Tentang Sebelas

Sejak dulu saya menyukai angka 11 (sebelas). Pertanyaan yang sering timbul dari orang di sekitar adalah, mengapa harus 11?

Saya bukan fans berat Sergio Perez, pembalap Formula 1 dari Meksiko yang juga mengagumi angka 11, tapi gaya membalapnya (menurut saya) agak seperti sopir Kopaja.

Saya juga bukan pengikut aliran yang disinyalir terlibat dalam serangan World Trade Center di New York, 11 September 2001.

Saya juga tidak ada hubungannya dengan kebijakan pemerintah Kanada yang banyak mengimplementasikan angka 11 untuk simbol-simbol negaranya: Dari jumlah sudut di daun maple sampai jumlah sisi di koin 1 dolar mereka.

Saya juga tidak tahu menahu soal tragedi pembunuhan John F. Kennedy, 22 Nopember 1963, yang digosipkan banyak melibatkan angka 11 dalam perhitungan dan perencanaan waktu pembunuhannya.

kennedyassassinationbanknote

Konon ini dia uang kertas yang dicap sebagai “Kennedy conspiracy banknote”. Lihat angka 11 yang bertaburan di mana-mana.

 

Pokoknya angka 11 yang muncul dalam berbagai kebetulan ataupun tragedi di dunia itu tidak melulu ada hubungannya dengan saya.

Cerita singkatnya mulai dari nomor urut absensi di sekolah, kemudian entah bagaimana saya tertarik memahami filosofi di balik angka 11. Entah bagaimana lagi kelanjutannya, saya merasa filosofi di balik angka 11 itu menarik. Seperti apakah?

Numerologi

Yang pertama, tentunya berdasarkan struktur aljabar, 11 adalah 10 ditambah 1. Arti yang paling dekat tentu ditinjau dari aspek numerologi, dan kalian bisa cek di Google, bahwa arti angka 11 menurut mereka itu sangat menarik!

Sebelas adalah angka 1 yang didobel, sehingga semacam ada dua kekuatan tertinggi yang digabung menjadi satu, sehingga mampu mendorong potensi manusia menembus batas spiritual, kegelapan, misteri, dan berakhir pada pencerahan (super-sekali penjelasannya, sampai saya sendiri tidak paham!). Dalam numerologi, 11 dikenal sebagai The Master Number yang terkecil. Tak lain adalah sebelas adalah angka terkecil yang digitnya dobel.

Saya sendiri pun sempat mencoba mengarang-ngarang filosofi di balik angka 11. Saya menganggap bahwa 10, sebagai angka tertinggi dalam banyak aspek penilaian, menunjukkan jumlah jari tangan manusia pada umumnya. Berarti, 11 melambangkan “sesuatu di luar jangkauan manusia“. Dan karena itulah, saya merasa 11 mewakili “keinginan manusia untuk mengetahui apa yang belum terungkap”. Sebelas mencerminkan rasa penasaran, rasa ingin tahu, dan upaya manusia menyempurnakan hidup yang memang tak sempurna ini.

Matematika

Dalam matematika, 11 juga memiliki sifat unik. Semua bilangan yang habis dibagi 11 memiliki total digit nilai tempat genap dan total digit nilai tempat ganjil sama atau berselisih 11.

Sebagai contoh 517, di mana (5+7) – (1) = 11.

Setelah bilangan itu dibalik semua posisinya, bilangan jadi-nya pun masih habis dibagi 11. Atau bilangan lain, misalnya 693, di mana (6+3) – (9) = 0.

Jadi, sama seperti bilangan kelipatan 2, 3, 5, 9, atau 10; hanya dari tampilannya kita bisa tahu bahwa bilangan itu habis dibagi 11 atau tidak.

