Mana yang lebih mahal: Uber, GrabCar, GoCar, atau Blue Bird?

Berhubung sekarang taksi-taksi ini lagi pada perang tarif, saya coba bikin perbandingan tarif dan tabel Excel untuk menghitung estimasi ongkos berbagai jenis layanan taksi.

Langsung saja tidak perlu banyak basa-basi ya.

Kita mulai dari perbandingan dahulu. Gambar di bawah ini memperlihatkan bagaimana perbandingan rincian tarif antara empat jenis layanan taksi, plus Blue Bird. Mengapa hanya Blue Bird yang mewakili layanan taksi regular, alasannya adalah karena hanya data Blue Bird-lah yang berhasil saya dapatkan dan jajal sendiri, sementara saya sendiri belum mencoba taksi regular jenis lainnya, setelah demo angkutan di akhir Maret lalu.

Continue reading

Uber: Perihal Surge Fare

Pada sore hari Kamis, 14 April 2016; para pengguna Uber menyaksikan keparahan tingkat surge fare ketika memesan Uber yang agak-agak tidak biasanya. Jika biasanya surge fare bisa melonjak hingga 2,4 sampai dengan 3,0 terjadi di hari Jumat sore pada jam pulang kerja, mengapa justru surge fare yang menembus angka 4 bisa terjadi di hari Kamis sore?

uber

Saya sudah pernah membahas soal Surge Fare di postingan Uber: Perbandingan, Persepsi, dan Testimoni (bagian 1), tetapi setelah saya baca ulang dan kaitkan dengan kejadian 14 April 2016, rasanya postingan tersebut masih banyak kekurangannya.

Saya akan bahas lebih lanjut lagi soal Surge Fare.

Continue reading

Uber: Perbandingan, Persepsi, dan Testimoni (1)

Sepertinya sekarang sudah banyak orang-orang (apalagi orang Jakarta) yang menuliskan testimoni mereka soal metode transportasi alternatif yah. Misalnya GoJek atau Uber. Nah, di kesempatan ini saya akan menjabarkan testimoni dan perbandingan saya terhadap Uber versus taksi biasa, berdasarkan pengalaman selama 9 bulan terakhir. Iya 9 bulan, tapi ini bukan hamil dan petualangannya.

Tapi harap maklum kalau tulisan saya ini bukan berisi soal review Uber doang. Tapi kebanyakan troubleshooting. Alias jawaban atas pertanyaan-pertanyaan aneh yang bisa muncul kalau kita sedang menggunakan jasa Uber.

Mari kita mulai daripada kelamaan basa-basi.

Continue reading

Review: Hotel Santika Pontianak

Pontianak sebagai salah satu kota yang masih terus berkembang, kini sudah memiliki banyak hotel baik hotel lama maupun baru. Salah satu hotel yang tampaknya berada di tengah-tengah status lama dan baru ini, adalah Hotel Santika Pontianak. Terletak di Jalan Diponegoro, hotel ini memiliki posisi cukup strategis, plus nama besar grup Santika yang tentu saja menjanjikan pengalaman menginap yang berkesan.

Berikut saya bahas pengalaman waktu menginap di sini, baru-baru ini.

Continue reading

Naik Taksi di Malang

Malang: Kota di Jawa Timur yang terkenal dengan cemilan buah-buahan keringnya ini tak hanya memiliki ragam kebudayaan yang unik dan lokasi wisata menarik, namun juga menawarkan pengalaman naik taksi yang agak unik jika dibandingkan dengan kota-kota lain di Pulau Jawa. Armada taksi utama di Malang yang saya ketahui ada beberapa, yaitu Argo Perdana, Mandala Argo, dan Citra.

Nah, apa yang bikin pengalaman naik taksi di Malang berbeda?

Catatan: Saya hanya mendapat kesempatan menggunakan taksi Argo Perdana karena kebetulan hanya taksi inilah yang sempat saya catat nomor teleponnya, oleh sebab suatu dan lain hal. Saya tidak dibayar sepeserpun dari Argo Perdana terkait tulisan ini.
thumb_IMG_9258_1024 2

Tulisan peringatan yang ada di dalam taksi Argo Perdana. Lah kalau penumpangnya takut dingin??

 

thumb_IMG_9272_1024 2

Perincian harga tarif taksi kota Malang. Tarif ini berlaku di tahun 2015, untuk seluruh armada taksi yang ada. Kalau susah ngeliatnya, ini bacaannya: Buka pintu Rp 5.000, Rp 3.600 per kilometer, tarif tunggu Rp 36.000/jam, dan tarif minimal (nah ini) Rp 30.000. Maaf fotonya jelek lantaran taksinya sambil jalan.

Alasan #1: Apapun yang terjadi, tarif minimal Rp 30.000

Ah, bukannya semua taksi ada tarif minimal?

Bukan itu yang saya maksud. Tarif taksi di Malang ini tidak melulu mengikuti argometer. Karena ada aturan tarif minimal Rp 30.000. Jadi, seandainya argometer taksi yang kita naiki tidak mencapai angka Rp 30.000, mau tak mau kita juga harus membayar Rp 30.000. Sedangkan kalau lebih, ya bayarnya seperti biasa.

