[Macau] Ruins of St. Paul Church

Reruntuhan gereja St. Paul merupakan salah satu landmark bergaya Eropa yang paling terkenal di Macau. Banyak turis yang menyatakan belum lengkap mengunjungi Macau tanpa berfoto di depan gereja yang tinggal facade-nya doang ini. Berikut review hasil kunjungan saya ke sana di Mei 2013.

Get to know
St Paul Church adalah saksi bahwa Macau pernah menjadi pusat kolegium Katolik terbesar di Asia, di abad 17. Namun karena kemudian Macau perlahan dikuasai oleh Hongkong, peran Macau semakin terabaikan dan nasib gereja menjadi kurang terurus. Akhirnya sebuah bencana taifun dan kebakaran menghancurkan gereja ini di abad 19, sehingga sampai sekarang hanya facade-nya yang tersisa.
Ruins of St Paul Church pun kemudian menjadi salah satu atraksi wisata dunia yang termasuk dalam daftar UNESCO World Heritage Site, bersama dengan Pont des Arts di Paris.

How to get there

Macau memang negara mini yang unik transportasinya, di mana tidak ada sarana transportasi umum selain taksi dan sistem bus antarhotel yang gratis. Oleh karena itu, sebetulnya kita bisa saja keliling-keliling Macau tanpa biaya sama sekali, apabila kita hapal letak semua hotel yang menggunakan sistem shuttle bus. Karena keterbatasan waktu untuk investigasi letak semua hotel, dan kurangnya pengalaman di tahun 2013, saya memilih menggunakan taksi dari MGM Hotel, dengan tujuan Largo de Senado (Senate Court). Ongkosnya saat itu sekitar MOP 20-30 dan hanya butuh waktu tak sampai 10 menit (maklum, Macau itu kecil, dan MGM plus gereja ini sama-sama terletak di pulau Macau dan bukan di Taipa).
Mengapa ke Largo de Senado, karena ini merupakan landmark lain yang terletak paling dekat dengan Ruins of St. Paul Church. Largo de Senado mudah dikenali karena tampilannya yang khas Eropa: Sebuah taman berlantai corak gelombang dan bergantian warna antara hitam dan putih, dikelilingi bangunan bercorak Eropa mirip benteng, dan di tengahnya ada air mancur.
Kalau kita sudah tiba di Largo de Senado, misi kita tinggal mengikuti arah panah petunjuk untuk mencapai Ruins of St. Paul Church. Jangan kaget jika jalannya masih sekitar 5-7 menit, agak berbelit-belit, dan kita harus membaca setiap petunjuk di panah agar tidak tersesat.

(9 Mei 2013) Waktu saya tiba di Largo de Senado, mereka sedang membangun sesuatu yang tampaknya adalah kios makanan sementara. Jadi corak tanah yang belang-belang sulit diambil fotonya.

Setelah menyusuri beberapa pertokoan, kemudian berbelok ke deretan toko kecil dan kios-kios yang menjajakan suvenir-suvenir murah meriah, ternyata tiba-tiba kita sudah disuguhi pemandangan gereja di depan kita!

First impression vs Second impression
Awalnya saya kaget melihat facade Ruins of St Paul Church pertama kali. Kok di sekitarnya ternyata banyak pertokoan dan toko eggtart ya? Nah, di situlah kehebatan para fotografer wisata profesional yang sanggup mengambil foto facade gereja TANPA diselipi citra bangunan-bangunan di tepi kiri-kanan gereja.

Ruins of St. Paul Church jika dilihat dari jauh. Bagaimana kesan kalian?

Facade Ruins of St Paul Church, jika dilihat lebih dekat.

Ya, jangan heran ketika melihat facade pertama kali, karena di kiri facade malah ada bangunan-bangunan mirip ruko di Hongkong yang berlantai 5-6, dan ada sebuah kelenteng kecil persis di bawah tangga teratas menuju facade gereja. Persis lurus di depan gerbang gereja, ada sebuah monumen bulat yang unik berbentuk dua manusia yang sedang bertukar suvenir dan dikelilingi sebuah burung, namun tetap saja kurang menjadi pusat perhatian karena persis di sebelahnya ada toko eggtart Pastelaria Koi Kei, yang terus menerus dipadati pengunjung.

