The King’s Speech (2010)

Identitas Film

thekingspeech

Censor rating: R
Duration: 118 minutes
Language: English
Release date: December 25, 2010
Genre: Biography, Drama, History
IMDb rating: 8.0/10
Metacritic score: 80/100
Rotten Tomatoes Tomatometer: 95%
Director: Tom Hooper
Casts: Colin Firth, Helena Bonham Carter, Geoffrey Rush, Derek Jacobi, Guy Pearce

Sinopsis Official

The story of King George VI of the United Kingdom of Great Britain and Northern Ireland, his impromptu ascension to the throne and the speech therapist who helped the unsure monarch become worthy of it.

Resensi

Jika kalian masih ingat, film garapan Tom Hooper ini pernah menjadi pemenang yang cukup signifikan dengan menyabet empat piala dalam Academy Awards 2011: Best Motion Picture, Best Actor in Leading Role, Best Director, dan Best Writing/Original Screenplay (plus delapan nominasi lainnya). Seperti apakah kira-kira film ini hingga demikian sukses?

Film biografi berjudul “The King’s Speech” ini menggambarkan sejarah Kerajaan Inggris di dekade 1920-an hingga 1930-an, di mana King George V masih berkuasa. King George V memiliki beberapa putra mahkota, namun yang disoroti di film ini terutama hanya anak tertuanya yaitu Edward (Guy Pearce), dan adiknya Albert alias Bertie (Colin Firth). Sebagai putra mahkota favorit ayahnya, Albert sudah diserahi tugas berpidato dalam acara kenegaraan sejak tahun 1920-an. Namun karena Albert memiliki masalah dengan bicara yang gagap dan tidak lancar, ia menghadapi kesulitan besar dalam menyampaikan pidato-pidato yang ditugaskan oleh ayahnya. Tidak hanya itu, kepercayaan diri Albert juga mengalami gangguan. Prihatin dengan kondisi suaminya, Queen Elizabeth (kemudian kita mengenalnya sebagai Queen Mother, diperankan Helena Bonham Carter) berupaya sekuat tenaga mencari pertolongan dengan menyamar menjadi rakyat biasa. Akhirnya suatu hari ia menemukan Lionel Logue, seorang terapis wicara asal Australia yang sudah berpengalaman membantu pemulihan bicara dari tentara-tentara Australia akibat trauma masa perang. Logue yang terkejut didatangi oleh keluarga kerajaan, awalnya mengalami kesulitan bekerja sama dengan Albert. Namun lama-kelamaan, bisa kalian saksikan bagaimana pasang surut hubungan mereka, dan bagaimana kemampuan public speaking Albert semakin membaik. Apalagi kemudian, Edward yang mewarisi tahta kerajaan setelah sang ayah meninggal, memilih abdication untuk menikahi Simpson, seorang janda kaya raya. Albert yang kemudian memilih nama King George VI; mewarisi pula tugas-tugas pidato kenegaraan yang disampaikan lewat radio BBC setiap kali ada peristiwa penting. Kita bisa lihat bagaimana peran Logue dalam mendampingi raja baru ini dalam bertugas.

Bisa dibilang bahwa Colin Firth mungkin agak kurang pas memerankan King George VI jika dilihat dari fisiknya semata (lantaran tidak terlalu mirip dengan King George VI asli). Namun Firth berhasil menampilkan karakter yang bermasalah gagap bicara, bisa dikatakan, dengan sangat baik dan cukup representatif. Helena Bonham Carter, sebagai salah satu aktris asal Inggris yang aktingnya selalu diperhitungkan, juga menjiwai peran Queen Mother dengan super. Tak ketinggalan Geoffrey Rush yang juga patut diberi pujian tersendiri. Malah menurut saya, barangkali rasa yang didapat dari film ini bakal berbeda kalau bukan Rush yang mengisi peran Logue. Logue digambarkan sebagai sosok mengagumkan dari penampilan Rush: Meskipun sudah berkontak dengan keluarga kerajaan, namun ia tetap low-profile dan selalu menyembunyikan kliennya dari keluarganya sendiri. Cukup bisa dijadikan contoh bahwa menolong orang lain dengan tulus tentu tidak perlu menunjukkan diri.

Peran-peran yang lainnya? Tidak terlalu disorot dengan optimal dalam film ini (termasuk peran tokoh penting seperti Churchill dan Baldwin). Pendekatan ini tampaknya cukup menegaskan bahwa cerita film hanya diarahkan ke beberapa tokoh sentral, sehingga membuat film ini tetap fokus dan tidak “ngelantur”.

Dan satu lagi fakta menarik soal film ini: Untuk mewujudkan kisah ini menjadi film, ternyata David Seidler, sang penulis skenario, harus menunggu hingga beberapa dekade! Film ini baru terwujud saat Seidler sudah berumur 73 tahun, padahal keinginannya menjadikan kisah King George VI sebagai film sudah ada sejak ia masih dewasa muda. Namun, keinginan ini ditentang oleh Queen Mother (1900-2002), yang tak lain adalah istri King George VI. Konon Queen Mother tidak ingin Seidler atau siapapun membuat film tentang mendiang suaminya semasa ia masih hidup. Jadilah Seidler akhirnya memenangkan Best Original Screenplay di Academy Awards 2011 tersebut, sebagai pemenang tertua dalam sejarah, berkat film ini.

Untuk menyimak visualisasi Hollywood terhadap sejarah kerajaan Inggris, film ini bisa dijadikan salah satu referensi yang patut diperhitungkan. Meskipun mungkin tidak akan seoptimal dokumenter, tetapi untuk melihat dramatisasi sejarah, kalian bisa menjajal film ini.

My ratings

  • Story 8/10
  • Graphic 7/10
  • Audience grasp 7/10
  • Tagline association 8/10
  • Moral value 8/10
  • Personal IMDb rating 8/10
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s