Kakisthimatos

Kekuatan semprotan air derajat dua. Suhu dua pertiga ke arah kenop biru, sepertiga ke merah. Kenyal sampo memercik sebesar dua butir jagung setiap tiga detik. Didiamkan tiga puluh detik mengucur deras, bolak-balik menerpa punggung dan telapak tangan. Kadang kunaikkan jadi derajat empat dan kuulang semuanya tiga kali, kalau suasana hatiku sedang buruk. Seperti hari ini.

Kini tujuanku cuma satu: Membersihkan jari-jari tanganku dari jejak kulit kepalanya.

Kepala yang kutahu takkan pernah kembali. Yang takkan pernah jadi milikku.

*

Kelir di panggung sudah bersinar terang sejak tadi, dihajar lampu proyektor. Aku saja yang terlambat menyeruak di balik gegundukan surai beraneka warna dan ketinggian, demi menyimak tetirahnya. Duduk di baris kedua dari belakang di amfiteater ini memaksaku memicingkan mata, meskipun sudah memakai lensa spesial. Terpampang jelas di layar, sebuah angka satu, diikuti sebelas buah angka nol.

“Kita semua tahu, bahwa otak kita begitu hebat. Otak kita ini punya seratus miliar sinaps,” seiring lincah perpindahan pendar lingkaran hijau dari tangan sang profesor, mengitari sebuah angka satu yang dibuntuti sebelas nol, “yang menjembatani berbagai fungsi kehidupan sebagai manusia.”

Kasak-kusuk gerombolan mahasiswa di sebelahku makin menjadi. Mereka berlomba membocorkan proyek sang profesor ke teman-teman, demi terlihat keren dan mirip intel. Aku menggeleng dalam geming.

“Kalian lihat, robot terbaru yang diproduksi masal oleh pemerintah sudah ditanami sirkuit elektrik termutakhir,” sang profesor berujar saat ia berjingkat ke samping. Pendaran lampu di dalam ruang amfiteater meremang, menguarkan aura antusias kehausan yang menggelantung dalam senyap. “Kecanggihan sirkuit otak ini tidak perlu diragukan lagi. Semua informasi komplet di sana. Atau Anda kurang puas? Tinggal pesan ke pemerintah, mau paket apa. Paket hakim, pilot, dokter, insinyur mesin, semuanya ada. Sirkuit bisa dipilih sesuai bundel pengetahuan yang Anda mau. Tinggal disempalkan ke tempurung kepalanya. Kalau dirasa kurang, tinggal dijejalkan lagi. Diutak-atik saja seperti Lego.”

Kerumunan mahasiswa terperangah dengan perumpamaan sang profesor. Begitu mudahnya kecerdasan buatan para robot dipermainkan seenak membangun rumah boneka. Riuh rendah gaduh mulai mendengung dari berbagai penjuru, menghantarkan getar yang menggidikkan kedua gendang telingaku.

“Kekurangannya, robot generasi dua tahun yang lalu belum diperkaya sistem sinaptik menyeluruh. Mereka pintar, cerdas, punya kapasitas otak yang mahabesar, tapi tidak punya perasaan. Tidak mengenal emosi manusia. Cuma bermodalkan rancang ruwet berbagai komponen elektrik di atas sirkuit, yang ternyata tidak cukup. Begitu banyak pekerjaan robotik yang ternyata masih membutuhkan empati,” ia berdeham sejenak, sebelum memberikan tatapan misterius, “Tapi jangan khawatir. Inilah solusinya.”

Kerai jendela di satu sisi amfiteater ditutup, pertanda sang profesor ingin menyingkap sebuah kejutan. Proyektor masih setia menembakkan sinar tajamnya, seraya lembar di atas kelir beralih. Hadirin diam dalam upaya mencerna makna foto potongan melintang rambut yang terpampang dengan rincian sempurna itu.

“Kini kita memasuki gerbang baru era robotik. Robot kita akan dilengkapi sistem sinapsis sebagai pelengkap sistem sirkuit. Seratus ribu helai rambut di kepala setiap robot akan merangkum seratus miliar sinaps di otaknya, lengkap dengan neurotransmiter. Jadi, di setiap helai rambut kepalanya, akan mencuat sejuta sinaps. Selain cerdas dan pintar; mereka pun akan dipersenjatai dengan emosi,” tandas sang profesor. Ia memutar badan, menghadap para hadirin, menyilangkan satu tangan di depan, dan melipat yang lainnya di punggung ketika membungkuk, “Sekian dan terima kasih. Pertanyaan menyusul di sesi berikut.”