Dan anehnya lagi, tidak seperti di Jakarta yang baru mengenakan skema tarif minimal kalau kita memesan taksi lewat telepon; tarif minimal ala Malang ini dikenakan pukul rata, alias tetap dikenakan meskipun kita mengambil taksi dari tengah jalan atau dari hotel.

Dan satu lagi. Tarif ini berlaku buat semua jenis taksi yang beroperasi di Malang.

Dengan kata lain: Apapun yang terjadi, tarif minimal naik taksi sekali jalan di Malang adalah Rp 30.000. Titik.

Alasan #2. Taksinya bagus, mobilnya baru

Beberapa kali saya mendapatkan tipe mobil yang cukup baru ketika menjajal taksi di Malang. Memang tidak mewah sih, tapi yang jelas, taksinya benar-benar baru. Sekali waktu saya mendapatkan taksi Hyundai (tidak ingat spesifikasinya, yang jelas bentuknya MPV). Waktu saya tanyai sopirnya, ternyata armada yang satu ini (Argo Perdana) sedang sibuk meremajakan taksi-taksi yang beroperasi di Malang, lantaran sudah banyak yang tua-tua. Hm…

Sayang saya tidak sempat mengambil foto taksinya.

Alasan #3: “Mogok” di Sabtu sore

Berhubung jalan protokol utama di kota Malang selalu penuh sesak dengan orang-orang yang akan menuju ke Surabaya di hari Sabtu sore hingga malam, tak heran jika kita bakal sangat kesulitan mendapatkan taksi di saat-saat tersebut. Menunggu sampai berjam-jam pun belum tentu ada hasilnya. Saya malah pernah mencoba memanggil taksi di Sabtu sore, dan hasilnya: Sopir taksi setuju jika saya bersedia membayar Rp 85.000. Agak edan kedengarannya.

Jadi, kalau kalian ingin keluyuran di kota Malang dengan menggunakan taksi di hari Sabtu, hindari pulang di sekitar pukul 16-20 WIB. Ada baiknya menunggu, atau mempersiapkan jalur pulang alternatif yang tidak melewati jalan-jalan protokol/utama.

Alasan #4: Cepat sekali datangnya

Sistem pemanggilan taksi di Malang bisa dibilang sudah baik. Bahkan saya penasaran apakah jangan-jangan sistem pemanggilan mereka sudah lebih baik daripada Jakarta. Bayangkan, saat ini kita menelepon armada taksi, dalam tak sampai sepuluh menit, taksi pesanan kita sudah muncul.

Barangkali, kondisi Malang yang tidak seruwet dan sebesar Jakarta menolong dalam kasus ini. Tapi saya setuju kalau pelayanan panggilan taksi di Malang ini sudah patut diberi jempol.

Alasan #5: Cetak tagihan

Meskipun ada sistem tarif minimal yang membuat bon taksi tidak terlalu berguna, umumnya taksi baru di Malang sudah dilengkapi dengan fasilitas cetak tagihan. Sopir-sopir di Malang biasanya menawarkan kita untuk mengambil cetakan tagihan atas tumpangan kita barusan meskipun kita tidak memintanya. Apa jangan-jangan karena tulisan di kertas tagihannya lebih kecil daripada Rp 30.000?

thumb_IMG_9281_1024 2

Waktu saya sampai di tujuan, argometer menunjukkan Rp 15.800 (angka belakang tidak terfoto karena display-nya berkedap-kedip). Kalau sudah begini, tetap saja bayarnya Rp 30.000, meskipun struknya menunjukkan angka Rp 15.800.

Itu kira-kira pengalaman saya naik taksi di Malang. Mungkin ada yang ingin menambahkan?

[Indonesia-Malang] Museum Restoran Inggil

Malang memiliki banyak tempat wisata yang cukup menarik. Namun bila waktu kunjungan terbatas, tentu kita hanya dapat mengunjungi beberapa tempat. Apabila Malang hanya menjadi tempat singgah sementara, maka Museum Restoran Inggil dapat dijadikan salah satu spot kunjungan yang menarik. Mengapa demikian?
1. Ada museumnya
Namanya saja Museum Restoran Inggil, bangunan yang terletak di balik pepohonan di Jalan Gajahmada Malang ini tentu memiliki bagian museum di dalamnya. Selagi kita menyusuri pintu masuk, kita bakal disambut sebuah air mancur kecil yang memberi kesan sejuk, plus bahwa kita bisa melihat sederetan foto-foto klasik yang memperlihatkan sejarah kota. Yang unik lagi adalah bahwa di pintu masuk, terlihat tulisan dengan ejaan zaman dahulu “Boeka djam 10.00-22.00” dan “dateng mriki saget hotsepot” yang menunjukkan bahwa di dalam gedung klasik ini pun ternyata ada hotspot-nya.
Untuk mengunjungi museum, kita cukup fokus ke sisi kanan ruangan. Mulai dari sebuah ruangan terbuka dengan sebuah meja dan jejeran beragam kotak mirip kaset (ataukah benar memang kaset?) terpajang rapi di dinding, sampai sisi dalam museum yang memajang berbagai poster iklan zaman kolonial hingga deretan benda-benda antik dari zaman revolusi, semua tertata lengkap.

