[Travel to Europe] Mengurus visa Britania Raya (bagian 1)

Astaga, ternyata sudah setahun lebih saya tidak ngepost tentang jalan-jalan di blog ini!

Baiklah, baiklah. Kali ini saya akan bahas soal Britania Raya (atau United Kingdom) adalah wilayah yang mencakup Inggris, Wales, Irlandia Utara, dan Skotlandia. Negara ini memiliki banyak sekali kota yang memiliki ciri masing-masing, dan hampir semuanya menarik untuk dikunjungi. Di tulisan yang ini, kita akan membicarakan prosedur mengurus visa UK (tipe turis) untuk warga negara Indonesia yang berdomisili di Jakarta atau bersedia mengurusnya di Jakarta, berdasarkan pengalaman pribadi pada bulan Februari 2017 yang lalu.

 

Continue reading

Advertisements

30 Days of Writing Challenge – day 9

Katanya hari ini temanya “post about your zodiac sign and whether or not it fits you“. Oke. Pemilik blog ini bilang, challenge accepted. Tapi syaratnya, aku yang nulisin buat dia. Ya, oke, oke…

Sebagai pembukaan, zodiac sign yang punya blog ini adalah…

Zodiak apa itu? Oi, apa gunanya Google?

Nah. Pertanyaannya, apakah ramalan dan karakterisasi yang selama ini ada di mana-mana, cocok apa enggak sih sama ciri-cirinya dia?

Setelah kutanyai si pemilik blog ini, jawabannya: Enggak terlalu. Hahahaha…

Lho?

Jadi begini. ‘Kan karakteristik manusia tuh ada macam-macam kriterianya. Ada yang bilang faktor golongan darah, faktor urutan lahir, faktor tahun kelahiran atau faktor shio, dan banyak lagi. Belum lagi keterlibatan faktor-faktor non-klenik seperti faktor lingkungan, didikan orang tua, didikan sekolah, lingkungan pergaulan. Sampai faktor yang ajaib-ajaib lagi, seperti jenis musik kesukaan, film kesukaan … kacau deh, banyak banget. Itu semua berpengaruh ke pembentukan karakter manusia. Jadi menurutku, karakter manusia ditentukan sebagian besar oleh faktor non-klenik, dan faktor non-klenik menjadi faktor pendukungnya.

Mengapa ada orang yang karakternya “zodiak anu banget“? Bisa jadi karena orang tersebut sudah membaca ramalan zodiak sendiri dan meyakininya banget, sampai masuk mimpi, masuk alam bawah sadar, lantas segala tindakannya disesuaikan dengan zodiaknya. Kemungkinan kedua, ya karena memang kebetulan.

Hm… daripada bahas soal klenik versus non-klenik, coba buka borok sendiri dulu. Ini nih, katanya, karakter zodiak yang tadi, menurut [website ini].

Strengths: Reliable, patient, practical, devoted, responsible, stable
Weaknesses: Stubborn, possessive, uncompromising
Likes: Gardening, cooking, music, romance, high quality clothes, working with hands
Dislikes: Sudden changes, complications, insecurity of any kind, synthetic fabrics

Karena zodiak ini adalah elemen tanah yang fixed, maka konon orang-orangnya bisa diandalkan, stabil, menyukai keindahan, dan menyukai sentuhan – baik oleh orang lain, maupun oleh diri sendiri.

Yang kuberi garis bawah, itu traits yang sepertinya cocok dengan dia. Seenggaknya, yang bisa kulihat sih begitu. Selebihnya, silakan tanya ke rumput yang bergoyang. Bisa dilihat, yang cocok cuma berapa persen?

Rinciannya begini. Meskipun biasanya dia bisa diandalkan, pemilik blog ini adalah orang yang tidak sabaran. Suka hal-hal rumit, makin rumit makin sip deh pokoknya. Cuma susah nih, orangnya suka berubah-ubah. Sebentar maunya ini, eh sebentar kemudian, maunya udah berubah lagi. Soal selera, jangan tanya deh. Meskipun mungkin terlihat suka benda-benda wah, sebetulnya dia lebih mementingkan kenyamanan daripada faktor-faktor yang lainnya (mungkin, kain sintetik termasuk). Enggak suka berkebun, apalagi memasak? Memasak mi instan saja sudah prestasi.

