Driver of The Day vs Nasionalisme

Sebagai penonton yang mulai mengikuti Formula 1 sejak 12 tahun yang lalu, saya telah menyaksikan banyak sekali perubahan di dunia balapan jet darat. Dari mobil yang bising memekakkan luar biasa, menuju mesin yang lebih “tenang”, hingga melintasi urusan silih bergantinya aturan kualifikasi, aturan pemberian poin, aturan penjadwalan balapan, tibalah juga pada urusan bursa pembalap. Maka, tak mungkinlah saya tidak menaruh perhatian pada pembalap Formula 1 pertama asal Indonesia, Rio Haryanto.

rio-haryanto-88

Mobil Rio Haryanto, Manor Racing. Sumber dari juara dot net.

Saya rasa semua penonton Formula 1 asal Indonesia pasti pernah berandai-andai bagaimana kalau lagu Das Deutschlandlied, Marcha Real, God Save The Queen, atau apapun lagu itu, berubah jadi lagu Indonesia Raya. Memang di tahun 2004, rasanya amat mustahil buat Indonesia untuk bisa mengirimkan wakil ke Formula 1. Tapi tetap saja, pengandai-andaian itu seolah jadi doa sejuta umat agar Indonesia bisa punya pembalap Formula 1 di masa depan.

Memang tidak gampang bagi pembalap berkebangsaan negara dari benua Asia untuk masuk ke Formula 1 dengan mulus seperti rekan mereka asal Eropa. Penyebabnya, saya rasa, bukanlah diskriminasi semata. Memang ada kesan amat jelas bahwa bangsa Eropa menganggap merekalah yang paling berhak merajai Formula 1, karena cikal bakal Formula 1 betul berasal dari balap mobil seantero Eropa. Penggagasnya kebanyakan orang Prancis, Italia, dan Inggris. Namun faktor lain juga memegang peranan. Amat jelas bahwa secara umum, dunia otomotif Asia lebih memilih fokus dalam hal bisnis semata, ketimbang berebutan lahan balap mobil dengan bangsa Eropa tadi. Ditambah lagi fakta bahwa ekonomi bangsa Asia kebanyakan masih tergolong negara berkembang, sehingga jumlah dana sponsor yang dibutuhkan untuk bisa berkiprah di Formula 1 pun jadi relatif sulit dijangkau.

Tapi itu semua tidak menghalangi Rio memasuki Formula 1, di tahun 2016. Ia telah berhasil melewati gawang pertamanya dengan baik.

Memang Rio terlihat sudah “sukses” mengatasi faktor-faktor pemberat buat bangsa Asia di Formula 1 tadi. Namun, tak semua orang Indonesia cukup dewasa menyikapi keberhasilan Rio. Entah itu karena mereka belum memahami betapa sulitnya seorang pay driver bertahan di rimba Formula 1 (yang kerap dihantui sifat rakus Bernie Ecclestone di setiap waktu), terpesona dengan tampang Rio yang (katanya) imut-imut, terlalu larut dalam euforia tembusnya Indonesia ke Formula 1, ataukah belum paham seluk beluk Formula 1 tapi ikut-ikutan bergegap gempita saja. Mereka tiba-tiba saja jadi komentator dan tiba-tiba saja rajin mengikuti Formula 1, olahraga yang tadinya hanya mereka pandangi dengan sebelah mata.

Buat sebagian orang semacam ini, keberhasilan Rio ini harus dipandang dengan dua mata oleh dunia. Seolah seluruh dunia harus menoleh atas keberhasilan orang Indonesia menembus Formula 1. Tak peduli bagus buruknya prestasi Rio, dunia harus respek padanya. Fenomena ini terlihat amat jelas ketika Formula 1 memperkenalkan penghargaan baru bertajuk Driver of The Day, tepat di musim 2016 ini juga.

Mobil Kevin Magnussen, Renault Sport F1 Team. Sumber dari Formula 1 dot com.

Indonesia punya jumlah penduduk yang banyak, plus jumlah penduduk melek teknologi yang juga banyak. Akibatnya, jangan pernah remehkan kekuatan Indonesia kalau sudah berkenaan dengan urusan voting. Apalagi kalau urusan voting itu direkatkan dengan bumbu bernama nasionalisme. Pasti jagat maya Indonesia langsung heboh. Ramai-ramai voting, kalau perlu voting berulang-ulang yang sangat Bhinneka Tunggal Ika. Nama yang memberi vote berbeda-beda, tapi sumbernya satu jua. Atau dibalik: sumber votenya berbeda-beda, tapi nama yang memberi vote satu jua.

Tapi fenomena ini tidak dimanfaatkan secara dewasa. Khususnya dalam tajuk Formula 1 Driver of The Day ini.

Di balapan Australia 2016, atas nama nasionalisme, orang Indonesia merasa sah-sah saja memberikan vote Driver of The Day kepada Rio. Padahal sudah jelas yang bersinar di balapan itu bukanlah Rio. Rio sendiri tidak finis karena mobilnya bermasalah di lap 19. Tapi hebatnya, Rio mendapat voting terbanyak untuk Driver of The Day di balapan tersebut. Namun akhirnya ia didiskualifikasi karena banyak vote yang berasal dari sumber yang sama. Gelar jatuh ke tangan pembalap dengan suara terbanyak kedua, Romain Grosjean asal Prancis yang memperkuat tim Haas.

