Book Release 2: Panduan Andalan Menikmati Formula 1 Singapore Grand Prix (2014)

e-Book kedua saya sudah terbit di Gramediana! Ini adalah buku hasil re-writing dari buku berjudul “Panduan Formula 1 Singapore 2012” yang saya tulis pada Juli-Agustus 2014. Terbit di Gramediana sejak 25 Maret 2015, kini buku ini masih tersedia dengan harga Rp 49.000. Berminat menyaksikan balapan Formula 1 malam hari satu-satunya di Asia ini? Buruan order yah!

Terima kasih atas dukungan kalian semua…

 

Panduan Andalan Menikmati Formula 1 Singapore Grand Prix (2014)

Gramediana – 160 pages – IDR 49,000
ISBN 25032015203533
Published Mar 30, 2015

Kamu penggemar balap mobil Formula 1? Pasti tahu F1 Singapore Grand Prix. Kepengen nonton langsung balap malam ini? Buku ini akan menjawab rasa penasaran kamu! Diadakan sejak 2008, balapan yang satu ini memang beda dari balapan lainnya. Selain karena merupakan satu-satunya balapan yang diselenggarakan di malam hari, tapi juga suasana, hiburan, dan atmosfernya yang unik membuat sebagian besar penggemar F1 penasaran dan ingin menonton langsung F1 Singapore Grand Prix. Mulai dari persiapan, perkiraan anggaran, penyusunan itinerary, hingga pengambilan tiket, mencari pintu masuk arena, hingga aturan waktu nonton, trik mencari makanan, sampai trik untuk menonton konser; semua ada di buku ini. Dijamin, buku ini akan jadi referensi berharga buat kamu yang ingin jadi saksi mata langsung F1 Singapore Grand Prix berikutnya.

 

Advertisements

[Malaysia] Petronas Twin Tower Tour

Kalau kita ke Malaysia sudah pasti belum afdol rasanya kalau belum berfoto di depan menara kembar ini. Apa lagi kalau bukan Petronas Twin Tower. Nah, kalau sekadar datang ke depan menara dan berfoto di sana adalah kewajiban para turis di Kuala Lumpur, bagaimana kalau kita masuk ke dalamnya dan ikut menjelajahi tur keliling menara Petronas ini? Mari kita simak.

20160113_091241981_iOS

Continue reading

[Review Maskapai] Vietnam Airlines

Maskapai penerbangan dengan logo teratai ini mungkin tidak seterkenal maskapai top di Asia lainnya. Namun berhubung saya pernah menjajal penerbangan return dengan mereka, saya coba buatkan review-nya juga di sini.

Mengenal Vietnam Airlines

Vietnam Airlines merupakan flight carrier yang memiliki pangkalan utama di Saigon alias Ho Chi Minh City (dulu bagian dari Vietnam Selatan) dan Hanoi (dulu bagian dari Vietnam Utara). VNA juga masih menjadi satu-satunya flight carrier yang melayani rute Jakarta-Saigon vv (bolak balik) secara langsung tanpa transit. Mereka memiliki program loyalty bernama Lotus Miles, yang terdiri atas beberapa tingkatan.

Continue reading

Tips Mengelola Uang Logam ketika Traveling

Harga barang di mana-mana tidak ada yang benar-benar bulat. SGD 10, EUR 5, Rp 10.000, dan sejenisnya. Harga barang pasti ada buntut-buntutnya yang jelas mengurangi kecantikan uang kertas yang digunakan untuk berbelanja. Misalnya harga sebotol air mineral SGD 1.20. Terus bayarnya pakai uang kertas SGD 10, dapatlah kembalian SGD 8.80 yang ternyata semuanya uang logam!!

Tumpukan uang logam. Gak kebayang kan kalau lagi traveling terus koinnya bertumpuk sampai begini? (diambil dari koleksi Tempo, bukan hasil dokumentasi saya)

Continue reading

[Macau] Ruins of St. Paul Church

Reruntuhan gereja St. Paul merupakan salah satu landmark bergaya Eropa yang paling terkenal di Macau. Banyak turis yang menyatakan belum lengkap mengunjungi Macau tanpa berfoto di depan gereja yang tinggal facade-nya doang ini. Berikut review hasil kunjungan saya ke sana di Mei 2013.