Kalau enggak cocok, terus gimana dong? Mari kita coba cari jalan tikus.

Kata website dan textbook astrologi, kalau zodiak tidak cocok dengan karakteristik seseorang, coba cek dua parameter lain: Zodiak tetangga terdekat, lalu cek juga lunar zodiac (moon sign)-nya.

  1. Zodiak tetangga terdekat terutama perlu dicek jika tanggal lahir berdekatan dengan pergantian zodiak (baca: Cusp). Misalnya kamu kelahiran 23 September. Itu zodiak apa coba?
  2. Sementara lunar zodiac adalah zodiak yang ditentukan berdasarkan posisi bulan di hari dan jam kita lahir.

Oke, coba kita cek si tetangga. Kamu mau cek tetanggamu juga? Coba lihat [tautan ini].

Daripada ngeliat yang analisisnya udah campuran begitu, si pemilik blog bilang lebih baik lihat analisis ketengannya saja. Ya udah, diturutin. Ini analisis zodiaknya tetangga, kalau begitu:

Strengths: Gentle, affectionate, curious, adaptable, ability to learn quickly and exchange ideas
Weaknesses: Nervous, inconsistent, indecisive

Likes: Music, books, magazines, chats with nearly anyone, short trips around the town
Dislikes: Being alone, being confined, repetition and routine

Singkat kata: Aduh, sudahlah. Ini lebih tidak cocok lagi.

Terus, bagaimana dengan moon sign? Sini, kujelaskan.

Kata textbook lagi, rupanya sifat-sifat seseorang yang terkait dengan emosinya bisa dipengaruhi oleh lunar zodiac-nya itu. Entah komprehensiku benar atau tidak, sepertinya zodiak asli menggambarkan karakteristik seseorang, sementara lunar zodiac menggambarkan ciri reaksi emosional seseorang.

Untuk tahu apa moon sign-mu, kamu butuh informasi tanggal lahir, jam lahir, dan zona waktu di mana kamu lahir. Masukkan di [tautan ini]. Misalnya, post ini dibikin di tanggal 11 September 2016, jam 3.40 PM, zona waktu GMT +7. Moon sign-nya Capricorn (kata mesin itu).

Kalau moon sign-nya si pemilik blog ini, beginilah analisisnya:

Strengths: Responsible, disciplined, self-control, good managers
Weaknesses: Know-it-all, unforgiving, condescending, expecting the worst
Likes: Family, tradition, music, understated status, quality craftsmanship
Dislikes: Almost everything at some point

Nah, ini lebih mendingan. Lumayan banyak yang cocok. Si pemilik blog ini termasuk orang yang susah dihentikan kalau udah jelas maunya. Dia juga sangat berdisiplin untuk mencapai tujuan yang dia mau, bisa mengantisipasi banyak hal, dan lebih menyukai posisi di mana dia kurang dianggap atau diremehkan. Selain itu, dia juga banyak komplain-nya. Hihi.

Rupanya, menurut pengakuannya, ada anggota forum menulis yang pernah coba menebak zodiak si pemilik blog ini berdasarkan gaya menulisnya, dan jawaban rekan tersebut -sebetulnya- benar, tapi untuk moon sign-nya. Begitu ditebak begitu, si pemilik blog langsung buka [tautan ini], dan kebingungan sendiri mana yang sebetulnya lebih mirip ke dia. Mungkin dia butuh pendapat orang lain, atau orang pintar lain, lebih tepatnya. Yang jelas, aku enggak bisa bantu dia saat itu.

Ah, sudahlah, jadi mumet.

Baik. Jadi sudah terjawab pertanyaannya, ya. Terima kasih udah membaca analisis pendek yang rada gila ini. Semoga yang baca pusing, supaya analisis ngaco ini tidak bisa direplikasi. Hidup klenik!