Jangan lupa bahwa orang Indonesia juga pintar, amat piawai mencari celah, termasuk soal rekayasa voting. Setelah aturan Formula 1 soal jumlah voting berubah, para orang piawai ini pun tak gentar. Tinggal ganti VPN, ganti IP address, mereka jagonya. Australia gagal, Bahrain harus dapat. Dan ternyata gelar pun kembali jatuh ke tangan Grosjean. Setelah orang-orang Indonesia mengaku sudah melakukan bom voting buat Rio.

Saya sendiri memang punya favorit, tetapi saya cenderung tak peduli. Toh, apapun yang terjadi dengan pembalap atau tim favorit saya, saya tidak akan terkena dampak apapun. Maka, tak heranlah kalau saya, yang selama 8 tahun ini memfavoritkan Sebastian Vettel, malah terang-terangan tidak mau memilih dia sebagai Driver of The Day di Australia maupun di Bahrain. Di Australia Vettel melakukan kesalahan taktik, yang berakibat fatal terhadap peluang kemenangannya. Sementara di Bahrain, Vettel malah tidak balapan sama sekali karena mesinnya meledak di formation lap. Dengan memberikan vote saya untuk Vettel, saya akan menunjukkan fanatisme buta yang tidak akan ada gunanya.

Sehingga, saya rasa wajar jika saya menganggap taktik voting buat Rio yang demikian itu juga adalah suatu pembodohan. Pembodohan yang bisa mencoreng nama Rio, bisa pula kian mencoreng nama Indonesia dalam urusan voting-votingan (setelah kasus European Music Awards 2011 dulu). Praktik semacam ini sama saja dengan guru yang memberi nilai tinggi untuk anak dengan jawaban ujian yang salah dan mengabaikan anak dengan jawaban yang benar. Atau dengan bos yang lebih mengutamakan merekrut keluarganya sendiri untuk posisi penting ketimbang mendatangkan orang yang sungguh kompeten tapi tidak bertalian darah dengannya. Itu tidak adil namanya. Nah, inilah yang membuat saya sungguh heran. Orang Indonesia berkata sudah muak melihat praktik ketidakadilan semacam itu. Tapi di mata dunia mereka justru dengan bangga terus melakukan hal serupa, dengan berlindung di balik topeng nasionalisme.

Buat saya, tidak ada hubungannya antara voting Driver of The Day dengan nasionalisme. Menjadi seorang nasionalis dan menjadi seorang yang objektif adalah dua hal yang sangat berbeda. Saya tidak mengatakan bahwa saya tidak akan vote untuk Rio di ajang Driver of The Day. Bagaimana kalau suatu hari nanti dia bisa melakukan terobosan balapan yang menarik dan memukau orang? Tentu saya akan memilih dia, dengan satu catatan: Dia harus berbuat sesuatu dan itu menjadikan dia terlihat menonjol di balapan itu.

Ah. Saya tidak bisa memaksa jika isi pikiran kalian tidak sesuai dengan saya. Tapi pikirkan kembali: Apa jadinya kalau di akhir karirnya nanti Rio hanya diingat karena bom voting itu, dan bukan diingat karena prestasinya?

Kodak, Nokia, dan Blue Bird: Antisipasi Teknologi dan Pilihan Masyarakat soal Taksi

If you can’t fly, then run.
If you can’t run, then walk.
If you can’t walk, then crawl.
But whatever you do,
You have to keep moving forward.

Sudah lebih dari 40 tahun berlalu sejak Martin Luther King Jr. (1929-1968) mengutarakan kalimat ini. Namun dampak apabila kita mengabaikan kalimat tersebut, masih bisa dirasakan sepanjang zaman.

lutherking

Kalau di awal dekade 2000-an Kodak jatuh karena terlambat mengantisipasi hadangan fotografi digital setelah sempat puluhan tahun merajai dunia kamera; di awal dekade 2010-an pun jadi saksi bagaimana Nokia terpuruk karena terlambat mengantisipasi gempuran smartphone setelah sekian tahun tak terkalahkan di dunia ponsel; bukan tak mungkin bahwa di dekade-dekade selanjutnya, fenomena revolusi digital bakal semakin banyak memakan korban.

Antisipasi kemajuan zaman dan teknologi memang bukan melulu ranahnya pengusaha elektronik dan gadget. Kini, berbagai bidang industri pun harus melek dengan teknologi. Bukan cuma menyajikan layanan bermutu tinggi untuk bidangnya masing-masing, tapi setiap industri pun tanpa sadar dituntut untuk mampu menyuguhkan kecanggihan teknologi yang bisa membuat masyarakat menikmati layanan mereka tanpa kesulitan.

