Uber: Perbandingan, Persepsi, dan Testimoni (1)

Sepertinya sekarang sudah banyak orang-orang (apalagi orang Jakarta) yang menuliskan testimoni mereka soal metode transportasi alternatif yah. Misalnya GoJek atau Uber. Nah, di kesempatan ini saya akan menjabarkan testimoni dan perbandingan saya terhadap Uber versus taksi biasa, berdasarkan pengalaman selama 9 bulan terakhir. Iya 9 bulan, tapi ini bukan hamil dan petualangannya.

Tapi harap maklum kalau tulisan saya ini bukan berisi soal review Uber doang. Tapi kebanyakan troubleshooting. Alias jawaban atas pertanyaan-pertanyaan aneh yang bisa muncul kalau kita sedang menggunakan jasa Uber.

Mari kita mulai daripada kelamaan basa-basi.

Apa dan siapa sih Uber itu?

Di Indonesia, nama Uber, sebelum mengudara jadi taksi, mungkin identik cuma dengan dua urusan: Badminton dan Twitter. Walaupun sebetulnya dua Uber itu beda ejaan.

Uber di badminton adalah nama piala kejuaraan tunggal putri dunia, yang diambil dari nama pebadminton Inggris, Betty Uber. Sementara UberTwitter (saat ini bernama UberSocial), berasal dari istilah Jerman “über” yang berarti “di atas”.

Lalu Uber yang mau saya bahas sekarang, adalah Uber yang merupakan layanan taksi plat hitam. Sampai sekarang saja, saya tidak tahu Uber ini tuh u-nya pakai umlaut (ü) atau tidak (u biasa). Yang jelas, Uber yang satu ini tidak ada hubungannya dengan badminton, apalagi Twitter.

Terus, bagaimana ceritanya Uber itu bisa diciptakan?

Konon ide bikin Uber ini berasal dari dua orang bernama Kalanick dan Camp, yang di tahun 2008 mengalami kesulitan memanggil taksi. Saat itulah mereka menciptakan aplikasi yang fungsinya khusus memanggil taksi premium, namanya UberCab. Entah bagaimana kelanjutannya, tahu-tahu Uber sudah ngehits di nyaris 400 kota di seluruh dunia. Termasuk Jakarta.

uber

Ini logo Uber. Yang kiri logo lama, yang kanan logo baru.

 

Saat ini Uber dikenal sebagai layanan taksi plat hitam yang bisa dipanggil selayaknya taksi biasa. Cuma di sini bedanya, orang biasa pun bisa menyewakan mobil pribadinya, dan orang biasa pun bisa jadi supir Uber. Ada dua jenis layanan Uber yang saat ini bisa dipilih, yaitu UberX yang setara taksi biasa (biasanya menggunakan armada mobil sejuta umat) dan UberBlack yang setara taksi premium (yang juga menggunakan mobil-mobil kelas premium).

Nah, salah satu daya tarik Uber juga terletak pada aplikasinya yang sangat mudah digunakan siapa saja. Ada fitur pencarian, fitur menghubungi supir, fitur menghitung perkiraan ongkos jalan, sampai fitur pengiriman tagihan. Aplikasi ini tersedia dalam platform iOS dan Android.

Katanya Uber hanya menerima pembayaran dengan kartu kredit. Benar begitu?

Dulunya ini benar. Biasanya dibutuhkan tiga syarat untuk pendaftaran akun Uber: Alamat e-mail, nomor ponsel, dan kartu kredit. Tetapi, entah sejak kapan, dan saya baru sadar di tahun 2016 ini, ternyata saat ini Uber yang beroperasi di Jakarta sudah bisa menerima uang tunai/cash.

Kalau saya mau naik tol, bagaimana?

Per 7 September 2015: Penumpang diwajibkan membayarkan uang tolnya dengan uang sendiri, terpisah dari tagihannya. Dulu sebelum 7 September 2015, supir bisa membantu membayarkan dengan uangnya terlebih dahulu, baru kemudian uang tol ditambahkan ke tagihan saat penyelesaian billing.

Pertanyaan berikut: Uang tolnya harus tunai atau boleh pakai e-money? Sama-sama boleh. Asal pakai duit penumpang sendiri aja, pasti boleh. Titik.

Bagaimana kita bisa tahu ongkos yang perlu dibayarkan untuk suatu perjalanan ya?

Di aplikasi Uber kalian masing-masing, tentukan dulu perjalanan ini mau dari mana ke mana. Alias: Harus ada tempat pick up (pick up location) dan harus ada tujuan (destination atau to). Setelah kedua kolom itu diisi, barulah klik Fare Estimate.

Fare Estimate selalu menunjukkan dua angka dalam satuan Rupiah (IDR), yaitu angka yang kecil di kiri dan angka yang besar di kanan.

Mungkin saja kita hanya mengeluarkan ongkos sesuai angka terkecil, apabila perjalanan benar-benar lancar alias lebih lancar daripada estimasinya si aplikasi Uber. Atau mungkin saja kita mengeluarkan ongkos sesuai angka terbesar, jika perjalanan ternyata lebih macet daripada dugaannya si aplikasi Uber tersebut.

Tetapi dari pengalaman saya, bahkan angka tagihan pernah membengkak sampai di luar range Fare Estimate. Kejadian ini biasa terjadi di Jumat malam di Jakarta (alasannya? Tentu kalian sudah tahu).

