Driver of The Day vs Nasionalisme

Sebagai penonton yang mulai mengikuti Formula 1 sejak 12 tahun yang lalu, saya telah menyaksikan banyak sekali perubahan di dunia balapan jet darat. Dari mobil yang bising memekakkan luar biasa, menuju mesin yang lebih “tenang”, hingga melintasi urusan silih bergantinya aturan kualifikasi, aturan pemberian poin, aturan penjadwalan balapan, tibalah juga pada urusan bursa pembalap. Maka, tak mungkinlah saya tidak menaruh perhatian pada pembalap Formula 1 pertama asal Indonesia, Rio Haryanto.

rio-haryanto-88

Mobil Rio Haryanto, Manor Racing. Sumber dari juara dot net.

Saya rasa semua penonton Formula 1 asal Indonesia pasti pernah berandai-andai bagaimana kalau lagu Das Deutschlandlied, Marcha Real, God Save The Queen, atau apapun lagu itu, berubah jadi lagu Indonesia Raya. Memang di tahun 2004, rasanya amat mustahil buat Indonesia untuk bisa mengirimkan wakil ke Formula 1. Tapi tetap saja, pengandai-andaian itu seolah jadi doa sejuta umat agar Indonesia bisa punya pembalap Formula 1 di masa depan.

Memang tidak gampang bagi pembalap berkebangsaan negara dari benua Asia untuk masuk ke Formula 1 dengan mulus seperti rekan mereka asal Eropa. Penyebabnya, saya rasa, bukanlah diskriminasi semata. Memang ada kesan amat jelas bahwa bangsa Eropa menganggap merekalah yang paling berhak merajai Formula 1, karena cikal bakal Formula 1 betul berasal dari balap mobil seantero Eropa. Penggagasnya kebanyakan orang Prancis, Italia, dan Inggris. Namun faktor lain juga memegang peranan. Amat jelas bahwa secara umum, dunia otomotif Asia lebih memilih fokus dalam hal bisnis semata, ketimbang berebutan lahan balap mobil dengan bangsa Eropa tadi. Ditambah lagi fakta bahwa ekonomi bangsa Asia kebanyakan masih tergolong negara berkembang, sehingga jumlah dana sponsor yang dibutuhkan untuk bisa berkiprah di Formula 1 pun jadi relatif sulit dijangkau.

Tapi itu semua tidak menghalangi Rio memasuki Formula 1, di tahun 2016. Ia telah berhasil melewati gawang pertamanya dengan baik.

Memang Rio terlihat sudah “sukses” mengatasi faktor-faktor pemberat buat bangsa Asia di Formula 1 tadi. Namun, tak semua orang Indonesia cukup dewasa menyikapi keberhasilan Rio. Entah itu karena mereka belum memahami betapa sulitnya seorang pay driver bertahan di rimba Formula 1 (yang kerap dihantui sifat rakus Bernie Ecclestone di setiap waktu), terpesona dengan tampang Rio yang (katanya) imut-imut, terlalu larut dalam euforia tembusnya Indonesia ke Formula 1, ataukah belum paham seluk beluk Formula 1 tapi ikut-ikutan bergegap gempita saja. Mereka tiba-tiba saja jadi komentator dan tiba-tiba saja rajin mengikuti Formula 1, olahraga yang tadinya hanya mereka pandangi dengan sebelah mata.

Buat sebagian orang semacam ini, keberhasilan Rio ini harus dipandang dengan dua mata oleh dunia. Seolah seluruh dunia harus menoleh atas keberhasilan orang Indonesia menembus Formula 1. Tak peduli bagus buruknya prestasi Rio, dunia harus respek padanya. Fenomena ini terlihat amat jelas ketika Formula 1 memperkenalkan penghargaan baru bertajuk Driver of The Day, tepat di musim 2016 ini juga.

Mobil Kevin Magnussen, Renault Sport F1 Team. Sumber dari Formula 1 dot com.

Indonesia punya jumlah penduduk yang banyak, plus jumlah penduduk melek teknologi yang juga banyak. Akibatnya, jangan pernah remehkan kekuatan Indonesia kalau sudah berkenaan dengan urusan voting. Apalagi kalau urusan voting itu direkatkan dengan bumbu bernama nasionalisme. Pasti jagat maya Indonesia langsung heboh. Ramai-ramai voting, kalau perlu voting berulang-ulang yang sangat Bhinneka Tunggal Ika. Nama yang memberi vote berbeda-beda, tapi sumbernya satu jua. Atau dibalik: sumber votenya berbeda-beda, tapi nama yang memberi vote satu jua.