Kalau mau mengaitkan bahasan di atas dengan masalah taksi, yang beberapa hari ini sedang marak dibahas di mana-mana, ternyata tetap saja ada hubungannya. Taksi, yang entitasnya adalah sebagai bagian dari bidang usaha transportasi, pun ternyata harus mengantisipasi hal yang sama. Nah, salah satu alasan mengapa layanan taksi plat hitam (atau untuk lebih halusnya: Taksi alternatif) lebih disukai masyarakat, di luar urusan kelakuan sopir, adalah kemudahan dan kelengkapan fitur yang bisa diakses pada aplikasinya.

taxi_800x669

Kalau kita cermat menyaksikan bagaimana evolusi cara pemesanan taksi Blue Bird atau Express, jika kita bandingkan dengan cara pemesanan taksi alternatif, akan terlihat jelas bahwa cara pemesanan taksi resmi mirip dengan Kodak dan Nokia. Mereka sudah berlangkah-langkah di depan pada sekitar lima tahun yang lalu. Namun antisipasi revolusi teknologinya minim. Alhasil, cara pemesanan taksi premium kini dan lima tahun yang lalu masih sama-sama saja. Sementara pemain baru tiba-tiba menggebrak dengan metode pemesanan online yang sangat mudah!

Sejak saya pertama kali menggunakan layanan pemesanan taksi Blue Bird sekitar lima tahun yang lalu, nyaris tidak terlihat ada perubahan bermakna. Lima tahun yang lalu, 2011, saya punya dua alternatif cara memanggil taksi Blue Bird. Pertama, dengan menelepon nomor tertentu. Tunggu panggilan tersambung, lalu sebutkan nomor ponsel yang terdaftar, kemudian sambung dengan tempat penjemputan dan jam berapa minta dijemput. Atau yang kedua, dengan menggunakan aplikasi yang ala kadarnya (ingat, ini tahun 2011), yang cuma punya fitur memasukkan alamat penjemputan dan informasi nomor pintu taksi.

Dalam kurun waktu lima tahun, saya cukup sering menggunakan taksi Blue Bird (sebetulnya saya pernah menggunakan Silver Bird, tapi frekuensinya masih bisa dihitung dengan jari alias sangat jarang). Bukan karena memang betul-betul menyukai taksi yang satu itu, tapi lebih karena memang banyak institusi yang hanya mau menanggung transportasi dengan taksi Blue Bird. Ternyata, sedemikian besarnya kepercayaan korporat terhadap Blue Bird selama ini. Kepercayaan yang saya lihat tak pernah berubah selama lima tahun saya mengamati armada taksi nomor satu Indonesia ini.

Seribu sayang: Tidak cuma kepercayaan korporat yang tidak berubah. Melainkan juga cara pemesanan taksi mereka. Tak ketinggalan aplikasi pemesanan taksi di ponsel, itu juga tidak banyak berubah.

Saya rasa bukan hanya saya yang mengalami deg-degan ketika sopir taksi yang dipesan tidak bisa dideteksi radar aplikasi Blue Bird. Bukan hanya saya yang mati bosan menunggu SMS konfirmasi nomor pintu taksi ketika saya memesan taksi lewat telepon (dan sebagai info saja, SMS itu tidak pernah datang). Bukan hanya saya yang kebingungan ketika sopir taksi yang aktual berwajah dan bernama berbeda dengan sopir taksi yang terpampang di kartu identitas. Dan bukan hanya saya yang merasa aneh dengan taksi yang mendadak menghilang ditiup angin lantaran lebih memilih mengangkut penumpang lain dan membatalkan pemesanan kita, hanya karena malas.

Di akhir tahun 2015, di saat taksi alternatif bernama Uber mulai menjamur di Jakarta, mereka hadir dengan cara pemesanan taksi yang sungguh revolusioner. Seluruh cara pemesanan sudah hadir secara digital. Bahkan yang lebih gila lagi, sama sekali tidak ada manusia di Customer Service Uber. Memanggil taksi ataupun menyampaikan keluhan? Semuanya tinggal pencet, tidak perlu bicara sampai berbusa-busa.

Mulai dari cara pemesanan yang mudah: Tinggal masukkan titik penjemputan dan titik drop off.

Lalu ada skema tarif yang begitu transparan. Enak buat pemesan, bisa berjaga-jaga sambil menghitung ongkos perjalanannya.

Lalu kita bisa mendeteksi secara live (ingat, live!) pergerakan sopir yang kita panggil.

Kita juga bisa membatalkan pemesanan jika sopir menunjukkan gelagat tidak bagus.

Ketika selesai, langsung ada billing digital mampir ke e-mail kita.

Di zaman sekarang, di mana nyaris semua pengguna taksi sudah menggunakan ponsel pintar, cara pemesanan seperti itu sangat memudahkan. Tidak ada lagi deg-degan menunggu SMS yang tak kunjung tiba. Tidak perlu lagi berbusa-busa menyebutkan nomor ponsel sendiri kala memesan taksi lewat telepon. Tidak ada lagi acara bingung, karena semua mobil dan pengemudinya bisa diperiksa wajah, nomor platnya, dan tipe mobilnya secara transparan. Bonus: Tak ada lagi kejadian jantungan melihat argometer gara-gara sistem tarif yang tidak transparan buat pengguna taksi!

 

OK-easy-open

Kemudahan dan keterbukaan: Dua hal yang disukai masyarakat dan diharapkan hadir di konsep berbagai barang yang sedianya dipromosikan ke mereka.