30 Days of Writing Challenge – day 6

Sesekali bikin postingan yang meruntuhkan nama baik, ah (Membetulkannya adalah urusan belakangan).

30 things about @triskaidekaman (POV3), are:

  1. Apple fangirl.
  2. Huge fan of Sebastian Vettel (F1 world champion of 2010, 2011, 2012, and 2013) and once met him in very close proximity.
  3. INTJ.
  4. Analytical person.
  5. Once reached nivel A2 (self-learned) and Duolingo level 18 (74% proficiency) in Spanish, but that skill has been withered.
  6. Half-medical, half-the-rest-of-the-whole-science.
  7. Favorite subject in college: Forensic medicine.
  8. Fan of FC Barcelona, but often disagree with majority of fans and often insult self players.
  9. Secret fan of One Direction‘s songs and Harry Styles. Hey, no posters here, because…
  10. …she does not know how to do a fangirling.
  11. Has visited 11 countries until today.
  12. Avid Samsung black-campaigner.
  13. Lucky online number is 13, as this number is also related to her online nickname.
  14. Types with around 65-70 words per minute, more fluently with left hand.
  15. Has read all Sidney Sheldon‘s novels.
  16. Able to fluently operate computer mouse with either right or left hand. Related to this: She had finished Zuma Deluxe game by playing the entire game with right hand, then playing the entire game with left hand.
  17. Never interested to Korean entertainment (drama, music, TV show) at all.
  18. Has watched and followed European soccer limelight for around 20 years.
  19. Told not to drink coffee due to health issue, but often disobey.
  20. Once an avid fan of LOST and Heroes (TV series).
  21. Has a long-term goal to have at least one book published by major publisher, therefore she can show the book to her ex-teacher who accused her of inability to write (what a grudge).
  22. Would be an engineer, if the past could be changed.
  23. Night person.
  24. Often functioning with only 5-6 hours of sleep.
  25. Top 3 watched actors in film until today: Ben Affleck (13 films), Jude Law (33), and Ryan Gosling (13).
  26. Highly picky eater.
  27. Looks for inspiration of writing in bathroom or toilet.
  28. Dream holiday destination: Reykjavik, Iceland.
  29. Once glared each other with Ridho Rhoma, then we almost ended up in fight due to such glares.
  30. Is running a non-fictional book blog.

Puas? Puas?

Selamat dikunyah sampai muntah. Haha!

Trik Mengalahkan Sudoku level Hard: Tutorial Step by Step (bagian 1)

Buat yang sering main Sudoku di Kompas Klasika, pasti tahu bahwa sejak hari Senin sampai Minggu, tingkat kesulitan level semakin meningkat dengan hari Senin yang termudah, dan Minggu yang tersulit. Jadi untuk kasus hari Minggu, apakah kalian merasa Sudoku-nya sangat susah?

Kalau ya, berarti kalian perlu mengikuti series ini untuk tahu cara-cara menaklukkan Sudoku level Hard.

Saya ambil contoh Tantangan Sudoku Kompas Klasika edisi Minggu 19 Juni 2016. Berhubung kuota Skitch editor terbatas, jadi saya tidak bisa buat lebih dari 10 anotasi foto dalam sebulan (X___X) buat tutorial ini, jadi harap bersabar ya 🙂

Kita mulai.

Continue reading

My New Blue Bird: What’s New and How to

Sejak taksi Blue Bird jadi sasaran demonstrasi beberapa bulan yang lalu, mereka gencar melakukan sejumlah revolusi untuk mendengarkan keluhan pelanggan. Saya yakin sejak awal, bahwa Blue Bird tentu tidak mau tinggal diam menghadapi persaingan dari beberapa layanan sejenis, juga mengingat reputasi Blue Bird yang sudah begitu dikenal oleh warga Indonesia.