Get to know
St Paul Church adalah saksi bahwa Macau pernah menjadi pusat kolegium Katolik terbesar di Asia, di abad 17. Namun karena kemudian Macau perlahan dikuasai oleh Hongkong, peran Macau semakin terabaikan dan nasib gereja menjadi kurang terurus. Akhirnya sebuah bencana taifun dan kebakaran menghancurkan gereja ini di abad 19, sehingga sampai sekarang hanya facade-nya yang tersisa.
Ruins of St Paul Church pun kemudian menjadi salah satu atraksi wisata dunia yang termasuk dalam daftar UNESCO World Heritage Site, bersama dengan Pont des Arts di Paris.

How to get there

Macau memang negara mini yang unik transportasinya, di mana tidak ada sarana transportasi umum selain taksi dan sistem bus antarhotel yang gratis. Oleh karena itu, sebetulnya kita bisa saja keliling-keliling Macau tanpa biaya sama sekali, apabila kita hapal letak semua hotel yang menggunakan sistem shuttle bus. Karena keterbatasan waktu untuk investigasi letak semua hotel, dan kurangnya pengalaman di tahun 2013, saya memilih menggunakan taksi dari MGM Hotel, dengan tujuan Largo de Senado (Senate Court). Ongkosnya saat itu sekitar MOP 20-30 dan hanya butuh waktu tak sampai 10 menit (maklum, Macau itu kecil, dan MGM plus gereja ini sama-sama terletak di pulau Macau dan bukan di Taipa).
Mengapa ke Largo de Senado, karena ini merupakan landmark lain yang terletak paling dekat dengan Ruins of St. Paul Church. Largo de Senado mudah dikenali karena tampilannya yang khas Eropa: Sebuah taman berlantai corak gelombang dan bergantian warna antara hitam dan putih, dikelilingi bangunan bercorak Eropa mirip benteng, dan di tengahnya ada air mancur.
Kalau kita sudah tiba di Largo de Senado, misi kita tinggal mengikuti arah panah petunjuk untuk mencapai Ruins of St. Paul Church. Jangan kaget jika jalannya masih sekitar 5-7 menit, agak berbelit-belit, dan kita harus membaca setiap petunjuk di panah agar tidak tersesat.

(9 Mei 2013) Waktu saya tiba di Largo de Senado, mereka sedang membangun sesuatu yang tampaknya adalah kios makanan sementara. Jadi corak tanah yang belang-belang sulit diambil fotonya.

Setelah menyusuri beberapa pertokoan, kemudian berbelok ke deretan toko kecil dan kios-kios yang menjajakan suvenir-suvenir murah meriah, ternyata tiba-tiba kita sudah disuguhi pemandangan gereja di depan kita!

First impression vs Second impression
Awalnya saya kaget melihat facade Ruins of St Paul Church pertama kali. Kok di sekitarnya ternyata banyak pertokoan dan toko eggtart ya? Nah, di situlah kehebatan para fotografer wisata profesional yang sanggup mengambil foto facade gereja TANPA diselipi citra bangunan-bangunan di tepi kiri-kanan gereja.

Ruins of St. Paul Church jika dilihat dari jauh. Bagaimana kesan kalian?

Facade Ruins of St Paul Church, jika dilihat lebih dekat.

Ya, jangan heran ketika melihat facade pertama kali, karena di kiri facade malah ada bangunan-bangunan mirip ruko di Hongkong yang berlantai 5-6, dan ada sebuah kelenteng kecil persis di bawah tangga teratas menuju facade gereja. Persis lurus di depan gerbang gereja, ada sebuah monumen bulat yang unik berbentuk dua manusia yang sedang bertukar suvenir dan dikelilingi sebuah burung, namun tetap saja kurang menjadi pusat perhatian karena persis di sebelahnya ada toko eggtart Pastelaria Koi Kei, yang terus menerus dipadati pengunjung.

Fotonya kurang fokus, mungkin saya juga kurang memperhatikan patung yang ada di arah jam 9 itu.