Masih dari matematika, 11 adalah bilangan prima terkecil yang memiliki 2 digit. Kemudian, mengalikan bilangan apapun dengan 11 ternyata ada triknya. Cukup biarkan angka pertama dan angka terakhir, kemudian jumlahkan semua angka berturut-turut di tengahnya, kemudian jejerkan angka hasil penjumlahan tersebut. Misalnya, 756 x 11. Angka pertama hasil perkalian ini adalah 7, kemudian terakhirnya 6. Lalu sisanya, jumlahkan saja angka yang berdekatan: 5+6 = 1(1) untuk digit kedua dari belakang, kemudian 7+5(+1) = 3(1) untuk digit ketiga dari belakang, dan terakhir angka 7 ditambahkan simpanan 1 menjadi 8. Maka, 756 x 11 = 8316.

Angka 11 juga merupakan Harshad (nivenmorphic) number terkecil, artinya 11 adalah angka terkecil yang tidak habis dibagi dengan jumlah dari seluruh digitnya (yaitu 2).

clockeleven

Sebelas di mana-mana

 

Dari sisi tampilan, 11 adalah angka strobogrammatic prime terkecil, atau bilangan prima terkecil yang jika kita ketikkan di kalkulator maka setelah kalkulatornya dibalik pun angkanya masih terlihat sama persis.

Bahasa

Sesudah dibawa mabuk berputar-putar dengan aspek semi-nujum plus sifat matematis dari angka 11, mari kita pindah ke urusan bahasa.

Dalam bahasa Indonesia, 11 dibaca “sebelas”, yang sebetulnya memiliki struktur agak berbeda dengan bilangan 10+ lainnya. Jika bilangan lain semuanya menyebutkan angka di belakang kemudian diikuti kata “belas”, maka 11 ini berbeda karena angka 1-nya tidak disebutkan melainkan dipasangkan sebagai imbuhan ke kata “belas”.

Kemudian, dalam bahasa Inggris, angka 11 dibaca “eleven”. Ini adalah bilangan positif terkecil yang dibaca dengan tiga suku kata, dan bilangan prima terbesar yang hanya memiliki satu kata dalam bahasa Inggris. Asal kata “eleven” adalah bahasa Inggris Kunoendleofan”, yang berarti “tersisa satu di atas sepuluh”. Kata yang sama menjadi dasar sebutan 11 untuk bahasa Swedia (elva), Denmark (elleve), Norwegia (elleve), Belanda (elf), dan Jerman (elf).

Dalam bahasa Latin, 11 dibaca “undecim”; dan adaptasinya bisa dilihat dalam bahasa Italia (undici). Sementara negara-negara tetangganya menghapus frasa “decim”: Spanyol/Castellano (once), Portugal (onze), Prancis (onze), dan Catalonia (onze). Artinya semua sama: “sepuluh ditambah satu”.

Sementara di Eropa Timur, bahasa Rusia menyebut 11 dengan “odinnadtstat”, yang berarti “satu di atas sepuluh”. Dasar istilah inilah yang diikuti hampir semua bangsa Eropa Timur dan Balkan: Slovenia (enajst), Kroasia (jedenaest), Ceska/Ceko (jedenact), dan lain sebagainya.

Di Asia lain lagi ceritanya. Bahasa Korea (ship il), Jepang (ju ichi), dan China (shi yi) masing-masing mengandung makna literasi “sepuluh satu”. Sebenarnya sama juga dengan konsep sepuluh ditambah satu, tapi kali ini kata “dan” atau “tambah” dilenyapkan.

Sisanya, istilah “11” dalam berbagai bahasa lain pun tak kalah uniknya. Misalnya bahasa Basque, di mana 11 dibaca “hamaika”, yang selain berarti “sebelas”, juga berarti “tak terbatas”. Dan dalam bahasa Finlandia, 11 dibaca “yksitoista”, yang arti literasinya juga agak aneh: “satu dari yang lainnya”.