Salah satu keluhan pelanggan yang paling serius mereka tangani adalah soal aplikasi untuk pemesanan taksi secara daring (online). Aplikasi Blue Bird lama memang banyak dikeluhkan pelanggan, hingga sejumlah pelanggan pun sempat berpaling ke layanan taksi lain yang aplikasinya, saat itu, sudah lebih canggih. Katanya, sekarang di aplikasi ini kita sudah bisa membayar dengan kartu kredit, memperkirakan tarif taksi sebelum kita berangkat, memeriksa keberadaan sopir lengkap dengan jarak dan perkiraan waktu kedatangannya. Nah, seperti apakah aplikasi baru bertajuk My Blue Bird yang belum lama ini di-launch? Benarkah semua fitur itu ada? Mari kita lihat bersama.

Continue reading

Belajar informasi nilai gizi (bagian 1): Menghitung Kalori

Sebel mau diet kok rasanya susah?

Rasanya cuma makan sedikit tapi kok kalorinya bejibun?

Kok ada snack yang mengklaim diri rendah kalori dan tidak bikin gendut?

Di sini saya mau ngomongin cara memanfaatkan informasi nilai gizi yang suka ada di kemasan makanan. Kalau kita beli makanan dalam kemasan, misalnya Chiki, Oreo, Indomie, NutriSari, atau Soyjoy (empunya merk yang saya sebut harap jangan ge-er. Saya sengaja), pasti ada yang namanya Informasi Nilai Gizi. Atau bahasa Inggrisnya, Nutritional Information. Tapi mungkin masih ada di antara kalian yang bingung bagaimana cara membacanya. Nah, yuk sama-sama belajar cara menerjemahkan informasi nilai gizi

Di episode pertama ini, kita akan ngomongin Kalori. Pengetahuan wajib nih buat yang mau diet atau mau nambah berat badan! Yuk disimak…

Continue reading

Mana yang lebih mahal: Uber, GrabCar, GoCar, atau Blue Bird?

Berhubung sekarang taksi-taksi ini lagi pada perang tarif, saya coba bikin perbandingan tarif dan tabel Excel untuk menghitung estimasi ongkos berbagai jenis layanan taksi.

Langsung saja tidak perlu banyak basa-basi ya.

Kita mulai dari perbandingan dahulu. Gambar di bawah ini memperlihatkan bagaimana perbandingan rincian tarif antara empat jenis layanan taksi, plus Blue Bird. Mengapa hanya Blue Bird yang mewakili layanan taksi regular, alasannya adalah karena hanya data Blue Bird-lah yang berhasil saya dapatkan dan jajal sendiri, sementara saya sendiri belum mencoba taksi regular jenis lainnya, setelah demo angkutan di akhir Maret lalu.

Continue reading

Uber: Perihal Surge Fare

Pada sore hari Kamis, 14 April 2016; para pengguna Uber menyaksikan keparahan tingkat surge fare ketika memesan Uber yang agak-agak tidak biasanya. Jika biasanya surge fare bisa melonjak hingga 2,4 sampai dengan 3,0 terjadi di hari Jumat sore pada jam pulang kerja, mengapa justru surge fare yang menembus angka 4 bisa terjadi di hari Kamis sore?

uber

Saya sudah pernah membahas soal Surge Fare di postingan Uber: Perbandingan, Persepsi, dan Testimoni (bagian 1), tetapi setelah saya baca ulang dan kaitkan dengan kejadian 14 April 2016, rasanya postingan tersebut masih banyak kekurangannya.

Saya akan bahas lebih lanjut lagi soal Surge Fare.

Continue reading

Driver of The Day vs Nasionalisme

Sebagai penonton yang mulai mengikuti Formula 1 sejak 12 tahun yang lalu, saya telah menyaksikan banyak sekali perubahan di dunia balapan jet darat. Dari mobil yang bising memekakkan luar biasa, menuju mesin yang lebih “tenang”, hingga melintasi urusan silih bergantinya aturan kualifikasi, aturan pemberian poin, aturan penjadwalan balapan, tibalah juga pada urusan bursa pembalap. Maka, tak mungkinlah saya tidak menaruh perhatian pada pembalap Formula 1 pertama asal Indonesia, Rio Haryanto.

rio-haryanto-88

Mobil Rio Haryanto, Manor Racing. Sumber dari juara dot net.