Jadi, kesan yang didapat ketika melihat Ruins of St. Paul Church langsung, buat saya sangat berbeda dengan kesan ketika melihat fotonya. Tapi untungnya, dengan kehati-hatian ketika mengambil foto, kesan aneh yang timbul ketika saya melihat gereja secara langsung pun dapat terobati.

Setelah naik beberapa puluh anak tangga (di pertengahan jalan), inilah pemandangan yang terlihat dari arah gereja.

Take zoom. And larger. And larger. Or, get closer. Close enough!
Meskipun tinggal muka depannya saja, St Paul Church masih tetap menarik dari segi arsitektur. Salah satu bangunan Portugis peninggalan sejarah ini memang terlihat sudah hangus di beberapa titik, namun secara umum facade gereja masih utuh dan terawat dengan baik. Gereja ini pun memiliki corak artistektur mirip gereja-gereja tua pada umumnya di Eropa, yang menjadikannya salah satu atraksi yang paling diminati turis di Macau.

Bahkan banyak juga orang yang senang menggunakan foto arsitektur gereja ini untuk dijadikan profile picture atau sejenisnya di akun social media masing-masing. Malah ada yang bilang bahwa bangunan ini membuat kita merasa ada di Eropa, padahal sedang ada di Macau. Terserah persepsi masing-masing orang kali ya 🙂

Kita lihat beberapa contoh detail arsitekturnya.

Tampilan arsitektur facade gereja dari salah satu “jendela”.

Ini relief paling terkenal dari Ruins of St. Paul Church, yang terletak di bagian tengah facade.

Pilar penyangga pintu gereja. Di atas pintu utama gereja, terdapat tulisan Mater Dei yang terkenal.

Look at the back!
Jangan lupa untuk menengok ke balik facade gereja, karena tampilan facade dari sisi dalam gereja juga cukup menarik untuk disimak. Cukup naik tangga sampai ke gereja (tidak terlalu banyak kok anak tangganya, hanya sekitar 100 atau kurang sedikit), lalu kita tinggal berjalan ke balik pintunya. Di balik facade ini juga ada beberapa kolam kecil dan di tembok pun dapat kita temukan foto-foto St Paul Church dari masa ke masa.

Ruins of St Paul Church dilihat dari belakang.

Rekaman foto sejarah yang menggambarkan peristiwa kebakaran yang menghancurkan St Paul Church, di tahun 1835.

Pemandangan sekitar sisi belakang facade Ruins of St Paul Church, musim semi 2013.
Tampilan kolam-kolam kecil yang ada di balik facade gereja.
Kolam yang dilihat dari dekat.

Don’t forget the eggtart!
Setelah selesai berkunjung ke reruntuhan gereja legendaris Macau ini, jangan lupa mencicipi eggtart Portugis yang supermanis dan bikin kangen: Pastelaria Koi Kei dan rekan-rekannya (toko-toko kompetitor yang saya lupa namanya) menjajakan eggtart yang sebetulnya rasanya sama semua, plus beberapa hidangan pastry yang tak kalah menarik untuk dicoba.

Toko eggtart yang ada di dekat kawasan gereja.

Kalau kepepet tidak punya mata uang MOP, bayarnya bisa pakai mata uang HKD, tapi pegawai toko di Macau sering iseng: Mereka menghitung kurs HKD 1 = MOP 1 (padahal kenyataannya di tahun 2013: HKD 1 = MOP 1.03). Atau mungkin saja toko-toko tersebut menerima pembayaran dengan USD? Saya tidak mencobanya, jadi belum bisa memberikan jawaban pasti.

(20130511)

Tips Survive dengan Transportasi Umum di Manapun

Salah kalau pertama kali masih bisa dimaklumi. Apalagi kalau berkaitan dengan sistem transportasi. Wah, itu sudah biasa. Tapi, pernahkah kalian merasa penasaran koq ada teman kita yang bisa selamat tanpa nyasar waktu naik MRT (mass rail transport) meskipun dia baru pertama kali naik MRT di negara itu? Sementara kalian sendiri nyasar melulu? Memang adakah rahasianya koq teman kita itu bisa selalu baik-baik saja ketika naik MRT, apakah memang faktor keberuntungan ataukah ada jurus tertentu ya?