Menikmati poster iklan zaman kolonial ini mungkin membuat kita berefleksi sejenak soal kesederhanaan dan aktivitas berpromosi. Zaman dahulu ternyata gaya promosi amat sederhana, tidak pakai data pendukung yang bikin ruwet, dan tidak harus pakai menjelek-jelekkan produk lain 🙂

Lalu ada juga telepon klasik yang untuk menggunakannya saja harus memutar-mutar nomor, plus sebuah mesin ketik tua yang sebagian besar tutsnya sudah “kelelep” ke dalam; yang tentunya melengkapi koleksi benda-benda zaman kolonial di sini 🙂

2. Ada restorannya

Barangkali sama dengan pengunjung Inggil lain yang kurang paham sejarah, saya mengetahui Inggil pertama kali sebagai restoran. Selain untuk melihat-lihat peninggalan sejarah di kota Malang, tentu kita tidak mau ketinggalan mencicipi hidangan khas Jawa yang disajikan di restoran bertema semi-klasik semi-lesehan ini.

Begitu selesai menyusuri lorong pintu masuk, kita langsung berjumpa dengan segerombolan topeng yang menanti, mengelilingi sebuah replika sumur. Ikon ini menandai kita telah memasuki bagian restoran dari Museum Restoran Inggil.

Setelah melewati barisan topeng, kita akan melihat ada dua bagian dari restoran. Bagian kiri, yang dibatasi undakan tangga, merupakan bagian lesehan, di mana kita bisa duduk bersila menghadap meja untuk menikmati hidangan. Daerah ini pun tak sekadar lesehan biasa karena ada sejumlah ikon budaya menempel di dinding sekitarnya, mulai dari topeng, wayang-wayangan, sampai foto-foto klasik, dan yang tak kalah menarik adalah lukisan kaki gunung yang membuat kita seolah-olah berasa ada di dalam gubuk yang dikelilingi alam pegunungan indah sembari makan.

Saya memesan ayam penyet dan sayur asem.
Tadinya, saya mengira ayam penyet dipisahkan antara dada dan paha seperti restoran pada umumnya. Namun ternyata restoran ini beda: Yang disajikan di atas nampan batu itu adalah separuh ekor ayam muda. Tentunya tidak ketinggalan lalapan dan sambelnya.

Yang unik juga di sini adalah sayur asemnya. Jika di tempat lain rata-rata sayur asem harus menggunakan bumbu tomyam atau saos tomat yang banyak agar muncul warna kemerahan plus rasa asam yang menyengat, Inggil menyajikan sayur asem dengan spesial. Bisa dilihat di foto berikut bahwa sayur asem sama sekali tidak berwarna kemerahan, bahkan menurut saya kuahnya cukup bening. Namun rasa asemnya pas, juga rasa tersebut tersebar merata sampai ke bagian bawah sop.
Untuk harga, jika dibandingkan dengan standar Malang, hidangan Inggil bisa dibilang masih masuk standar di angka sekitar Rp 30.000-an untuk satu nasi dan satu lauk. Namun tentu harga ini masih bisa dibilang murah jika dibandingkan dengan harga Jakarta. Seporsi ayam penyet tadi dibanderol Rp 25.500, seporsi nasi putih Rp 6.000, dan seporsi sayur asem Rp 12.500. Semua belum termasuk pajak 10%. Jangan lupa mereka juga melayani pesan bungkus jika berminat.
3. Ada toko suvenirnya
Satu hal yang juga membuat Inggil memiliki keunikan tersendiri dan layak dikunjungi untuk turis yang hanya punya waktu singkat di Malang, adalah keberadaan sebuah toko suvenir kecil di depan restoran dan museum. Toko suvenir ini menjual berbagai jenis kerajinan rakyat, yang terutama tersusun atas bahan kayu. Tidak lupa, toko ini juga menjual makanan ringan khas Malang. Cocok untuk tempat berburu oleh-oleh buat yang waktunya sempit.

Jadi, kita sudah melihat apa saja fitur-fitur unik yang ditawarkan Museum Restoran Inggil. Jangan lupa mengunjungi restoran ini apabila ada waktu mampir ke Malang 🙂

(20150818)

[Review Maskapai] Citilink

Meskipun sudah agak lama launching-nya, saya baru sekali naik Citilink. Jika dilihat dari kacamata warga Indonesia tentu saya harus malu karena kok lama sekali tapi belum mencoba maskapai versi budget-nya Garuda Indonesia ini.

Mengenal Citilink

Citilink adalah layanan budget dari Garuda Indonesia yang resmi berdiri Mei 2011 dan secara entitas bisnis terpisah dari Garuda Indonesia. Citilink memiliki kode penerbangan (IATA) QG dan saat ini seluruh armadanya masih menggunakan pesawat Airbus A320. Warna resmi dari Citilink adalah hijau daun dan putih.