Saya rasa semua penonton Formula 1 asal Indonesia pasti pernah berandai-andai bagaimana kalau lagu Das Deutschlandlied, Marcha Real, God Save The Queen, atau apapun lagu itu, berubah jadi lagu Indonesia Raya. Memang di tahun 2004, rasanya amat mustahil buat Indonesia untuk bisa mengirimkan wakil ke Formula 1. Tapi tetap saja, pengandai-andaian itu seolah jadi doa sejuta umat agar Indonesia bisa punya pembalap Formula 1 di masa depan.

Memang tidak gampang bagi pembalap berkebangsaan negara dari benua Asia untuk masuk ke Formula 1 dengan mulus seperti rekan mereka asal Eropa. Penyebabnya, saya rasa, bukanlah diskriminasi semata. Memang ada kesan amat jelas bahwa bangsa Eropa menganggap merekalah yang paling berhak merajai Formula 1, karena cikal bakal Formula 1 betul berasal dari balap mobil seantero Eropa. Penggagasnya kebanyakan orang Prancis, Italia, dan Inggris. Namun faktor lain juga memegang peranan. Amat jelas bahwa secara umum, dunia otomotif Asia lebih memilih fokus dalam hal bisnis semata, ketimbang berebutan lahan balap mobil dengan bangsa Eropa tadi. Ditambah lagi fakta bahwa ekonomi bangsa Asia kebanyakan masih tergolong negara berkembang, sehingga jumlah dana sponsor yang dibutuhkan untuk bisa berkiprah di Formula 1 pun jadi relatif sulit dijangkau.

Tapi itu semua tidak menghalangi Rio memasuki Formula 1, di tahun 2016. Ia telah berhasil melewati gawang pertamanya dengan baik.

Memang Rio terlihat sudah “sukses” mengatasi faktor-faktor pemberat buat bangsa Asia di Formula 1 tadi. Namun, tak semua orang Indonesia cukup dewasa menyikapi keberhasilan Rio. Entah itu karena mereka belum memahami betapa sulitnya seorang pay driver bertahan di rimba Formula 1 (yang kerap dihantui sifat rakus Bernie Ecclestone di setiap waktu), terpesona dengan tampang Rio yang (katanya) imut-imut, terlalu larut dalam euforia tembusnya Indonesia ke Formula 1, ataukah belum paham seluk beluk Formula 1 tapi ikut-ikutan bergegap gempita saja. Mereka tiba-tiba saja jadi komentator dan tiba-tiba saja rajin mengikuti Formula 1, olahraga yang tadinya hanya mereka pandangi dengan sebelah mata.

Buat sebagian orang semacam ini, keberhasilan Rio ini harus dipandang dengan dua mata oleh dunia. Seolah seluruh dunia harus menoleh atas keberhasilan orang Indonesia menembus Formula 1. Tak peduli bagus buruknya prestasi Rio, dunia harus respek padanya. Fenomena ini terlihat amat jelas ketika Formula 1 memperkenalkan penghargaan baru bertajuk Driver of The Day, tepat di musim 2016 ini juga.

Mobil Kevin Magnussen, Renault Sport F1 Team. Sumber dari Formula 1 dot com.

Indonesia punya jumlah penduduk yang banyak, plus jumlah penduduk melek teknologi yang juga banyak. Akibatnya, jangan pernah remehkan kekuatan Indonesia kalau sudah berkenaan dengan urusan voting. Apalagi kalau urusan voting itu direkatkan dengan bumbu bernama nasionalisme. Pasti jagat maya Indonesia langsung heboh. Ramai-ramai voting, kalau perlu voting berulang-ulang yang sangat Bhinneka Tunggal Ika. Nama yang memberi vote berbeda-beda, tapi sumbernya satu jua. Atau dibalik: sumber votenya berbeda-beda, tapi nama yang memberi vote satu jua.

Tapi fenomena ini tidak dimanfaatkan secara dewasa. Khususnya dalam tajuk Formula 1 Driver of The Day ini.

