Triumvirat

Kemarin

Ini hari pertamamu masuk sekolah.

Melepaskanmu hingga terlanggas bukanlah hal mudah, sungguh.

Pesan buatmu cuma satu: Apa pun yang terjadi, jangan pernah takut.

Mengapa?

Nanti, akan ada banyak serempetan tangan mengguratimu, menggerayangimu. Banyak tebasan kaki menerjangmu, menjungkalkanmu. Banyak mulut bercemooh menertawakanmu, menggunjing tentangmu. Mengatai rupamu yang tampak kenyal, tetapi terlalu membal. Mencemooh kulitmu yang terlalu pucat, alih-alih cokelat langsat berkilat seperti lazimnya mereka para pencibir. Memojokkanmu pelan-pelan ke lapangan luas yang tertutup itu. Mengatai semburat sejadinya dari matamu, yang terlalu sayu dan cekung, alih-alih berbinar cokelat terang seperti milik kaum mayoritas. Atau menyoal gerakanmu yang terlalu perlahan, seperti insan sekarat yang sibuk merangkak susah payah menuju gemintang; yang ironisnya sama seperti slogan sekolah ini.

Ini baru hari pertama, dari ribuan hari lain yang akan kaujalani. Kamu tidak akan kalah. Tidak akanlah kamu tercabik-cabik, terobek tidak keruan, tersobek-sobek, atau terperas hingga berpilin dan kerontang. Pelan tapi pasti; sekaki demi sekaki, sejengkal demi sejengkal, seinci demi seinci, kamu akan mengalahkan semuanya. Karena kamu istimewa. Sangat istimewa. Kamulah yang terbaik, dan selalu akan begitu.

Tetes air mata ini ialah hanya untukmu. Seka atas pipi basah ini juga hanya bagimu. Kenangan bersamamu mungkin akan segera tandas, ketika mata memandang dan hanya menjumpai langit yang begitu pulas biru. Sepersekian detik abai akanmu.

Oh, tidak.

Tidak!


Setahun yang lalu

Kamu seharusnya sudah belajar menggambar.

Satu tangan gempalmu seharusnya sudah mahir menggenggam ujung krayon, mencoretkannya ke tembok, asal maupun bermaksud.

Mula-mula bulat, lalu tanda tambah besar tepat di bawahnya, lalu ujungnya yang bercabang kiri kanan tak sama panjang. Seharusnya gambar itu ada lima. Dua besar, tiga kecil. Di antara dua, satu kamu tambahkan rambut cokelat panjang bergelombang, satu lagi kamu coretkan krayon hitam berjubelan, sekenanya saja. Mau kauapakan sisa-sisanya, tak akan pernah jadi soal.

Di belakang mereka semua, seharusnya ada bangunan segilima berantakan, yang lantas kamu sebut sebagai rumah. Semacam sangkar reyot yang meskipun miring sebelah, ia ramai oleh derai tawa bahagia, antara satu sampai lima.

Di atas mereka semua seharusnya begitu biru, dihiasi kepulan yang mengapung anggun serupa kapas, membulat-bulat selayaknya parasmu.

Di bawah mereka semua seharusnya hijau menyejukkan, meskipun kamu telanjur menggoreskan krayon itu kuat-kuat hingga patah jadi dua, demi menghasilkan hijau yang paling hijau, lemebihi semua hijau yang pernah kamu lukiskan.

Minggu lalu, seharusnya kamu mendapat hadiah peralatan gambar. Entah itu cat air atau krayon, cat minyak atau pensil warna. Seharusnya kamu ikut mereka semua berebutan hadiah yang terbungkus kertas corak warna-warni, tersimpul dengan pita, tertumpuk rapi di sudut ruangan. Ia lelah menunggumu datang untuk mengulurkan tangan, merampas satu dari mereka, merobek bungkusannya, lalu merengek minta ditemani menggambar. Kamu paksa semua orang di sekitarmu mengangguk saat kamu raih tangan mereka dengan sebelah genggam kecilmu, seraya menarik-narik agar mereka mau melukis bersamamu, atau setidaknya, menemanimu seharian. Benar juga, setelah dirasa-rasa. Menemanimu menggambar, berapa jam pun, seharusnya tidak akan melelahkan. Menyenangkan. Melegakan dahaga ganjil yang mengesat lama. Menuntaskan kerinduan yang mengkristal hingga beku.