 

Mudah dan transparan. Sebetulnya itu yang dicari masyarakat. Bukan sekadar “perusahaan taksi ini punya landasan hukum atau tidak”, atau “perusahaan taksi ini membayar pajak atau tidak”. Memang membayar pajak itu penting. Namun selama layanan revolusioner itu ada, memudahkan, dan transparan, mengapa tidak? Bukankah sekarang ini zamannya semua serba mudah dan serba transparan? Bukankah mudah dan transparan itu adalah dua prinsip utama dalam mengemas sesuatu, apapun itu, di era 2010-an ini? Bukankah akan lebih baik mempertahankan kemudahan dan transparansi, sambil kemudian urusan hukumnya ditangani dengan kepala dingin?

Seperti halnya balap mobil Formula 1 yang mana keunggulan jauh kadang bisa lenyap sekejap hanya karena safety car, perusahaan yang sudah unggul jauh pun kadang bisa tiba-tiba tersentak hanya karena kurangnya antisipasi terhadap derasnya terjangan teknologi. Dan seperti kata Martin Luther King Jr., apapun yang dilakukan seseorang, selama ia hidup, adalah harus bergerak maju.

 

[sebagaimana diposkan di akun Qureta saya]

Deactivate Account

Deactivate account.

Mungkin ketika pertama kali membaca kata-kata itu di bagian Settings di aplikasi sosial media kita, sepintas hati kita bakal berkata, “Tidak mungkin saya menekan tombol itu!”.

Mungkin juga kata-kata itu terdengar agak menakutkan. Terutama buat kita yang sudah merasa bahwa menunjukkan diri kita adalah bagian tak terpisahkan dari eksistensi di dunia era 2010-an.

Kira-kira, apa alasan orang men-deactivate account media sosialnya?

Continue reading

New Year Resolution

New year is coming. What words now? Resolution? Think again.

Another new year is coming. Just like last year, few years ago, decades ago, or maybe before I was born, people keep making wishes. And creating bunch of items in a list of “new year resolution”…

I regard this action to be useless in certain ways. Why? What? I will describe it here.

New year marks a change of number on the end of each date we write down (or type, or input into anything). For many people, including us, this change means so much, so that we really want to cherish the very moment of change into something meaningful. But what medium should we prefer to use?

To create a poet of love or send a bucket of flowers? We consider Valentine’s Day, Mothers Day, Thanksgiving Day, or Fathers Day will be more proper time to do so.

To send ourselves a cake? We consider that we should wait until the next birthday anniversary party to do so.

To wish upon a star? We understand that not every New Year’s Eve is marked with meteorite rain or special comet sight. So we cannot do that, certainly.

But in the end of the day, we still want to be better.

Not only on the New Year’s Eve. But in every chance that we get, every opportunity to rethink about what we have gone through, we will start to think about the better future of ourselves. And we will want to be better, alwaysthe most logical remaining aspect, is the wishes themselves. We still want to wish for the better day when it comes. And this also applies for New Year. Then there it is: New Year Resolution.

We are so eager to make New Year Resolution list. Packed with all the things we want to see happening to us in the following year. Some wants to look slimmer, some wants to have more money, some wants to have better jobs, some wants more children, some just wants more happiness. But we often forget something.

If we have a dream, we must have a plan to make that dream come true. To have a road map for our dream realization will help us a lot to make our dreams become reality. Not just beautified words in our bucket list named “New Year Resolution”. Those words will stay as words at the end of June, if we don’t have any road map to guide us moving forward.

Rather than having a monstrous amount of items in our bucket list, I think it is better if we have only few, but feasible.

Only few, but it is still in our range of arms to reach them all. Then we will be more focused on realizing those items. Rather than fulfilling one by one of huge number of items, I bet most of us only able to stand until March, before then we decide to give up all resolutions and wait until December to create new ones.

The other problem is about feasibility of our dreams. We often dream about anything, and sometimes dream about reaching something beyond our capability. Before such dreams turn into reality, we may be expected to do some realization. After such realization finished, we may have a better and feasible target to achieve in the following year.

So please. Please stop saying things named Resolutions, but only saying without doing something. Do something. What we need is to do something. That is the real resolution!

If you have a bad record on committing, then don’t create a bunch of list. Go on with small number of items you would like to do.

If you have a good record on realizing your resolutions in previous years, keep doing your job! Challenge yourself with new resolutions, but remember to stay calm, stay humble, and always create your goal within feasible fence.

So, another new year is coming. What words will be your resolution? Have you thought about it? Have you create a plan to make it come true?

Don’t ever let your new year resolution lists be like others. Don’t let them stay as words. Because they will be as useless as usual.

Catatan: Terima kasih sudah membaca sampai selesai. Tulisan ini sudah saya muat sebelumnya di profil Medium saya. Jika berkenan silahkan di-follow. Happy new year!

Mie Instan

Kita adalah korban radikalisasi mie instan.

Memang ada orang yang menolak makan mie instan karena takut pada zat pengawet atau zat lilin yang menempel ketat di sisi luar mie instan. Tapi bukan kuliner yang saya bahas.

Terlepas dari kita makan mie instan atau tidak dalam kehidupan sehari-hari, kita telah menjiwai nyaris semua esensi keliru yang ditanamkan mie instan. Mari kita lihat.

