XII – The Hanged Man

maj12-the-hanged-manMelihat Mount Triumph yang memiliki ketinggian sekitar 4000 meter di atas permukaan laut, Lori Frances dan teman-temannya sesama pecinta alam di kampus tertarik untuk mencoba mendaki gunung tertinggi di pulau tetangga itu. Hitung-hitung mencari tantangan baru di masa liburan semester.

Memang dari namanya Mount Triumph terdengar megah, namun hanya sedikit pendaki yang sanggup mencapai puncak gunung itu karena tingkat kesulitan arena yang cukup tinggi. Gunung ini dikenal sebagai salah satu medan maut yang sering menelan nyawa para pendaki yang kurang berpengalaman dan kurang sigap terhadap bahaya. Justru itulah yang membuat Lori dan teman-temannya semakin tertantang.

Lori sendiri merupakan seorang pendaki muda yang cukup terkenal di kalangan persatuan mahasiswa pecinta alam. Gadis berumur 19 tahun ini gemar mendaki gunung sejak kecil, bersama ayah dan pamannya yang merupakan pendaki gunung ternama. Sayang, sang ayah sudah meninggalkan Lori sejak ia berumur 12 tahun. Jim Frances meninggal bersama rombongannya saat mereka berupaya menaklukkan Mount Everest. Sejak saat itulah Lori bertekad untuk meneruskan cita-cita ayahnya sebagai seorang pendaki gunung. Ia senasib dengan Maggie Reading, seorang gadis 18 tahun yang juga gemar mendaki karena ingin meneruskan cita-cita almarhum ayahnya, Frank Reading yang turut meninggal dalam rombongan ayah Lori. Karena kesamaan itulah Lori dan Maggie bersahabat akrab sejak bertemu di kampus.

Hari pertama keberangkatan, pukul 6.00 pagi waktu setempat. Lori akan mendaki dengan tiga orang temannya: Pat Shreeds, pemuda yang berpengalaman dengan penggunaan alat-alat pertolongan darurat; Rob Wallground, seorang alumni yang masih aktif berbagi pengalaman dan turut serta dalam kegiatan pecinta alam di kampus, dan Maggie. Sebagai pengurus perlengkapan mereka meminta bantuan beberapa rekan pendaki junior. Semua peralatan sudah siap di dalam van. Ada tabung oksigen, beberapa kotak P3K dan obat-obatan yang mungkin diperlukan, stok makanan, minuman, dan sejumlah alat bantu seperti peta, GPS, dan kompas. Van putih mereka membutuhkan waktu 3 jam untuk mencapai lereng tempat mulainya pendakian. Saat mereka tiba di sana, sudah ada satu van lain yang berwarna hitam sedang parkir. Namun tidak jelas apakah itu juga van pendaki atau bukan.

Hari pertama lancar. Mereka mendaki sampai ketinggian 400 meter dengan sukses, sebelum akhirnya mereka membangun kemah di lereng terbuka yang agak luas. Kontak dengan rekan- rekan yang tetap tinggal di van putih juga masih berlangsung mulus. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan.

Hari kedua sampai kelima juga berlangsung lancar walaupun jarak yang mereka tempuh malah lebih sedikit daripada yang mereka targetkan. Mereka berkeinginan mencapai ketinggian 3500 meter pada hari ketiga, namun mereka baru berhasil mencapai titik itu di hari keempat. Tidak ada masalah berarti yang mereka temukan, selain Maggie yang mengalami luka akibat tertusuk ranting patah di kaki kanannya. Setelah diobati sebentar oleh Pat, Maggie tampak tidak mengalami masalah berarti dan mereka melanjutkan kembali perjalanan sampai ke ketinggian 3500 meter.