Tenang, ternyata memang ada jurus tertentu yang bisa kalian praktikkan seandainya kalian termasuk kelompok yang sering nyasar waktu naik transportasi umum yang baru pertama kali dikenali. Mari kita lihat…

Tips #1: Ketahui tujuan terlebih dahulu
Kata Oom Stephen Covey (penulis The 7 Habits of Most Effective People), kebiasaan efektif nomor 2 memiliki makna bahwa kita akan lebih mudah sukses apabila kita terlebih dulu tahu tujuan kita tuh mau ke mana. Nah, ini berlaku juga untuk traveling, khususnya ketika naik kendaraan umum.
Kalau kita mau naik taksi, gampang tinggal sebut mau ke mana ke sopirnya, beres.
Tapi kalau naik MRT bagaimana? Mau tidak mau, kita harus menentukan dulu kita mau ke mana. Misalnya, ke museum X. Atau monumen Y. Lalu setelah itu, selidiki dulu stasiun bus atau stasiun MRT terdekat dari museum X atau monumen Y tersebut.

Tips #2: Tentukan metode transportasi yang diinginkan
Seandainya tempat tujuan kalian berjarak sangat dekat dari sebuah stasiun bus atau stasiun MRT, tentu sangat mudah memutuskan: Baiklah kita akan naik bus atau naik MRT saja. Tapi kalau jauh?
Tenang, kalau kebetulan tempat tujuan kalian jauh dari stasiun bus atau MRT, kalian bisa mempertimbangkan pakai taksi. Atau kalau tempat tujuan tersebut adalah sebuah tempat atraksi yang menawarkan bus shuttle, sebaiknya manfaatkan saja layanan tersebut.

Tips #3: Bayangkan rute di kepala: Hapalkan titik kutub dan lokasi ganti kereta
Barangkali awalnya jurus ini sulit dikuasai, tapi kalau kalian sudah menguasainya, dijamin kalian bisa menaklukkan sistem transportasi nyaris di seluruh dunia.
Untuk membahas jurus yang satu ini saya langsung pakai contoh saja supaya gampang. Kita ambil contoh sistem MRT Singapore.
Andaikan kita berangkat dari Sengkang dan ingin melihat Marina Bay Sands. Sesuai tips nomor 1, Marina Bay Sands ada di dekat stasiun MRT Marina Bay, NS27. Sementara Sengkang tentu ada di dekat stasiun NE16. Bagaimana caranya kita bergerak dari Sengkang menuju Marina Bay? (gambar bisa diklik untuk memperbesar)

Buka peta MRT Singapore dan lihat di mana posisi NE16. Lalu cari di mana posisi NS27.
Supaya gampang saya sudah beri tanda panah berwarna oranye di peta di atas.
Sekarang kita coba reka-reka bagaimana rute yang harus ditempuh.
Kita bisa lihat di peta bahwa NE16 memiliki jalur warna ungu dan NS27 memiliki jalur merah. Cari di mana perpotongan antara jalur ungu dan merah.
Sudah lihat?
Ya betul, perpotongan ada di stasiun Dhoby Ghaut interchange, NE6/NS24.
Lihat nama stasiun yang ada di ujung jalur NE setelah Dhoby Ghaut, alias NE1. Stasiun Harbourfront.
Kemudian lihat nama stasiun yang ada di ujung jalur NS setelah Dhoby Ghaut, alias NS27. Stasiun Marina Bay itu sendiri.
Ini artinya:
1. Di jalur ungu (NE), kita naik dari stasiun Sengkang, dan kita harus mengambil MRT yang menuju ke arah Harbourfront, kemudian turun di stasiun Dhoby Ghaut interchange.
2. Setelah turun, pindah ke jalur merah (NS), naik dari stasiun Dhoby Ghaut interchange, ambil MRT yang menuju ke arah Marina Bay. Turun di terminal paling ujung.