Continue reading

Mari kita pamerkan ini ke teman-teman sekolah dulu!

Tujuan reuni sekolah hanya ada dua, dan salah satu tujuan yang lebih penting adalah PAMER.
(@triskaidekaman tweeted on May 31, 2015; 11.34 GMT +7, Tweetbot for iOS)

Nah loh kenapa saya sampai ngetwit begitu?

Saya baru melihat ada beberapa teman mengajak reuni sekolah. Lalu saya berpikir dan muncullah tulisan semacam ini.

Pertama saya pisahkan dulu soal reuni sekolah dan pamer. Itu dua hal yang berbeda, meskipun ada unsur keterkaitannya.

Sebagai grammar nazi, saya harus mulai bahasan ini dengan cara begini: Reuni adalah kata serapan dari bahasa Inggris (sepertinya), yang artinya bersatu kembali. Reuni bisa diidentikkan pula dengan istilah yang lebih “Indonesia”, yaitu temu kangen. Di Indonesia ini reuni memang identik dengan acara pertemuan kembali dengan teman lama, entah itu teman satu sekolah waktu kecil, teman satu sekolah waktu remaja, teman kuliah, teman di perkumpulan yang pernah ada di masa lalu, atau teman di kantor lama. Pokoknya, selama ada unsur “dulu pernah kenal”, “sekarang tidak bersama lagi”, dan “sudah lama tidak ketemu”; maka pertemuan itu bisa disebut sebagai reuni.

Sementara itu di kutub lain, pamer adalah kebutuhan dasar manusia secara naluriah. Manusia ingin diperhatikan, ingin dilihat orang, ingin dianggap ada. Jadi kalau seseorang memamerkan sesuatu, pastilah harapannya adalah agar orang lain memperhatikan. Entah rasa apa yang diharapkan dari seberang sana: Iri dengki, mupeng, prasangka, motivasi, atau apapun. Sering si pemamer tidak ingin tahu. Yang penting ya pamer aja, reaksi orang bagaimana ya terserah orang itu. Dari sisi kita, jika melihat teman yang pamer makanan, kita jadi lapar, atau jadi penasaran makanan apa itu ya kok kelihatannya enak? Jika melihat teman yang pamer foto jalan-jalannya, kita jadi takjub melihat foto yang bagus, penasaran dia pakai tur apa, atau malah berprasangka buruk apakah teman kita itu habis mengguna-gunai bos-bos sehingga bisa bepergian terus setiap bulan. Atau melihat teman yang pamer anak, kita jadi gemas melihat bayi yang lucu, atau malah marah-marah sendiri karena kebetulan ibu mertua ikut melihat foto tersebut dan langsung mengarahkan tatapan menyindir.

Sial, jadi ke mana-mana.

Balik lagi soal hubungan antara reuni sekolah dan pamer. Kali ini lebih serius.

Reuni sekolah, apalagi buat yang sudah T** alias berumur, tentu menjadi ajang perlombaan terselubung, yang entah memang jadi tradisi reuni sekolah ataukah memang adat manusia yang hobi membanding-bandingkan. Mengapa demikian? Coba perhatikan siapa saja orang-orang yang biasanya mau jadi panitia reuni sekolah. Biasanya mereka yang sudah (biasa disebut) sukses dalam hal kebutuhan pokok, pekerjaan, dan keluarga. Biasanya mereka-merekalah yang sibuk mengumpulkan teman-teman lainnya. Memangnya pernah orang yang sedang menghadapi kasus perceraian, misalnya, mengajak reuni sekolah?

Waktu reuni yang direncanakan itu akhirnya tiba, pasti ada sebagian yang berpikir tidak mau datang karena tidak punya baju pesta yang bagus. Minder takut dibilang “sudah tua koq masih belum mapan juga” sama teman seangkatan. Giliran yang bajunya selemari, malah sibuk mencari baju baru karena percaya baju yang sudah dipakai ke pesta nikahan teman lain tidak boleh lagi dipakai reuni. Lomba baju bagus ceritanya.

Waktu reuni yang ditunggu-tunggu itu datang, pasti ada sebagian yang sengaja membawa pasangan dan anak-anaknya. Entah untuk menunjukkan kebahagiaan keluarga atau untuk menyindir teman yang belum punya keturunan, bahkan mungkin belum berpasangan. Lomba pasang-pasangan dan keluarga-keluargaan ceritanya.

Bahkan sebelum reuni yang digembar-gemborkan itu menghampiri, sebagian sibuk mempersiapkan diri supaya lebih fotogenik. Karena pastinya nanti reuni itu ada sesi foto-fotonya. Entah bagaimana upaya yang dilakukan yang penting wajah terlihat lebih awet muda (terlepas dari berapakah umur para peserta reuni). Lomba muda-mudaan ceritanya.

Sebelum reuni akbar sampai waktunya, terkadang kursus mengarang indah dan kursus mengeles bisa jadi laris, kalau ada. Mengarang indah untuk mengarang-ngarang cerita hidup selama mereka tidak menyaksikan. Entah ingin dibuat indah supaya yang lain pada sirik, atau ingin dibuat menderita supaya yang lain pada iba. Mengeles tentu saja sangat diperlukan apabila peserta reuni belum punya pasangan, sudah punya pasangan tapi belum punya anak, belum punya rumah, belum punya mobil, belum punya usaha, atau belum punya gaji besar.

