Deactivate Account

Deactivate account.

Mungkin ketika pertama kali membaca kata-kata itu di bagian Settings di aplikasi sosial media kita, sepintas hati kita bakal berkata, “Tidak mungkin saya menekan tombol itu!”.

Mungkin juga kata-kata itu terdengar agak menakutkan. Terutama buat kita yang sudah merasa bahwa menunjukkan diri kita adalah bagian tak terpisahkan dari eksistensi di dunia era 2010-an.

Kira-kira, apa alasan orang men-deactivate account media sosialnya?

Alasan 1: Derita Termakan Perbandingan

Kata orang bijak, membandingkan itu baik untuk memicu motivasi buat manusia. Tetapi, apa yang dibandingkan dan dengan apakah benda itu dibandingkan, rasanya harus dilihat dahulu. Tidak semua urusan banding-membandingkan itu baik buat memotivasi. Alih-alih memotivasi, malah mengakibatkan demotivasi. Malah membuat menderita. Malah membuat seseorang kepikiran tentang hal-hal yang sebetulnya tidak perlu dipikirkan.

bps-vs-workflow

Menyaksikan teman-teman sibuk pamer ini-itu di Path atau di Facebook, membuat kita merasa selalu ada yang kurang dengan hidup kita.

Mengapa teman kita si X bisa terus-terusan jalan-jalan ke manapun dia mau, sementara kita harus menabung bertahun-tahun demi ke tempat yang cakupannya tak sampai seperempatnya tempat jalan-jalan teman kita itu?

Mengapa teman kita si Y bisa seenaknya terus menjajal restoran baru dan menjalani gaya hidup hedonis sesukanya, sementara kita yang bisa jadi karena masalah kesehatan atau masalah keuangan, tidak sanggup untuk punya kebiasaan makan seperti itu?

Mengapa teman kita si Z punya kesanggupan olahraga luar biasa, sementara kita yang tidak minat dengan olahraga itu (tapi minatnya ke olahraga lain) malah dianggap kuper atau tidak gaul?

Mengapa teman kita si Q terus dengan tenang bisa memamerkan anak-anaknya tanpa peduli, sementara dia sudah tahu ada temannya yang anaknya hilang karena orang tuanya terlalu banyak memberikan informasi tentang si anak di media sosial?

Menyaksikan orang-orang yang hanya dengan celotehan biasa bisa meraup follower Twitter segunung, membuat kita terkadang merasa miris. Di saat orang-orang berjuang lepas dari kecanduan media sosial karena dampaknya ke kehidupan sehari-hari, malah ada orang yang berhasil meraih ketenaran lewat media sosial, itu pun bukan karena prestasinya, tapi karena kecerewetannya.

Ketika seseorang sudah lelah menghadapi derita lantaran keliru menanggapi hasil pameran teman-temannya, ada banyak cara yang bisa ditempuh. Namun, mengingat generasi 80-an dan 90-an dulu bisa bertahan hidup dengan baik tanpa derita ekstra yang satu ini, deactivate account bisa jadi salah satu solusinya.

Berbalik dan menyerang dengan tanding pamer memang bisa dilakukan. Tapi itu membuat segalanya menjadi tiada akhir. Lingkaran setan yang terus berputar tanpa pernah selesai.

Berdiam diri dan tenang-tenang saja juga bisa jadi solusi, jika si pemilik akun punya pertahanan diri yang kuat. Namun, ada kalanya urusan pertahanan diri saja tidak cukup, sehingga deactivate account memang jalan terbaik. Biasanya, selalu ada alasan lain.

Alasan 2: Dosa daring

Mungkin alasan tambahan yang menyebabkan deactivate account adalah satu-satunya jalan keluar, adalah soal dosa daring. Buat yang bingung, dosa daring adalah kekeliruan yang pernah dilakukan seseorang selama berkiprah di dunia media sosial. Misalnya membuat postingan berisi makian, menebar kebencian, atau memasang foto bugil diri sendiri, foto bugil orang lain, atau memasang foto ketika sedang mabuk-mabukan.

Dosa daring memang ada banyak, mulai dari yang termaafkan hingga yang berakhir dengan kekalutan baru di media sosial lagi. Mulai dari yang cuma masalah salah pasang foto, sampai yang berakhir dengan berita nasional dan tuntutan pelanggaran UU ITE. Mulai dari yang akibatnya hanya sekadar kehilangan teman, sampai yang akibatnya pemecatan dan lenyapnya harga diri.

Mungkin juga dosa daring tak terbatas di situ saja. Salah memilih teman juga urusan yang kelihatannya sepele namun sering jadi bumerang. Tak jarang teman Path (yang merupakan jejaring media sosial yang membatasi jumlah teman hanya sebanyak 500 orang) mengambil gambar postingan kita dan menyebarnya ke teman-teman lain di luar kalangan yang kita kenal. Salah menerapkan prinsip pertemanan, adalah urusan yang tak kalah bahayanya.

Deactivate account bisa jadi salah satu solusi supaya internet lebih mudah lupa dengan dosa daring kita. Tapi belum tentu bisa. Jika dosa daring itu masih kecil, mungkin deactivate account bisa membantu internet meletakkan memori atas dosa kita ke tempat tak terjangkau, hingga akhirnya terlupakan. Membuat teman-teman yang keliru kehilangan akses kontak dengan kita. Namun jika dosanya amat besar, rasanya percuma saja.

Alasan 3: Menata (ulang) Hidup

Ada orang bijak yang pernah bilang bahwa orang Kanada menciptakan Blackberry Messenger, orang Jepang menciptakan Line, orang Korea menciptakan KakaoTalk, orang Amerika menciptakan WhatsApp, dan orang Indonesia punya waktu untuk menggunakan semua media tersebut.

Terlalu banyak akun di mana-mana bukan hanya membingungkan, tapi juga melelahkan. Melelahkan karena di salah satu akun kita harus meladeni permintaan main game, di tempat lain harus menahan godaan untuk tidak terlalu banyak mengomentari dan sakit hati, sementara di tempat lain lagi harus menahan godaan untuk tidak bergosip. Membayangkannya saja sudah lelah, bukan?

rearrange1

Karena alasan inilah, seseorang bisa kehilangan waktu-waktu berharganya. Plus sejumlah dampak yang tidak bisa diremehkan.

Karena alasan inilah, seseorang kehilangan kehangatan dalam keluarga yang seharusnya bisa dinikmati selagi masih mungkin. Keretakan rumah tangga, rasa terasing dengan orang tua sendiri, hilangnya masa kecil anak, semua mungkin karenanya.

Karena alasan inilah, seseorang kehilangan fokus dalam pekerjaannya.

Karena alasan inilah, seseorang kerap membuka pintu pagar untuk membandingkan rumput sendiri dengan rumput tetangga, tapi lupa membersihkan rumput di halaman sendiri.

Dan rasanya masuk akal jika deactivate account memang penyelesaian pamungkas untuk menghindari dampak potensial tersebut.

Di luar urusan deactivate account (yang tidak kalian perlukan, tentunya): Pilihlah media yang benar-benar kalian butuhkan saja. Gunakan dengan bijak. Bentengi diri dengan prinsip-prinsip, agar tidak mudah termakan rasa dengki ketika melihat etalase media sosial teman.

 

[20160309]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s