Tapi fenomena ini tidak dimanfaatkan secara dewasa. Khususnya dalam tajuk Formula 1 Driver of The Day ini.

Di balapan Australia 2016, atas nama nasionalisme, orang Indonesia merasa sah-sah saja memberikan vote Driver of The Day kepada Rio. Padahal sudah jelas yang bersinar di balapan itu bukanlah Rio. Rio sendiri tidak finis karena mobilnya bermasalah di lap 19. Tapi hebatnya, Rio mendapat voting terbanyak untuk Driver of The Day di balapan tersebut. Namun akhirnya ia didiskualifikasi karena banyak vote yang berasal dari sumber yang sama. Gelar jatuh ke tangan pembalap dengan suara terbanyak kedua, Romain Grosjean asal Prancis yang memperkuat tim Haas.

Jangan lupa bahwa orang Indonesia juga pintar, amat piawai mencari celah, termasuk soal rekayasa voting. Setelah aturan Formula 1 soal jumlah voting berubah, para orang piawai ini pun tak gentar. Tinggal ganti VPN, ganti IP address, mereka jagonya. Australia gagal, Bahrain harus dapat. Dan ternyata gelar pun kembali jatuh ke tangan Grosjean. Setelah orang-orang Indonesia mengaku sudah melakukan bom voting buat Rio.

Saya sendiri memang punya favorit, tetapi saya cenderung tak peduli. Toh, apapun yang terjadi dengan pembalap atau tim favorit saya, saya tidak akan terkena dampak apapun. Maka, tak heranlah kalau saya, yang selama 8 tahun ini memfavoritkan Sebastian Vettel, malah terang-terangan tidak mau memilih dia sebagai Driver of The Day di Australia maupun di Bahrain. Di Australia Vettel melakukan kesalahan taktik, yang berakibat fatal terhadap peluang kemenangannya. Sementara di Bahrain, Vettel malah tidak balapan sama sekali karena mesinnya meledak di formation lap. Dengan memberikan vote saya untuk Vettel, saya akan menunjukkan fanatisme buta yang tidak akan ada gunanya.

Sehingga, saya rasa wajar jika saya menganggap taktik voting buat Rio yang demikian itu juga adalah suatu pembodohan. Pembodohan yang bisa mencoreng nama Rio, bisa pula kian mencoreng nama Indonesia dalam urusan voting-votingan (setelah kasus European Music Awards 2011 dulu). Praktik semacam ini sama saja dengan guru yang memberi nilai tinggi untuk anak dengan jawaban ujian yang salah dan mengabaikan anak dengan jawaban yang benar. Atau dengan bos yang lebih mengutamakan merekrut keluarganya sendiri untuk posisi penting ketimbang mendatangkan orang yang sungguh kompeten tapi tidak bertalian darah dengannya. Itu tidak adil namanya. Nah, inilah yang membuat saya sungguh heran. Orang Indonesia berkata sudah muak melihat praktik ketidakadilan semacam itu. Tapi di mata dunia mereka justru dengan bangga terus melakukan hal serupa, dengan berlindung di balik topeng nasionalisme.

Buat saya, tidak ada hubungannya antara voting Driver of The Day dengan nasionalisme. Menjadi seorang nasionalis dan menjadi seorang yang objektif adalah dua hal yang sangat berbeda. Saya tidak mengatakan bahwa saya tidak akan vote untuk Rio di ajang Driver of The Day. Bagaimana kalau suatu hari nanti dia bisa melakukan terobosan balapan yang menarik dan memukau orang? Tentu saya akan memilih dia, dengan satu catatan: Dia harus berbuat sesuatu dan itu menjadikan dia terlihat menonjol di balapan itu.

Ah. Saya tidak bisa memaksa jika isi pikiran kalian tidak sesuai dengan saya. Tapi pikirkan kembali: Apa jadinya kalau di akhir karirnya nanti Rio hanya diingat karena bom voting itu, dan bukan diingat karena prestasinya?

Advertisements

One thought on “Driver of The Day vs Nasionalisme

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s