Berapa besar porsi keinginan reuni yang memang murni temu kangen? Karena rindu dengan pertalian pertemanan yang sudah lama tidak tersambung?

Berapa besar porsi niat datang ke reuni hanya untuk berkumpul kembali dengan teman lama, bertemu muka secara langsung tak hanya lewat ponsel pintar atau komputer, dan semata-mata menyambung silaturahmi dengan bertatap mata dan berdialog sampai pagi?

Berapa pula besar porsi niat datang ke reuni untuk sekadar pamer dan membanding-bandingkan prestasi dan pencapaian dengan teman lain?

Bukankah reuni seharusnya berakhir dengan pertemanan yang kembali berkait dan pemuasan atas kerinduan bertahun-tahun?

Bukankah reuni seharusnya tidak berakhir dengan rasa cemburu berlebih terhadap prestasi teman, keputusasaan, keminderan, bahkan depresi dan kehilangan rasa percaya diri hanya karena ada aspek di mana salah satu peserta reuni “kalah tanding” dari temannya?

Reuni sekolah seharusnya berujung bahagia. Teman-teman lama berkumpul dan bersenang-senang, siapa tahu nanti anak-anak juga. Jika saling membutuhkan, sudah tahu bisa menghubungi siapa.

Reuni sekolah seharusnya tidak berujung rasa mengganjal. Teman-teman sudah punya ini, kenapa saya belum. Atau tidak berujung rasa sombong dan angkuh. Teman-teman saya belum ada yang punya ini, baru saya sendiri.

Bisakah kita membandingkan dua hal yang benar-benar berbeda satu sama lain? Bisa pulakah kita membandingkan dua manusia yang benar-benar berbeda latar belakang, cerita kehidupan, dan lingkungannya?

Maka dari itulah:

  • Bertanding dan membandingkan tidak ada habisnya, selalu ada cara untuk itu.
  • Berteman dan menyambung persahabatan juga tidak bisa dilakukan dengan berbagai cara.

Tinggal kita yang memilih.

By the way, kalau ada yang merasa tersinggung, ya sudah. Urusan masing-masing.

 

[20150605]

Hidup dan konsep robot semesta

Memperdalam arti kehidupan membuat kita terkadang merasa geli, bingung, sekaligus takjub. Geli, ketika berpikir dan sadar bahwa apa yang kita jalani, katakan, rasakan, kenali, dan ungkapkan adalah buah automatisasi yang entah bagaimana, sanggup kita pelajari dengan menakjubkannya. Bingung, ketika mencoba mendalami “mengapa saya hidup”, “untuk apa saya hidup”, dan pertanyaan seputar itu, sampai kita terkekeh geli sendiri membayangkan mengapa manusia semua bentuknya seragam, punya bahasa yang sebagian kita mengerti tapi sebagian lagi tidak, punya wajah yang bisa bergerak-gerak, lalu mengapa ada meja, mengapa kita menamai benda itu meja, mengapa manusia mau berepot-repot bikin meja padahal entah untuk apa dia hidup, dan seterusnya. Takjub membayangkan bagaimana kita sanggup eksis tanpa bertanya, berimplementasi di dunia tanpa kesan canggung, padahal kebingungan kerap menghantui soal eksistensi kita.
Ketika manusia tak yakin, ia diajarkan kerap memohon petunjuk Yang Maha Kuasa. Konsep Yang Maha Kuasa tak dapat dijamah fisik manusia, namun sebagian besar manusia merasakannya secara mental. Sebagian lagi malah terus menuntut dan bertanya, apa sebetulnya substansi riil yang menghidupi kita? Benarkah rangkaian asam amino, monosakarida, dan asam lemak bisa menciptakan kehidupan semula jadi? Benarkah pula bahwa Dia Yang Maha Kuasa sanggup membalik telapak tangan dan terciptalah alam semesta semula jadi? Jika saya yang ditanyai demikian, jawaban saya adalah satu: Relatif. Tergantung dari mana kita memandangnya.
Tatkala ilmu pengetahuan tak sanggup menjelaskan mengapa kita ada, mengapa kita hidup, sebagian besar manusia akan lari ke soal keyakinan. Tatkala keyakinan tak demikian nyata menjawab rasa penasaran manusia soal mengapa kita ada, manusia sibuk mencari jalan penyelesaian lewat ilmu pengetahuan. Mungkin keduanya tak akan sanggup jalan bersama, karena memang keduanya berlawanan kutub. Namun kembali ke persoalan semula. Membayangkan makna hidup, bahwa kita ada di sini, sedang duduk, mengetik, menghadapi manusia lain… Menyadarkan kita bahwa kita hanyalah makhluk hasil automatisasi kombinasi pengetahuan dan metafisika. Kita dipaksa untuk mengabaikan itu. Salah satunya ataupun keduanya. Kita dipaksa untuk hanya memikirkan warna hidup, bukan esensi hidup. Kita dipaksa untuk menguasai keterampilan tertentu yang terkadang kita pun tak tahu apa gunanya. Ketika kita merenung, melihat ke sekeliling kita, dan berpikir mengapa saya hidup, mengapa begini, mengapa begitu… Maka kita tersadar kembali. Automatisasi.
Saat memikirkannya justru membuat kita tertawa sekaligus bingung, lalu kita tak paham mengapa kita terkurung dalam kehidupan yang entah mengapa harus dibatasi ini dan itu… Kita terdorong secara otomatis untuk kembali menjalani hidup bagaikan robot. Kini begini, besok begitu. Tujuan yang mau kita capai pun fana. Keyakinan seolah begitu nyata namun entah kita akan sampai ke sana atau tidak nanti, tak ada orang yang sudah ke sana dan kembali ke dunia untuk menceritakannya kepada kita, dengan jelas. Seolah, kita para manusia memang dilarang berpikir ke sana. Dilarang bertanya mengapa kita hidup, mengapa kita ada di sini, berwujud seperti ini, menjalani kenyataan begini… Dan tiap kita berpikir ke sana, ada mesin automatisasi itu, yang seolah melarang kita masuk dan menjaga kita agar kekal dalam kerobotan yang telah mendarah daging.
Entah mengapa, kita hanya menjadi robot di tengah ini semua.