Harga vs Servis di bandara

Citilink beroperasi dengan hub utama di bandara Juanda Surabaya (SUB) dan Hang Nadim International Airport Batam (BTH), plus hub tambahan di bandara Soekarno-Hatta (CGK). Dari Jakarta, pelayanan Citilink ada di bandara Halim Perdanakusuma (HLP) Jakarta ditujukan untuk penerbangan Jawa-Sumatera dan bandara Soekarno-Hatta (CGK) Jakarta terminal 1C untuk penerbangan Surabaya dan sisanya. Memang penerbangan Surabaya unik karena calon penumpang bebas memilih mau berangkat dari bandara yang mana dari Jakarta.

Harga tiket Citilink memang bisa dikatakan murah dan bersaing dengan sesama budget airlines seperti AirAsia. Harga untuk jurusan yang sama memang jauh lebih murah daripada harga tiket Garuda Indonesia kelas V (promo tanpa frekuensi) dengan jurusan yang sama. Jadi, untuk apa naik Garuda mahal-mahal kalau frekuensi untuk GarudaMiles-nya tidak dapat, mending naik Citilink – begitu pemikiran sebagian orang. Sebagai contoh, Jakarta-Denpasar. Harga antara tiket bolak balik dari Garuda dan Citilink bisa selisih Rp 800 ribu.

Check-in Citilink masih konvensional, semua serba manual dan harus di konter yang ada di bandara. City check-in mobile bisa 24 jam sebelum terbang namun sayangnya luggage drop baru bisa dilakukan 2 jam sebelum jadwal penerbangan. Jadi, kalau mau naik Citilink, tidak ada gunanya datang terlalu awal ke bandara.

Boarding time 45 menit bisa dibilang cukup lama. Tapi yang pasti penumpang memang benar ditunggui sampai tampak batang hidungnya. Adapun boarding pass Citilink memiliki bentuk bervariasi tergantung kebijakan bandara setempat. Sebagai contoh di CGK, boarding pass berbentuk karcis dengan QR code. Sementara di bandara lain boarding pass bisa berbentuk kartu biasa seperti boarding pass pada umumnya.

Contoh potongan boarding pass Citilink.



Soal ketepatan jam terbang, Citilink bisa dibilang tepat waktu tapi ciri khas Indonesia-nya tetap ada: “Beda lima menit gapapalah ya” rasanya sudah menancap juga di maskapai ini. Semua hal beda lima menit dari timetable. Tapi untuk sebuah maskapai budget baru rasanya ini sudah cukup baik.

Di dalam pesawat
Pramugari Citilink sebelas dua belas dengan Garuda Indonesia. Menurut penilaian sekilas dari saya: Harus cantik, khas Indonesia, tingginya harus 170 cm, cara jalan diatur banget, tapi soal kekuatan saya tidak terlalu paham apakah mereka memang sanggup mengangkat bagasi kabin yang rada berat. Karena toh ujung-ujungnya yang mengangkat-angkat beginian malah penumpang pria yang berotot, bukan mereka. Barangkali pembedanya hanya masalah seragam.

Informasi penerbangan Citilink dikemas dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Namun ciri paling khas soal informasi penerbangan dari awak kabin Citilink adalah pantun yang mereka sampaikan ketika membuka dan menutup pesan dalam bahasa Indonesia. Pantun-pantun tersebut diplesetkan sedemikian rupa sehingga kata-katanya pas untuk Citilink berpromosi. Satu yang saya ingat, kira-kira begini: “Kalau ada sumur di ladang, boleh kita menumpang mandi. Kalau lain kali akan terbang, jangan lupa pakai Citilink lagi.” Kreatif ya 🙂

Saya sempat mendengar penumpang sebelah bisik-bisik ke istrinya: “Gimana tuh pantunnya pas versi Inggris?” Jawabannya: Tidak ada pantun di versi Inggris. Period.

Soal kebutuhan pangan di pesawat, seperti halnya maskapai budget lainnya di penerbangan Citilink pun kita harus bayar untuk makan dan minum. Makanan paling laku keras di sini biasanya PopMie. Tak heran begitu acara gelar makanan dan minuman berlangsung di penerbangan, wangi khas PopMie merebak ke seluruh kabin. Saya yang tertidur saja bangun gara-gara wangi PopMie. Haha.

Citilink tak lupa menghadirkan majalah. Ajaibnya menurut saya penulis artikel traveling di majalah bertajuk Link ini hebat. Kalau tidak salah namanya Dewi Tunjungsari (maafkan namanya kalau kesenggol dan kalau keliru). Saya kebetulan membaca artikel soal Bandung di edisi Juni. Wah, penulisnya ini teliti benar. Semua dibahas sampai lengkap sekali. Diam-diam saya memuji Link ternyata lebih point-to-point ketimbang kakaknya Colours (majalahnya Garuda Indonesia). Titik beda lainnya adalah Link lebih fokus ke destinasi travel lokal, beda dengan Colours yang masih menjejak lokal sedikit meskipun serasa kaki sebelahnya ingin terbang ke luar negeri saja.

