Kodak, Nokia, dan Blue Bird: Antisipasi Teknologi dan Pilihan Masyarakat soal Taksi

If you can’t fly, then run.
If you can’t run, then walk.
If you can’t walk, then crawl.
But whatever you do,
You have to keep moving forward.

Sudah lebih dari 40 tahun berlalu sejak Martin Luther King Jr. (1929-1968) mengutarakan kalimat ini. Namun dampak apabila kita mengabaikan kalimat tersebut, masih bisa dirasakan sepanjang zaman.

lutherking

Kalau di awal dekade 2000-an Kodak jatuh karena terlambat mengantisipasi hadangan fotografi digital setelah sempat puluhan tahun merajai dunia kamera; di awal dekade 2010-an pun jadi saksi bagaimana Nokia terpuruk karena terlambat mengantisipasi gempuran smartphone setelah sekian tahun tak terkalahkan di dunia ponsel; bukan tak mungkin bahwa di dekade-dekade selanjutnya, fenomena revolusi digital bakal semakin banyak memakan korban.

Antisipasi kemajuan zaman dan teknologi memang bukan melulu ranahnya pengusaha elektronik dan gadget. Kini, berbagai bidang industri pun harus melek dengan teknologi. Bukan cuma menyajikan layanan bermutu tinggi untuk bidangnya masing-masing, tapi setiap industri pun tanpa sadar dituntut untuk mampu menyuguhkan kecanggihan teknologi yang bisa membuat masyarakat menikmati layanan mereka tanpa kesulitan.

Kalau mau mengaitkan bahasan di atas dengan masalah taksi, yang beberapa hari ini sedang marak dibahas di mana-mana, ternyata tetap saja ada hubungannya. Taksi, yang entitasnya adalah sebagai bagian dari bidang usaha transportasi, pun ternyata harus mengantisipasi hal yang sama. Nah, salah satu alasan mengapa layanan taksi plat hitam (atau untuk lebih halusnya: Taksi alternatif) lebih disukai masyarakat, di luar urusan kelakuan sopir, adalah kemudahan dan kelengkapan fitur yang bisa diakses pada aplikasinya.

taxi_800x669

Kalau kita cermat menyaksikan bagaimana evolusi cara pemesanan taksi Blue Bird atau Express, jika kita bandingkan dengan cara pemesanan taksi alternatif, akan terlihat jelas bahwa cara pemesanan taksi resmi mirip dengan Kodak dan Nokia. Mereka sudah berlangkah-langkah di depan pada sekitar lima tahun yang lalu. Namun antisipasi revolusi teknologinya minim. Alhasil, cara pemesanan taksi premium kini dan lima tahun yang lalu masih sama-sama saja. Sementara pemain baru tiba-tiba menggebrak dengan metode pemesanan online yang sangat mudah!

Sejak saya pertama kali menggunakan layanan pemesanan taksi Blue Bird sekitar lima tahun yang lalu, nyaris tidak terlihat ada perubahan bermakna. Lima tahun yang lalu, 2011, saya punya dua alternatif cara memanggil taksi Blue Bird. Pertama, dengan menelepon nomor tertentu. Tunggu panggilan tersambung, lalu sebutkan nomor ponsel yang terdaftar, kemudian sambung dengan tempat penjemputan dan jam berapa minta dijemput. Atau yang kedua, dengan menggunakan aplikasi yang ala kadarnya (ingat, ini tahun 2011), yang cuma punya fitur memasukkan alamat penjemputan dan informasi nomor pintu taksi.

Dalam kurun waktu lima tahun, saya cukup sering menggunakan taksi Blue Bird (sebetulnya saya pernah menggunakan Silver Bird, tapi frekuensinya masih bisa dihitung dengan jari alias sangat jarang). Bukan karena memang betul-betul menyukai taksi yang satu itu, tapi lebih karena memang banyak institusi yang hanya mau menanggung transportasi dengan taksi Blue Bird. Ternyata, sedemikian besarnya kepercayaan korporat terhadap Blue Bird selama ini. Kepercayaan yang saya lihat tak pernah berubah selama lima tahun saya mengamati armada taksi nomor satu Indonesia ini.