Kelebatan memori datang seketika, tepat saat sang profesor terlesap oleh tirai di balik panggung. Memori tentang mengapa aku mendapatkan undangan untuk hadir di kuliah umum Profesor Garveaux. Aku, yang bukan mahasiswa, dan bukan siapa-siapanya.

Kuncinya ada di jari-jari tanganku.

*

Kelakar sejak beratus tahun silam berkata, bahwa pekerjaan itu belum layak disebut pekerjaan kalau sang pekerja belum pernah mengeluh tentangnya. Faktanya, pekerjaan di era ini lebih sesuai disebut siksaan, ketimbang pekerjaan. Robot selalu ada, sejauh mata memandang, sebagai bukti bahwa di sebagian besar aspek kehidupan, tenaga dan otak itu jauh lebih superior manfaatnya daripada seonggok timbang rasa bertajuk empati.

Ketika manusia mulai enggan berprokreasi dengan sejuta alasan, berbagai lapangan kerja mulai terbiar kosong. Pemerintah mencari akal. Memberi insentif supaya mau punya keturunan, satu pun jadi. Awalnya manjur, lama-kelamaan tidak lagi. Demi tetap jalannya perekonomian — demi uang, dalam bahasa kasarnya — pemerintah menempuh jalan pintas. Perlahan tapi pasti, robot mulai menggantikan fungsi manusia. Kemajuan akan kecanggihan robot pun semakin tak terbayangkan. Jika awalnya robot hanya mampu bekerja kasar, kini robot sudah bisa menggantikan sejumlah pekerjaan kerah putih. Jika awalnya robot cuma berbentuk gumpalan-gumpalan berkabel dengan kompleksitas biasa saja, kini robot sudah sangat mirip manusia. Mereka punya rambut — jumlahnya juga seratus ribu — dengan fungsi ganda: Demi kemolekan fisik sekaligus sebagai selubung miliaran sinaps. Sinaps yang disebut-sebut Profesor Gavreaux sebagai kunci empati dan persepsi emosi, untuk menunjang adidaya otak dari sirkuit elektrik.

Kedangan empat belas buku dari sepuluh jariku yang sidik-sidiknya kian kesat, dinyana pemerintah sebagai yang terbaik sedunia. Tadinya aku karyawan salon biasa yang paling disukai untuk melakukan creambath ke pelanggan. Namun semakin sedikitnya manusia membuatku terancam kehilangan pekerjaan. Rambut robot tidak tumbuh, sehingga tidak perlu dipotong. Ia juga artifisial dan berjejal sinaps, jadi tidak bisa sembarang di-creambath, atau aku bisa tersetrum. Aku sudah tahu dan berhati-hati, namun masih saja aku terpeleset. Nyawaku hampir hilang. Berita yang tersiar ke seluruh pelosok, termasuk telinga Profesor Gavreaux. Ia berpikir tanganku bisa memijat dengan kekuatan dan akurasi tepat, sehingga….

Ketukan di pintu menyadarkanku dari lamunan siang terik. Kurirku datang membawa sebuah kotak logam. Tanpa bertanya, aku sudah tahu isinya.

Kuhela napas sambil berdoa, semoga aku masih sanggup melewati ini.

*

Kubuka kotak logam itu, kuangkat isinya, dan kuletakkan di sandaran kepala kursi keramas. Kepala manusia. Dari puncaknya ia identik dengan manusia, namun hanya sampai sebatas pertengahan leher. Selanjutnya, tampak burai serat-serat kabel, karet sintetik, dan silikon. Ia memiliki rambut cokelat legam, kulit serupa kombinasi pualam dan gading, mata ungu kebiruan yang berkilauan, batang hidung tinggi, dan garis-garis wajah yang sempurna bagiku. Agar ia tidak terguling, kupasangkan ganjalan berupa bantal-bantal dakron di bawahnya. Sempat kupandangi wajahnya sekilas. Tanpa emosi, datar, membosankan. Namun tetap saja aku enggan berlama-lama.

“Keramas, ya.”

“Keramas butuh sampo setidaknya sepertiga telapak tangan. Basahi rambut, lalu oleskan sampo di kulit kepala, diamkan selama lima menit.” Mulutnya berucap sekian petunjuk faktual, tanpa intonasi. Begitu hampa.

Kuhidupkan panel keramas. Aku memulai prosedur, memijati kepalanya. Teknik yang sudah kukuasai sejak lama: Pijat tempat keluarnya rambut dari kulit kepala, dengan gerak spiral, lembut saja, jangan keras, dan jangan sampai rambutnya tercerabut. Harus memilin minimal 290–510 juta sinaps saraf, agar seluruh neurotransmiter keluar, berfungsi dengan baik. Jangan lebih, karena belum jelas apa akibatnya. Seharusnya ini mudah. Namun, ada sesuatu yang membuatku tak bisa tetap diam….

