The Hunger Games: Mockingjay (part 2) (2015)

Identitas Film

mockingjay-part-2-final-poster

Censor rating: PG-13
Duration: 137 minutes
Language: English
Release date: November 20, 2015
Genre: Adventure, Science Fiction
IMDb rating: 7.0/10
Metacritic Score: 65/100
Rotten Tomatoes Tomatometer: 70%
Director: Francis Lawrence
Casts: Jennifer Lawrence, Josh Hutcherson, Liam Hemsworth, Woody Harrelson, Donald Sutherland, Julianne Moore, Sam Claflin

Sinopsis Official

As the war of Panem escalates to the destruction of other districts, Katniss Everdeen, the reluctant leader of the rebellion, must bring together an army against President Snow, while all she holds dear hangs in the balance.

Resensi

Buat yang masih bingung apa itu The Hunger Games; Mockingjay (part 2) adalah lanjutan dari film Mockingjay (part 1) yang dirilis tepat setahun sebelumnya. Film ini diangkat dari novel trilogi karya Suzanne Collins. Di versi buku, Mockingjay hanya terdiri atas satu novel, sementara karena pertimbangan bahwa seluruh isi buku tidak dapat difilmkan sekaligus, maka versi film dibuat menjadi tetralogi.

Trilogi The Hunger Games menceritakan negeri distopia Panem, dikomandani Snow, dengan dua belas distriknya yang dipaksa menyetor hasil bumi dan mengorbankan satu remajanya setiap tahun dalam permainan bunuh-membunuh lewat laga The Hunger Games. Ketika 75th Hunger Games berakhir paksa, seluruh penduduk distrik 12 dipindahkan sementara ke distrik 13, yang dikomandani oleh Coin, presiden wanita yang selalu berniat menggulingkan Snow. Coin berniat memanfaatkan Katniss dalam menggulingkan Snow. Sementara Snow yang sudah telanjur dendam pada Katniss, justru terus mempermainkan perasaan Katniss lewat Peeta. Nah, film ini menjelaskan bagaimanakah pertikaian ini akan berakhir.

Membuat adaptasi film dari buku, apalagi buku yang berseri, tentu tidak gampang. Pasti ada banyak pembaca yang sudah punya gambaran pribadi berdasarkan cerita di buku, dan berpengharapan begitu besar terhadap film yang seharusnya mampu memvisualisasikan imajinasi mereka selama ini. Apalagi, ini adalah sekuel terakhir; yang tentu akan menjadi penentu sangat penting agar penonton ingat bagaimana perjalanan empat film ini berakhir. Kita lihat satu per satu, bagaimana The Hunger Games: Mockingjay (part 2) ini berusaha memenuhi “tuntutan penonton” di atas.

Tentang pembukaan film. Adegan pertama dan kedua saja sudah jelas terlihat aneh. Ada kesan tidak nyambung, tidak sinkron, tidak runut secara logika. Soal pita suara, sampai soal serangan Peeta. Coba lihat bagaimana runutan ini digambarkan dan bandingkan dengan akhir cerita di film Mockingjay (part 1).

Tentang perjalanan menuju Capitol. Entah mengapa bagian ini harus dipotong di bagian yang signifikan, dan bagian yang kurang penting justru dipanjang-panjangkan? Padahal, adegan-adegan yang dibeberkan di buku berlangsung dalam hitungan hari, bukan hitungan jam. Sementara, adegan yang terpilih untuk diekspos justru adegan yang tampaknya kurang penting, dan banyak ngobrol-ngobrolnya saja. Coba simak adegan di bagian awal (yang menyangkut pasangan Leeg), tidak terlalu panjang dibahas di buku, namun lumayan memakan waktu di film. Rincian tentang serangan perangkap tersembunyi juga seolah diremehkan begitu saja, dibahas singkat padat tapi tak jelas. Dan yang lumayan kritikal di bagian ini: soal Finnick.

Dan tak lupa kekacauan yang paling fatal menurut saya: Bagaimana cara ending cerita disampaikan.

Begitu banyak penonton yang mengatakan ending cerita terasa begitu “kentang” (kena tanggung) dan sedikit (atau banyak) dipaksakan. Saya pribadi merasa ending cerita terlalu “dipermudah” dan diperhalus. Ending buku tidak semulus sekadar taman bunga. Dan ada potongan adegan yang seharusnya ada di bagian akhir, tapi dibuang total tanpa sisa yang bermakna. Tidak jelas runutan yang terjadi ketika Katniss melakukan eksekusi tak terduganya. Padahal, di cerita aslinya semua dijelaskan. Apa kabarnya dengan versi film?

Kalau Francis Lawrence mengatakan bahwa Mockingjay (part 2) adalah bagian dari tetralogi film The Hunger Games yang paling brutal, menurut saya justru salah besar. Malah, film pertama besutan Lawrence dari tetralogi ini, Catching Fire (2013) masih lebih brutal dan amat jauh lebih memicu rasa penasaran daripada Mockingjay (part 2). Brutalnya di mana, saya juga masih bingung…

Dan saya tidak ragu mengatakan bahwa Mockingjay (part 2) adalah akhir tragis dari tetralogi The Hunger Games versi film. Tragis dalam arti sebenarnya, bukan tragis dari segi jalan cerita seperti di bukunya. Entah bagaimana pengaruh film yang menutup kisah Panem ini terhadap bukunya… Karena jujur saja, saya agak tidak rela melihat orang-orang yang belum membaca bukunya jadi antipati setelah melihat ending cerita di versi film.

Akhir kata, kalau kalian bertanya, mana yang lebih bagus antara versi buku atau filmnya? Jelas, tanpa pikir panjang, pasti saya pilih bukunya!

My ratings

  • Story 7/10
  • Graphic 8/10
  • Audience grasp 6/10
  • Tagline association 7/10
  • Moral value 6/10
  • Personal IMDb rating 7/10
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s