Persuasi skala MLM

Apa hal pertama yang perlu dilakukan ketika seorang teman kita, entah itu teman socmed atau teman di mana pun, menawarkan suatu program dan mengajak kita ikut serta? Menyelidiki manfaat dari tawaran itu buat diri kita terlebih dahulu, atau menyelidiki dampak buruknya terhadap kita dahulu? Saya tentu memilih yang kedua: Dan pilihan ini sudah menghindarkan saya dari banyak jebakan yang mungkin mengubah hidup saya selamanya, jika saya tidak memilih untuk berpikir lebih kritis.
Saya pernah mendengar beberapa komentar orang di forum perihal gadget. [paraphrase] “…Sebelum membeli barang, apalagi barang mahal, orang akan cenderung cari kelebihan produk itu. Tapi sebaiknya, saran saya, kamu selidiki dulu kelemahannya, jangan kelebihannya doang. Apakah kamu bisa menerima kelemahan itu atau tidak, itu tergantung dari kamu-nya sendiri. Tapi sebelum memutuskan untuk membeli, cari dulu apa yang jelek dari suatu barang yang kamu incar…” Jangan ditanyalah siapa yang ngomong begitu dan kapan, saya tidak ingat lagi! Tapi pastinya saya mulai mencoba melaksanakan tips itu ketika ponsel sempat tiba-tiba rusak. Tidak cuma itu, saya pun mencoba mengaplikasikannya dalam beberapa hal lain, dan ternyata hasilnya pun sama buat saya: Kita bisa terhindar dari sesuatu yang tidak kita inginkan.
Kalau sudah ngomong soal menyelidiki-menyelidiki begini, pastilah tidak jauh dari MLM. Multilevel marketing, atau pemasaran multitingkat. Entah apa deh istilah Indonesianya, saya juga tidak tahu karena sejak berkenalan dengan sistem downline upline yang memusingkan itu saya sendiri pun tahunya cuma istilah MLM, tidak tahu istilah lainnya. Yang pasti, kalau dipikir 1000 kali pun, dengan logika sehat, MLM memang menjanjikan keberhasilan, namun ia pun menjanjikan kejenuhan. Kejenuhan di sini bukan berarti kebosanan lho, beda… Kejenuhan yang saya maksud adalah bahwa di satu titik MLM hanya akan mendatangkan keuntungan bagi para pemain lama, dan pemain baru hanya akan terjebak dalam jaringan yang tak kunjung menghasilkan manfaat, baik ke atas maupun ke samping.
Di tahun 2006, saya pernah ditawari untuk ikut MLM pembalut. Saya tidak tahu bagaimana kelanjutan MLM yang berdalih di balik keterkaitan pembalut dan kanker serviks, tapi yang pasti saya pernah dapat tawaran yang sama lagi di tahun 2010 (waktu itu yang datang ibu-ibu. Begitu dia menjelaskan konsep produknya dan saya tanya balik, malah gelagapan. Setelah saya ngotot tidak percaya konsep teorinya, dia malah langsung ambil langkah seribu). Kemudian di tahun 2014 (ini baru!) pernah ditawari juga untuk beli produk-produk MLM yang dalihnya bisa bikin langsing. Dan yang terbaru, ada salah satu teman yang sibuk mempromosikan “You ….. …. ….. (isi sendiri!)” di status-status socmed-nya.
Lantas kita menilik kembali aturan perusahaan (atau barangkali profesional lainnya). Karyawan biasanya selalu dilarang untuk berjualan barang yang tak berhubungan dengan pekerjaannya di lingkungan kantor, apalagi kalau dia berjualan di jam kerja. Atau kalangan profesional (karena ada teman sejawat yang main beginian juga, believe it or not), mereka pun bahkan dilarang mempromosikan produk merk tertentu. Sebagai contoh, dokter. Hal ini sudah lumrah dilarang demi kepentingan pasien, karena kalau dokter sudah “diarahkan” untuk meresepkan produk tertentu dari industri farmasi tertentu, yang terjadi adalah dokter itu akan cenderung terus meresepkan obat yang sama, padahal barangkali pasien tidak benar-benar memerlukannya. Maka dari itulah promosi seperti ini dilarang. Apalagi kalau yang dipromosikan adalah produk yang jelas-jelas tidak bakalan di-cover asuransi kesehatan, seperti susu formula atau suplemen/vitamin. Menurut saya, pengarahan seperti ini berlipat ganda “dosa”-nya. Yang pertama dosa karena memaksa pasien membayar produk yang mungkin tidak mereka butuhkan, padahal sudah jelas tidak di-cover asuransi kesehatan. Yang kedua dosa karena hal ini sama saja memanfaatkan ketidakpahaman pasien untuk mendatangkan keuntungan pribadi si dokter. 

