Tips Mengelola Uang Logam ketika Traveling

Harga barang di mana-mana tidak ada yang benar-benar bulat. SGD 10, EUR 5, Rp 10.000, dan sejenisnya. Harga barang pasti ada buntut-buntutnya yang jelas mengurangi kecantikan uang kertas yang digunakan untuk berbelanja. Misalnya harga sebotol air mineral SGD 1.20. Terus bayarnya pakai uang kertas SGD 10, dapatlah kembalian SGD 8.80 yang ternyata semuanya uang logam!!

Tumpukan uang logam. Gak kebayang kan kalau lagi traveling terus koinnya bertumpuk sampai begini? (diambil dari koleksi Tempo, bukan hasil dokumentasi saya)

Sekali berbelanja begitu mungkin tidak apa, namun kalau setiap berbelanja kita selalu dapat koin dan koin lagi, bengkaklah dompet kita dengan koin. Padahal uang logam itu punya banyak sekali kerugian ketimbang uang kertas.
  1. Berat-beratin dompet. Menuh-menuhin juga iya.
  2. Tidak laku ditukarkan di money changer. Apapun mata uangnya, money changer lebih suka uang kertas pecahan besar ketimbang berkilo-kilo uang logam.
  3. Sangat merepotkan ketika menggunakan uang logam untuk transaksi transportasi.
  4. Lebih repot lagi ketika menggunakan tumpukan uang logam untuk berbelanja di supermarket. Belum tentu pula angka uang yang tertera di koin bisa dibaca dengan mudah semudah uang kertas.
Maka dari itu, kita sudah tahu secara intuisi bahwa ketika traveling, uang logam dari mata uang asing tidak boleh ditimbun (kecuali kalau memang mengoleksi koin mata uang asing ya…)
Berikut sejumlah tips dari saya untuk meminimalkan jumlah uang logam asing yang dibawa pulang dari jalan-jalan. Seperti biasa tips ini berasal dari pengalaman sendiri 🙂
Berkat sejumlah tips yang saya susun sendiri ini, saya berhasil menghabiskan seluruh koin Euro yang saya dapat di negara Uni Eropa beberapa bulan yang lalu, tanpa sisa 🙂
Langkah #1: Pisahkan dompet koin dan dompet uang kertas
Langkah dasar dan terpenting ketika traveling di negara yang mata uangnya berbeda dengan kita adalah menyimpan uang kertas dan uang logam atau koin di tempat yang berbeda.
Tujuannya sederhana saja: Supaya kita tahu berapa banyak uang logam yang sudah kita miliki dan bagaimana rencana kita untuk menghabiskannya sebelum keluar dari negara bermata uang tersebut.
Langkah #2: Hitung koin secara berkala
Setelah punya dompet terpisah tugas kita selanjutnya adalah sering-sering mengecek kondisi keuangan. Baik dompet uang kertas maupun dompet koin.
Tujuannya adalah supaya kita tahu berapa nominal koin yang kita miliki saat itu.
Kalau kita tergolong orang yang sulit mengingat angka atau kurang pintar menghitung dengan otak, buat saja catatan di dalam dompet koin tersebut dengan pensil atau bolpen, yang mudah dicoret-coret, dan ganti kertas catatannya setiap hari.Langkah #3: (Khusus Eropa) Tidak perlu lihat nama negaranya
Di Uni Eropa, semua negara anggotanya menggunakan mata uang Euro (dengan beberapa pengecualian). Uniknya, sebetulnya di masing-masing negara itu bentuk desain uang koinnya berbeda-beda, meskipun uang tersebut bisa saja diterima di negara lain sesama anggota Uni Eropa.
Dalam tip nomor 3 yang kurang penting ini, perintahnya mudah: Kita cukup memperhatikan sisi koin yang ada angkanya. Sisi baliknya, yang mencerminkan negara asal koin tersebut, tidak perlu dilihat.

Namun rasanya, tip ini penting sekali buat para pemburu koleksi uang logam dari mata uang asing.

Contoh tampilan depan dan belakang uang logam Euro keluaran Malta. Panel atas menunjukkan simbol-simbol negara Malta, sedangkan panel bawah menunjukkan nilai masing-masing koin. Perhatikan bahwa panel bawah adalah seragam di seluruh Uni Eropa, sedangkan panel atas berbeda-beda di tiap negara anggota Uni Eropa.
Langkah #4: Bayar dengan formasi uang yang “kembaliannya bagus”
Sebetulnya tip yang paling penting sebagai kiat untuk menghabiskan koin mata uang asing saat traveling, tak lain adalah tip nomor 4 ini. Prinsip “kembalian bagus” ini hanya berlaku untuk negara dengan mata uang pecahan besar (terhadap Rupiah atau IDR). Prinsip ini sebetulnya sederhana saja kok. Berikut poin-poin yang menurut saya layak dijadikan landasan buat prinsip ini.