Kesimpulan:
Untuk mendapatkan layanan terbang budget namun berkualitas cukup baik, kita bisa mencoba Citilink. Jangan lupa antisipasi saat-saat lapar dan haus dalam penerbangan karena tidak ada makanan dan minuman gratis di sini. Pantun di pembuka dan penutup informasi penerbangan juga menjadi ciri khas Citilink.

Rating: 6,5/10

Tips mengoptimalkan Google Maps untuk traveling

Beberapa teman takjub dengan keberhasilan saya keliling beberapa negara yang jauh tanpa bantuan travel agent, tanpa orang yang saya kenal di negara tujuan, dan tanpa sinyal internet dari kartu SIM lokal. Bagaimana saya tetap bisa menikmati liburan dengan baik?

Saya beritahu salah satu rahasianya: Meminta bantuan Google Maps.

Di zaman sebelum semua hal didigitalkan, barangkali menyusun itinerary atau rencana perjalanan sendiri adalah tak mungkin. Alias missionimpossible. Namun dengan diciptakannya Google Maps, dan sejumlah aplikasi peta digital lainnya, keinginan untuk traveling sendiri tanpa bantuan tour atau pihak traveling menjadi sangat mungkin, bahkan mudah. Fasilitas yang ada di Google Maps tidak hanya meliputi peta, namun ia juga memfasilitasi GPS, penentuan jarak tempuh, lama perjalanan, rute angkutan umum, hingga kepadatan lalu lintas; semua sudah bisa disajikan secara gamblang dalam beberapa klik saja! Maka jelaslah kita sebagai traveler harus memuji aplikasi ini sebagai salah satu penemuan penting yang mendorong animo pertravelan dunia. Karena kehebatan Google Maps inilah, sejak merencanakan itinerary dari Indonesia, bahkan sampai ketika ada di jalanan di Eropa, saya masih saja mengandalkan Google Maps.
Nah, kali ini saya coba jabarkan beberapa tips dan trik memanfaatkan Google Maps, yang mungkin bisa berguna buat kalian selama traveling.
Tips #1: Tidak beli kartu SIM lokal? Andalkan Wi-Fi untuk pancing sinyal GPS di Google Maps.
Kalau kita traveling ke negara maju dan ke kota besarnya, biasanya kita tidak perlu membeli kartu SIM lokal karena seluruh kota sering sudah dijangkau sinyal wi-fi.
Nah, manfaatkan sinyal wi-fi tersebut bukan cuma untuk eksis di socmed dan pamer ke teman-teman. Daripada nanti kesasar, selalu manfaatkan waktu di mana kita bertemu sinyal wi-fi ketika makan siang, masuk supermarket, atau kapan saja bertemu wi-fi deh pokoknya, untuk mengaktifkan fitur GPS di Google Maps. Jadi, berdasarkan pengalaman saya mengaktifkan GPS di Google Maps dengan platform iOS 7.1.2, setelah kita meninggalkan daerah ber-wi-fi kita masih bisa menggunakan fitur GPS untuk menuntun kita ke tempat yang kita inginkan di Google Maps.
Tips #2: Rencanakan. Titik.
Kalau kita tinggal di hostel, bed and breakfast, ataupun hotel; biasanya akan ada sinyal wi-fi yang bisa kita akses semalaman. Manfaatkan juga akses di malam hari ini untuk merencanakan itinerary besok dengan tepat.
Teknik merencanakan itinerary tanpa bantuan tour sebetulnya mudah saja selama ada sinyal internet. Langkah-langkahnya kira-kira seperti ini:
1. Tentukan tempat mana saja yang ingin kita kunjungi di kota tersebut.
2. Tentukan titik-titik mana yang ingin dikunjungi dan tandai sebagai Favorite di Google Maps. Tempat yang kita masukkan ke wishlist ini akan bertanda bintang.
3. Kemudian lihat distribusi tanda bintang, sambil lihat skala Google Maps yang berlaku. Gabungkan titik-titik yang masuk dalam radius 1-2 km dalam itinerary untuk satu hari. Berikut contoh cara saya menandai peta Copenhagen, Denmark. Lihat skala di sisi bawah, untuk menduga-duga berapa jarak antara satu bintang ke bintang lainnya.
4. Tentukan kita akan mulai dari mana. Pastikan kalian sudah tahu bagaimana cara menuju tempat tujuan pertama dari tempat tinggal. Entah itu via jalan kaki, angkutan umum, ataupun menggunakan mobil sewaan. 
5. Catat rute yang direkomendasikan Google Maps dengan baik dan ikuti rute yang kalian buat sendiri tersebut. Buat rute dengan telaten mulai dari meninggalkan tempat tinggal hingga kembali lagi ke tempat tinggal.
6. Soal kecepatan: Be realistic. Tidak mungkin kita sanggup menyelesaikan itinerary yang berisi 15 tempat wisata dengan jarak jangkau 20 km dalam sehari! Alias, saya mau bilang: kalau buat itinerary harus masuk akal dan jangan terlalu serakah binti muluk-muluk. Cara menentukan tingkat realisme itinerary akan saya bahas dalam tulisan tersendiri nanti.
Tips #3: Hati-hati menginterpretasikan walking distance.
Biasanya Google Maps selalu menampilkan jarak tempuh jalan dengan garis biru putus-putus dan disebutkan berapa menit waktu tempuhnya. Jika kalian banyak mengandalkan tenaga kaki untuk traveling, hati-hati menginterpretasikan fitur Google Maps yang satu ini.
Bukan berniat mengungkit rasisme: Perhatikan bahwa lama tempuh untuk jarak tempuh tertentu dibuat berdasarkan kemampuan fisik bangsa Kaukasian (kulit putih). Berarti bisa dianggap, lama tempuh untuk ras Afrikan (kulit hitam) bisa lebih cepat (karena fisik mereka lebih besar-besar dan tinggi sehingga jalannya juga otomatis diasumsikan lebih cepat), dan untuk ras Asia akan lebih lambat.
Ayo ngaku siapa yang pernah membandingkan kecepatan jalan kaki diri sendiri dengan orang kulit putih, cepetan siapa? Ras Kaukasian memang jalannya cepat, terlebih mereka memiliki tinggi badan di atas rata-rata ras Asia, yang artinya tungkai mereka lebih panjang dan hanya dibutuhkan lebih sedikit tenaga untuk melangkahkan kaki lebih jauh. Sementara ras Asia, selain tubuhnya kecil juga kecepatan jalannya termasuk pelan. Wajar karena tungkainya pendek dan alhasil untuk menempuh jarak yang sama, ras Asia butuh jumlah langkah kaki lebih banyak daripada Kaukasian.
Jadi, kalau Google Maps mengeluarkan hasil “jalan kaki 800 meter atau 10 menit”, artinya jarak tempuh benar 800 meter. Tapi waktu yang dibutuhkan kita sebagai orang Asia bisa lebih lama. Bisa jadi, orang Asia butuh 15 menit untuk menempuh jarak 800 meter tersebut. Bukan 10 menit seperti yang Google Maps bilang.
Tips #4: Gunakan jurus kompas.
Biasanya smartphone sudah dilengkapi dengan aplikasi kompas. Kalau kita kebetulan memegang peta offline dan bingung jalanan mana yang harus ditempuh untuk menuju suatu tempat, gunakan saja ilmu kompas.
Dasar ilmu kompas adalah (setengah) ilmu trigonometri. Jadi utara itu 0 derajat, timur 90 derajat, selatan 180 derajat, barat 270 derajat. Itu saja prinsip dasarnya.
Caranya mudah: Lihat titik di mana kalian berada sekarang. Lalu lihat titik tujuan kalian. Nah, untuk menuju ke sana kalian menuju ke arah berapa derajat? Misalkan kalian mau menuju ke arah timur laut. Berarti arah tersebut kira-kira setara dengan 30-45 derajat atau 45-60 derajat. Kalau sudah tahu arahnya kira-kira ke berapa derajat, coba buka aplikasi kompas dan putar kompasnya sampai kalian membaca angka 30, 45 atau 60 di layar aplikasi. Nah, kalian tinggal lihat arah yang ditunjuk menuju ke mana, dan kalian tinggal berpatokan bahwa jalan manapun yang diambil, arahnya harus tetap ke arah tujuan.
Cara ini sudah berkali-kali berhasil menolong saya dari tersasar.

