[Copenhagen] Keliling kota dengan Canal Tour

Kesan pertama melihat Copenhagen adalah: Mirip Amsterdam. Mungkin karena sebelumnya saya jalan ke Amsterdam terlebih dahulu, jadi sudah ada semacam pembanding yang bikin saya berpikir demikian. Alasannya jelas: Copenhagen memiliki beberapa sudut kota yang seolah tampak seperti dibangun di atas pulau-pulau kecil yang disambung dengan jembatan-jembatan, dan tampaklah sistem tata kelola air serupa kanal di Amsterdam. Plus, desain bangunan ala Eropa di Copenhagen juga terlihat 11-12 dengan desain facade ala Kompeni.

Masih bicara soal kanal, tidak cuma Amsterdam yang punya tur keliling kanal. Copenhagen juga punya, meskipun penyedia layanannya tidak sebanyak, tidak semeriah, dan tidak segemerlap sistem pengelolaannya Amsterdam.

Paket Tur

Kalau Amsterdam punya lebih dari tiga nama pengelola, Copenhagen hanya satu: Stromma. Logonya mudah dicari: mirip naga laut berbentuk huruf S, dengan latar merah dan tulisan kuning.

Stromma ini pun punya paket berbeda-beda. Kita bisa membeli paket tur kanal yang berdiri sendiri, tur kanal malam, atau bersama dengan paket Copenhagen City Tour. Sewaktu mempelajari CPH saya menemukan fakta bahwa ibukota Denmark ini tergolong kota yang sangat kecil, sehingga saya berpikir konyol dong kalau saya beli paket Copenhagen City Tour. Mana harganya mahahahahahal, mulai dari DKK 250 (setara IDR 520 ribu) per hari. Waduh. Uang segitu mending buat makan kali yah.

Sebagai perbandingan, harga tur kanal Copenhagen untuk satu orang dewasa adalah DKK 85.

Untuk informasi dan pemesanan tiket Copenhagen Canal Tour, bisa cek di tautan berikut. [klik di sini]

Memulai Tur

Ketika saya membeli karcis ini sebelum berangkat, entah saya sambil tidur atau bagaimana, terbelilah karcis tur yang start dari Gammel Strand. Waduh, padahal tadinya saya berniat membeli karcis tur yang start dari Nyhavn. Oh, ternyata tur Nyhavn tidak jalan di tanggal yang saya pesan!

Dengan demikian saya harus mencari Gammel Strand untuk memulai perjalanan tur kanal ini. Ternyata Gammel Strand tidak terlalu sulit dicari. Dari stasiun Metro Kongens Nytorv, cukup jalan kaki sekitar 400 meter (ke arah selatan, kemudian belok kanan sampai bertemu jembatan besar yang membatasi Christiansborg Palace dan Gammel Strand). Atau bisa juga menggunakan bus, yaitu bus 1A dan turun di stasiun Stormbroen.

Jika saat kalian berkunjung cuaca sedang bagus atau cerah, selamat! Karena di musim semi, Copenhagen nyaris selalu hujan dan hujannya juga rada aneh (sebentar hujan kecil, sebentar berhenti, lalu cerah, kemudian bisa tiba-tiba hujan lebat, demikian seterusnya). Dan satu hal lagi: Cuaca SANGAT BERPENGARUH terhadap nasib kita selama tur kanal. Nanti kita akan lihat alasannya.

Setelah sampai di Gammel Strand, cari papan penunjuk berwarna kuning dan merah bertulisan “Canal Tour Copenhagen”, kemudian cari konter tiket yang bisa dicapai dengan menuruni tangga kayu di tepi sungai. Setelah sampai, mungkin dari luar konter terlihat sepi namun kalau kita mendekat, ada seorang petugas yang berada di dalam konter dan menyapa kita. Berhubung saya sudah membeli tiket via online, maka saya tinggal perlu menyerahkan print out tiket yang sudah dibeli kepada petugas tersebut. Alhasil saya mendapat tukaran kupon yang kata petugasnya nanti harus diserahkan kepada pemandu tur ketika akan naik ke perahu tur kanal. Tapi pertanyaannya, kapankah perahunya datang? Ternyata masih 45 menit lagi!

Wah, terpaksa menunggu dong.