Seribu sayang: Tidak cuma kepercayaan korporat yang tidak berubah. Melainkan juga cara pemesanan taksi mereka. Tak ketinggalan aplikasi pemesanan taksi di ponsel, itu juga tidak banyak berubah.

Saya rasa bukan hanya saya yang mengalami deg-degan ketika sopir taksi yang dipesan tidak bisa dideteksi radar aplikasi Blue Bird. Bukan hanya saya yang mati bosan menunggu SMS konfirmasi nomor pintu taksi ketika saya memesan taksi lewat telepon (dan sebagai info saja, SMS itu tidak pernah datang). Bukan hanya saya yang kebingungan ketika sopir taksi yang aktual berwajah dan bernama berbeda dengan sopir taksi yang terpampang di kartu identitas. Dan bukan hanya saya yang merasa aneh dengan taksi yang mendadak menghilang ditiup angin lantaran lebih memilih mengangkut penumpang lain dan membatalkan pemesanan kita, hanya karena malas.

Di akhir tahun 2015, di saat taksi alternatif bernama Uber mulai menjamur di Jakarta, mereka hadir dengan cara pemesanan taksi yang sungguh revolusioner. Seluruh cara pemesanan sudah hadir secara digital. Bahkan yang lebih gila lagi, sama sekali tidak ada manusia di Customer Service Uber. Memanggil taksi ataupun menyampaikan keluhan? Semuanya tinggal pencet, tidak perlu bicara sampai berbusa-busa.

Mulai dari cara pemesanan yang mudah: Tinggal masukkan titik penjemputan dan titik drop off.

Lalu ada skema tarif yang begitu transparan. Enak buat pemesan, bisa berjaga-jaga sambil menghitung ongkos perjalanannya.

Lalu kita bisa mendeteksi secara live (ingat, live!) pergerakan sopir yang kita panggil.

Kita juga bisa membatalkan pemesanan jika sopir menunjukkan gelagat tidak bagus.

Ketika selesai, langsung ada billing digital mampir ke e-mail kita.

Di zaman sekarang, di mana nyaris semua pengguna taksi sudah menggunakan ponsel pintar, cara pemesanan seperti itu sangat memudahkan. Tidak ada lagi deg-degan menunggu SMS yang tak kunjung tiba. Tidak perlu lagi berbusa-busa menyebutkan nomor ponsel sendiri kala memesan taksi lewat telepon. Tidak ada lagi acara bingung, karena semua mobil dan pengemudinya bisa diperiksa wajah, nomor platnya, dan tipe mobilnya secara transparan. Bonus: Tak ada lagi kejadian jantungan melihat argometer gara-gara sistem tarif yang tidak transparan buat pengguna taksi!

 

OK-easy-open

Kemudahan dan keterbukaan: Dua hal yang disukai masyarakat dan diharapkan hadir di konsep berbagai barang yang sedianya dipromosikan ke mereka.

 

Mudah dan transparan. Sebetulnya itu yang dicari masyarakat. Bukan sekadar “perusahaan taksi ini punya landasan hukum atau tidak”, atau “perusahaan taksi ini membayar pajak atau tidak”. Memang membayar pajak itu penting. Namun selama layanan revolusioner itu ada, memudahkan, dan transparan, mengapa tidak? Bukankah sekarang ini zamannya semua serba mudah dan serba transparan? Bukankah mudah dan transparan itu adalah dua prinsip utama dalam mengemas sesuatu, apapun itu, di era 2010-an ini? Bukankah akan lebih baik mempertahankan kemudahan dan transparansi, sambil kemudian urusan hukumnya ditangani dengan kepala dingin?

Seperti halnya balap mobil Formula 1 yang mana keunggulan jauh kadang bisa lenyap sekejap hanya karena safety car, perusahaan yang sudah unggul jauh pun kadang bisa tiba-tiba tersentak hanya karena kurangnya antisipasi terhadap derasnya terjangan teknologi. Dan seperti kata Martin Luther King Jr., apapun yang dilakukan seseorang, selama ia hidup, adalah harus bergerak maju.

 

[sebagaimana diposkan di akun Qureta saya]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s