Setelah itu, kamu tertawa lepas. Seharusnya juga, suara tawamulah suara yang terindah di dunia ini; yang bisa disesapkan dalam-dalam ke tiap celah mulai dari liang telinga, menembus jauh hingga ke setiap alir darah, setiap organ, setiap sel, setiap denyut kehidupan. Bercak noda bertebaran di sana-sini, pertanda bahwa seharusnya kamu memang begitu lincah. Begitu menggemaskan; sampai semua tak bisa berhenti tersenyum karenamu.

Baiklah. Setelah kamu selesai mandi dan mengharum seperti bunga, mengepang dua rambut cokelatmu ialah ganti yang sepadan ketika tirai getir menyingkap fakta bahwa kamu belum bisa menggambar, belum bisa tertawa, bahkan belum bisa memercikkan noda ke karpet dan seprei. Pun ketika air mata berkejaran turun ke bumi demi mengusir jauh pahit itu, membasuhnya sampai luruh. Kamu menyukai kepang satu. Akan tetapi, biarlah. Kamu mendapat bonus satu lagi. Lagipula kamu tidak akan menggerai rambutmu paksa, tidak akan menolak. Tidak akan bisa. Kamu geming saja, namun masih begitu cantik. Cantik seperti kali pertama, kedua, ketiga dulu.

Seraya mendekapmu hangat dengan dua tangan, lalu merengkuhmu dengan dua lengan, jelaslah kamu tetap yang terbaik; ciptaan terindah dari rahim ini.


Tiga tahun yang lalu

Benang terakhir, jelujur terakhir, simpul terakhir. Tarik, ikat mati, gunting, tancap, selesai. Hei! Ini pakaian buatmu. Bagus, bukan? Turunlah, turun. Sini turun, tangan ini menadah buatmu.

Lihat! Ini gaun tercantik yang pernah terjahit khusus buatmu. Warna dasarnya putih bersih, senada dengan kulitmu yang begitu pualam. Manik-maniknya khusus disematkan sesuai warna rambutmu. Mutiaranya serupa dengan kilau putih matamu. Pitanya senada dengan pulasan di bibirmu, kembang roknya merekah seperti rona sepasang pipimu. Sini, kedua kakimu masuk ke dalam sini! Naikkan gaunmu, lalu rentangkan tanganmu masuk ke lengan yang satu, lalu lengan yang lain. Dari belakang, ritsletingnya tinggal ditarik, tuntas sampai atas.

Lihat, lihat? Ia sempurna membalut tubuh mungilmu. Sengajalah ia dirancang begitu, supaya tak ada yang tertegun melihat parut panjang di punggung dan pinggangmu. Lehernya juga begitu tinggi, supaya tak ada pula yang mematut jejas berbenjol-benjol yang menguar di sekeliling lehermu. Berputarlah. Menarilah sepuasmu. Tertawalah selepasmu. Tantanglah mentari. Jawablah rembulan. Bebas. Apa pun yang kamu mau.

Tidakkah kamu lihat, bahwa kamu begitu sempurna di dalam sana? Bahwa kamu ialah sesempurna ciptaan istimewa dari rahim ini?


Empat tahun yang lalu

Mari minum susu!

Kamu, kamu, dan kamu datang. Ramai sekali kalian bertiga! Tenang, tenang, jangan berebutan! Semua pasti dapat jatah! Aduh! Alangkah senang melihat kalian begitu lahap. Lantai ini begitu berlepotan, tak masalah! Yang penting kalian semringah!

