Membaca: Hobi biasa untuk jadi luar biasa

Membaca barangkali merupakan hobi yang biasa saja. Banyak orang yang mengaku mereka hobi membaca, dan orang pun jarang kaget mendengar pengakuan tersebut. Saking biasanya, orang pun mulai meninggalkan hobi yang satu ini dan memutuskan beralih ke hobi lain yang terdengar lebih keren. Nah, kali ini saya coba bahas soal hobi membaca ini.

Membaca = berkat

Ketika lahir kita tidak serta-merta bisa membaca. Kita perlu belajar membaca. Huruf demi huruf, suku kata demi suku kata, kata demi kata, kalimat demi kalimat, paragraf demi paragraf, hingga akhirnya halaman demi halaman, buku demi buku, sampai bahasa demi bahasa!

Membaca adalah suatu berkat yang tak ternilai harga dan manfaatnya. Bisa membaca membuat kita paham petunjuk. Paham petunjuk membuat kita bisa bekerja dan bermanfaat bagi orang lain. Paham petunjuk membuat kita bisa mencapai apa yang kita mau. Membaca buku juga sama. Pengalaman menikmati cerita, uraian, opini, sampai autobiografi yang tertuang dalam bentuk buku; tak lepas dari proses membaca. Singkat kata: Membaca tak bisa dilepaskan dari proses pembelajaran hidup.

Coba kalau dulu kita tidak belajar membaca. Bagaimana mungkin kita bisa menikmati novel favorit? Bagaimana mungkin kita bisa merasakan keseruan cerita kriminal? Bagaimana mungkin kita bisa terharu menikmati uraian pengalaman hidup orang lain? Tidak mungkin, bukan?

Membaca di Indonesia vs Fenomena Bajak-membajak

Orang Indonesia punya minat membaca buku yang rendah. Memang bukan sepenuhnya salah kita. Kondisi sosial dan ekonomi turut berpengaruh pada pembentukan pola pikir rakyat Indonesia terhadap kegiatan membaca buku.

VW_BOOKSHELF_F

Di Indonesia, buku model begini selalu diidentikkan dengan kutu buku.

Lebih banyak hobi yang dianggap lebih keren ketimbang membaca. Membaca identik dengan kutu buku dan kemudian kutu buku identik dengan label “kurang pergaulan”. Demi popularitas dan pandangan sosial yang lebih membanggakan, orang lebih cenderung memilih hobi lain daripada berkutat dengan buku.

Selain itu, kalau sudah berkaitan dengan membaca, lebih banyak orang yang memilih mencari buku bajakan ketimbang membeli buku aslinya. Dalam hal ini, masalah ekonomi memang bisa jadi faktor sandungan. Tapi, pernyataan “apapun boleh dibajak jika tujuannya untuk pendidikan” sepertinya sudah jadi kalimat pembenaran atas pembajakan buku yang diamini banyak orang. Toh faktanya, buku yang dibajak bukan cuma buku pelajaran, bukan? Nah, motto ini pun selalu bergandengan dengan “kalau bisa gratis kenapa harus beli“. Mindset ini lebih gila lagi. Seolah-olah orang menulis buku itu tidak usah pakai tenaga, keringat, waktu, dan duit. Kalau mental semua orang Indonesia begini, jelas tidak ada usaha yang jalan, termasuk penulisan buku. Karena para penulis tidak dihargai dengan layak.

Lalu bagaimana bangsa Indonesia bisa “meraih berkat” karena membaca, kalau sikap rakyatnya masih seperti ini? Bagaimana pula dengan proses pembelajaran hidup oleh bangsa kita?

Tema favorit

Dulu, tema buku favorit saya adalah fiksi detektif/crime. Mulai dari buku Wolfgang Ecke yang berisi teka-teki kriminal, sampai novel Sandra Brown atau Sidney Sheldon juga sempat saya nikmati. Membaca cerita kriminal itu seru, karena kita diajak berpikir sambil membaca. Buat saya itu sangat menarik! Namun karena kurangnya akses (maklum masih di daerah waktu itu), saya tidak sempat menikmati genre ini sepenuhnya. Misalnya novel karya Agatha Christie, saya hanya sempat menikmati satu-dua buku.

Sebelum saya sempat membaca novel crime karya beliau, saya keburu mengalami zaman kuliah yang mengharuskan membaca buku teks tebal terus-menerus. Alhasil hobi membaca harus disingkirkan sementara, dengan berat hati. Saat itu buku non-materi-pelajaran yang masih saya sempatkan baca hanya serial Harry Potter. Hiks…

Dan setelah bertahun-tahun… Saya menemukan kembali hobi membaca setelah sekian lama, usai membaca salah satu buku biografi penyintas kanker. Menarik! Setelah itu, tema favorit saya pun berubah. Kini tema non-fiksi dan biografi mulai coba saya rambah. Selain karena merasa sayang mengoleksi buku novel yang jarang saya baca ulang, saya juga memilih tema tersebut karena unik. Alias jarang ada orang yang menyukainya. Sehingga buat saya, tema ini bakal memberikan pembelajaran dari sudut pandang yang unik pula. Terlebih biografi. Saya mulai belajar membaca kisah hidup orang, dan mencoba memahami esensi proses perjalanan kehidupan dari kacamata orang lain. Benar-benar seru!

my goodreads bookshelf-read

“Rak buku digital” saya di Goodreads yang sudah selesai dibaca (dan tentu saja yang saya ingat). Yang menunggu tentu masih banyak!

