My New Blue Bird: What’s New and How to

Sejak taksi Blue Bird jadi sasaran demonstrasi beberapa bulan yang lalu, mereka gencar melakukan sejumlah revolusi untuk mendengarkan keluhan pelanggan. Saya yakin sejak awal, bahwa Blue Bird tentu tidak mau tinggal diam menghadapi persaingan dari beberapa layanan sejenis, juga mengingat reputasi Blue Bird yang sudah begitu dikenal oleh warga Indonesia.

Salah satu keluhan pelanggan yang paling serius mereka tangani adalah soal aplikasi untuk pemesanan taksi secara daring (online). Aplikasi Blue Bird lama memang banyak dikeluhkan pelanggan, hingga sejumlah pelanggan pun sempat berpaling ke layanan taksi lain yang aplikasinya, saat itu, sudah lebih canggih. Katanya, sekarang di aplikasi ini kita sudah bisa membayar dengan kartu kredit, memperkirakan tarif taksi sebelum kita berangkat, memeriksa keberadaan sopir lengkap dengan jarak dan perkiraan waktu kedatangannya. Nah, seperti apakah aplikasi baru bertajuk My Blue Bird yang belum lama ini di-launch? Benarkah semua fitur itu ada? Mari kita lihat bersama.

Continue reading

Membaca: Hobi biasa untuk jadi luar biasa

Membaca barangkali merupakan hobi yang biasa saja. Banyak orang yang mengaku mereka hobi membaca, dan orang pun jarang kaget mendengar pengakuan tersebut. Saking biasanya, orang pun mulai meninggalkan hobi yang satu ini dan memutuskan beralih ke hobi lain yang terdengar lebih keren. Nah, kali ini saya coba bahas soal hobi membaca ini.

Continue reading

XII – The Hanged Man

maj12-the-hanged-manMelihat Mount Triumph yang memiliki ketinggian sekitar 4000 meter di atas permukaan laut, Lori Frances dan teman-temannya sesama pecinta alam di kampus tertarik untuk mencoba mendaki gunung tertinggi di pulau tetangga itu. Hitung-hitung mencari tantangan baru di masa liburan semester.

Memang dari namanya Mount Triumph terdengar megah, namun hanya sedikit pendaki yang sanggup mencapai puncak gunung itu karena tingkat kesulitan arena yang cukup tinggi. Gunung ini dikenal sebagai salah satu medan maut yang sering menelan nyawa para pendaki yang kurang berpengalaman dan kurang sigap terhadap bahaya. Justru itulah yang membuat Lori dan teman-temannya semakin tertantang.

Continue reading

Resolusi Hijau 2015: Dimulai dari diri sendiri

Di setiap bulan Januari, saya sering mendengar orang berseru tentang resolusi tahun ini. Sampai saya bosan dengan bualan-bualan itu karena belum sampai Juni saja, umumnya orang sudah lupa dengan apa yang mereka resolusikan di bulan Januari. Demikian pula dengan Resolusi Hijau. Ketika orang-orang berseru mau sadar dan turut melestarikan lingkungan di tahun 2015 dengan cara yang agak muluk, terus terang saja saya pesimis.

Namun di luar urusan resolusi-resolusian dan bagaimana manusia kerap ingkar janji soal itu, resolusi hijau itu penting sekali. Mengapa?

Jawabannya sederhana: Kita hidup dikelilingi alam. Jika kita tidak menghargai alam, alam bisa berbalik tidak “menghargai” kita dan kita pun pasti dirugikan.

Ini tentu bukan urusan hukum karma belaka. Kita lihat beberapa contohnya.