Tips #5: Gunakan hanya layer peta yang berguna.
Google Maps memiliki sejumlah layer alternatif yang bisa kita pilih untuk ditampilkan, sesuai kebutuhan. Namun ingat bahwa memasang semua layer hanya akan berakhir pada pemborosan mubazir, dan membuat peta kalian lama loadingnya.
Maka dari itu pilih layer yang perlu saja. Jika kita mengandalkan mobil sewaan, maka kita perlu menggunakan layer Traffic. Kalau kita pejalan kaki dan gampang keder dengan gunung atau perbukitan, jangan lupakan Terrain. Atau kalau sering tersasar karena bingung banyak belokan yang sama, gunakan layer Satellite. Namun jika kita menggunakan sepeda, ada gunanya menggunakan layer Biking. Dan akhirnya, penggemar angkutan umum wajib memasang layer Public Transit.
Nah, semoga tips ini bermanfaat buat menginspirasi kalian untuk coba-coba wisata kota sendirian. Happy traveling!

(20150622)

Antara Tiket Pesawat yang Murah dan Komponen di Baliknya

Baru-baru ini pemerintah kita membuat kebijakan kontroversial soal harga tiket pesawat minimum, yang tentunya membuat sebagian besar pemburu tiket murah berduka sekaligus mencak-mencak. Namun bukan soal keputusan Pak Menteri yang mau saya bahas. Melainkan tentang penyebab tiket itu bisa murah atau mengapa pula tiket tertentu bisa mahal. Mungkin, secara tidak langsung bisa dilihat juga sekalian, apakah sekiranya keputusan Pak Menteri itu berdasar atau tidak. Tapi sekali lagi saya tidak mau membahas politik-politikan kali ini.

Supaya objektif maka sumber yang saya ambil semuanya bertanggal sebelum 28 Desember 2014.