Hari ini, satu dari kamu genap berumur dua tahun. Anggaplah ini pesta ulang tahunmu. Satu lagi sedang jalan empat tahun. Satu lagi menuju tujuh. Kata pemerintah, dua anak cukup. Namun karena ayahmu sudah entah rimbanya, memang lebih baik jumlah kalian ditambah satu. Sepi, kalau cuma dua, sementara dia tidak ada lagi. Kata mereka hidup berempat itu ideal, sama seperti yang diimajikan kaleng-kaleng makanan, iklan/iklan benderang di jalan, dan poster-poster film yang dipuja-puji. Namun, mengejar kalian bertiga itu menguras peluh. Melelahkan; terlebih bila tenaga sudah mau habis, sementara kalian belum makan, belum dapat suapan, belum dapat tetekan. Tenaga ini masih perlu disimpan. Uang masih harus dicari. Napas masih harus disambung.

Tumpuk kain perca yang mengonggok, gelondongan benang beragam warna yang terjulur dan saling belit, hingga rak-rak kecil yang tak jelas apa isinya bertumpah ruah. Kalian menabrakkan diri ke lemari, menubruk tumpuk kain hingga bergelayutan. Satu dari kalian menginjak jarum pentul hingga mengaduh-aduh, minta lukamu dibasuh, dan air mata dihapus. Belum lagi penutup luka buatmu mendarat ke tempat semestinya, satu dari dua sosokmu meraung-raung nyaring. Ada yang terjepit pintu. Jempol kakimu biru-biru, kuku ibu jari kakimu remuk. Namun, kamu sangka kakimu yang mau buntung. Satu lagi dari kalian entah mana rimbanya; mungkin…. TIDAK! Kamu sedang merangkak ke atas rak, memanjati bonggol laci demi laci. Kamu ada di ambang yang teramat jelas untuk merobohkan lemari itu dalam sekejap, menimpamu sampai rata dengan ubin di lantai, menyiksamu sampai tak bisa lagi berhela berhirup.

Manakah yang harus terselamatkan duluan?

Kamu yang terinjak jarum pentul, terjepit pintu, ataukah memanjat rak? Memanjat pintu, terjepit jarum pentul, terinjak rak?

Pusing semacam itulah yang menghantui setiap hari. Kalau kalian masih bertiga. Kalau kalian masih tercerai-berai.

Lalu terbitlah ide itu. Cemerlang. Namun, jelas ia jalang.

Mesin jahit tua itu masih di sana. Tidak ada yang menggenjot kakinya sejak dua bulan terakhir. Tepat di sebelahnya, ada segulungan benang cokelat tebal yang indah, kiriman dari pembeli, yang sempat ternyana sebagai rambut. Benang yang tak pernah dirajut jadi sesuatu, atau takkan pernah menjadi apa-apa sampai nanti.

Rambut.

Rambut. Oh….

Kalian bertiga, mari sini.


Lima tahun yang lalu

Ada yang tanpa sengaja membenturkan kepala bayi kecil ke tembok, hingga ia berdarah-darah tanpa daya dan nyawanya langsung berpulang kepada Tuhan tanpa banyak tanya dan sanggah.

Ada yang mengaku khilaf membaringkan kepala berambut lembut itu dalam-dalam ke bak, lupa mengangkatnya tepat pada waktunya. Semesta melakukan tugas yang sama; sementara pelakunya tinggal memilih berbohong dan menyesal, atau bersorak-sorai dalam hati, atau keduanya sekaligus.

Ia memilih langkah berbeda.

Tahu begitulah nasibmu kala lahir, ia penggal kepalamu.

Boks itu, tempatmu seharusnya berbaring, berselubung hangat selimut dan denting-denting kecil mainan di udara, kini telah lenyap.Berderai, berkeping di lantai kayu. Untung dekapan atasmu tiba tepat pada waktunya, meskipun lamat-lamat ia penuh darah. Mula-mula di kedua tangan. Lalu suara robek. Bengis dan menyayat telinga. Lalu selinapan lendir bercampur air yang merah bata, merambati sela paha ini, perlahan. Sakit. Sakit sekali. Di bawah sini, di atas sini. Semuanya.

