Inside Out (2015)

Identitas Film

insideoutposterCensor Rating: PG
Duration: 94 minutes
Genre: Animation, Adventure, Comedy
Release date: June 19, 2015 (USA), August 19, 2015 (Indonesia)
Language: English
IMDb rating: 8.5/10 (#64 in 250 Top Rated Movies)
Metacritic score: 94%
Rotten Tomatoes tomatometer: 98%
Director: Pete Docter
Casts: Amy Poehler, Phyllis Smith, Richard Kind, Bill Hader, Lewis Black, Mindy Kaling, Kaitlyn Dias, Diane Lane, Kyle MacLachlan

 

Sinopsis Official

After young Riley is uprooted from her Midwest life and moved to San Francisco, her emotions – Joy, Fear, Anger, Disgust and Sadness – conflict on how best to navigate a new city, house, and school.

Resensi

Seperti apa ya isi pikiran manusia, dan bagaimana isi pikiran manusia bisa berinteraksi sehingga menimbulkan suatu sifat atau ciri kepribadian manusia, yang membuat dia berbeda dengan orang lain?

Tampaknya itulah pertanyaan mendasar yang tak lain adalah ide di balik dibuatnya film ini. Betapa tidak: Hanya untuk mengawinkan konsep psikologi, psikiatri, dan tokoh Riley dalam cerita ini, butuh waktu sekitar 6-7 tahun! Tak heran, selama periode itu, terjadi bongkar muat ide yang terus menerus, plus konsultasi dan masukan-masukan dari para ahli di bidangnya; sehingga sebetulnya film ini dibuat berdasarkan konsultasi ilmu pengetahuan yang sudah komprehensif. Jika kita menilai hanya dari usaha pembuatan filmnya, sudah pasti: Keren.

Namun, apakah filmnya sekeren usaha para krunya?

Memang awalnya ada segelintir orang mencibir. Pixar ini bisanya hanya membuat film dengan konsep “bagaimana jika X bisa berpikir”. Tidak jauh dari itu. Contoh variabel X yang sudah dibuatkan filmnya: Cars (bagaimana jika mobil bisa berpikir). Dan kali ini, bagaimana isi pikiran manusia. Pasti filmnya bakal begitu-begitu juga. Tapi, apa ya rahasianya film ini bisa mendapatkan rating yang bisa dibilang sangat tinggi untuk film animasi?

Jika melihat nama Pete Docter, jujur saya tidak suka film Up, menurut saya garing dan gampang ketebak sekali ending ceritanya. Jadi saya memilih mengabaikan soal selera pribadi saya dan nama Pete. Toh, ternyata di film ini, saya rasa Pete sanggup menyajikan pengalaman pribadinya dengan amat baik.

Jika ditinjau dari grafis, grafis film ini bisa dibilang bagus namun tidak terlalu spesial dibandingkan film-film animasi besutan era 2010-an pada umumnya. Versi 3D-nya pun tidak menyajikan sesuatu yang benar-benar baru dari segi grafis. Namun saya bisa mengatakan bahwa pemilahan warna dan bentuk tampilan kelima karakter isi pikir Riley benar-benar akurat dan memiliki filosofi tersendiri. Misalnya, Anger yang dibuat berwarna merah, sesuai dengan representasi warna bagi suasana hati orang yang sedang dilanda amarah. Sadness dibuat berwarna biru dan berbentuk bulat; konon karena disesuaikan dengan bentuk dan warna air mata. Wah, sampai se-detail itu ya perencanaannya!

Nah, barangkali keistimewaan lain terletak di plot filmnya. Coba kita lihat.

Sekitar 15 menit pertama film, dikemukakan tentang siapa itu Joy dan teman-temannya. Joy (atau yang diterjemahkan sebagai “Si Senang” di bioskop) disebutkan sebagai tokoh utama yang pertama kali mengisi pikiran Riley ketika lahir. Joy digambarkan sebagai anak tinggi langsing yang tubuhnya bersinar kuning dan berambut biru. Namun dalam beberapa detik, muncul teman sepenanggungannya: Sadness (Si Sedih), yang berambut bob dan chubby namun wajahnya yang biru muda selalu terlihat seperti akan menangis; seolah hadir hanya untuk merecoki tugas Joy dalam membuat Riley bahagia.

