Bagaimana Buku Mengubah Hidupmu

(Tulisan ini juga ditayangkan pada laman Facebook Yayasan 17.000 Pulau Imaji, 25 Mei 2021; dan melengkapi tayangan pada kanal YouTube Yayasan 17.000 Pulau Imaji, 26 Mei 2021)

Belakangan kita sering berpapasan dengan pembahasan tentang privilese. Membaca, bagi saya, adalah salah satu privilese yang datang terlambat dan dengan cara sedikit berbeda dengan penulis-penulis lain pada umumnya. Kebanyakan mereka sudah diperkenalkan dengan buku-buku cerita anak sejak kecil, bisa mengakses perpustakaan dan memperoleh banyak referensi bacaan, atau dibesarkan di lingkungan yang mendukung hobi membaca. Harus diakui, sebagai seseorang yang menghabiskan masa-masa awal hidupnya bukan di Jakarta, lingkungan saya bermasalah dengan akses bacaan. Belum lagi orang-orang sekitar, yang kebanyakan pedagang dan pemilik warung, dan menganggap membaca tak jauh beda dengan melamun—membuang-buang waktu saja. Sejumlah faktor itulah yang menghambat saya dalam mengenal buku, khususnya buku-buku fiksi dan nonfiksi (yang bukan buku pelajaran). Akibatnya, cerita fiksi pertama yang saya kenal justru bukan cerita anak; melainkan cerita detektif (catatan: cerita detektifnya ditujukan untuk anak dan remaja, sih, jadi sebenarnya masih bisa diserempetkan ke buku anak juga). Karena cerita-cerita detektif itulah, saya kemudian tertarik dengan bacaan-bacaan beraroma thriller dan memiliki setting rumit. Misalnya, bertema konspirasi, bersangkutan dengan presiden (yang tentu fiktif), atau misteri pembunuhan. Bisa dibilang semuanya karya terjemahan. Karena pilihan penulis luar yang ada di kota kecil tidak banyak, yang bisa saya lahap saat itu hanya seputaran Sandra Brown, Danielle Steele, dan Sidney Sheldon. Bagaimana dengan karya lokal? Entah sistem pendidikan yang kacau pada waktu itu (karena kurikulum terus berganti), entah karena posisi di luar Pulau Jawa, atau karena guru-guru tidak menganggap sastra sebagai sub-mapel bahasa Indonesia yang perlu diperhatikan lebih, saya tidak diperkenalkan dengan karya lokal modern. Bahkan, dengan karya lokal klasik pun tidak terlalu bersinggungan.

Beberapa tahun kemudian, ada masanya saat saya hanya tertarik pada buku-buku sains populer/nonfiksi. Namun, baca punya baca, saya justru menemukan bahwa ada cukup banyak buku nonfiksi yang digarap dengan buruk. Lebih tepatnya: buku-buku itu memuat agenda terselubung yang tidak disebutkan dengan jelas sehingga seolah-olah penulisnya (atau penerbitnya?) berniat mengibuli pembaca. Di sinilah saya kecewa, dan bisa ditebak: saya mulai melirik buku-buku fiksi. Ternyata, buku-buku fiksi yang saya pilih secara acak (hanya berdasarkan blurb) itu cukup menarik. Setidaknya, saya mengalami perubahan pola pikir, yang menjadi titik balik saya dalam memandang buku-buku. Perlahan, tetapi pasti, saya mulai berhenti menganggap buku nonfiksi lebih unggul daripada fiksi. Kedua jenis buku tersebut rupanya sama-sama perlu dibaca, dan seharusnya diposisikan saling melengkapi. Jika saya memperoleh pengetahuan-pengetahuan dan ilmu tertentu secara langsung dari buku-buku nonfiksi, buku fiksi memberi saya semacam contoh kasus, aplikasi berbagai ilmu itu dalam kehidupan sehari-hari; walaupun kisah-kisah itu hanya rekaan.

