Biar Kekallah Kami di Bumi

Seratus lima puluh Desember yang lalu, Kakek pernah mengajariku mengenali Natal dengan mengamati butir salju yang berkejaran turun. Ia membuka mulut. Lantun perlahan dan tatapan purbanya kubalas dengan decak dan delik marah.

“Cara macam apa itu, Kek?”

“Dengar dulu, Nev.”

“Tidak, Kek. Itu tak masuk akal!”

“Ya tidak apa! Yang penting kamu tahu sendiri, sudah cukup!”

Aku menyerah.

“Kamu lihat, Nev, kalau ada satu saja butiran salju yang bisa mengejar butiran salju di bawahnya, berarti sudah tanggal 24.”

Aku mendengarkan. Kurang saksama, tapi cukup menancap dalam ingatan. Otakku yang masih lugu—dan belum dicekoki teori-teori fisika dari para dosen dan profesorku—mengamini saja. Memang beberapa butir salju seolah lebih cepat daripada kawanannya. Mereka, lambang dingin yang hakiki, saling tak mau kalah, meskipun sama-sama dipasung gravitasi, jatuh ke pelukan bumi.

Aha! Itu dia! Salju sekepalan tanganku membalap bola salju yang sebesar kerikil.

“Benar, kan, Nev?”

Aku tertawa.

Kakek semringah.

Aku pun semringah kalau ingat masa-masa itu. Ketika Kakek masih ada, ketika umur bisa ditera dengan perpaduan aktuaria dan peta bintang di jumantara. Masa-masa ketika semesta masih mengembang, ketika semua tak masalah saling menjauh.

Sampai berpuluh Desember kemudian.

*

Lima puluh Desember yang lalu, semesta berhenti menjauh. Perlahan, mereka sepakat saling berpelukan kembali. Ahli fisika dibuat terperangah, hingga merasa perlu mengecek sampai lima puluh kali hanya untuk menemukan fakta yang sama dan sama lagi. Hingga kini, alam semesta menyempit, saling dekat, menunggu debum terakhir.

Semacam ketuk palu kiamat.

“Benar, kan, Nev?”

Suara itu tidak purba dan tidak serak. Beratnya penuh, kuat, bergelora di tengah beku. Jelas itu bukan Kakek.

Itu Kaspar.

Ujaran itu selalu hadir tiap Desember, ketika aku duduk meringkuk dekat kosen jendela, sambil menatap hujan salju yang kecepatannya tak lagi sama dengan hipotesis Kakek. Sekarang, mereka semua turun lebih tergesa, lebih tegak lurus. Tak lagi ada tarian miring kanan atau miring kiri seperti dulu. Semua sama cepat.

“Benar apanya?”

Dengan sigap, Kaspar menarikku keluar dari kabut lamunan. Jemariku dan jemarinya bersentuhan, saling mengait.

“Benar bahwa teori kakekmu salah.”

“Newton bisa murka. Atau justru dia tertawa dari dalam kubur.”

Kaspar mendecak. “Kakekmu bisa saja mendebat Newton di sana. Kalau perlu sama Tyson, Sagan, Hawking, Thorne, Feynman….”

“Kaspar,” jemariku naik, hendak menyisipkan rambut ke belakang telinganya, “itu bukan urusan kita lagi.”

Ia mengelak. Aku tahu ia tak suka rambut lebatnya diperlakukan bak rambut gadis. Ia melompat ke sebelahku, ikut duduk di kosen. Sesuatu yang jarang ia mau lakukan. Dingin, katanya tempo hari.

“Kamu tahu tempat paling aman di dunia ini seandainya kiamat itu memang ada?”

Aku menggeleng. “Di bawah dedalu api?”

“Bukan.”

“Depan perapian?”

“Bukan! Lebih salah lagi.”

“Jadi?”

Kaspar menunjuk ke cemara palsu buatan kami. Ia ada di sebelah jendela yang satunya. Baru selesai kami rakit kemarin malam. Belum banyak lampu tersemat di dedaunannya. Belum ada pula hadiah yang tergeletak di bawahnya. Padahal tinggal tiga hari.

“Kita belum menghiasnya, Kaspar!” pekikku panik, segera bergegas bangkit dari duduk.

Barulah saat itu kulihat, ada salju mengonggok di salah satu sisinya. Jendela kami tak menutup sempurna. Seseorang di antara kami telah ceroboh.

“Oke, Nevada. Sebentar.”

Kaspar naik ke loteng. Aku tahu ia ingin mengambil sekop. Pekerjaan mudah, mengingat aku tak pernah mengemaskan sekop sampai dalam-dalam atau ke tempat sulit. Sementara, aku beranjak ke kamar mandi. Sudah seharian kami tidak berendam air hangat. Lebih baik kusiapkan dulu.

Kejadiannya begitu cepat. Kaspar turun dengan mengempit sekop. Ia mengangkat penutup jendela sedikit, bermaksud menutupnya. Berat. Jadilah ia berjinjit, berdiri ke pinggir kosen. Namun, ia memegang kenop dengan terbalik. Jendela menyentak, angin menyerbu masuk, dan ia terpeleset.

Kupikir, ia lenyap di balik berkah di pohon Natal.

Aku merutuk mengapa aku begitu bodoh.

Keajaiban itu tidak ada.

Aku menangis.

Aku mencari-cari Kaspar.

Badai tak berhenti hingga tujuh hari berselang.

Barulah, ia muncul dalam keadaan yang mengejutkan.

*

Ketika badai putih mengamuk menjelang Natal, aku naik ke loteng. Desember demi Desember, sendi-sendiku semakin tak mengizinkanku melakukannya. Biar.

Kubuka pasu yang kusimpan dalam peti itu Bunga-bunga salju menyambutku. Sedikit serpihnya melompat ke pipi, membelai lembut, dingin sekaligus hangat.

Nadir semesta tak jauh lagi. Menunggu kiamat, kupikir Kaspar setuju untuk masuk ke tubuhku, menjadi darahku, mengikat dagingku. Sesekali, jika aku mau, aku mengambil sejumput Kaspar. Kuseduh dalam air yang habis kujerang, kuseruput perlahan, selagi hangat.

Biar kekallah kami di bumi.

 

 


[Jakarta, 22/12/2017, 699 kata. #NulisKilat 22 Desember 2017, tema Natal, kata kunci Salju, genre bebas. 

[1. Semesta saat ini sebetulnya masih mengembang (inflasi). Ini adalah gambaran dunia di mana semesta sudah mengerut (deflasi), yang belum diketahui akan terjadi kapan.
2. Nama karakter: Nevada (Spanyol, salju), Kaspar (Jerman, nama salah satu dari tiga raja yang mengunjungi Nabi Isa/Yesus saat baru dilahirkan).
3. Nama-nama yang disebut Kaspar: (Richard) Feynman, (Stephen) Hawking, (Isaac) Newton, (Carl) Sagan, (Kip) Thorne, (Neil deGrasse) Tyson.
4. Dedalu api = mistletoe dalam bahasa Indonesia.]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s