Di balapan Australia 2016, atas nama nasionalisme, orang Indonesia merasa sah-sah saja memberikan vote Driver of The Day kepada Rio. Padahal sudah jelas yang bersinar di balapan itu bukanlah Rio. Rio sendiri tidak finis karena mobilnya bermasalah di lap 19. Tapi hebatnya, Rio mendapat voting terbanyak untuk Driver of The Day di balapan tersebut. Namun akhirnya ia didiskualifikasi karena banyak vote yang berasal dari sumber yang sama. Gelar jatuh ke tangan pembalap dengan suara terbanyak kedua, Romain Grosjean asal Prancis yang memperkuat tim Haas.

Jangan lupa bahwa orang Indonesia juga pintar, amat piawai mencari celah, termasuk soal rekayasa voting. Setelah aturan Formula 1 soal jumlah voting berubah, para orang piawai ini pun tak gentar. Tinggal ganti VPN, ganti IP address, mereka jagonya. Australia gagal, Bahrain harus dapat. Dan ternyata gelar pun kembali jatuh ke tangan Grosjean. Setelah orang-orang Indonesia mengaku sudah melakukan bom voting buat Rio.

Saya sendiri memang punya favorit, tetapi saya cenderung tak peduli. Toh, apapun yang terjadi dengan pembalap atau tim favorit saya, saya tidak akan terkena dampak apapun. Maka, tak heranlah kalau saya, yang selama 8 tahun ini memfavoritkan Sebastian Vettel, malah terang-terangan tidak mau memilih dia sebagai Driver of The Day di Australia maupun di Bahrain. Di Australia Vettel melakukan kesalahan taktik, yang berakibat fatal terhadap peluang kemenangannya. Sementara di Bahrain, Vettel malah tidak balapan sama sekali karena mesinnya meledak di formation lap. Dengan memberikan vote saya untuk Vettel, saya akan menunjukkan fanatisme buta yang tidak akan ada gunanya.

Sehingga, saya rasa wajar jika saya menganggap taktik voting buat Rio yang demikian itu juga adalah suatu pembodohan. Pembodohan yang bisa mencoreng nama Rio, bisa pula kian mencoreng nama Indonesia dalam urusan voting-votingan (setelah kasus European Music Awards 2011 dulu). Praktik semacam ini sama saja dengan guru yang memberi nilai tinggi untuk anak dengan jawaban ujian yang salah dan mengabaikan anak dengan jawaban yang benar. Atau dengan bos yang lebih mengutamakan merekrut keluarganya sendiri untuk posisi penting ketimbang mendatangkan orang yang sungguh kompeten tapi tidak bertalian darah dengannya. Itu tidak adil namanya. Nah, inilah yang membuat saya sungguh heran. Orang Indonesia berkata sudah muak melihat praktik ketidakadilan semacam itu. Tapi di mata dunia mereka justru dengan bangga terus melakukan hal serupa, dengan berlindung di balik topeng nasionalisme.

Buat saya, tidak ada hubungannya antara voting Driver of The Day dengan nasionalisme. Menjadi seorang nasionalis dan menjadi seorang yang objektif adalah dua hal yang sangat berbeda. Saya tidak mengatakan bahwa saya tidak akan vote untuk Rio di ajang Driver of The Day. Bagaimana kalau suatu hari nanti dia bisa melakukan terobosan balapan yang menarik dan memukau orang? Tentu saya akan memilih dia, dengan satu catatan: Dia harus berbuat sesuatu dan itu menjadikan dia terlihat menonjol di balapan itu.

Ah. Saya tidak bisa memaksa jika isi pikiran kalian tidak sesuai dengan saya. Tapi pikirkan kembali: Apa jadinya kalau di akhir karirnya nanti Rio hanya diingat karena bom voting itu, dan bukan diingat karena prestasinya?

Kodak, Nokia, dan Blue Bird: Antisipasi Teknologi dan Pilihan Masyarakat soal Taksi

If you can’t fly, then run.
If you can’t run, then walk.
If you can’t walk, then crawl.
But whatever you do,
You have to keep moving forward.

