Boyhood (2014)

Identitas Film

boyhood-poster

Censor rating: R
Duration: 165 minutes
Language: English
Release date: August 15, 2014
Genre: Drama
IMDb rating: 8.0/10
Metacritic score: 100/100
Rotten Tomatoes Tomatometer: 98%
Director: Richard Linklater
Casts: Ellar Coltrane, Patricia Arquette, Ethan Hawke, Lorelei Linklater

Sinopsis Official

The joys and pitfalls of growing up are seen through the eyes of a child named Mason (Ellar Coltrane), his parents (Patricia Arquette, Ethan Hawke) and his sister (Lorelei Linklater). Vignettes, filmed with the same cast over the course of 12 years, capture family meals, road trips, birthday parties, graduations and other important milestones.

Resensi

Membuat film dalam 12 tahun, dengan aktor-aktris yang sama terus?

Ya, inilah hasil karya Richard Linklater yang memulai sebuah proyek pembuatan film di tahun 2002, dan berakhir di 2014. Film ini menggunakan aktor dan aktris yang sama sepanjang proses pembuatannya, menceritakan tentang kehidupan seorang anak sejak usia 6 hingga 18 tahun, dan tentu saja keunikannya adalah cerita tersebut dibuat senyata mungkin, karena umur si anak di film dan di kenyataan memiliki kronologis yang sama. Memang tak terbayang bagaimana kalau di tengah jalan ada karakter yang melarikan diri dari syuting, mengalami sakit parah, atau sampai meninggal, bakal bagaimana jadinya proyek ini…

Oke. Lalu, apa sajakah aspek yang menarik dari film yang akhirnya diberi judul Boyhood ini?

Jujur saja, menurut saya, tidak ada.

Lho? Coba saya jabarkan.

Satu, soal karakter. Karakter terkuat di film ini, adalah sang ibu (Patricia Arquette). Tak heran jika satu-satunya Academy Award 2015 (dari sekian banyak nominasi buat film ini) akhirnya jatuh ke Best Actrees in Supporting Role, tidak ke kategori lain. Lihat saja bagaimana ia memperjuangkan keluarganya ketika pilihannya terbukti keliru, bagaimana ia menyikapi perbuatan ayah dari anak-anaknya, dan sebagainya… Karakter utama yaitu Mason Jr (Ellar Coltrane), buat saya amat membosankan. Ia digambarkan sebagai seorang anak laki-laki yang hidupnya begitu biasa. Amat biasa untuk ukuran cerita yang diangkat ke film Hollywood, atau ke film manapun di dunia ini. Saking biasanya, saya pun berpikir mengapa ada orang yang bisa menciptakan karakter yang demikian ordinary-nya? Motivasi lemah. Ambisi hidup (terlihat) tidak ada. Cenderung apatis dengan lingkungan, bahkan dengan sikap sang ayah (Ethan Hawke) maupun emosi sang ibu. Ditambah lagi bicaranya juga pelan dan, buat saya, tanpa semangat. Saya pun jadi terkantuk-kantuk.

Dua, soal tema. Film ini memang jelas-jelas mengangkat kehidupan keluarga broken-home, di mana sang ayah tidak tinggal bersama dengan sang ibu; dan membuat kedua orang tua harus bergantian mengurus anak-anak. Memang awalnya tema ini terlihat menarik, apalagi ketika sang ibu membuat pilihan keliru soal kelanjutan hidup rumah tangganya, yang nyaris mencelakai kedua anaknya. Tetapi kemudian, saya gagal paham dengan apa yang memberi gairah di film ini. Dari sisi ayah juga tidak ada yang demikian menarik, di luar dialog yang begitu pelan alurnya, mudah tertebak arahnya, dan kerap terkesan “begini doang?”.

Tiga, soal promosinya. Buat saya, yang menarik dari suatu film bukanlah teknik pembuatannya, yang memakan 12 tahun, atau 20 tahun, atau berapa lamapun. Selayaknya bukan pula suatu excuse bagi penonton maupun kritikus, untuk “memaafkan” suatu film yang begitu biasa dengan menyebutkan pujian-pujian, semata-mata karena mendengar bahwa film ini dibuat dalam 12 tahun (no offense, this does not mean I don’t appreciate that 12 years of hard work).

Barangkali, para kritikus sudah lelah melihat film yang berlomba-lomba mengangkat sisi luar biasa ke dalam cerita, padahal sisi luar biasa itu amat jarang atau bahkan tak mungkin terjadi di kehidupan nyata. Para kritikus justru merindukan film yang begitu biasa. Film yang isinya begitu dekat dengan kejadian di dunia nyata. Film yang tidak muluk-muluk, begitu membumi, tapi toh wujudnya tetap film.

Dan, saya rasa itulah yang menjadikan Boyhood bisa meraih rating begitu tinggi di mata berbagai kalangan kritikus film. Namun, saya bukan kritikus film profesional, sehingga saya secara personal justru memberikan rating rendah buat film ini. Saya justru lebih memilih Whiplash sebagai film pilihan yang memenuhi kriteria “cerita biasa tapi luar biasa dengan caranya sendiri”, ketimbang film ini. Satu karena tokoh utama yang lemah. Dua karena tema membosankan. Tiga karena euforia-buat-film-dalam-12-tahun yang menurut saya terlalu dilebih-lebihkan. Dan satu lagi yang belum saya sebutkan.

Empat, saya berhenti menonton film ini di menit ke-125 karena nyaris tertidur kebosanan.

Tapi saya sadar bahwa ekspektasi tiap orang terhadap sebuah film bisa berbeda-beda. Saya bisa bilang dengan objektif: Kalau kalian merindukan film yang tidak mengumbar kebetulan aneh yang terlihat nyata kesan buatan/palsunya, film yang kejadiannya bisa kalian temui di dunia nyata, film yang begitu nyata dekat dengan kehidupan sehari-hari, film yang tidak menginduksi mimpi muluk-muluk yang tidak sehat; kalian harus coba saksikan film ini. Luangkan waktu 2 jam 45 menit dalam hidup kalian untuk melihat dan merasakannya sendiri.

My Ratings

  • Story 4/10
  • Graphic 7/10
  • Audience grasp 9/10
  • Tagline association 9/10
  • Moral value 6/10
  • Personal IMDb rating 3/10

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s