[Indonesia-Malang] Museum Restoran Inggil

Malang memiliki banyak tempat wisata yang cukup menarik. Namun bila waktu kunjungan terbatas, tentu kita hanya dapat mengunjungi beberapa tempat. Apabila Malang hanya menjadi tempat singgah sementara, maka Museum Restoran Inggil dapat dijadikan salah satu spot kunjungan yang menarik. Mengapa demikian?
1. Ada museumnya
Namanya saja Museum Restoran Inggil, bangunan yang terletak di balik pepohonan di Jalan Gajahmada Malang ini tentu memiliki bagian museum di dalamnya. Selagi kita menyusuri pintu masuk, kita bakal disambut sebuah air mancur kecil yang memberi kesan sejuk, plus bahwa kita bisa melihat sederetan foto-foto klasik yang memperlihatkan sejarah kota. Yang unik lagi adalah bahwa di pintu masuk, terlihat tulisan dengan ejaan zaman dahulu “Boeka djam 10.00-22.00” dan “dateng mriki saget hotsepot” yang menunjukkan bahwa di dalam gedung klasik ini pun ternyata ada hotspot-nya.
Untuk mengunjungi museum, kita cukup fokus ke sisi kanan ruangan. Mulai dari sebuah ruangan terbuka dengan sebuah meja dan jejeran beragam kotak mirip kaset (ataukah benar memang kaset?) terpajang rapi di dinding, sampai sisi dalam museum yang memajang berbagai poster iklan zaman kolonial hingga deretan benda-benda antik dari zaman revolusi, semua tertata lengkap.

Menikmati poster iklan zaman kolonial ini mungkin membuat kita berefleksi sejenak soal kesederhanaan dan aktivitas berpromosi. Zaman dahulu ternyata gaya promosi amat sederhana, tidak pakai data pendukung yang bikin ruwet, dan tidak harus pakai menjelek-jelekkan produk lain ๐Ÿ™‚

Lalu ada juga telepon klasik yang untuk menggunakannya saja harus memutar-mutar nomor, plus sebuah mesin ketik tua yang sebagian besar tutsnya sudah “kelelep” ke dalam; yang tentunya melengkapi koleksi benda-benda zaman kolonial di sini ๐Ÿ™‚

2. Ada restorannya

Barangkali sama dengan pengunjung Inggil lain yang kurang paham sejarah, saya mengetahui Inggil pertama kali sebagai restoran. Selain untuk melihat-lihat peninggalan sejarah di kota Malang, tentu kita tidak mau ketinggalan mencicipi hidangan khas Jawa yang disajikan di restoran bertema semi-klasik semi-lesehan ini.

Begitu selesai menyusuri lorong pintu masuk, kita langsung berjumpa dengan segerombolan topeng yang menanti, mengelilingi sebuah replika sumur. Ikon ini menandai kita telah memasuki bagian restoran dari Museum Restoran Inggil.

Setelah melewati barisan topeng, kita akan melihat ada dua bagian dari restoran. Bagian kiri, yang dibatasi undakan tangga, merupakan bagian lesehan, di mana kita bisa duduk bersila menghadap meja untuk menikmati hidangan. Daerah ini pun tak sekadar lesehan biasa karena ada sejumlah ikon budaya menempel di dinding sekitarnya, mulai dari topeng, wayang-wayangan, sampai foto-foto klasik, dan yang tak kalah menarik adalah lukisan kaki gunung yang membuat kita seolah-olah berasa ada di dalam gubuk yang dikelilingi alam pegunungan indah sembari makan.

Saya memesan ayam penyet dan sayur asem.
Tadinya, saya mengira ayam penyet dipisahkan antara dada dan paha seperti restoran pada umumnya. Namun ternyata restoran ini beda: Yang disajikan di atas nampan batu itu adalah separuh ekor ayam muda. Tentunya tidak ketinggalan lalapan dan sambelnya.

Yang unik juga di sini adalah sayur asemnya. Jika di tempat lain rata-rata sayur asem harus menggunakan bumbu tomyam atau saos tomat yang banyak agar muncul warna kemerahan plus rasa asam yang menyengat, Inggil menyajikan sayur asem dengan spesial. Bisa dilihat di foto berikut bahwa sayur asem sama sekali tidak berwarna kemerahan, bahkan menurut saya kuahnya cukup bening. Namun rasa asemnya pas, juga rasa tersebut tersebar merata sampai ke bagian bawah sop.
Untuk harga, jika dibandingkan dengan standar Malang, hidangan Inggil bisa dibilang masih masuk standar di angka sekitar Rp 30.000-an untuk satu nasi dan satu lauk. Namun tentu harga ini masih bisa dibilang murah jika dibandingkan dengan harga Jakarta. Seporsi ayam penyet tadi dibanderol Rp 25.500, seporsi nasi putih Rp 6.000, dan seporsi sayur asem Rp 12.500. Semua belum termasuk pajak 10%. Jangan lupa mereka juga melayani pesan bungkus jika berminat.
3. Ada toko suvenirnya
Satu hal yang juga membuat Inggil memiliki keunikan tersendiri dan layak dikunjungi untuk turis yang hanya punya waktu singkat di Malang, adalah keberadaan sebuah toko suvenir kecil di depan restoran dan museum. Toko suvenir ini menjual berbagai jenis kerajinan rakyat, yang terutama tersusun atas bahan kayu. Tidak lupa, toko ini juga menjual makanan ringan khas Malang. Cocok untuk tempat berburu oleh-oleh buat yang waktunya sempit.

Jadi, kita sudah melihat apa saja fitur-fitur unik yang ditawarkan Museum Restoran Inggil. Jangan lupa mengunjungi restoran ini apabila ada waktu mampir ke Malang ๐Ÿ™‚

(20150818)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s