Sudah lebih dari 40 tahun berlalu sejak Martin Luther King Jr. (1929-1968) mengutarakan kalimat ini. Namun dampak apabila kita mengabaikan kalimat tersebut, masih bisa dirasakan sepanjang zaman.

lutherking

Kalau di awal dekade 2000-an Kodak jatuh karena terlambat mengantisipasi hadangan fotografi digital setelah sempat puluhan tahun merajai dunia kamera; di awal dekade 2010-an pun jadi saksi bagaimana Nokia terpuruk karena terlambat mengantisipasi gempuran smartphone setelah sekian tahun tak terkalahkan di dunia ponsel; bukan tak mungkin bahwa di dekade-dekade selanjutnya, fenomena revolusi digital bakal semakin banyak memakan korban.

Antisipasi kemajuan zaman dan teknologi memang bukan melulu ranahnya pengusaha elektronik dan gadget. Kini, berbagai bidang industri pun harus melek dengan teknologi. Bukan cuma menyajikan layanan bermutu tinggi untuk bidangnya masing-masing, tapi setiap industri pun tanpa sadar dituntut untuk mampu menyuguhkan kecanggihan teknologi yang bisa membuat masyarakat menikmati layanan mereka tanpa kesulitan.

Kalau mau mengaitkan bahasan di atas dengan masalah taksi, yang beberapa hari ini sedang marak dibahas di mana-mana, ternyata tetap saja ada hubungannya. Taksi, yang entitasnya adalah sebagai bagian dari bidang usaha transportasi, pun ternyata harus mengantisipasi hal yang sama. Nah, salah satu alasan mengapa layanan taksi plat hitam (atau untuk lebih halusnya: Taksi alternatif) lebih disukai masyarakat, di luar urusan kelakuan sopir, adalah kemudahan dan kelengkapan fitur yang bisa diakses pada aplikasinya.

taxi_800x669

Kalau kita cermat menyaksikan bagaimana evolusi cara pemesanan taksi Blue Bird atau Express, jika kita bandingkan dengan cara pemesanan taksi alternatif, akan terlihat jelas bahwa cara pemesanan taksi resmi mirip dengan Kodak dan Nokia. Mereka sudah berlangkah-langkah di depan pada sekitar lima tahun yang lalu. Namun antisipasi revolusi teknologinya minim. Alhasil, cara pemesanan taksi premium kini dan lima tahun yang lalu masih sama-sama saja. Sementara pemain baru tiba-tiba menggebrak dengan metode pemesanan online yang sangat mudah!

Sejak saya pertama kali menggunakan layanan pemesanan taksi Blue Bird sekitar lima tahun yang lalu, nyaris tidak terlihat ada perubahan bermakna. Lima tahun yang lalu, 2011, saya punya dua alternatif cara memanggil taksi Blue Bird. Pertama, dengan menelepon nomor tertentu. Tunggu panggilan tersambung, lalu sebutkan nomor ponsel yang terdaftar, kemudian sambung dengan tempat penjemputan dan jam berapa minta dijemput. Atau yang kedua, dengan menggunakan aplikasi yang ala kadarnya (ingat, ini tahun 2011), yang cuma punya fitur memasukkan alamat penjemputan dan informasi nomor pintu taksi.

Dalam kurun waktu lima tahun, saya cukup sering menggunakan taksi Blue Bird (sebetulnya saya pernah menggunakan Silver Bird, tapi frekuensinya masih bisa dihitung dengan jari alias sangat jarang). Bukan karena memang betul-betul menyukai taksi yang satu itu, tapi lebih karena memang banyak institusi yang hanya mau menanggung transportasi dengan taksi Blue Bird. Ternyata, sedemikian besarnya kepercayaan korporat terhadap Blue Bird selama ini. Kepercayaan yang saya lihat tak pernah berubah selama lima tahun saya mengamati armada taksi nomor satu Indonesia ini.