Fotonya kurang fokus, mungkin saya juga kurang memperhatikan patung yang ada di arah jam 9 itu.

Jadi, kesan yang didapat ketika melihat Ruins of St. Paul Church langsung, buat saya sangat berbeda dengan kesan ketika melihat fotonya. Tapi untungnya, dengan kehati-hatian ketika mengambil foto, kesan aneh yang timbul ketika saya melihat gereja secara langsung pun dapat terobati.

Setelah naik beberapa puluh anak tangga (di pertengahan jalan), inilah pemandangan yang terlihat dari arah gereja.

Take zoom. And larger. And larger. Or, get closer. Close enough!
Meskipun tinggal muka depannya saja, St Paul Church masih tetap menarik dari segi arsitektur. Salah satu bangunan Portugis peninggalan sejarah ini memang terlihat sudah hangus di beberapa titik, namun secara umum facade gereja masih utuh dan terawat dengan baik. Gereja ini pun memiliki corak artistektur mirip gereja-gereja tua pada umumnya di Eropa, yang menjadikannya salah satu atraksi yang paling diminati turis di Macau.

Bahkan banyak juga orang yang senang menggunakan foto arsitektur gereja ini untuk dijadikan profile picture atau sejenisnya di akun social media masing-masing. Malah ada yang bilang bahwa bangunan ini membuat kita merasa ada di Eropa, padahal sedang ada di Macau. Terserah persepsi masing-masing orang kali ya 🙂

Kita lihat beberapa contoh detail arsitekturnya.

Tampilan arsitektur facade gereja dari salah satu “jendela”.

Ini relief paling terkenal dari Ruins of St. Paul Church, yang terletak di bagian tengah facade.

Pilar penyangga pintu gereja. Di atas pintu utama gereja, terdapat tulisan Mater Dei yang terkenal.

Look at the back!
Jangan lupa untuk menengok ke balik facade gereja, karena tampilan facade dari sisi dalam gereja juga cukup menarik untuk disimak. Cukup naik tangga sampai ke gereja (tidak terlalu banyak kok anak tangganya, hanya sekitar 100 atau kurang sedikit), lalu kita tinggal berjalan ke balik pintunya. Di balik facade ini juga ada beberapa kolam kecil dan di tembok pun dapat kita temukan foto-foto St Paul Church dari masa ke masa.

Ruins of St Paul Church dilihat dari belakang.

Rekaman foto sejarah yang menggambarkan peristiwa kebakaran yang menghancurkan St Paul Church, di tahun 1835.

Pemandangan sekitar sisi belakang facade Ruins of St Paul Church, musim semi 2013.
Tampilan kolam-kolam kecil yang ada di balik facade gereja.
Kolam yang dilihat dari dekat.

Don’t forget the eggtart!
Setelah selesai berkunjung ke reruntuhan gereja legendaris Macau ini, jangan lupa mencicipi eggtart Portugis yang supermanis dan bikin kangen: Pastelaria Koi Kei dan rekan-rekannya (toko-toko kompetitor yang saya lupa namanya) menjajakan eggtart yang sebetulnya rasanya sama semua, plus beberapa hidangan pastry yang tak kalah menarik untuk dicoba.

Toko eggtart yang ada di dekat kawasan gereja.

Kalau kepepet tidak punya mata uang MOP, bayarnya bisa pakai mata uang HKD, tapi pegawai toko di Macau sering iseng: Mereka menghitung kurs HKD 1 = MOP 1 (padahal kenyataannya di tahun 2013: HKD 1 = MOP 1.03). Atau mungkin saja toko-toko tersebut menerima pembayaran dengan USD? Saya tidak mencobanya, jadi belum bisa memberikan jawaban pasti.

(20130511)
Advertisements