Haduh, kenapa jadi bahas ini? Back to laptop.
Menghadapi orang-orang yang mencari jalan pintas penghasilan tambahan seperti itu, saya malah berpikir begini.

1. Kalau yang mempromosikan MLM adalah mahasiswa
*Mengelus dada sambil berpikir barangkali ia desperately butuh uang saku tambahan. Maklum, mahasiswa dituntut serbabisa, termasuk harus sanggup hidup dengan dana bulanan minimalis, tanpa boleh mengabaikan tugasnya dalam belajar.
*Tiga tahun kemudian setelah si mahasiswa itu lulus, saya terpancing pengen tahu bagaimana nasib MLM-nya. (Tapi saya tidak tahu cara bertanyanya bagaimana, karena katakanlah 100% dia gagal di MLM, terus bagaimana saya menanyakan hal buruk itu kepadanya, ada juga dia bakal lari dan gak mau kontak dengan saya lagi!)
2. Kalau yang mempromosikan MLM adalah profesional
*Bersyukur dulu: Gaji profesional itu pasti lebih besar. Tapi, sebegitu desperate-nya-kah dia butuh uang? Berarti, cara saya mengelola gaji masih lebih baik daripada dia.
*Setelah itu saya bertanya-tanya: Bagaimana cara tempat kerjanya mengizinkan dia jualan seperti itu? Lalu saya berkesimpulan, profesional ini pasti sangat oportunis.
*Lalu kebingungan penuh tanda tanya: Dia mengajarkan agar kita jangan mau jadi profesional lepas atau karyawan. Tapi kok dia berani mengajak berhenti jadi profesional padahal dia masih jadi profesional juga? Saya berpikir ada baiknya filosofi cermin diserantakan ulang. Termasuk ke sini.
3. Kalau yang mempromosikan MLM adalah karyawan:
*Pikiran pertama: Pasti ini orang yang gajinya kayak menstruasi. Saya maklum dulu, semua orang butuh uang untuk disimpan.
*Eh, ternyata dia bukan? Mungkin dia dipaksa keluarganya. Jangan negative thinking dulu.
*Ternyata keluarganya tiak memaksa dia juga? Waduh, berarti kita balik ke anggapan oportunisme tadi. Jangan-jangan orang ini oportunis juga. Tapi saya masih belum mau berpikir negatif. Siapa tahu saya butuh sesuatu dan saya bisa beli sama dia? Apalagi kalau dia ikut MLM dengan objek berupa barang yang kita butuhkan, kan seru. Kita bisa ikutan beli-beli
*Terus kalau semua-semuanya tidak memenuhi? Baca buku peraturan kantor kalau tidak percaya, semua kantor melarang itu kok! Jadi, apakah kita salah kalau kita seruduk?
Kita tentu sudah mengetahui bahwa MLM itu punya titik jenuh. Entah dari segi jumlah personel yang terjaring (atau terjebak, kalau menurut kamus saya), ataupun dari segi keterbaruan konsep produk. Saya sadar sepenuhnya bahwa Robert Kiyosaki tidak salah total, namun memercayai beliau tanpa bersikap kritis adalah kebodohan absolut. 
Lain kasus, saya tak habis pikir juga melihat rekan kerja yang notabenenya sudah menginjakkan kaki di kota di dunia sejumlah mungkin 3-4 kali lipat saya, tapi masih juga terpancing salah satu program MLM travel yang demikian sanggup membodohinya. Padahal, dia karyawan yang sudah cukup nyaman dengan posisinya, dan pekerjaannya sekarang pun sudah menjanjikan kemungkinan traveling yang luar biasa load-nya. Saya jadi berpikir ulang, demikian kecilkah gajinya sehingga dia butuh tambahan penghasilan sampai demikian putus asanya? Tak cukup puaskah dia keliling kota (dan dunia) sehingga dia butuh tambahan cap di paspor atau varian check in di Swarm-Foursquare atau Path-nya? Jika saya tidak pikir-pikir lagi sudah pasti saya block, tapi mau bagaimana…
Kita sulit menghindari orang-orang seperti ini di dunia kita sehari-hari. Mau damprat langsung tak enak. Mau diam saja, mengganggu dan tak enak dilihat.
Mungkin lebih baik adalah 3 diam. Diam-diam hide feed. Diam-diam dalam kepura-puraan saat dia mengontak. Dan diam-diam block jika benar-benar keterlaluan.