Kalau pas saya pencet Fare Estimate lalu keluar tulisan 1.3x, 1.4x, 1.6x, atau 2.1x, atau 2.3x besar-besar, itu maksudnya apa ya? Lalu saya harus bagaimana? Accept atau tidak?

Itu berarti kita sedang kurang beruntung karena jalanan sedang lebih macet daripada biasanya. Jalanan yang mana? Tentu saja jalanan yang menghubungkan tempat asal dan tempat tujuan kita dong.

Kalau kita naik Uber di jam-jam berangkat kerja atau jam-jam pulang kerja, dari tempat macet pula, maka sudah pasti angka aneh-aneh itu bakal muncul. Lalu kita bakal disuruh menekan tombol “I accept higher fare” sebelum melakukan pesanan. Jadi di sini kita bakal dikenai biaya lebih tinggi karena taksi Uber juga bakal menghabiskan biaya lebih untuk bensin dan biaya ganti rugi kemacetan buat si supir.

Kalau begitu, higher fare itu bakal melebihi ongkos naik taksi biasa tidak ya?

Selama angka pengali higher fare belum mencapai 2, tarif naik Uber dipastikan tetap lebih murah daripada naik taksi (dengan catatan: Tidak ada kejadian luar biasa di tengah perjalanan yang mengakibatkan kemacetan ekstrem mendadak).

Tetapi jika angka pengali sudah melampaui 2 (misal: 2.1, 2.3, atau bahkan 2.4), bisa dikatakan tarif naik Uber sudah dianggap setara dengan naik taksi biasa (dengan mengabaikan jenis armada taksinya).

Apakah Uber kebal aturan 3 in 1?

Tidak. Karena Uber memiliki plat mobil hitam, maka semua taksi Uber tidak kebal dengan aturan 3 in 1. Kalau jumlah penumpang tidak mencapai tiga orang ketika lewat di daerah 3 in 1, tetap bisa ditangkap polisi dan ditindak.

Kapankah sebaiknya saya TIDAK naik Uber, melainkan naik taksi biasa saja?

Ada beberapa kondisi di mana saya lebih merekomendasikan naik taksi biasa saja.

  1. Dalam kondisi terburu-buru. Selama sembilan bulan saya menggunakan Uber, saya cukup sering menemukan supir Uber yang kebingungan mencari alamat, terlebih alamat rumah/bukan alamat perkantoran (dan harus maklum, mereka bukan “supir betulan”). Biasanya butuh waktu 10-20 menit buat si supir untuk mencari jalan hingga ia “dipertemukan” dengan kita. Untuk urusan mencari alamat, supir dari armada taksi biasa jauh lebih sigap, kadang malah mereka stand-by selalu.
  2. Bepergian sendiri dan harus berhadapan dengan 3 in 1 di tengah perjalanan. Taksi biasa punya plat kuning sehingga kalian pun akan otomatis terselamatkan dari inspeksi 3 in 1 oleh polisi setempat.
  3. Lihat gelagat pemerintah. Berhubung Uber masih kontroversial jika dilihat dari aspek perizinan/hukum, maka kalau kejadiannya seperti pas September 2015 kemarin (baca: Uber digerebek), pertimbangkan saja sendiri bagaimana baiknya ya.

Saya mendapatkan supir yang kurang sigap. Saking kurang sigapnya, dia sudah hampir 1 jam mencari lokasi saya dan tidak ketemu. Jadi saya harus bagaimana?

Cancel saja.

Jadi ceritanya, setiap kita cancel pemesanan Uber dalam waktu LEBIH dari 5 menit setelah pemesanan dilakukan, kita bakal otomatis dikenai biaya Rp 30.000 sebagai denda.

HAH? Tenang…

Kalau kalian menghadapi supir yang kurang pintar seperti kasus tadi, kalian bisa meminta kembali uang Rp 30.000 kalian.

Caranya adalah dengan mengecek akun Uber kalian di peramban (web browser ya. Jangan di aplikasi. Percuma, tidak ada fiturnya), kemudian buka ringkasan perjalanan terakhir kalian. Di situ ada menu untuk meminta kembali Rp 30.000 yang sudah di-charge-kan ke kalian, dengan memilih salah satu alasan mengapa kalian melakukan pembatalan. Di situ ada banyak alasan, misalnya “supir tidak menuju ke tempat yang benar”, atau “saya tidak berhasil menemukan supirnya”.

Dan… Uang Rp 30.000 tadi pun kembali dalam bentuk Uber Credit. Perhatikan ya, Uber Credit. Bukan uang tunai!

Perlu dicatat bahwa sebaiknya hati-hati dalam memanfaatkan fitur ini. Karena menurut aturan yang benar per Juni 2015, semua pembatalan pemesanan yang dilakukan penumpang dalam waktu lebih dari 5 menit setelah pemesanan akan dikenakan denda Rp 30.000 tanpa kecuali. Menurut pengamatan saya, ada dua syarat supaya denda kalian bisa dibatalkan:

  1. Selama Uber pesanan belum sempat bertemu dengan kita (baca: supir belum melihat kita, kita belum melihat supir).
  2. Kalian harus CEPAT melakukan komplain. Saya tidak tahu batasnya berapa, tapi sebaiknya dalam waktu kurang dari 24 jam sejak turun dari taksi Uber.

Beda kasusnya kalau kalian meminta supirnya untuk membatalkan dan supirnya setuju. Maka kalian otomatis terselamatkan dari denda tersebut.

 

 

[bersambung ke bagian 2. Masih banyak yang mau saya omongin!]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s