Membungkam Medina

Menu makan siang kemarin sulit diingat. Kenangan tentang Medina tidak begitu. Ingatan dari musim gugur delapan puluh tahun yang lalu masih memancang kuat dalam benakku. Ia bening seperti kaca yang telaten dibersihkan setiap hari, tak pernah tergurat oleh cakaran waktu.

Di Ticrapo, kami sama-sama anak biasa. Berserikat dan berkumpul adalah adat orangtua kami, juga kebiasaan yang mereka tanamkan pada kami sedari dini. Tiga anak pun jadi, sembilan anak lebih baik. Jumlah kami tepat di tengah-tengahnya. Umur delapan menjadikan aku yang tertua di antara kami, sementara umur empat menjadikan Medina yang termuda. Rentang umur yang rapat—seperti rumah-rumah kami—membuat kami berenam cepat terekat. Bermain ke sana kemari adalah kebiasaan, letupan-letupan rasa ingin tahu adalah bumbu penyedap, dan omelan orangtua masing-masing adalah asam garam. 

Suatu siang kami tersasar. Blok asing itu memancarkan aura asing yang memikat, membuat kami semakin tersesat. Tahu-tahu kami tiba di hadapan rumah megah yang memancing ingin tahu. Kami mendekat, menyelusupkan badan-badan kecil kami, dan berhasil masuk—pintunya tidak dikunci. Anehnya, tak tampak tanda-tanda kehidupan di dalam gelimangan kemewahan itu. Lantainya tiga, tangganya berputar, dan kamarnya amat lapang. Sekilas, perabot di dalamnya tampak empuk menyejukkan. Saat beberapa anak terkesima dengan susuran tangga putar, dan saat beberapa anak lainnya sibuk menjelajah hiasan-hiasan tradisional Cusco yang tertata di sudut ruang tamu, aku dan Medina tersihir selera ganjil: kami terpana akan betapa besarnya tempat tidur di salah satu kamar. Kami mulai membayangkan kalau rumah kami punya kamar seleluasa ini. Takkan lagi ada tumbukan badan ayah-ibu dan impitan saudara-saudari yang mau menang sendiri. Bergoleran adalah impian yang nyata adanya.

Suara anak-anak lain makin jauh. Medina naik duluan ke tempat tidur. Aku naik sesudahnya, berbaring di sebelahnya. Mulailah kami menggelar permainan pondok-memondok dalam khayalan. Aku jadi tuan rumah dan Medina nyonyanya. Aku memberat-beratkan suaraku yang belum pecah, sambil menirukan dialog telenovela yang sering ibuku putar di radio. Medina membalas dengan repetan cadel yang menggemaskan. Dengan cepat kami menjadi bosan. Medina mengusulkan kami tidur sambil berpelukan. Sudah biasa dipeluk Ibu, aku mengiyakan saja. 

Hasilnya di luar dugaan. Badan delapan tahunku terkejat saat dadaku menumbuk dadanya yang tahu-tahu sudah tergunduk pampat. Badan empat tahunnya mungkin merasakan yang sama pada saat gelantung kemaluanku menyentuh kempitan pahanya. Kami terkesiap dalam kekikukan yang membingungkan; kerikuhan yang memaksa kami mengganti permainan menjadi kucing dan tikus. Aku yang kucing bertugas mencari lubang tikus, menyumbatnya, dan menang. Kami belum pernah memainkannya, tetapi kami hafal benar caranya, karena sangat sederhana. Kuturunkan celanaku. Dia turunkan celananya. Aku gagal di permainan pertama, tetapi langsung menang di permainan kedua. Kesal karena langsung kalah, wajah Medina merah padam. Celah pahanya langsung dia katupkan. Kawan-kawan bermunculan dari tangga dan pojok ruangan seperti ingus. Buru-buru kunaikkan celanaku. Kami berlarian pulang, takut tertangkap pemilik rumah. Hanya Medina yang tak sanggup berlari. Kaki-kaki kecilnya terseok setengah mengangkang. Aku menoleh, mendapati cara jalan barunya, segera merasa bersalah. Sesegera itu juga Medina mengusirku, menyuruhku jangan mengamati langkah-langkahnya.

Sejak hari itu, kami yang enam pun tinggal lima. Medina tak pernah mau lagi bermain bersama kami. Ada saja alasannya: mulai dari tak enak badan, hingga diajak ayah-ibunya ke Lima. Tidak pulang-pulang lagi. Aku tak percaya, tetapi kami berlima semacam disuapi informasi demi informasi, dan kami hanya bisa menelannya bulat-bulat, tanpa diberi kesempatan untuk mengunyahnya.

Kami sudah mulai melupakan Medina saat selembar foto tersiar di bulan Juli. Sontak, tubuh ajaib di ranjang raksasa itu kembali menyebat dalam ingatanku: keranuman sepasang payudara kecilnya yang kini disandingkan dengan keraksasaan perut buncitnya. Tersiar kabar Medina berbadan dua, lalu sesosok bayi laki-laki merayap muncul dari lubang tikusnya. Paman Tiburelo tidak bertanya siapa ayahnya. Lalu Paman Tiburelo ditangkap. Tak lama, Paman Tiburelo dibebaskan. Tanpa syarat, tanpa bukti, tanpa tersangka lain. Kasus ditutup. Medina menghilang. Medina melegenda.

Aku tahu Medina memilih bungkam—betapa kejamnya. Dia biarkan anak laki-laki itu tak tahu siapa ayahnya sampai akhir hayatnya.

Yang Medina tak tahu adalah bahwa pilihanku sama saja dengan pilihannya—juga bungkam. Aku harus melindungi kaumku agar kami terhindar dari ketahuan, ditangkap dan diikat di kayu pancang, lalu dibakar dan diarak. Namun, yang terpenting adalah bahwa aku—yang kini masih tertanam di dalam tubuh anak delapan tahunku ini—tentu tak mau dikenal sebagai ayah termuda di dunia.

 

 


Jakarta, 04/11/2019, 683 kata.

Fiksi sejarah atas kisah Lina Medina (b. 1933), ibu termuda di dunia asal Ticrapo, Peru; yang melahirkan pada usia 5 tahun 7 bulan pada tahun 1939. Ayah bayinya tidak diketahui. Foto dari tautan ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s