“Kelewat kencang, tidak, pijatanku?”

“Kamu tidak capek memijat-mijat begitu terus, Kitara? Tidak terlalu kencang, sih.”

Kaget sangat, aku memejamkan mata sesaat. Kubuka kembali. Kitara. Dia tahu namaku. Sungguh anomali. Kutatap wajahnya dalam posisi terbalik dari belakang kursi keramas. Ia tersenyum. Semakin lebar dan tulus, dengan barisan gigi depan putih gading rata tanpa cela. Mungkin karena aku diam, ia menatap heran, balik memelas.

“Kitara, kenapa?”

“Ku-kupikir aku salah pijat, tadi. Sakit?”

Kepala tak berbadan itu menggeleng dengan caranya sendiri: Beringsut kanan kiri seperti kepiting. Lalu ia tergelak, “Pijatanmu nyaman, tahu! Aku suka sekali! Teruskan, ya.”

Kuturuti pintanya, sembari kian dekat ke puncak kursi. Tiba-tiba terasa semilir udara hangat. Sesuatu yang belum pernah kurasakan selama bertahun-tahun.

“Kitara … ah, andai saja aku bisa dikeramasi setiap hari olehmu.”

“Khayalanmu aneh-aneh saja,” balasku, pura-pura menyengir karena menahan getir, “aku hanya ditugasi mengeramasimu sekali, Tuan Robot. Selanjutnya, kau akan dirakit jadi orang hebat. Kelak bisa menggantikan kami, para manusia yang kian punah dan lemah,” tanganku masih memilin pangkal rambutnya, sambil berharap waktu bisa mundur kembali dan dialog ini tak perlu ada.

“Kok begitu? Kamu tidak minta izin biar kamu boleh menikah dengan robot?”

Kugigiti bibir bawahku. Sakit. Fakta bahwa manusia dan robot bagaikan air dan minyak, takkan bisa bersatu tanpa lupa mengungkit kembali aroma borok dan luka lama yang masih menganga, justru menarikku mendekat kepadanya. Ini jelas-jelas terlarang, namun mengapa aku justru semakin ingin?

“Kitara, cepat selesaikan keramasku. Aku mau mencari badanku. Nanti aku akan kembali kepadamu, ya. Kamu tunggu, ya?”

Kupaksakan senyum sepahitnya dan anggukan samar, saat meneciskan rambut gelapnya. Setiap gerakan sisir serasa irisan pisau ke telapak tanganku. Selanjutnya rambut di sekitar wajahnya. Setiap telusuran jari serasa bara api. Memanaskan segalanya, termasuk melengaskan mata. Tangisku jelas bukan karena takut berkomitmen. Bukan, bukan itu. Namun aku takut hal lain.

Ketika robot cuma terjalin oleh sebuah sirkuit elektrik, manusia jelas tahu dialah tuan atas mereka, karena manusia tak tahu perasaan kaum robot. Namun ketika robot bisa berempati, perlahan manusia tak tahu lagi di manakah posisi mereka. Di tengah keramaian menunggu undian; di atas, menyaksikan dunia baru yang gelap; ataukah di bawah, meringkuk nelangsa dalam pasungan robot.

*

Kepala itu sudah resik. Wajah itu semakin tampan. Tak bisa kubedakan dari manusia biasa. Aku luluh meleleh sehabis-habisnya, saat ia tersenyum dan tergelak lagi, bersamaku.

Kurir datang menjemputnya, sejam kemudian. Kulambaikan tangan ketika mengepaknya kembali ke dalam kotak. Ia masih tersenyum saat kotak kututup. Saat pandangan kami bertemu untuk terakhir kalinya. Saat kukubur dalam-dalam keinginanku mendobrak kemurnian umat manusia dari jamahan kaum robot.

Kini, kunyalakan semprotan air di kursi keramas. Menangis sekerasnya, mengusir sisa genggam partikel raganya dari jari, mengutuk sejadinya. Atas perasaan yang terburuk.

Keparat benar hasil selinapan sinaps ini di sirkuit otaknya!

 


(Jakarta, 24.01.20171497 kata. Pemenang IV Sayembara Cerita Pendek Fiksi Ilmiah Serana42, 14 Januari s/d 14 Februari 2017. Kakisthimatos: (Gre. faux constructed word) kakistos = terburuk, aisthima = perasaan. Seluruh paragraf dalam cerita ini dimulai dengan huruf K.)

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s