Readers Digest pernah membuat artikel tentang penyebab mahalnya tiket pesawat yang kita pesan. Sayangnya tidak ada tanggal tercantum di artikel ini, padahal jelas sudah lama artikelnya. Di sini dibahas bahwa membeli tiket pesawat di akhir pekan dan high season (musim liburan), penerbangan di prime time (siang menuju sore hari), sibuk mengejar frequent flyer, melupakan harga kursi dan harga bagasi ekstra, serta kebiasaan berburu tiket online di malam hari adalah segelintir penyebab membengkaknya harga tiket yang kita beli. Dari sini kita bisa melihat bahwa meskipun rutenya sama, harga tiket bisa berbeda antara penerbangan pagi dan sore. Bisa berbeda antara hari Rabu dan Sabtu. Bisa berbeda pula antara rute menuju dan rute pulang. Karena apa? Karena ketika suatu kota menjadi destinasi utama di saat-saat dan jam-jam tertentu, maka di situlah maskapai akan bertaktik dengan menaikkan harga tiket pesawat yang mereka jual.

Mungkin dari sini kita pun berkesimpulan, bagaimana cara mendapatkan tiket murah. Yaitu carilah tiket low season (dengan komitmen rela berlibur di saat orang lain tidak berlibur, dan tidak liburan di saat orang lain lagi seru-serunya liburan), beli tiket di siang hari, jangan di akhir pekan, dan sebagainya… Tapi, coba kita pikirkan kembali apakah memang hanya itu yang berpengaruh ke harga tiket? Kalau begitu, mengapa harga tiket pesawat full service bisa berbeda dengan harga tiket pesawat budget airlines?

Lalu, dari sebuah artikel bertanggal Juli 2012, ternyata AirAsia pernah mengemukakan rahasia mereka sukses menjajakan tiket murah. Ingat, Juli 2012, tentunya sebelum musibah QZ8501. Berikut ringkasannya (beberapa poin yang mirip-mirip sudah saya gabungkan, supaya lebih ringkas).

  1. Menggunakan pesawat sesering mungkin (kalau bisa diarahkan ke rute pendek), dengan jam terbang di udara per hari yang lebih banyak dan jam turnaround time (waktu pesawat berbalik di darat sebelum siap terbang lagi) yang lebih pendek daripada maskapai full service.
  2. Tujuan semata-mata mengangkut penumpang. Tidak ada biaya tetek bengek mulai dari pilih kursi, bawa bagasi, pencetakan tiket, frequent flyer service, uang retur tiket, surat kabar di dalam pesawat, layanan lounge airport, layanan fasilitas di bandara, dan makan minum di dalam pesawat.
  3. Tidak ada beda kelas dan tipe pesawat. Pilot, pramugari, dan teknisi semua dilatih untuk satu tipe pesawat saja (jadi menghemat biaya training).

Dan bisa dicek di tautan yang saya pasang di referensi, bahwa poin-poin itu dilansir sendiri oleh AirAsia (jadi jelas bukan saya yang mengada-ada).

Tentunya, jika kita hanya mendengar “resep murah” itu dari AirAsia, kita akan penasaran dengan maskapai budget lainnya di luar negeri, seperti Ryanair, Easyjet, AerLingus, Vueling, dll itu; apakah memang mereka semua (termasuk AirAsia) beroperasi dengan cara yang sama?

Infographic yang saya tampilkan berikut ini mencoba menjelaskan bagaimana perbandingan apple-to-apple antara maskapai budget dan maskapai full service. Kita bisa lihat mulai dari harga, bahwa Ryanair punya tiket yang harganya cuma seperdelapan British Airways (salah satu maskapai full service) dengan rute yang sama. Kok bisa begitu? Ini dia alasan-alasannya.

  1. Kapasitas pesawat dibuat lebih padat merapat (tak heran pesawatnya berasa sempit dan terkesan desak-desakan). Buat orang Asia yang badannya relatif kecil tentu tidak masalah. Namun buat orang barat tentu ini berpotensi sangat mengganggu karena ukuran tubuh mereka yang lebih besar.
  2. Turnaround time yang dipangkas jauh lebih pendek daripada maskapai full service.
  3. Tidak mengenal transit, langsung ke tujuan saja.
  4. Armada dan landasan yang dipakai di bandara pun khusus, biasanya yang sederhana dan berukuran kecil.
  5. Umumnya tiket dijual lewat internet.
  6. Tidak ada makanan dalam pesawat, tidak diizinkan bawa bagasi tambahan, dan berbagai larangan lainnya (yang kalau dilanggar = bayar).
  7. Pesawat yang dipakai hanya terdiri atas satu tipe. Biaya rawat dan training murah.
  8. Variasi proporsi gaji karyawan lebih lebar.
  9. Jumlah penumpang per karyawan maskapai bisa mencapai ribuan (bahkan Ryanair hampir 10.000 penumpang per karyawan), sementara maskapai full-service, seribu saja tidak ada.