Nah, coba latihan pakai sistem metro Barcelona, Spanyol berikut ini.
Kasusnya kita mau naik metro dari stasiun Collblanc (line ungu) menuju ke stasiun Catalunya (line merah). Coba bayangkan seperti apa rute yang harus kalian tempuh, harus tukar jalur kereta di mana, dan sebagainya. (gambar bisa diklik untuk memperbesar)

Kalau sudah tahu caranya, saya bisa jamin 90% kalian akan bisa survive dengan sistem transportasi di hampir seluruh belahan dunia. Karena prinsip sistem transportasi umum di manapun di dunia ini (yang saya ketahui) selalu dibaca dengan metode yang sama.

Tips #4: Minta tolong website travel planner
Saya hanya hapal tiga: Singapore punya gothere.sg. Belanda punya 9292.nl. Dan Denmark punya rejseplanen.dk.
Jadi, kalau kalian kebingungan menentukan rute yang harus ditempuh, gunakan saja website-website travel planner seperti itu. Tinggal masukkan titik (alamat) asal kalian, titik tujuan kalian, dan kalian akan diberi rute yang di-generate oleh website tersebut. Web semacam ini cocok untuk kalian yang daya imajinasi rutenya kurang baik.

Tips #5: Pertimbangkan beli kartu
Kalau kita kebetulan akan berkunjung cukup lama ke suatu kota dan bakalan sering menggunakan sarana transportasi tertentu (1 hari bakal lebih dari 3-5 kali menggunakan sarana transportasi tersebut), pertimbangkan untuk membeli kartu layanannya apabila ada. Karena jika kita sering menggunakan salah satu sarana transportasi, kartu semacam ini sangat membantu kita dalam menghemat anggaran kala traveling.
Umumnya negara maju sudah memiliki sistem transportasi terintegrasi sehingga siapapun cukup membeli satu kartu yang bisa dipakai di berbagai sarana transportasi. Misalkan di Amsterdam, semua masalah transportasi bisa diselesaikan dengan kartu GVB. Atau di Hongkong dengan Octopus Card, Singapore dengan EZ-Link, dan di Madrid dengan Abono Turistico.
Jadi, jangan khawatir dompet akan terkuras kalau membeli paket transportasi ini. Namun satu hal lain yang perlu diperhatikan adalah jangan lupa menjaga kartu paket transportasi ini dengan baik, karena terkadang kartu tersebut demikian kecil dan mudah jatuh, terselip, atau hilang.

Tips #6: Hindari taksi (kalau tidak sedang kepepet)
Berpikir bahwa semua masalah soal transportasi bisa diselesaikan dengan taksi adalah KELIRU BESAR. Masalah taksi di Indonesia lebih ke soal keamanan dan kompetensi sopir. Tapi masalah taksi di negara maju lebih ke soal tarif.
Sopir taksi di negara maju umumnya sangat kompeten. Tidak ada namanya sopir yang tidak paham jalanan seperti sopir taksi premium di Jakarta. Bahkan beberapa penyedia layanan taksi sampai menyediakan servis bayar taksi pakai kartu kredit, lho.
Karena itulah kenyamanan naik taksi memang patut dibayar dengan harga yang setimpal. Naik taksi pun langsung identik dengan pengeluaran dana yang lebih besar. Kalau hanya sekali dua kali naik taksi, misalnya dari pusat kota menuju bandara atau sebaliknya, mungkin kantong kita masih tidak terlalu terkuras. Tapi kalau setiap ke mana pun selalu naik taksi, apalagi di negara mahal, sebaiknya jangan coba. Dompet terkuras dan (barangkali) kita pun nangis dibuatnya.
Sebagai referensi, berikut hasil observasi saya terhadap argometer taksi ketika flag down di beberapa kota:

  • Madrid, Spanyol: sekitar EUR 7 kalau dicegat di jalan, EUR 30 kalau pesan borongan.
  • Barcelona, Spanyol: EUR 6,5 kalau ditangkap di terminal taksi airport.
  • Stockholm, Swedia: SEK 101 kalau pesan pakai telepon.
  • Copenhagen, Denmark: DKK 75 kalau dicegat di jalan.
  • Amsterdam, Belanda: tidak ingat tepatnya, tapi sekitar EUR 5-7 kalau pesan pakai telepon.

