The Danish Girl (2015)

Identitas Film

the-danish-girl-poster

Censor Rating: R
Duration: 119 minutes
Genre: Drama, Romance, Biography
Release date: December 25, 2015 (USA)
Language: English, French, German
IMDb rating: 6.4/10
Metacritic score: 66%
Rotten Tomatoes tomatometer: 71%
Director: Tom Hooper
Casts: Eddie Redmayne, Alicia Vikander, Ben Whishaw, Matthias Schoenaerts, Sebastian Koch

Sinopsis Official

A fictitious love story loosely inspired by the lives of Danish artists Lili Elbe and Gerda Wegener. Lili and Gerda’s marriage and work evolve as they navigate Lili’s groundbreaking journey as a transgender pioneer.

Resensi

Cerita yang diangkat di film ini cukup kontroversial, yaitu soal transgender. Karakter Einar Wegener yang terlahir pria, dalam perjalanan hidupnya kemudian berubah menjadi wanita dan memiliki nama legal Lili Elbe. Konon Wegener adalah pria pertama di dunia yang menjalani proses rekonstruksi fisik untuk mengubah jenis kelaminnya.

Cerita menarik nan kontroversial antara Einar dan istrinya, Gerda; sebetulnya adalah kisah nyata yang terjadi di Denmark-Jerman-Prancis, antara tahun 1920-an hingga 1931. Namun, David Ebershoff mengonversi sebagian isi cerita ini dan mengemasnya dalam novel The Danish Girl, yang dipublikasikan di tahun 2000. Film ini dibuat berdasarkan versi novel, bukan versi kisah nyatanya.

Melihat nama-nama yang terlibat di film ini: Tom Hooper, mengangkat novel-semi-biografik dan “menggunakan kembali” Eddie Redmayne. Ingat Les Miserables (2012)? Ya, di film itu Hooper juga bekerja sama dengan Redmayne yang waktu itu memerankan Marius. Saya jelas bukan penggemar Les Miserables, namun saya justru berharap kehebatan Hooper dalam mengolah kisah King George VI dalam The King’s Speech bisa terwujud dalam kerja samanya dengan Redmayne.

Film ini memiliki alur maju yang mudah dipahami namun tidak membuat penonton mengantuk karena bosan. Sama sekali tidak. Awal cerita digambarkan bahwa pasangan Einar dan Gerda (Alicia Vikander) hidup cukup sederhana, di mana Einar menjadi pelukis landskap (pemandangan alam) dan Gerda pelukis model manusia. Lukisan Gerda tidak pernah benar-benar memikat buat pihak galeri untuk menggelarkan pameran khusus dirinya. Sampai suatu hari, salah satu model Gerda terlambat datang ke rumah mereka dan Gerda terpaksa meminta suaminya untuk berdandan ala wanita.

Dampaknya benar-benar tak terduga. Einar justru merasa nyaman berpakaian wanita dan mulai meminjam pakaian-pakaian di galeri untuk dipakai sendiri. Gerda yang awalnya mengira ini adalah episode lanjutan permainan yang diciptakannya sendiri, malah perlahan terpaksa menerima kenyataan bahwa suaminya ingin berganti jenis kelamin. Kemunculan Henrik (Ben Whishaw) dan Hans (Matthias Schoenaert) menambah bumbu drama dalam hubungan mereka yang kian naik turun. Berkali-kali Einar dicap gila oleh berbagai psikiater dari penjuru Prancis, ia malah dipertemukan dengan Warnerkos (Sebastian Koch), seorang ahli obgin yang tengah bereksperimen mengganti kelamin manusia lewat proses pembedahan. Kisah Einar dan Warnerkos digambarkan jelas dalam sekitar 20 menit terakhir film ini. Bagaimana akhirnya? Hehehe… Bisa disimak sendiri ya.

Jika kalian mengira film ini bakal menampilkan adegan mengerikan bak film 127 Hours, tenang, tidak ada adegan vulgar gamblang seperti itu. Jadi tenang… Tidak bakal ngilu. Yang lebih dominan justru adegan-adegan di mana Einar sibuk “belajar” menjadi wanita, dan di sisi lain Gerda yang terus-menerus khawatir dan kerap terkejut dengan sikap Einar. Namun yang pasti, akting keduanya patut diberi pujian tersendiri. Vikander yang asal Swedia mampu membawa aura romantis yang tidak kasat mata namun terasa, khususnya di akhir film. Sementara Redmayne, sedikit banyak membuat saya teringat The Theory of Everything. Bisa dibilang film ini adalah one-man-show buat Redmayne dengan Vikander yang bermain amat baik di latarnya. Namun, di luar mereka berdua, sepertinya tidak ada akting lain yang bisa disorot. Ben Whishaw pun, yang menurut saya bermain amat baik di Perfume: The Story of Murderer dan beberapa penggal cerita dalam film omnibus Cloud Atlas, kurang mendapat porsi di film ini meskipun terlihat bahwa adegan homoseksualnya benar-benar “terasa asli”. Schoenaerts juga terlihat begitu datar dan biasa saja (mungkin juga memang porsi adegannya kurang memungkinkan eksplorasi lebih).

Beberapa hal yang mengganjal di film ini, antara lain adalah minimnya unsur Denmark yang masuk ke dialog. Hanya Vikander yang “membawakan aksen Denmark”. Sementara karakter sentral Einar Wegener malah digambarkan memiliki aksen British. Namun apakah faktor ini cukup mengganggu buat kritikus film? Entah ya…

Satu hal kecil lain yang juga membuat janggal, yaitu masalah anakronisme. Digambarkan di awal film bahwa kisah diambil dengan latar Copenhagen, 1926. Namun dalam dokumen surat yang dibaca oleh Gerda, terlihat jelas bahwa tanggal surat tersebut (yang sudah pasti baru dibuat), tertulis tahun 1925…

Mungkin dari segi tema, film ini mengingatkan pada film yang memenangkan Best Actrees Academy Award 2000: Boys Don’t Cry. Meskipun kontroversial namun menarik, mengingat kasus transgender biasa terjadi tanpa diinginkan oleh si penderitanya, namun mengakibatkan stigma sosial yang sangat berat. Apakah film ini akan masuk nominasi Academy Award 2016? Bisa ditunggu di tanggal 15 Januari mendatang, sekalian bisa sambil coba menyaksikan film ini.

My Ratings

  • Story 7/10
  • Graphic 8/10
  • Audience grasp 8/10
  • Tagline association 8/10
  • Moral value 6/10
  • Personal IMDb rating 7/10
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s