Ternyata, tur kanal ini tersedia dalam berbagai bahasa. Memang tur yang paling sering adalah tur berbahasa Inggris, namun jangan heran bahwa ada beberapa tur yang disampaikan dalam bahasa Denmark, ada juga bahasa Italia; setidaknya itu yang saya lihat di tanggal saya mengambil tur ini. Untuk bahasa lainnya, saya belum sempat cek apakah tersedia juga.

Sekitar 40 menit kemudian (dan setelah berkeliling ke daerah-daerah sekitar untuk sightseeing dan foto-foto), ada perahu tanpa atap datang dan setelah para penumpangnya keluar, pemandu tur keluar dari perahu dan berdiri di samping dermaga untuk menyambut penumpang sesi tur kanal berikutnya. Seperti halnya penduduk Denmark pada umumnya, pemandu tur ini sangat lancar berbahasa Inggris, termasuk ketika menyapa semua tamu yang akan masuk ke perahu. Ketika kita melewati si pemandu ini, dia akan meminta kupon yang tadi diberikan petugas konter.

Oh ya, bapak pemandu ini mengaku belum pernah kedatangan tamu tur kanal dari Indonesia sebelumnya, haha 😀

Perjalanan Tur

Setelah semua peserta tur masuk ke perahu, pengemudi dan bapak pemandu tur tadi turut masuk perahu dan menutup pintu samping perahu. Sebelum perahu berjalan, ternyata bapak tadi mengambil mikrofon dan menyampaikan “pidato pembukaan” tur kanal, sambil memperkenalkan dirinya (namanya Carsten). Tidak sampai di situ saja, pemandu ini juga menginformasikan soal keamanan, di mana dia menekankan dengan tegas bahwa semua penumpang tidak boleh berdiri ketika perahu melewati bagian bawah jembatan, karena kepala bisa terbentur dan bahkan dampak terburuknya adalah si peserta tur bisa terpental masuk perairan kanal. Petunjuk di badan perahu sisi dalam juga memperlihatkan peringatan senada, tapi semua dalam bahasa Denmark.

Dari awal saja sudah jelas bedanya tur kanal ini dengan versi Amsterdam. Pertama, pemandu di Amsterdam tidak berwujud, alias suara pemandu sudah direkam dalam beberapa bahasa dan harus didengarkan dengan headphone. Kedua, perahu di Amsterdam biasanya dipasangi atap dan berjendela, sehingga kita bisa memilih ingin kena terpaan angin atau tidak ketika mengikuti tur. Dan yang ketiga dari jumlah, baik jumlah penumpang maupun frekuensi perahu yang lewat.

Setelah selesai dengan peraturan-peraturannya, tur pun dimulai. Sebagai titik pertama, tur kanal bertolak dari Gammel Strand dan melewati landmark pertamanya, yaitu Christiansborg Palace, yang terkenal dengan ciri patung King Christian IX yang tengah menunggangi kuda. Benteng yang dibangun di abad ke-12 ini sering menjadi titik tempat bertemu yang strategis di Copenhagen, karena memang banyak sekali transportasi umum yang berhenti di sekitar sini.Nah, ketika perahu akan memasuki lorong bawah jembatan pertamanya, tiba-tiba ada satu peserta tur asal Britania yang berdiri dan mau mengambil foto. Kejadian ini lumayan bikin kaget karena bahkan si pemandu tur sendiri sudah bergegas duduk untuk menghindari benturan kepala dengan jembatan, eeeh malah om ini bergegas berdiri! Akhirnya, nafsu si peserta tur yang nekat ini berhasil diredam oleh penumpang-penumpang sebelahnya dan hal yang mengerikan pun tidak terjadi.

Di dekat sini ada restoran Noma, namun saya tidak ingat bentuk bangunannya (asumsi saya, bentuknya sederhana, makanya saya tidak ingat). Bapak pemandu tur pun segera menggarisbawahi betapa ramai, mewah, dan mahalnya hidangan restoran yang digawangi chef terkemuka René Redzepi ini. Seporsi makanan paling murahnya saja bernilai Rp 4,5 juta lho! Belum lagi, kita wajib booking 2-3 bulan di muka supaya bisa mendapatkan kursi.