Di malam hari menjelang hari keenam, Lori dan Rob sibuk berdiskusi tentang rencana pendakian pada hari keenam dan ketujuh. Mereka menargetkan untuk mencapai puncak pada siang sampai sore hari pada hari ketujuh. Namun mereka dibingungkan dengan persediaan makanan dan minuman yang sudah menipis. Mengingat kurangnya pengalaman Maggie dan karena kenekatan Lori, mereka memutuskan untuk meninggalkan Maggie dan Rob di kemah pada ketinggial 3500 meter. Yang maju hanyalah Lori dan Pat. Keputusan ini dapat diterima dengan sukarela oleh Rob, namun Maggie tampaknya keberatan. Ia bertengkar hebat dengan Lori, sampai akhirnya mereka berdiam diri dan tidak bicara satu sama lain. Maggie merasa bahwa Lori hanya memanfaatkannya dalam ekspedisi ini untuk kepentingan Lori seorang.

Pagi hari keenam, Lori dan Pat bersiap-siap mendaki lebih lanjut lagi. Rob yang membawa sejumlah peralatan komunikasi siap membantu kedua temannya itu, sambil ia merawat luka Maggie yang tengah bersedih. Setengah hari pertama berlangsung lancar. Lewat radio, Rob mendapat informasi dari Pat bahwa mereka telah mencapai ketinggian 3650 meter. Kemajuan yang tidak begitu pesat, namun cukup berarti mengingat di ketinggian lebih dari 3500 meter, telah terdapat banyak jurang dan lereng terjal yang dapat mengundang maut kapan saja. Ditambah dengan kabut tebal yang mulai datang menutupi pandangan.

Di saat itulah masalah mulai berdatangan. Lori kehilangan kompasnya setelah tersandung bebatuan di ketinggian 3650 meter. Tidak hanya itu. Selain kompas yang entah jatuh ke mana, Pat yang tengah mencari-cari jalan yang aman untuk mendaki tiba-tiba menghilang. Pat tadinya berada pada jarak sekitar 25 meter di depan Lori, namun Lori mengalami kesulitan untuk melihat Pat karena semakin tebalnya kabut yang menyelimuti. Lori yang masih memiliki radio, mencoba menghubungi Rob di kemah. Namun sayangnya gagal. Radio Lori tidak dapat menangkap sinyal lagi karena kekuatan batere yang minim. Dia pun dilanda kebingungan: haruskah ia mencari Pat terlebih dahulu (dengan peluang keberhasilan cukup rendah mengingat medan yang sulit dan cuaca yang tak bersahabat), ataukah ia harus melanjutkan perjalanan ini sendirian (namun ia tidak seahli Pat dalam menangani kondisi darurat)? Setelah mencari-cari Pat selama setengah jam dan gagal; Lori memutuskan untuk mengambil langkah kedua. Ia akan lanjutkan perjalanan ini sendirian, apapun yang terjadi, demi ayahnya.

Lori kembali mendaki menuju perhentian selanjutnya pada ketinggian 3800 meter. Perjalanan yang semakin sulit, lereng semakin terjal, dan kabut semakin tebal. Di sinilah semua titik balik itu terjadi.

Saat tengah mendaki, Lori diterpa kabut tebal yang membuatnya tidak dapat melihat gundukan tanah tengah mengalami longsor ke arah tepat di mana ia berada. Lori terjatuh dari ketinggian cukup signifikan, kira-kira 5 meter, sebelum terpantul beberapa kali ke bebatuan di lereng terjal tersebut, dan akhirnya jatuh telentang di lereng datar. Tanah yang tadi longsor ke arahnya pun datang menimpanya, sampai setengah tubuhnya terkubur oleh tanah. Lori yang masih sadar setelah jatuh, masih mencoba mencari-cari ranselnya yang berisi peralatan komunikas, namun gagal. Ia tersadar bahwa bagian bawah tubuhnya sulit digerakkan; tertimpa tanah yang demikian berat. Ranselnya pun tak terlihat lagi; tampaknya karena terkubur tanah longsor.

Setelah menunggu cukup lama, Lori pun menangis dan berteriak… Ia merasa hancur, tak sanggup meneruskan niat luhur ayahnya sebagai pecinta alam yang sejati.