Itu ayahmu. Ia melontar cambuk tanpa banyak tanya, seolah tindakannya sepasti gravitasi, seharus manusia mati. Ia lalu menempeleng wajah ini, berkali-kali, di dua pipi, leher, dahi, dan hidung; tanpa sepatah kata pun. Mengharap semua mau paham akan galau yang mengebul dalam kepalanya, yang meruap-ruap sebagai sesaput kabut merah di matanya. Galau karena alih-alih memilih bayi normal selayaknya isi jutaan boks di luar sana, pilihan ini jatuh padamu.

Gugat ini mengangkasa. Tahu apa ayahmu soal pilihan, memangnya? Tahu apa dia soal kenirdayaan memilih, memangnya? Ia tidak tahu apa-apa. Juga tidak mau banyak bertanya. Ia tidak paham, tapi tidak mau melonggarkan batas sabarnya lagi, batas toleransinya sesentimeter lagi; lantas menyalahkan dua angka di lilin kue ulang tahun terakhir yang ia sangka terus mengejarnya siang dan malam; lantas mendompleng nama ibu dan ayahnya sebagai sepasang pemburu yang haus akan hitungan kepala.

Itu ayahmu. Seburuk apa pun ia, ia bersaham atas dirimu. Dulu ia mau duduk bersama, lalu berpangkuan, bantu membentukmu seperti merakit gerabah. Mau mengusap perut dengan hati-hati. Mau menuntun kala lantai terlalu licin sehabis dipel. Hati-hati ia bergerak, merapatkan telapaknya kemari, menjentikkan jari; harapannya agar kamu cantik. Licin merekah, tanpa cela, simetris tanpa jeda. Sudah tiga kali ia mencoba. Ketiga kalinya juga keberuntungan tak mau datang; kini giliranmu lahir di dalam becak bau apak, lalu dibopong pulang dalam dekap panik yang tergopoh. Ketiga kali ini, ia melihatmu lekat-lekat. Napasnya berderap, keringatnya tidak kunjung ia lap, bibirnya mengatup. Baginya, inilah tulah ketiga berturut yang teramat jelas, di mana kamu tidak kunjung cantik jua. Usai menebas kepalamu sampai terpelanting ke lantai, murkalah ia, menyalahkan oranglah ia sejak itu, setiap hari. Semua rangka yang ia pernah siapkan buatmu sejak lima tahun lalu ia tendang sampai putus jadi dua lakur. Ia injak-injak sampai mengusut masai. Ia lemparkan ke dinding sampai jadi berbeling-beling. Berantakan ke mana-mana. Ia menuding muka dan raga ini sebagai pembawa sial. Tiang pancang yang mengundang elang pemakan bangkai. Ia mengharap kamu, yang terbaring di pinggir sana, bisa meraung takut dan mengisak seperti habis dirisak lalu berubah jadi jelita dalam sekejap mata, meskipun tahu kamu akan tetap di situ, tetap merupa seperti itu juga, mematung berpasrah saja.

Itu ayahmu. Lupakan ia. Ia sudah pergi, membanting pintu.

Kalau tidak, lebih baik kamu yang pergi.

Tapi, tidak. Tidak. Kamu tidak akan pergi. Tidak akan. Dia yang pergi.

Kamu masih punya pelindung selain dua tangan ini.

Dua kakakmu.


Delapan tahun yang lalu

“Tiup lilinnya, tiup lilinnya….”

Kakimu menendang. Keras.

“Tiup lilinnya sekarang juga, sekarang juga!”

Kakimu yang satunya tak mau kalah. Ia menendang. Lebih keras.

“Sekarang juga!”

Kerasnya tak kunjung lepas. Keras, keras, makin keras.

Seolah suara pekik bisa melepaskan sepakan kakimu jadi lemas, sebuah teriakan menggema. Lutut ini jatuh bertekuk, berjumpa lantai yang dingin.