Warga Jakarta sudah maklum, bahwa setiap bulan Januari pastilah datang musim hujan yang selalu diboncengi hantu yang menakutkan yaitu ancaman banjir. Dulu dianggap lima tahun sekali, tapi sekarang malah cenderung setiap Januari. Sampah yang memenuhi sungai sampai saluran air mampet, penyedotan air tanah yang sangat rakus untuk rumah tangga maupun industri, pengrusakan hutan bakau di pesisir Jakarta Utara, sampai menggundulnya daerah resapan air yang menghalangi kiriman banjir dari Bogor dan Cianjur; turut memperburuk banjir di Jakarta yang konon sudah sering mampir sejak abad ke-5. Meskipun perubahan iklim memang tak dapat disangkal ikut andil juga dalam terjadinya banjir, namun lagi-lagi tak dapat dipungkiri bahwa kebiasaan manusia jugalah yang kerap merusak lingkungan sampai terjadilah banjir itu.[1]

Di luar Jawa, kita bisa lihat Kalimantan yang hutannya rusak dengan kecepatan mengkhawatirkan akibat pembalakan liar.[2] Terumbu karang di sekitar Wakatobi yang mulai rusak, dan mulai tererosinya alam asli dari Papua; adalah sejumlah contoh yang menggambarkan betapa kurangnya kepedulian manusia terhadap  lingkungannya. Mungkin awalnya gara-gara urusan duit, supaya cepat untung memang seringnya pakai cara yang merusak lingkungan. Anehnya, sudah tahu begitu tapi masih juga dilakukan.

Lalu buat kita yang sudah bekerja, mungkin untuk ikut andil sebagai relawan lingkungan yang berkunjung ke daerah-daerah konservasi, tidak selalu memungkinkan. Namun jangan khawatir. Agar resolusi tidak jadi basi seperti kebiasaan yang sudah-sudah, sebetulnya kita bisa mulai dari diri sendiri. Kita bisa bertekad untuk mengubah kebiasaan kita yang cenderung merusak lingkungan.

Berikut contoh yang bisa kita lakukan.

1. Hemat air

Mengisi bak mandi jangan sampai luber. Membuka keran air jangan terus-menerus. Kita sering mendengar wejangan itu dari mana-mana. Tapi coba renungkan apa yang sebetulnya terjadi ketika kita memboroskan air. Air yang dikeruk dari dalam tanah untuk diolah akan meningkat jumlahnya. Hal ini akan mengakibatkan tanah amblas. Dataran semakin rendah, dan kita makin rentan terkena banjir.
Maka dari itu, ingatkan selalu diri kita masing-masing untuk mematikan keran air saat tidak dipakai.

2. Hemat listrik

Mungkin kita menganggap listrik tidak ada hubungannya dengan alam. Wah, salah. Di Pulau Jawa, biasanya listrik pembangkitnya menggunakan tenaga air. Di Pulau Kalimantan, biasanya dengan tenaga diesel. Ada juga daerah yang sudah mulai menggunakan tenaga surya dan nuklir, namun masih sedikit. Apabila kita semua boros listrik, misalnya malas mematikan lampu setelah keluar kamar, maka tanpa disadari terjadilah pemborosan yang hebat. Data Earth Hour 2014 di Hong Kong menyebutkan bahwa pemakaian listrik turun 4,12% selama Earth Hour, dan emisi karbondioksida turun 153 ton. Besar energi yang dihemat dapat digunakan untuk menerbangkan pesawat Hong Kong-Taipei sebanyak lebih dari 2500 kali.[3]

3. Buang sampah di tempatnya

Mungkin kita sudah bosan sekali dengan instruksi yang satu ini, namun pada kenyataannya kita kadang-kadang (atau sering) masih melakukannya. Membuang sampah di tempatnya sekarang sudah begitu difasilitasi, meskipun belum sebagus negara maju tertentu yang sangat bersih. Di Jakarta contohnya, di jalan-jalan besar sudah bertebaran trio tong sampah yang lucu-lucu (ada bentuk apel, kodok, manggis, dsb); masing-masing berwarna hijau kuning dan merah. Warna hijau untuk sampah organik (makanan dan sisa-sisanya), warna kuning untuk sampah anorganik (biasanya kertas dan plastik), serta warna merah untuk sampah B3 atau berbahaya, yaitu sampah yang kalau diambilnya pakai “digojrog” bisa melukai atau membahayakan pemulungnya (misalnya: kaca, kaleng, logam, baterai, beling, dan sejenisnya).
Lalu kalau sedang bermobil bagaimana? Nah ini yang rada sulit. Tahan diri untuk mengumpulkan semua sampah dalam satu wadah. Setelah turun dari mobil dan ada tempat sampah, barulah kita buang sampahnya. Mungkin sulit dilaksanakan tetapi kita bisa mulai mencobanya.