Dalam perkembangan selanjutnya, diperkenalkan juga Fear (si Khawatir, yang memperhitungkan segala kemungkinan terburuk, yang seluruh tubuhnya berwarna ungu), Disgust (si Jijik, yang melindungi dari dugaan racun, dengan bulu mata geledek dan outfit hijau-hijau), dan Anger (si Marah, yang memberikan serangan balik, bentuk seperti mug berisi api olimpiade dan berwarna merah); dengan peran masing-masing yang juga dideskripsikan dengan cepat singkat dan jelas. Bagian ini tentu terasa lucu karena dengan cepat masing-masing karakter di isi pikir Riley tersebut memperlihatkan ciri khas mereka.

Namun kemudian alur berubah menjadi agak lambat setelah memasuki sekitar menit ke-20 sampai 30, di mana anak-anak mungkin akan bosan. Di sini diperlihatkan bagaimana Riley yang baru pindah kota menghadapi konflik dalam dirinya, di mana ayahnya menjadi semakin sibuk, dan ia menghadapi teman-teman baru di sekolah (konon ini adalah kisah nyata sesuai pengalaman pribadi Pete Docter). Di sini cerita jelas sangat terpadu dengan adegan di isi pikir Riley, hingga puncaknya ketika Joy dan Sadness berebutan bola isi pikiran inti dan terjebak ke labirin pikiran. Ketika mereka terjebak di sana, isi pikiran Riley dikendalikan trio Fear-Disgust-Anger, dan Joy-Sadness terdampar saat mencoba menemukan jalan pulang ke stasiun pengendali pikiran Riley, sampai akhirnya bertemu Bing Bong. Bing Bong sendiri adalah teman imajiner Riley waktu ia kecil, yang gemar menyerempet bahaya dalam perjalanannya.

Lalu bagaimanakah perjalanan Joy dan Sadness kembali menuju ke isi pikir Riley? Berhasilkah mereka kembali, ataukah mereka akan terserang marabahaya gegara petunjuk Bing Bong?

Buat yang gampang terharu, siap-siap karena dalam 40 menit terakhir ada sejumlah adegan mengharukan dalam perjalanan Joy dan Sadness ini. Silakan disimak sendiri ya… Yang pasti, momen yang pertama berkaitan dengan Bing Bong, dan yang kedua berkaitan dengan Sadness. Coba disimak. Namun secara umum, film ini memiliki ending yang menyenangkan, agak mudah ditebak, akan tetapi interaksi isi pikir Riley dan kesesuaian plot cerita di dalam dan di luar Riley inilah yang justru menjadi dua hal utama yang menarik dari cerita film ini.

Meskipun censor rating-nya PG, menurut saya film ini kurang cocok untuk anak usia <10 tahun. Hal ini terlihat dari beberapa pengunjung bioskop yang buru-buru keluar membawa anaknya di menit 55-60 film. Namun untuk anak besar yang sudah mulai memahami konsep abstrak, film ini cukup bisa dijadikan hiburan yang menarik sekaligus mendidik. Bahkan, buat orang dewasa juga cocok.

Saya setuju jika film ini tidak bisa dibilang film ringan yang untuk memahaminya tidak perlu berpikir keras; justru sebaliknya, film ini lumayan merangsang kita berpikir; meskipun barangkali tidak harus sekeras berpikir ketika nonton film detektif. Namun, bagaimana kerumitan tersebut bisa disederhanakan dan disajikan dalam kemasan menarik seperti kelima karakter isi pikir Riley, itulah justru letak menariknya film ini.

Akhir kata: Highly recommended animation film of 2015!

Bonus:

  1. Di versi bioskop, ada film pendek sepanjang 7 menit berjudul Lava, yang memang sengaja dirilis teater bersamaan dengan Inside Out sebagai satu paket. Film pendek Lava ini amat terkenal dengan lagu khas ala Pasifik-nya, yang dinyanyikan Kuana Torres Kahele dan Napua Greig.
  2. Jangan lupa juga, saksikan film ini sampai habis (sampai saat keluar credits). Bagian ini menampilkan bagaimana isi pikir figuran-figuran dalam film ini ketika disajikan dalam bentuk formasi Joy-Sadness-Fear-Anger-Disgust, yang ada kalanya bikin ketawa sampai sakit perut!

My Ratings

  • Story 8/10
  • Graphic 9/10
  • Audience grasp 8/10
  • Tagline association 9/10
  • Moral value 8/10
  • Personal IMDb rating 9/10
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s