“Zahra?”

Ya?

“Kamu mau melahirkan?”

Sepertinya begitu.

“Berapa bulan sih memangnya?”

Lima setengah.

“Hamilnya masih kecil, kok.”

Memang.

“Kasihan. Masak harus keguguran lagi.”

Kamu tahu dari mana bayi ini sudah mati? Ia masih menendang-nendang barusan! Enak saja kamu!

“Panggil ambulans!”

Cepatlah!

Cepatlah!

Semua buram.

Entah apa itu tadi.

Ambulans datang. Sirene meraung. Klakson bersambung-sambung. Brankar di lorong. Bau desinfektan mengekang. Ia bercampur amis darah dan pesing kencing. Kerekan tirai ditarik dorong paksa, bergemerincing tanpa kompromi. Kelebatan kain hijau dan jubah hijau, berdiri, rebah, menggelantung, menerawang. Napas tinggal satu dua tiga. Denyut berderu kencang.

Lalu awan putih. Kantuk teramat sangat.

Begitu lama. Jam klasik tanpa ornamen berdetik di tembok putih suram. Ia tak seirama dengan nadi.

Ada ayahmu. Ia duduk di situ. Termenung. Tak ada lagi kata-kata penghiburan.

“Mana dia?”

Ia menggeleng saja.

“Jangan katakan…. oh….”

Telisiknya sudah hati-hati, tetapi masih terbaca juga.

Intinya, ia mau bilang bahwa kamu sudah mati, Sayang.

Mengemislah ia meminta mayatmu, lengkap dengan gumpalan sekepal tangan yang tadinya mengimpitmu di rahim ini. Mereka mengiyakan. Stoples kecil itu terbuka. Dada kecilmu semacam jantung yang tak lagi berdenyut, di kiri kanannya masing-masing ada lengan mengetul, seolah belum siap mengepak bebas menuju langit. Entah ke mana sisa ragamu; mungkin semua mengerut terlesap ke jantung, atau mungkin semua sedang sembunyi.

Bisik kepada bentukmu yang tak beraturan itu cuma lima kata. “Sabar, bagaimana pun dia ayahmu.” Namun, lupa ialah manusiawi. Kamulah sebentuk malaikat yang cantik. Terbanglah, terbang jauh dari rahim ini.

Hidup ataupun mati.


Sepuluh tahun yang lalu

“Zahra.”

“Tidak.”

“Zahra. Tolong. Dengar dulu penjelasanku.”

“Tidak! Tidak!”

“Zahra. Kehamilanmu….”

“Aku sudah lihat fotonya. Sudah dengar diagnosisnya. Kurang apa lagi, hah? Kamu masih mau….”

“Zahra! Ini tidak boleh dipertahankan. Harus digugurkan segera. Kalau tidak….”

“Kalau tidak? Kamu yang tak mau bertanggung jawab! Bajingan!”

“Dengarkan aku dulu, Zahra.”

“Tidak!”

“Dia tidak akan hidup! Tidak akan! Kamu tahu, ‘kan?”

“T-t-tapi … di foto itu … kakinya … pinggulnya … setidaknya masih ada harapan untuk….”

“Tidak, Zahra. Tidak mungkin.”

“Mungkin….”

“Kepalanya tidak ada. Jantungnya tidak ada.”

“Tapi….”

“Zahra! Ini kenyataan! Bangun! Bangun!”

“Aku tidak mau menggugurkannya. Tidak! Kenapa kamu, kalian semua, begitu kejam?”

“Kamu masih muda, Zahra. Masih bisa hamil lagi lain kali. Waktumu masih panjang.”

“T-t-tapi….”

“Kita bisa usahakan lagi, Zahra.”

“Tapi dia hidup! Dia sudah berumur lebih dari seratus dua puluh….”

“Zahra! Sadarlah!”

“Tidak!”

“Bangun, Nak! Bangun!”

Tapi kamu tidak bangun.