Budaya

Di luar soal sifat matematika dan filosofi di balik bahasa, bagaimana mungkin alasan saya masih kurang untuk mengagumi angka 11? Jelas, masih banyak alasan lain yang kalau dipikir-pikir, semakin tidak masuk akal.

Perang Dunia I berakhir pada tanggal 11 November 1918, jam 11 pagi (waktu Paris). Di jam itulah terjadi penandatanganan kesepakatan gencatan senjata, atau yang dalam istilah Inggris-nya disebut sebagai armistice. Kejadian inilah yang membuat hari veteran diperingati pada tanggal ini di Amerika Serikat. Kalau kalian pernah mendengar Remembrance Day, nah itulah sebutan untuk peringatan hari veteran ini.

Adu penalti yang merupakan bagian terseru di Piala Dunia sepakbola, diambil di jarak 11 meter dari mulut gawang, dengan setiap timnya memainkan 11 orang pemain; sehingga bisa jadi ada 11 pemain berbeda yang menendang bola di setiap timnya (karena kiper diperbolehkan ikut menendang).

Jika kalian senang main kartu, pasti tahu Blackjack, kombinasi As yang bernilai 11 dengan kartu 10 atau gambar orang, otomatis akan memenangkan permainan ini.

Dan yang tidak kalah penting tentunya, soal jam. Hal ini baru saya temukan di forum Quora beberapa bulan yang lalu. Di sana dijelaskan bagaimana cara memotong pizza, atau sebuah kue tar besar, menjadi 11 bagian yang sama besar. Tahukah kalian bahwa dalam 12 jam, jarum jam panjang dan jarum jam pendek sebuah jam hanya akan berimpit sebanyak 11 kali? Nah, inilah taktik yang bisa digunakan untuk membantumu membagi pizza tersebut menjadi 11 bagian yang sama besar. Jujur saja, kalau Predrag Minic tidak bilang begitu di Quora, sampai hari ini mungkin saya masih tidak tahu.

Dalam dunia penerbangan dikenal juga istilah Critical Phase/Minutes, yang mengacu pada masa sejak lepas landas sampai ketinggian 10.000 meter, dan masa penurunan ketinggian pesawat sejak menyentuh angka di bawah 10.000 meter hingga pendaratan. Selama sebelas menit ini, seluruh kru kabin pesawat dilarang berkomunikasi dengan kru di dalam kokpit pesawat kecuali apabila ada kedaruratan. Alasannya adalah karena 80% kejadian kecelakaan pesawat terjadi akibat kekeliruan yang terjadi di menit-menit ini, sehingga rentang waktu ini dianggap sebagai saat-saat di mana pesawat lebih rentan celaka ketimbang saat lainnya dalam suatu penerbangan. Meskipun tidak semua pakar penerbangan sepakat dengan berapa lama Critical Phase/Minutes ini berlangsung, David Palmerton dari United States’ Federal Aviation Administration (US FAA) menyebut bahwa lamanya periode ini adalah sekitar 11 menit – terdiri atas 3 (tiga) menit di awal penerbangan plus 8 (delapan) menit di akhir penerbangan. Fakta inilah yang disampaikan sebagai pembuka sinopsis novel Critical Eleven dari Ika Natassa, yang merupakan salah satu novel metropop terkenal itu.

Omong-omong soal novel, lain lagi dengan novel Onze Minutos (Eleven Minutes, Sebelas Menit) dari Paulo Coelho. Novel tentang prostitusi ini mengambil angka sebelas tak lain karena sebelas menit dianggap sebagai rerata lamanya proses persetubuhan berlangsung.

Mungkin masih banyak aspek ke-sebelas-an di dunia ini yang belum saya ketahui. Dan karena sifat luar biasanya itulah, mau tidak mau saya pun turut menjadi sedikit tidak rasional tentangnya.

 

[as published on Qureta.com, February 22 2016: http://www.qureta.com/post/tentang-sebelas-0]

 

Pranala Luar

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s