong aja sama aku. Aku enggak cerita ke Pak Bos,” sikutnya. Bala-bala yang kupegang nyaris terlontar ke tanah. Ia malah pasang tampang tak berdosa, sambil menyilangkan jari seperti Spock.

Lebih baik kuberitahu Devon, atau kudiamkan saja?

@@@@

Lima hari berturut, wanita itu selalu muncul, selalu hanya membawa sepuluh lembar dokumen. Jam kedatangannya acak. Kadang pagi kadang malam.

Satu yang membingungkan: Tampilan fisiknya selalu berubah-ubah. Hari kedua ia tampil necis seperti wanita kantoran. Keesokannya jadi mirip anak band, lalu disusul berdandan anggun seperti mau ke undangan. Casing boleh berbeda-beda, namun sikapnya tetap sama. Dingin, menjaga jarak, tidak bisa diajak ngobrol. Kala menunggu, ia lebih memilih merapat ke pintu kaca, menyesap sepuntung rokok pendek, dan menguarkan asap tebal ke langit. Denganku, ia cuma memperhatikan urusan memberikan dokumen, kemudian menerima satu rangkap salinan dan dokumen asli, dan membayar. Sementara aku, hanya memperhatikan soal salinan rangkap kedua untuk hari kedua, ketiga, dan keempat. Semuanya kubaca dengan saksama, sebelum kujejalkan ke dalam laci.

Hari kelima, ia datang dengan penampilan sama dengan hari pertama. Saat itu gerai fotokopi sedang sepi. Di luar dugaan, Devon menawarkan diri untuk membuatkan salinan. Dia sudah tahu, dua rangkap.

Kuberanikan diri bertanya lebih banyak. “Mbak, sendirian aja?”

Ia terkaget. Puntung rokok yang dipegangnya nyaris jatuh. Sejurus, ia mengangguk.

“Mbak, sorry nanya. Saya lihat Mbak bawa dokumennya sedikit, dicicil gitu. Padahal itu kayanya nyambung ya Mbak? Kenapa Mbak enggak bawa semua dokumennya sekaligus aja?”

Tatapannya masih kosong ke arah kemacetan. Sadar aku tengah menunggu jawabannya, ia mendelik, tanpa jawaban. Aku tak bisa membaca sorot matanya yang cuma sekejap bertemu pandang denganku; apakah itu takut atau marah.

“Mbak….”

“Jangan, Mas.”

Mungkin aku yang sudah kelewatan, tapi aku tak tahan lagi.

“Hati-hati, Mbak. Bahaya.”

Tiba-tiba Devon keluar dari ruang fotokopi, membawa dua gepok kertas, “Sepuluh lembar, seribu lima ratus.”

Wanita itu menyelonong, seolah aku tak ada di situ. Ia langsung menarik dua buah uang logam dari dalam dompet kecil, menyerahkannya kepada Devon tanpa mengucap terima kasih. Ia buru-buru mengayun pintu keluar, sampai lupa menutupnya kembali.

Apakah tadi aku terlalu berani menghunuskan pedang?

Setelah menunggu jarak aman dalam diam, Devon menyemprotku.

“Bagus! Kamu bikin dia takut! Gila kamu!”

“Gila apanya, Von?”

“Ya gila, lah! Oh iya, kamu ‘kan belum tahu apa isi salinan tadi.”

Aku bergeming. Aku belum siap menghadapi kenyataan.

“Tenang, Gus. Dokumen hari ini belum yang terakhir. Masih ada lagi, tapi kurasa memang sudah mau tamat.”

Memangnya ini film dokumenter?

“Raven Bucklow dibunuh dengan racun saat dalam karantina ulang alik. Pelakunya entah siapa, tapi dia disuruh oleh seseorang yang punya kuasa. Cuma….”

Lanjut, Devon. Aku bahkan tak bisa menggerakkan mulut!

“Belum dijelaskan racunnya apa, dan siapa yang menyuruh kroco itu melakukannya.”