Ah iya satu lagi. Beberapa negara memiliki keanehan dalam hal pemesanan taksi dan tentunya kita harus aware. Misalnya di Paris, Prancis: Kota ini punya kebijakan tak tertulis di mana kalau kita memesan taksi lewat telepon, maka argometer taksi sudah berjalan sejak taksi tersebut kita panggil. Jadi ketika kita naik ke taksinya, argometernya sudah berjalan beberapa waktu dan menunjukkan angka sekitar EUR 7-15. Jangan kaget karena ini hal wajar di Paris.
Jangan lupa soal Indonesia. Jakarta, kota di mana sopir taksi inkompeten yang tidak tahu jalan masih berkeliaran, justru mengenal kebiasaan memberi tip dalam jumlah cukup besar untuk sopir. Biasanya sopir minta tip (baik secara halus maupun kasar) sejumlah 5-10% dari tarif total yang dibayarkan.

Di negara maju, ingatlah bahwa prinsip “kapan saya boleh memakai taksi” ada tiga yaitu UPO.

  1. Unavailability: Apabila sistem transportasi kota tersebut tidak menyediakan metro/MRT dan tidak juga menyediakan bus dari pusat kota ke airport atau sebaliknya.
  2. Potential of danger: Apabila sistem transportasi umum kota tersebut masih kacrut sekacrut-kacrutnya sehingga menaiki sarana transportasi umum bisa mengundang bahaya.
  3. Overloaded: Apabila barang bawaan kita sangat banyak dan tentu kita tak sanggup menggotong semuanya naik ke sarana transportasi umum, turun darinya, dan jalan kaki sesudahnya.

Nah, semoga setelah membaca ini kalian bisa jadi sejago rekan kalian yang tak pernah tersesat di stasiun transportasi, ke manapun kalian jalan-jalan. Happy traveling!


[Hongkong] Hong Kong Park

Objek wisata lainnya yang juga tak kalah menarik selain Avenue of The Stars, adalah Hong Kong Park. Taman nasional ini memang terletak berdekatan dengan Victoria Peak, Peak Tram, dan Madame Tussaud HK, sehingga sedikit banyak pamornya tertutupi oleh objek-objek wisata tersebut.  Ditambah dengan pintu masuk yang terkesan “ketutupan”, tampaknya hingar-bingar eksplorasi taman wisata ini belum terdengar. Namun, tak ada salahnya untuk mencoba menelusuri taman berbukit ini.

Kalau masuk dari pintu belakang ketika musim dingin dan mendekati Tahun Baru Imlek, kita bisa menemukan dekorasi khas Tahun Baru Imlek seperti ini.

Monumen pejuang SARS

Danau di dalam Hong Kong Park, yang sering dijadikan tempat bersantai dan menikmati pemandangan.

Why come?
Buat penggemar botanical garden atau sekadar ingin mengoleksi kunjungan botanical garden di setiap negara, taman ini wajib dikunjungi. Selain menyajikan pemandangan alam khas China yang indah dengan danau dan taman bunganya, tak lupa dihadirkan pula konservatorium (Conservatory) dan taman burung (Aviary, dahulu Wavell House) dalam area taman ini. Tak lupa juga dihadirkan Flagstaff House yang kini menjadi museum teh (Museum of Teaware) dan Hong Kong Visual Arts Centre.

Pintu masuk Conservatory dengan dekorasi ala Tahun Baru Imlek: Tenang saja, tetap gratis

Koleksi tanaman di salah satu sudut konservatorium Hong Kong Park

Hong Kong Park buka tiap hari, pukul 6 pagi hingga 11 malam (kecuali konservatorium dan taman burung yang hanya buka pukul 9 pagi hingga 5 sore). Dan uniknya, bukan pemandangan aneh jika kita menemukan flashmob, acara pernikahan, atau kegiatan belajar bersama di sini.
Di samping itu semua, akses ke taman ini gratis! Termasuk konservatorium dan taman burung, semua bisa dinikmati tanpa mengeluarkan sepeser pun.