Saya juga tidak hanya membaca buku dalam bentuk fisik saja. Buku berbentuk e-book juga saya sikat. Terhitung sudah belasan kali saya membeli e-book untuk koleksi, sejak 2015. Ternyata membaca e-book memberikan tantangan tersendiri juga, lho. Selain layar ponsel kadang terkesan amat kecil dan membuat buku susah dibaca, e-book tentu juga menggoda dari segi harga karena biasanya e-book ini dibanderol lebih murah daripada buku fisiknya.

Meluangkan waktu

Membaca di sela-sela kesibukan jelas butuh perjuangan tersendiri. Banyak orang yang dengan dalih sibuk kerja, malah meninggalkan hobi membacanya. Saya juga sempat mengalami kondisi demikian. Memang kelihatannya sepele, namun buat saya, hanya mengandalkan bacaan dari media sosial tidak akan memberikan banyak nilai tambah buat kita sebagai manusia. Mengapa?

Membaca buku tentu berbeda dengan membaca berita. Berita umumnya ditulis singkat-singkat, sementara buku lebih panjang. Entah itu buku fiksi ataupun nonfiksi, pastilah ada lika-liku di dalamnya yang bikin kita penasaran. Perjuangan meraih informasi untuk memuaskan rasa penasaran itu, ya harus dilakukan dengan membaca, tentunya. Dari sini, kita sudah dididik untuk menghargai proses. Dalam banyak hal, tidak mungkin kita melulu mengharapkan hasil tanpa menikmati proses. Kita jadi bisa menghargai perjuangan, toleransi kita juga meningkat, dan cara pikir kita bakal ikut berubah menjadi lebih terbuka.

Manfaat lainnya dari membaca buku? Buat saya, informasi dalam buku juga memiliki cakupan lebih luas, sehingga dengan membaca buku kita bakal mendapatkan wawasan baru yang lebih luas pula. Nah, kombinasi memahami proses, keterbukaan cara berpikir, dan wawasan yang luas inilah yang menjadi ciri orang yang hobi membaca dan bisa memetik manfaat dari bacaan-bacaannya. Keren kan? Tentu tidak salah kalau kita bilang bahwa book addict is the new sexy, haha…

bec28-girlreadingonipad

Maksudnya book addict is the new sexy itu tidak melulu seperti ini yaa…

Nah, balik ke topik awal. Kalau kita biasa sibuk, bagaimana tipsnya supaya kita masih bisa menyempatkan diri membaca? Menargetkan hanya beberapa halaman per hari, atau meluangkan waktu minimal 10-15 menit per hari untuk membaca, adalah trik yang bisa kita coba untuk menanamkan kembali budaya membaca. Biar perlahan, hanya membaca beberapa halaman per hari, buat saya tidak masalah. Ada pembatas buku yang bisa membantu menandai sampai di mana kita membaca, jadi seharusnya kita tidak lupa dengan progress membaca kita.

Menulis dan membaca

Menulis tentu tidak bisa dipisahkan dari membaca. Terkadang, untuk mengingat apa yang sudah kita baca, kita perlu menuliskan kembali intisari bacaan itu. Saya juga demikian.

Cara yang saya pilih adalah membuat review atau resensi buku dan mengumpulkannya dalam blog saya ini. Memang sih buku yang saya buatkan resensinya belum banyak. Tapi seru juga lho, mencoba menuliskan kembali apa yang sudah kita baca, dalam bahasa kita sendiri. Hitung-hitung, ini latihan menulis juga kan? Siapa tahu bisa bikin buku suatu hari nanti?

Penerbit

Kalau dulu penerbit buku cuma ada satu atau dua, sekarang banyak penerbit turut lahir dan meramaikan bursa buku di Indonesia. Stiletto Book salah satunya. Penerbit buku perempuan ini bisa dibilang unik di antara bejibun penerbit yang sudah ada, karena buku terbitannya memang mengulas topik seputar kehidupan para perempuan, mulai dari bisnis di rumah, mengasuh anak, sampai mengelola keuangan rumah tangga. Cukup menarik, bukan? Sayangnya, saya belum pernah membaca buku terbitan Stiletto karena tak pernah melihatnya di toko buku (atau apakah saya yang kurang teliti?).

logo

 

Ah, soal Stiletto Book, saya sebetulnya masih merasa punya “utang”. Ceritanya, di awal 2015 saya pernah mencoba menulis untuk Stiletto, temanya pun sudah masuk, tapi karena kesibukan, saya urungkan niat untuk melamar naskah ke redaksi meskipun naskahnya sudah ada sebagian. Sayangnya, sampai sekarang naskah buku ini baru jadi sekitar 40% dan belum bergerak lagi karena faktor kesibukan dan fokus saya. Alias saya belum sempat melakukan riset sebagai salah satu proses dalam penulisan buku ini. Duh, moga-moga saya bisa cepat bereskan naskah tersebut dan mengirimkannya ke redaksi Stiletto yah…

Penutup

Book addict is the new sexy!

Jangan malu kalau kalian “cuma” punya hobi membaca. Jangan takut dibilang kutu buku karenanya. Ingat, membaca buku bisa mendidik kita memahami dan menghargai proses, membuka cara berpikir kita, dan memperluas wawasan kita. Membaca memang hobi biasa, tapi bisa bikin kita jadi luar biasa.

Selamat membaca!

 

lombabukustiletto

 

(Henny – Twitter/Instagram @triskaidekaman, Facebook drhennylim, e-mail hennylimdr@yahoo.com)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s