Lalu, bagaimanakah dampak penghematan yang dilakukan maskapai budget itu terhadap total keuntungan mereka? Bisa dilihat juga di infographic bagian bawah. Ternyata, keuntungan terbesar disumbangkan oleh densitas kursi di pesawat yang padat merapat itu. Faktor lain yang tak kalah pentingnya yaitu biaya stasiun di bandara yang lebih murah, tidak adanya makanan dalam pesawat, tidak adanya komisi untuk agen tiket. Faktor yang ditakutkan sejuta umat, yaitu penghematan karena pemotongan biaya maintenance, ternyata sudah termasuk dalam cakupan faktor “higher aircraft utilization“. Dan jika maskapai budget itu mencoba meraup keuntungan dengan menekan biaya maintenance, faktor ini ternyata hanya berkontribusi kecil terhadap keuntungan maskapai budget; ketimbang jika mereka mencoba memadatkan isi pesawat hingga penumpangnya (ekstrimnya) mau selonjoran saja tidak bisa.

Masih penasaran juga soal variasi harga tiket? Saya ambil lagi satu referensi tambahan, Darjeelin. Di sini mereka mengungkap bahwa sebetulnya sulit menjelaskan mengapa tiket bisa dihargai sedemikian rupa, karena memang tiket pesawat punya banyak sub-elemen yang perlu dianalisis satu per satu. Di sinilah justru para maskapai berlomba-lomba memanfaatkan fluktuasi yang ada dengan memasang tiket-tiket promo di posisi tak terduga. Namun hal ini pun masih bergantung pada variabel internal tiap maskapai, yaitu kebijakan komersial dari masing-masing maskapai.

Mungkin masih penasaran dengan sumber lain? Terakhir, dari HowStuffWorks. Mungkin artikel ini pun hanya kompilasi, namun ada baiknya dipertimbangkan juga.

  1. Maskapai ini biasanya memesan bahan bakar di muka untuk setahun ke depan. Dengan asumsi harga minyak akan semakin naik, maka maskapai budget akan mendapatkan keuntungan berlipat ganda dari inflasi.
  2. Hanya gunakan satu tipe pesawat, tidak lebih. Jadi, semua pesawat yang kena gangguan akan direparasi dengan suku cadang yang setipe dan para teknisi tidak perlu pusing mencari suku cadang untuk tipe pesawat yang berbeda.
  3. Mencari lokasi di bandara yang khusus untuk maskapai budget.
  4. Tidak ada kursi kelas bisnis.
  5. Jumlah pramugari per penerbangan tidak sebanyak penerbangan di maskapai full service.
  6. Tidak ada makanan dan minuman di pesawat.

Jadi, kira-kira poin yang disampaikan pun senada dengan artikel-artikel sebelumnya yang sudah dibahas.

Namun uniknya, artikel ini menegaskan pula bahwa apabila maskapainya fair dan masih berpegang pada prinsip penerbangan yang baik, seharusnya maskapai budget dan maskapai fullservice punya derajat keamanan setara. Penulis artikel ini yaitu Ed Grabianowski menyebutkan lagi, bahwa “kecelakaan pesawat memang bisa terjadi, tapi maskapai budget tidak lebih rentan mengalami kecelakaan daripada maskapai full service“. Mungkin, ini hanya pendapat sang pengamat (yang merupakan seorang wartawan surat kabar di New York). Sayangnya, karena kecelakaan pesawat tergolong jarang terjadi (meskipun sekalinya terjadi memang eksposnya selalu luar biasa, sehingga terkesan sering, padahal sebetulnya jarang), kebenaran pendapat ini sulit dibuktikan, namun juga sebaliknya, sulit dibantah.

Jadi, sejauh ini saya tidak memberikan komentar apapun soal kebijakan baru dari Menteri Perhubungan kita soal tiket pesawat supermurah. Namun, kiranya bisa ditelaah sendiri dari uraian yang saya buatkan kompilasinya di atas, kira-kira keputusan beliau itu tepat atau tidak.

P.S. Tanpa mengurangi rasa hormat terhadap siapapun sehubungan dengan artikel ini, saya menyampaikan turut berduka atas korban bencana QZ8501.

Referensi:

  1. [Reader’s Digest]. Yang membuat tiket pesawat Anda mahal. URL: http://www.readersdigest.co.id/travel/traveler/yang.membuat.tiket.pesawat.anda.mahal/006/002/111
  2. [merdeka.com] Rahasia AirAsia jual tiket penerbangan murah. Updated 2012 Jul 3. URL: http://www.merdeka.com/uang/rahasia-airasia-jual-tiket-penerbangan-murah.html
  3. How can low-cost airlines be so cheap. Updated 2012 Dec 27. URL: http://tipsoftravelling.com/2012/12/27/how-can-low-cost-airlines-be-so-cheap/
  4. Memahami variasi harga tiket pesawat untuk terbang dengan murah. URL: https://www.darjeelin.co.id/perjalanan/memahami-variasi-harga-tiket-pesawat-untuk-terbang-dengan-murah.php
  5. Grabianowski E [How Stuff Works]. How budget airlines work. Updated 2009 Mar 12. URL: http://money.howstuffworks.com/personal-finance/budgeting/budget-airline1.htm