Pencarian genre buku yang cocok dengan saya pun terus berlanjut. Saya, yang tadinya menggemari genre thriller, mulai mencoba membaca metropop, young adult, horor, dan genre yang sering menjadi momok (padahal dasar penamaannya tidak jelas): sastra. Terakhir, saya mulai mencoba-coba membaca kumpulan puisi sejak tahun 2017. Sejak 2016-2017 itu juga, saya berusaha mengejar ketertinggalan masa lalu dengan memperbanyak jenis bacaan dan menetapkan target membaca. Dalam setahun, saya pernah menyelesaikan hampir 90 buku, ketika sedang bersemangat sekali. Ternyata, para penulis—baik lokal maupun internasional—tak hanya menghadirkan buku-buku dengan berbagai topik, tetapi juga dengan berbagai bentuk/format, cara ungkap, sudut pandang, hingga pesan-pesan yang diselipkan.Pembahasan ini tentu tidak lengkap jika saya tidak menjabarkan buku-buku yang berperan membentuk saya yang sekarang. Outlier (Malcolm Gladwell, 2004) memang baru saya baca belasan tahun setelah terbitnya, tetapi isinya masih relevan dengan situasi sekarang. Berkat buku ini, saya jadi memahami salah satu alasan kekecewaan saya ketika membaca beberapa buku nonfiksi—karena ternyata tokoh yang menulis buku tersebut dilahirkan dengan privilese tertentu sehingga titik awal mereka dalam mengejar kesuksesan belum tentu sama dengan kita, apabila kita ingin mencapai keberhasilan yang sama. Buku nonfiksi lain yang juga saya anggap penting, yaitu Barking Up The Wrong Tree (Eric Barker, 2017) dan The Gene: An Intimate History (Siddhartha Mukherjee, 2016). Buku Barker mengubah pandangan saya mengenai cara-cara mencapai kesuksesan karena isinya berbeda cukup drastis dengan teori-teori kesuksesan yang dicekokkan kepada kita selama menjalani pendidikan formal. The Gene (yang saya baca dalam versi terjemahan Indonesia) menghadirkan sejarah biologi genetika yang dikemas dengan menarik. Suatu saat, mungkin buku-buku pelajaran sekolah perlu menyesuaikan bentuk mengikuti buku ini, agar para siswa lebih tertarik.

Adapun untuk buku-buku fiksi, saya akhirnya menyadari bahwa selera saya didominasi oleh buku-buku yang menerapkan eksperimen bentuk, diikuti dengan eksperimen tema. Beberapa buku yang menurut saya juga penting, dari segi bentuk, adalah Long Way Down (Jason Reynolds, 2017) dan S. (Doug Dorst & J.J. Abrams, 2013). Kedua buku ini mengubah cara pandang saya terhadap batas-batas yang dibuat oleh para pegiat literasi. Long Way Down, yang meleburkan dikotomi puisi dan novel, pernah membuat saya bertanya-tanya: jika buku ini ditulis dan diterbitkan pertama kali di Indonesia, akan masuk ke kategori apakah ia dalam penghargaan sastra? Masuk ke puisi, atau ke prosa? Atau bahkan tidak masuk, karena jurinya belum punya kategori untuk buku seperti itu? Sementara S., ini adalah buku yang meleburkan fiksi dan nonfiksi, dengan menghadirkan analisis terhadap cerita berbingkai yang berbalut teka-teki dan kepingan dokumen. Dalam menghadapi dan menyikapi pembaca ataupun pegiat literasi yang gemar membuat kotak-kotak antara buku fiksi dan nonfiksi, saya merasa buku-buku seperti S. ini perlu ada untuk menunjukkan bahwa segala aspek, termasuk jenis buku, tidak melulu harus memiliki kategorisasi pasti. Saat ini, kita bisa katakan bahwa there is nothing new under the same sun: bahwa semua tulisan yang ada saat ini adalah hasil modifikasi dan penggabung-gabungan dari tulisan-tulisan yang sudah ada sebelumnya. Utak-atik kombinasi ini menghasilkan hibrida yang mungkin tak bisa kita hitung jumlahnya; dan setiap hibrida tersebut akan mengisi spektrum tersendiri dalam katalog karya-karya yang sudah ada.

Bagaimanapun, membaca adalah sebuah privilese. Ketika kita mendapatkan kesempatan untuk mengakses buku dan membacanya, salah satu cara merayakannya adalah dengan bersikap terbuka terhadap segala jenis bacaan. Kadang kita tidak tahu kejutan apa yang akan diberikan oleh suatu buku, dan seperti apa buku-buku bisa mengubah cara berpikir kita. []

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s