Mendengar ada suara teriakan dari jarak tidak begitu jauh, Carl Reading berusaha mencari sumber teriakan itu. Berhasil, ia melihat bayangan seorang gadis tertimpa longsoran tanah dan bebatuan di hadapannya. Carl mendekat dan berusaha melepaskan Lori dari longsoran tersebut. Ia juga membawa perlengkapan medis yang siap pakai. Segera setelah ia melepaskan Lori dan memberinya pertolongan pertama secukupnya, Lori tersadar bahwa ia belum mengenal siapa penolongnya ini.

“Boleh tahu siapa Anda? Apakah Anda datang dengan van hitam itu?”

“Benar sekali. Pasti itu karena kau melihatnya waktu kau datang. Kau pendaki?”

“Ya.”

“Tidak aman mendaki Mount Triumph sendirian. Kau sudah tahu itu, kenapa masih kaulakukan? Ke mana teman-temanmu?”

Lori terdiam.

“Kau Lori Frances, ‘kan?”

“Ya. Apakah kita pernah ketemu sebelumnya?”

“Belum. Tapi aku tahu banyak tentang kau.”

Lori kebingungan. Mengenal banyak? Bagaimana mungkin?

Carl mengetahui kebingungan Lori dari ekspresi wajahnya.

“Tentu saja, ayah kita ‘kan sama-sama pecinta alam. Meninggalnya pun bersamaan. Oh ya, perkenalkan, aku Carl Reading.”

Lori terkaget. Ternyata inilah kakak Maggie yang pernah diceritakannya sepintas lalu itu. Kakaknya yang belakangan ini tengah berlatih sebagai anggota tim penolong pecinta alam yang mengalami masalah di “medan tempurnya”.

“Aku tahu kau seorang calon pendaki hebat di masa mendatang. Sama seperti ayah kita. Tapi ingat, pendaki baru bisa sukses berkat bantuan beberapa orang. Jangan menurutkan egoisme dirimu saja. Aku baru saja menemukan temanmu yang membawa-bawa kotak P3K itu. Tepat sebelum aku kemari.”

“Pat? Apa dia baik-baik saja?”

“Lori, mengapa baru kautanyakan itu sekarang? Seharusnya tadi kau tidak meninggalkannya. Aku menolongmu dengan sebagian peralatan yang ia bawa karena peralatanku sudah hampir habis kupakai untuk menolongnya. Jadi kuambil saja peralatan medis yang ada di ranselnya. Ia juga membawa identitas para pendaki yang turut serta dalam ekspedisi ini. Karena itulah aku mengetahui kau ada di sini. Sayang, ia sudah meninggal. Secara tak langsung, ia telah berjuang demi kau, Lori.”

Lori terkaget sekali lagi dan ia pun berkaca-kaca.

“Lori, kejadian ini harusnya menyadarkan kita semua. Tidak ada seorangpun yang mampu berdiri sendiri. Di medan sulit seperti ini, kita butuh teman-teman. Di mana mereka bisa jadi pahlawan bagimu, menyelamatkanmu di saat sulit, seperti temanmu itu.”

Lori terdiam sembari Carl memanggil teman-temannya untuk mengangkut Lori ke kamp kesehatan darurat.

Berita meninggalnya Pat Shreeds akhirnya didengar oleh Rob dan Maggie.

Segera setelah Lori pulih, Carl mengantarnya ke kamp tempat Rob dan Maggie bermalam selama 3 hari.

Lori segera meminta maaf kepada Maggie, “Kakakmu benar-benar seorang pahlawan, tidak hanya karena dia telah menolongku tapi dia juga menyadarkan aku, bahwa tidak satu pendaki pun yang sanggup berjuang sendirian. Aku minta maaf Mag, aku takkan mengulangi kesalahan yang sama… Mulai sekarang kita berjuang bersama untuk ayah kita dan Pat.”

Maggie menyambut pelukan hangat dari Lori. Carl menyaksikannya dari kejauhan.

 

 

[Catatan kaki: Judul aslinya adalah “Perjuangan Sang Pecinta Alam”, dipublikasikan 11 Nopember 2009, dalam kontes cerita pendek di salah satu forum networking lokal Indonesia. Cerita pendek ini memenangkan medali perak, atas nama salah satu pseudonym saya.]
Advertisements

One thought on “XII – The Hanged Man

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s