Mie Instan

Kita adalah korban radikalisasi mie instan.

Memang ada orang yang menolak makan mie instan karena takut pada zat pengawet atau zat lilin yang menempel ketat di sisi luar mie instan. Tapi bukan kuliner yang saya bahas.

Terlepas dari kita makan mie instan atau tidak dalam kehidupan sehari-hari, kita telah menjiwai nyaris semua esensi keliru yang ditanamkan mie instan. Mari kita lihat.

instant_noodle_by_kiug-d3jazwb

Mie instan tadinya diciptakan untuk keperluan perang. Di saat perang tentu susah mencari stok makanan karena tentu tidak ada toko yang buka di sekitar medan perang. Pengiriman stok dari luar juga perlu waktu karena bahaya yang mengintip setiap waktu. Makanan pun harus ditimbun karena tak ada delivery service di medan perang.

Kita membudidayakan mie instan sebagai makanan pokok. Untuk asupan karbohidrat yang setara, harga mie instan saja jauh lebih murah daripada beras! Suasana perangnya pun dibawa-bawa. Kini bukan di lapangan terbuka dan di hutan lagi, melainkan berpindah ke jalan raya dan media sosial. Di jalanan semua orang buru-buru, dan semua orang yang menghalangi, kalau bisa, diterabas dengan penuh kebencian. Di media sosial semua orang merasa dirinya benar, dan semua orang yang menentang, kalau bisa, dikonfrontasi di depan umum. Perangnya sudah selesai puluhan tahun yang lalu, tapi bentuk lain dari perang masih tumbuh subur kini.

 

Lantaran kepentingannya buat perang, mie instan dirancang supaya bisa dimasak dengan cepat. Tinggal masukkan air panas, campurkan bumbu-bumbu, dan jadi, langsung bisa dimakan.

Kita membudidayakan mie instan sebagai makanan pokok. Untuk asupan karbohidrat yang setara, memasak mie instan jauh lebih gampang daripada nasi! Esensi cepat jadi ini pun dibawa-bawa. Kalau di perang memang jelas manfaatnya karena menghemat waktu persembunyian dan membuat tentara bisa lebih cepat siap siaga kalau diserang, kalau di masa kini entah apa tujuannya. Orang jadi berpikir, lebih cepat lebih baik. Celakanya semboyan ini diintegrasikan pula di politik beberapa waktu yang lalu! Orang jadi berpikir pendek: Semboyan ini benar. Jadi, lebih cepat itu lebih baik. Selalu.

Mencampurkan mie instan dengan air panas, bumbu, kecap, cabai; selesai. Mie instan sudah bisa dimakan. Kita pun berpikir, hanya dengan beberapa formula kehidupan yang sederhana, kita sudah bisa berhasil. Diperparah lagi dengan bumbu penyedap superpower dari mie instan: Sinetron. Luar biasa rasanya saat menikmati mie instan sambil nonton sinetron, bukan?

Sekolah anak: Kalau ikut kursus harusnya nilai si anak membaik di bidang itu. Hari ini kursus, besok harus kelihatan hasilnya. Lumayan buat pamer ke teman!

Pendidikan: Suruh orang saja yang buatkan tugas. Bayar tidak apa-apa. Yang penting nilainya buat saya, deritanya derita si yang buatkan tugas.

Politik: Hari ini ketok palu rencana pembangunan infrastruktur, besok harus sudah ada lokasi dan wujud kerangka infrastrukturnya.

Jalan raya: Hari ini aturan jalanan baru diberlakukan, besok harus sudah tidak macet.

Pekerjaan: Hari ini hasil rapat diresmikan, besok harus sudah ada perubahan efek. Hari ini ada pengumuman perubahan tata laksana, dalam sebulan harus sudah ada penurunan jumlah kematian.

Usia keberhasilan: Di sinetron orang-orang berusia 20-an sudah jadi bos. Oh sebegitu mudahnya ya jadi bos? (tanpa melihat bahwa sebetulnya itu usaha orang tuanya)

Pola pikir kita, hidup ini harus instan. Apa-apa harus cepat. Perubahan dimulai sekarang, besok harus sudah kelihatan hasilnya. Hari ini susah payah, dalam seminggu atau sebulan sudah jadi orang berhasil.

Apa-apa harus cepat, dampak paling awalnya adalah pemaksaan kehendak. Pemaksaan impulsif amat merusak. Kita memaksa sesuatu yang tak seharusnya, ke arah yang kita mau, hanya karena keinginan ala mie instan tadi.

Mie instan juga selalu diiklankan dengan amat menarik. Tampilan mie instan di iklan selalu disajikan dalam mangkuk berwarna putih polos, dengan hiasan sayuran, ayam, dan telur rebus yang membuat mie instan tampil sebagai makanan elegan. Bintang iklannya juga dipilih bintang muda yang cantik atau ganteng, memperagakan adegan makan mie yang seolah begitu nikmat. Padahal, ketika kita sendiri yang memasak mie instan, sama sekali tidak ada sayuran, telur, dan ayam yang ada di iklan. Mangkuk putih polos belum tentu punya, karena di pasar lebih banyak mangkuk murah yang ber-warna-warni. Apalagi tampilan dan gaya bak artis, boro-boro.

Tapi aneh. Tak sesuainya iklan dan kenyataan ini tak membuat rakyat murka. Padahal, kalau beli rumah atau dirawat di rumah sakit, ketika menemui ketidaksamaan pernyataan di muka dan kejadian yang dialami, kita langsung marah-marah dan menyalahkan orang. Tapi giliran soal mie instan, semua masalah dianggap beres dan dimaklumi apa adanya. Mirip dukun dan kenakalan anak kecil: Semua orang dipaksa harus maklum!

Pemaksaan berakibat banyak hal. Anak suka menyontek. Remaja suka berbohong. Pasangan beralih hati. Dan ketika bekerja suka korupsi.

Memaksakan diri hidup dalam derajat yang tak sesuai, ujung-ujungnya harus memilih: Rela malu mengakui ketidakmampuan atau rela besar pasak daripada tiang sambil mencoba berkorupsi ria. Tentu pun kita berharap keduanya segera CEPAT berlalu. Apakah selalu bisa?

Kita adalah korban radikalisasi mie instan. Mie instan bisa jadi komoditi kebanggaan negara, tapi esensinya pun sudah mengakar jadi budaya yang diam-diam diamini sebagian besar rakyat. Mie instan adalah bagian esensial dari kehidupan dan budaya kita. Ketika ditanya bisakah kita mengubah pola pikir menjadi lebih maju? Seharusnya bisa. Tapi kapan? Barangkali, satu generasi setelah kita berhasil melepaskan diri dari belenggu akar mie instan dalam kebudayaan kita. Itu juga paling cepat…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s