How to get there
Ada dua cara utama mengakses Hong Kong Park. Yaitu dari pintu depan dan pintu belakang.
Pintu depan, atau cara yang lebih lazim, adalah masuk dengan cara mengikuti eskalator-eskalator yang ada di dalam Pacific Place, Admiralty. Gedung perkantoran ini bisa dicapai lewat MTR Admiralty station, exit C1.
Pintu belakang, yang kurang lazim, dicapai dengan turun di MTR station Central, keluar lewat pintu K. Landmark yang perlu dicari dari sini antara lain Bank of China Building, Bank of China Tower, dan terakhir Central Fire Station. Setelah menemukan Central Fire Station, pintu belakang Hong Kong Park ada di seberang jalan.

How long?
Waktu ideal di sini bervariasi mulai dari 3 jam hingga seharian, tergantung kunjungan dilakukan dalam rangka apa dan dengan siapa.
Jika hanya berkunjung sendiri, bukan penggemar flora fauna yang intens, dan hanya sekadar menikmati pemandangan alam berlatar gedung pencakar langit, maka 2 jam pun bisa dikatakan cukup. Namun jika ingin berkunjung ke konservatorium, taman burung, museum teh, dan sebagainya, setidaknya alokasikan waktu sekitar 3-4 jam. Jika ingin berkunjung atau mencoba kursus di Hong Kong Visual Arts Centre (jadwal dan ketersediaan harus dicek terlebih dahulu), alokasikan sekitar 6 jam. Jika membawa anak-anak, mungkin waktu yang akan dihabiskan di konservatorium, taman burung, dan taman bermain anak akan lebih lama; sehingga alokasikan sehari penuh untuk kunjungan ke sana.

Para burung berbaris di Aviary Hong Kong Park

Jika ingin menyusun rencana perjalanan harian bersama dengan tempat-tempat lain, maka Hongkong Park bisa dimasukkan dalam jadwal sehari bersama Peak Tram, Madame Tussauds, dan Victoria Peak. Dianjurkan hanya alokasikan maksimal empat objek wisata ini dalam sehari, jangan lebih; agar semua objek wisata bisa dinikmati dengan maksimal.

Pemandangan Victoria Peak dilihat dari Hong Kong Park di musim dingin

Kapan idealnya datang kemari? Tidak ada waktu dan cuaca khusus. Di musim panas ada banyak acara yang bisa dinikmati, sementara di musim dingin biasanya beberapa fasilitas tutup; namun untuk menikmati pemandangan bisa tetap dilakukan bahkan di musim dingin sekalipun.

Conclusion
Hong Kong Park merupakan salah satu objek wisata berbentuk taman yang cukup menarik dan sayang untuk dilewatkan. Keindahan alam yang disajikan, kelengkapan fasilitas, free entrance, dan posisinya yang strategis, mudah dicapai dari MTR Admiralty Station, ditambah lokasinya yang berdekatan dengan Peak TramVictoria PeakMadame Tussauds, membuat tempat ini layak dimasukkan dalam rencana perjalanan di HK.

[Hongkong] Avenue of the Stars

Sebagai pembuka review mengenai tempat-tempat menarik di Hong Kong, kita mulai dari tempat wisata yang selalu masuk dalam daftar tempat yang perlu dikunjungi di HK ini. Letaknya di tepi sungai, hanya berupa taman terbuka, yang lantainya dihiasi banyak plat bergambar bintang dengan nama dan cap jari para selebriti. Namanya Avenue of The Stars.

Mungkin jika penasaran seperti apakah pemandangan di Avenue of The Stars, kira-kira penampakannya seperti ini.

Pemandangan di Avenue of The Stars, siang hari




Avenue of The Stars di malam hari, jam-jam setelah Symphony of Light berakhir


Why come?
Untuk penggemar film dan musik dari HK/Cantonese, tempat ini wajib dikunjungi karena di sinilah jejeran plat bercap resmi dari para selebriti setempat dipajang untuk dinikmati secara gratis. Patung Bruce Lee in action juga terpajang di sini, dan tentunya setiap tamu bisa mengambil foto di dekat patung ini tanpa dipungut bayaran. Ditambah adanya Symphony of Lights yang mengudara setiap hari pukul 20.00 waktu setempat selama sekitar 15 menit, membuat tempat ini nyaris tak pernah terlewatkan baik dalam rencana perjalanan perorangan maupun rombongan tur.