Lanjut… Kini kita memasuki daerah tepi air yang dikelilingi vila mewah berdinding kokoh, beratap kaca, dan di setiap sisi belakangnya masing-masing dihiasi sebuah yacht. Tidak disebutkan apa nama kawasan ini, namun (berdasarkan pendengaran saya yang masih kurang plus kena terpaan angin kencang, tampaknya) tempat ini dulunya adalah tempat para buruh kapal memperbaiki perahu ketika melewati kanal di Copenhagen. Saat ini, tempat ini sudah dipugar dan dialihfungsikan menjadi vila mewah. Tampilan fisiknya pun jelas beda. Jika di pusat kota CPH nyaris semua bangunan menggunakan bahan dasar batu bata, bangunan ini menggunakan baja dan kaca transparan. Bangunan ini cukup mengagumkan, lho. Maka tak heran jika saya tak bosan-bosannya mengamati vila-vila mewah tersebut sambil mengambil beberapa foto :’)

Lepas dari sini, kita masih ada di daerah pinggiran ibukota yang masih dipenuhi pohon-pohonan hijau dan beberapa rumah kayu di tepi kanal yang dipenuhi kayu tripleks. Tampaknya daerah ini merupakan tempat kerajinan mebel. Tapi saya tidak bisa memastikan karena informasi dari sang pemandu tur kembali gagal terdengar karena angin yang semakin kencang. Apalagi ketika sampai di perairan terbuka, bergerak dan memotret pun sulit!

Tak jauh dari situ, kita bakal dibawa ke semacam selat, yang salah satu sisinya memperlihatkan Danish Architecture Centre/Museum. Bangunan beratap oranye ini sering pula dikenal dengan nama DAC dan sering dipasangi poster atau spanduk di dinding-dinding luarnya.

Kita lanjut ke bangunan khas yang berbentuk campuran antara toga sarjana dan UFO. Bangunan ini bernama Opera House alias Operaen, dan terletak berdekatan dengan area Christianshavn. Operaen terletak di tepi perairan dan merupakan titik penting karena cukup sering dijadikan terminal pemberhentian beberapa jalur bus. Sambil melewati perairan yang berangin amat kencang (plus hujan) ini, kita juga bisa melihat begitu banyak perahu layar dan yacht berkeliling.

Kita juga akan melewati sisi perairan di mana patung Den Lille Havfrue, alias The Little Mermaid, bisa ditemukan. Namun jujur saja jangan berharap terlalu banyak, lantaran kita akan melihat patung ini hanya dari belakang. Dan… Ada yang menganggap tampilan asli patung paling terkenal seantero Denmark ini punya citra yang jauh berbeda, karena ternyata patung ini aslinya sangat kecil di luar dugaan!
Setelah tur berbalik di Den Lille Havfrue, kita juga bisa menyaksikan banyak kapal-kapal indah bertaburan di perairan CPH. Sebagian besar sudah dialihfungsikan jadi kapal pesiar. Seperti biasa, semua kapal tersebut memiliki nama.

Selanjutnya… Marble Church tampak dari kejauhan, dengan atap kubah hijaunya yang unik.

Tur tidak lupa menyambangi Christianshavn, wilayah baru yang konon diceritakan sebagai wilayah perluasan kota CPH yang tadinya tidak diminati warga, meskipun harga propertinya relatif murah dibandingkan pusat kota. Namun sang raja saat itu menawarkan pembebasan pajak selama 12 tahun bagi siapa saja warga CPH yang mau pindah ke sana, barulah warga mulai berminat untuk migrasi. Christianshavn juga dikenal karena tampilan pinggir kanalnya yang mirip Amsterdam.

Dan terakhir… Tur membawa kembali pesertanya menuju ke Christiansborg. Kali ini tour guide membahas soal relief di jembatan-jembatan kanal yang umumnya menggambarkan tokoh-tokoh pembesar di masa lalu. Tampilan relief dipahatkan di atas tiang penyangga jembatan, dengan bentuk beragam mulai dari seperti koin uang logam, sampai bahkan ada satu relief patung yang sedang menjulurkan lidah. Dan uniknya – Carsten kembali mengungkapkan salah satu trivia lagi – kapal-kapal untuk tur kanal ini ternyata memang dirancang sesuai dengan bentuk kerangka jembatan kanal, sehingga memang ukurannya bisa dibilang sangat ngepas satu sama lain.

Akhirnya… Dalam waktu sekitar 1 jam 15 menit, tur kanal ini pun berakhir. Akhirnya, peserta tur diturunkan di dermaga tempat bongkar muat penumpang tadi.

Bagaimana, tertarik mencobanya?
[20150515]
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s