4. Jangan suka memetik atau merusak tanaman

Ini mungkin instruksi yang paling tidak penting dari semuanya. Tetapi jangan salah, tangan jahil masih banyak beredar di dunia ini. Jadi jangan heran kalau orang masih saja suka melintas di kios-kios penjual tanaman lalu memetiknya sembarangan. Kalau memetik tanaman saja sudah tidak berperasaan,  nanti menebang pohon sehutan penuh pun tidak kunjung mencetuskan perasaan berdosa. Jadi, kebiasaan merusak tanaman ini bisa jadi benih-benih tindakan penebangan liar lho. (Saya bercanda tapi satir. #hehe)

5. Sulit hidup dan bekerja paperless? Biasakan!

Ketika menatap lembaran kertas yang salah print, atau ketika memasukkan gepokan kertas ke mesin paper shredder di kantor; terkadang kita harus ingat sesuatu. Bahwa untuk menghasilkan 15 rim kertas, diperlukan sebatang pohon yang sudah berumur 10 tahun. Atau lebih ekstrimnya, salah ngeprint 160 ton kertas itu sama dengan menebang 2400 pohon sia-sia![4] Kebetulan, pekerjaan zaman sekarang sudah banyak yang bisa dilakukan paperless, alias tanpa kertas. Jadi, kalau pekerjaan kita menuntut teknik paperless dan kita kesulitan mengikutinya, belajarlah. Tidak ada ruginya. Selain bisa mengikuti perkembangan zaman digital, hitung-hitung kita juga ikut menyelamatkan lingkungan dan berhemat sumber daya alam. Atau kalaupun terpaksa ngeprint, gunakan kertasnya bolak-balik.

Demikianlah yang bisa saya sampaikan sehubungan dengan Resolusi Hijau 2015. Semoga upaya kecil dari orang biasa seperti kita-kita ini bisa membantu rencana besar dari The Nature Conservancy Program Indonesia, dengan tujuan mulianya yaitu melindungi alam dan melestarikan kehidupan antargenerasi manusia Indonesia. Jangan biarkan Resolusi Hijau menjadi basi. Mulai sekarang juga, tidak harus di Januari, yang penting segera dimulai.

Referensi:

  1. Fiyanto A. Memahami Banjir Jakarta [Internet[/ 2014 [updated 2014 Jan 24; cited 2015 Jan 24]. Available from: http://www.greenpeace.org/seasia/id/blog/memahami-banjir-jakarta/blog/47986/
  2. Butler RA. Sepertiga Hutan Kalimantan Rusak Sejak 1973 [Internet]. 2014 [updated 2014 Jul 19; cited 2015 Jan 25]. Available from: http://www.mongabay.co.id/2014/07/19/sepertiga-hutan-kalimantan-rusak-sejak-1973/
  3. Electricity Consumption Dropped 4.12% during Earth Hour, equivalent to 2,186 Flights to Taipei [Internet]. 2014 [updated 2014 Apr 4; cited 2015 Jan 25]. Available from: http://www.wwf.org.hk/en/?11200/Electricity-Consumption-Dropped-412-during-Earth-Hour-equivalent-to-2186-Flights-to-Taipei
  4. Direktorat Pemanfaatan Jasa Lingkungan Kawasan Konservasi dan Hutan Lindung. Sayang Lingkungan? Orang Kantoran Juga Bisa! (Bagian Kesatu: 160 ton kertas sama dengan 2400 batang pohon) [Internet]. 2015 [cited 2015 Jan 25]. http://ekowisata.org/sayang-lingkungan-orang-kantoran-juga-bisa-bagian-kesatu-160-ton-kertas-sama-dengan-2400-batang-pohon/