Seribu sayang: Tidak cuma kepercayaan korporat yang tidak berubah. Melainkan juga cara pemesanan taksi mereka. Tak ketinggalan aplikasi pemesanan taksi di ponsel, itu juga tidak banyak berubah.

Saya rasa bukan hanya saya yang mengalami deg-degan ketika sopir taksi yang dipesan tidak bisa dideteksi radar aplikasi Blue Bird. Bukan hanya saya yang mati bosan menunggu SMS konfirmasi nomor pintu taksi ketika saya memesan taksi lewat telepon (dan sebagai info saja, SMS itu tidak pernah datang). Bukan hanya saya yang kebingungan ketika sopir taksi yang aktual berwajah dan bernama berbeda dengan sopir taksi yang terpampang di kartu identitas. Dan bukan hanya saya yang merasa aneh dengan taksi yang mendadak menghilang ditiup angin lantaran lebih memilih mengangkut penumpang lain dan membatalkan pemesanan kita, hanya karena malas.

Di akhir tahun 2015, di saat taksi alternatif bernama Uber mulai menjamur di Jakarta, mereka hadir dengan cara pemesanan taksi yang sungguh revolusioner. Seluruh cara pemesanan sudah hadir secara digital. Bahkan yang lebih gila lagi, sama sekali tidak ada manusia di Customer Service Uber. Memanggil taksi ataupun menyampaikan keluhan? Semuanya tinggal pencet, tidak perlu bicara sampai berbusa-busa.

Mulai dari cara pemesanan yang mudah: Tinggal masukkan titik penjemputan dan titik drop off.

Lalu ada skema tarif yang begitu transparan. Enak buat pemesan, bisa berjaga-jaga sambil menghitung ongkos perjalanannya.

Lalu kita bisa mendeteksi secara live (ingat, live!) pergerakan sopir yang kita panggil.

Kita juga bisa membatalkan pemesanan jika sopir menunjukkan gelagat tidak bagus.

Ketika selesai, langsung ada billing digital mampir ke e-mail kita.

Di zaman sekarang, di mana nyaris semua pengguna taksi sudah menggunakan ponsel pintar, cara pemesanan seperti itu sangat memudahkan. Tidak ada lagi deg-degan menunggu SMS yang tak kunjung tiba. Tidak perlu lagi berbusa-busa menyebutkan nomor ponsel sendiri kala memesan taksi lewat telepon. Tidak ada lagi acara bingung, karena semua mobil dan pengemudinya bisa diperiksa wajah, nomor platnya, dan tipe mobilnya secara transparan. Bonus: Tak ada lagi kejadian jantungan melihat argometer gara-gara sistem tarif yang tidak transparan buat pengguna taksi!

 

OK-easy-open

Kemudahan dan keterbukaan: Dua hal yang disukai masyarakat dan diharapkan hadir di konsep berbagai barang yang sedianya dipromosikan ke mereka.

 

Mudah dan transparan. Sebetulnya itu yang dicari masyarakat. Bukan sekadar “perusahaan taksi ini punya landasan hukum atau tidak”, atau “perusahaan taksi ini membayar pajak atau tidak”. Memang membayar pajak itu penting. Namun selama layanan revolusioner itu ada, memudahkan, dan transparan, mengapa tidak? Bukankah sekarang ini zamannya semua serba mudah dan serba transparan? Bukankah mudah dan transparan itu adalah dua prinsip utama dalam mengemas sesuatu, apapun itu, di era 2010-an ini? Bukankah akan lebih baik mempertahankan kemudahan dan transparansi, sambil kemudian urusan hukumnya ditangani dengan kepala dingin?

Seperti halnya balap mobil Formula 1 yang mana keunggulan jauh kadang bisa lenyap sekejap hanya karena safety car, perusahaan yang sudah unggul jauh pun kadang bisa tiba-tiba tersentak hanya karena kurangnya antisipasi terhadap derasnya terjangan teknologi. Dan seperti kata Martin Luther King Jr., apapun yang dilakukan seseorang, selama ia hidup, adalah harus bergerak maju.

 

[sebagaimana diposkan di akun Qureta saya]