Kami bersandar ke mesin fotokopi yang berhadapan, tanpa bisa berkata-kata. Dalam diam, kami bersepakat untuk menunggu fragmen terakhir.

Semoga besok ia datang tepat waktu.

@@@

Keesokan paginya, aku bangun oleh suara gelas pecah. Tanganku tak sengaja menyenggolnya ketika hendak mematikan alarm di ponsel.

Firasat buruk itu terbukti. Masih berbaring di ranjang, kubuka Twitter, dan muncullah berita sadis itu di linimasa hingga berkali-kali: Seorang wanita ditemukan tewas dengan luka tembak enam kali di dada dan perut, dengan senapan laras panjang tersodok dari kemaluan hingga menembus rongga perutnya, dan usus yang hancur terburai. Berita lain memperlihatkan foto wanita itu semasa hidup.

Seolah organ-organ dalamku bergelinjang, membuatku mual.

Wanita itu, yang lima hari berturut-turut datang ke gerai fotokopiku, ditemukan meninggal. Dibunuh. Dengan sadis.

Aku harus mengecek keberadaan dokumen itu! Sekarang!

@@

Devon sudah lebih dahulu ada di Frontliner. Ada satu mobil polisi bersamanya. Melihat itu, degup jantungku makin tak keruan.

“Bagus! Bagus! Sini!”

Aku mendekat, dengan napas tersengal.

“Gus, dokumen yang kamu simpan kemarin. Hilang.”

“Apa?”

“Iya, semalam gerai kita dirampok. Cuma aneh banget … enggak ada apa pun yang hilang. Cuma dokumen itu dan satu rim kertas. Duit masih utuh dalam brankas. Alat tulis, komputer, mesin jilid, paper shredder, semua masih ada,” cerocosnya dengan suara bergetar.

Jadi, dokumen salinan rahasiaku turut hilang.

Seketika, aku merasa kehilangan. Seperti sepatu bayi yang tak akan pernah terpakai. Seperti mobil pengantin yang tak akan pernah dinaiki. Seperti toga sarjana yang tak akan pernah kukenakan.

“Sudahlah, Gus.”

Aku menolak gamitan tangannya.

“Gus. Pengetahuan yang terlalu banyak bisa membunuhmu. Sudahlah, Gus.”

Aku mengatupkan rahang, berharap suaranya tak bisa masuk. Baik telinga kiri maupun kanan.

Cukup!

@

Dua hari berselang. Kami kembali ke rutinitas menjemukan, menghadapi kertas-kertas yang bukan milik kami.

Lima puluh lembar itu masih berkelebatan di kepalaku. Dokumen yang tak pernah sampai di gerai fotokopi kami hingga tuntas. Salinan dokumen yang tak pernah terlihat lagi. Hanya ingatankulah yang tersisa. Aku dan Devon pun sudah berjanji tak akan membahas masalah ini lagi.

Kertas itu bukan milikmu, Bagus. Itu bukan kehilangan, namanya.

Orang-orang akan menuduh aku mengarang cerita dan menyebarkan fitnah, kalau aku buka mulut tentang ingatanku. Aku akan menyeret diriku ke lembah peradilan, menunggu tanpa akhir ketika diperiksa polisi, dan jika terpeleset, aku bisa dipenjara, atau menjadi paria selamanya.

Karena ingatan bukanlah barang bukti yang otentik, kubur saja, Bagus. Lihat ke depan.

Aku mengiyakan nuraniku. Mungkin memang harus beginilah adanya.

Aku kembali memfotokopi, menjilid, dan menghitung uang kembalian; sambil berharap ada dokumen ganjil lagi.

 

 


(Jakarta, 12/12/2016. 1876 kata. Pemenang II TantanganNulis bertema #BlueValley dari Jia Effendie dan Falcon Fiksi, 29 November s/d 14 Desember 2016. Pernah dimuat di FB Notes dan di Medium-ku sebagai Medium Story.)

([la] evanescencia = istilah Spanyol untuk sesuatu yang menghilang dengan sangat cepat.)