Kamu mati.

Benar kamu sudah mati.

Yang sudah mati takkan bisa hidup lagi.

Ini entropi. Destruksi. Gravitasi. Lubang hitam abadi.

Kaki mungilmu. Pinggul kecilmu. Lalu bongkah massa berjendulan menggantikan badan, lengan, dan kepalamu.

Gelengan bisa mencegah derai air mata ini terlalu cepat membasahi bumi. Berulang, berulang lagilah gelengan itu, berlanjut dengan pelukan itu, sembari benak ini berucap lirih bahwa kamu cantik.

Kamulah ciptaan terindah dari rahim ini, apa pun wujudmu, Sayang.


Hari ini

Kisah Tragis Zahra: Antara Mesin Jahit dan Keturunan yang Tak Kunjung Hadir

Prandia News Series, 18/8. Hari pertama tahun ajaran baru di Taman Kanak-kanak Pristine Town dikagetkan dengan kehadiran salah satu ibu yang menggendong boneka dalam stoples. Wanita bernama Zahra Mahrawadi (37) itu, yang berprofesi sebagai tukang jahit honorer, mengklaim bahwa boneka anak perempuan berambut kepang dua yang diletakkannya dalam stoples berformalin itu adalah putrinya, yang hari itu turut masuk TK Pristine Town bersama dengan anak-anak lain. Sontak, kehadiran Zahra menggegerkan komunitas TK ini.

Dilaporkan oleh salah seorang saksi bernama Haji Said (62), Zahra membentuk boneka anak perempuan ini dengan jahitan rapi yang menyatukan potongan jasad tiga bayi menjadi satu kesatuan utuh: Pinggul dan dua tungkai diduga dari satu bayi; sebuah kepala dari bayi lain; dada dan dua lengan dari bayi lain lagi; dan segumpal massa berlapis-lapis tebal yang diduga tumor sebagai pembentuk batang tubuh boneka mengerikan itu. Kepala boneka itu dibuat dari benang cokelat yang menyerupai rambut. Riwayat kesehatan Zahra memang cocok: Ia pernah tiga kali hamil. Kehamilan pertamanya berakhir dengan hamil anggur, di mana bayinya tidak terbentuk dan hanya memiliki tungkai dan pinggul. Kehamilan keduanya berakhir prematur, karena ia ternyata mengidap tumor rahim yang mengganggu pertumbuhan bayinya hingga meninggal. Kehamilan ketiganya selamat secara ajaib hingga bulan kesembilan, namun janinnya sudah meninggal ketika dilahirkan.

Meskipun sudah bersikukuh bahwa boneka itu pernah membantunya menjahit, pernah melukis dirinya, dan pernah bermain pondok-pondokan bersamanya; Zahra belum memberi konfirmasi lebih lanjut perihal mengapa ia menyimpan jasad bayi-bayinya, mengapa ia merajut ketiganya jadi satu, dan mengapa selama ini ia menganggap boneka itu hidup. Kepolisian Pristine masih menginvestigasi, bersama dengan tim berisi sejumlah psikiater dan psikolog dari Rumah Sakit Umum Regenta Pristine. Pihak rumah sakit akan mengonfirmasi lebih lanjut, segera setelah pemeriksaan menyeluruh terhadap Zahra membuahkan hasil.

Saat ini, stoples sudah diamankan pihak kepolisian sebagai barang bukti. Kapolres Pristine, Budi Haryadi Sarminto, masih bungkam tentang potensi ancaman hukuman bagi Zahra. Beliau hanya menyebut bahwa tindakan ini berpotensi dikenai pasal pembunuhan berencana dan penganiayaan.

Laporan berikut akan menyusul. (trd)

 

 


Jakarta, 19 Mei 2017; dengan sejumlah modifikasi.

Pernah diikutkan dalam kolaborasi Di Bawah Langit di StorialCo, tema “anak yang hilang”, subtema pilihan “Stephen King: Fiction is the truth inside the lie.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s