Bagaimana jika kebetulan bukan penggemar budaya Cantonese? Avenue of The Stars juga menawarkan pemandangan alam yang menarik dan khas HK, sehingga tentunya setiap turis yang berkunjung ke HK ingin mengambil foto diri dengan latar belakang bangunan-bangunan tinggi di seberang sungai. Atau jika masih kurang puas, di sini juga banyak berlalu lalang kapal-kapal tradisional maupun cruises yang juga bisa dinikmati para turis.

How to get there?
Avenue of The Stars bisa dijangkau dengan mudah menggunakan MTR. Silakan ikuti MTR jalur West Rail (pita lilac), ikuti saja jalur itu dan turun di stasiun East Tsim Sha Tsui. Atau jika tempat tinggalnya kebetulan ada di dekat jalur Tsuen Wan (pita merah) dan turun di stasiun Tsim Sha Tsui. Kedua stasiun ini tidak saling berhubungan kereta, namun berhubungan stasiunnya. Alias, keluar dari kereta di stasiun yang satu bisa jalan kaki dan tembus ke stasiun sebelahnya; demikian juga sebaliknya. Jadi jangan khawatir, Avenue of The Stars bisa dicapai dari kedua stasiun ini.
Untuk mencari Avenue of The Stars dari stasiun MTR ini agak merepotkan, karena kita perlu mencari exit J dengan penanda Avenue of The Stars (yang mana jalan menuju exit J itu sendiri relatif banyak belokannya). Namun jangan khawatir, karena begitu naik eskalator menuju pintu keluar stasiun, masih ada penunjuk jalan yang membantu menemukan tempat ini. Sebagai patokan tambahan, bisa juga menggunakan bantuan InterContinental Hotel sebagai landmark, yang letaknya kebetulan sangat berdekatan dengannya.

InterContinental Hotel

How long?
Waktu ideal di sini sangat tergantung dari rencana perjalanan yang sudah disusun. Rasanya waktu ideal berada di sini adalah sekitar 30-60 menit.
Biasanya rombongan tur hanya menghabiskan waktu 30 menit di sini. Jika rombongan tur berada dalam jumlah sangat besar dan sibuk mengambil foto sana sini, 30 menit itu akan sangat-sangat kurang. Namun jika jalan sendirian dan kebetulan bukan penggemar selebriti HK, 30 menit bisa jadi cukup.
Khusus jika ingin menikmati Symphony of Lights, perhatikan bahwa sebaiknya kita sudah ada di lokasi sejak 30-45 menit sebelum pukul 20.00. Jika datang di hari besar, misalnya Tahun Baru Imlek, perlu lebih awal lagi, mungkin 45-75 menit sebelum pukul 20.00. Karena kalau datang terlalu mepet jam 20.00, Avenue of The Stars sudah penuh sesak dan tarian sinar-sinar lampu pun bakal sulit dinikmati.
Kapan idealnya datang kemari? Usahakan menengok ramalan cuaca sebelum berangkat, karena kalau ada kabut dan hujan, Avenue of The Stars bisa jadi kurang menarik. Kabut bakal menghalangi pandangan ke seberang sungai, sementara hujan sudah pasti akan mengganggu lantaran tempat wisata ini ada di alam terbuka.

Contoh pemandangan Avenue of The Stars di saat cuaca mulai berkabut.

Conclusion
Avenue of The Stars termasuk salah satu objek wisata alam terbuka yang wajib dikunjungi di HK, mengingat tempat wisata ini gratis dan menawarkan pemandangan alam yang cukup menarik walaupun tidak benar-benar luar biasa. Menikmati Symphony of Lights juga bisa menjadi nilai tambah tersendiri. Upayakan datang ketika cuaca cerah tanpa kabut, siang atau malam tidak terlalu menjadi masalah.