  1. Koin bernilai besar itu bagus.
  2. Koin bernilai kecil itu jelek.
  3. Trik untuk memperbagus angka kembalian ketika koin tidak cukup adalah kurangi dengan 50 sen atau tambahkan dengan 50 sen.

Mari kita coba dengan contoh kasus di Eropa, di mana koin “terbagus” adalah koin 2 Euro, dan koin “terjelek” adalah koin 1 sen (yang justru jarang saya temui).

Misalkan kita saat ini memiliki koin 1 Euro sebanyak 3 buah, 50 sen sebanyak 2 buah, 20 sen sebanyak 4 buah, dan 10 sen sebanyak 7 buah. Maka ketika kita bermaksud membeli sebotol minuman yang harganya 3,40 Euro; apa yang harus kita lakukan?
Kita tidak usah harus mengeluarkan uang lembaran 5 Euro. Melainkan, gunakan saja 3 koin Euro yang ada, plus 2 buah koin 20 sen. Atau 3 koin Euro dan 4 buah koin 10 sen. Selain untuk menjaga uang kertas 5 Euro masih utuh,

Atau kasus lain.
Bagaimana nih kalau kita hanya punya koin 1 Euro 2 buah, 20 sen 3 buah, dan 10 sen 2 buah; sementara kita ingin membeli minuman yang harganya 1.90 Euro?
Gunakan saja 2 koin 1 Euro dan 2 koin 20 sen, sehingga total nilai uang yang kita bayarkan adalah 2.40 Euro. Kembaliannya adalah 50 sen.

Tips ini bisa saja dirasa sangat sulit buat orang yang tidak terbiasa menghitung dengan otak atau menghitung tanpa kertas. Tenang saja. Ini hanya masalah kebiasaan, plus urusan niat; pasti bisa!

Langkah #5: Jangan ragu menghabiskan koin di bandara atau dalam pesawat
Menjelang penerbangan keluar dari suatu negara, atau negara terakhir yang menggunakan mata uang tersebut, jangan lupa habiskan seluruh koin yang dimiliki pada saat itu dengan cara apapun.
Ada yang memilih menyumbangkannya ke seniman jalanan atau orang-orang yang membutuhkan uang. Ada yang memilih menyimpan uang logam berat itu sebagai koleksi. Namun kalau memang tujuan kita semata-mata untuk berhemat, sangat dianjurkan kita menghabiskan koin tersebut di bandara, atau bahkan dalam penerbangan.
Triknya adalah selalu hitung dulu seluruh koin yang dimiliki, kemudian masuklah ke toko di bandara. Tidak perlu memedulikan apakah toko itu duty free atau tidak (tidak ada gunanya). Kemudian, pilihlah barang-barang yang jumlah harganya sesuai dengan jumlah koin yang dimiliki.
Trik ini cukup jitu dan tak jarang kita bisa mengumpulkan sejumlah kecil suvenir menarik dari bandara dengan cara ini.

 

Tips tambahan!

Tip #6: Jangan pernah menunda untuk menggunakan koin

Di tengah masa traveling tentu kita sering berbelanja dalam jumlah kecil, seperti beli makanan, beli suvenir, beli karcis transportasi, dan sejenisnya. Kapanpun kita bertransaksi dengan menggunakan uang tunai, jangan pernah tunda untuk menggunakan koin dalam berbelanja.

Sekali lagi (terserah mau dibilang bawel): Menunda-nunda penggunaan koin hanya akan mengakibatkan koin yang kita bawa menumpuk dan semakin sulit bagi kita untuk menghabiskannya di hari terakhir nanti.

 

Tip #7: Jangan pernah berpikir bahwa koin dalam jumlah besar bakal laku (karena uang kertasmu begitu berharga)

Kejadian di Hongkong, saya pernah mencoba membeli sesuatu senilai HKD 10 dengan menggunakan paketan uang logam HKD 1 dan beberapa koin 20-50 sen. Sesuai judul tip ini, bisa ditebak bahwa uang yang saya bayarkan ditolak mentah-mentah oleh si penjual.

Pelajaran moral dari sini adalah: Jangan pernah berpikir bahwa “mengoleksi” koin hingga mencapai jumlah setara uang kertas bakal berguna buat kalian. Jelas tidak ada gunanya kita mengoleksi koin 50 sen sampai mencapai nilai EUR 20 atau USD 20. Jelas-jelas, penjual atau pihak toko lebih memilih menerima uang kertas dengan nilai setara, ketimbang menerima gepokan koin dari kalian.

Tip #8: Urus pengembalian VAT via kartu kredit

Sudah capek-capek menghabiskan uang logam, ternyata masih ada gerbang terakhir sebelum meninggalkan suatu negara yaitu urusan VAT atau pajak pertambahan nilai. Urusan VAT ini memang bisa diselesaikan dengan beberapa opsi, dengan dua opsi utama yaitu pengembalian dana tunai atau pengembalian dana via kartu kredit dengan kurs disesuaikan dengan mata uang tempat kartu kredit diterbitkan. Adapun, VAT ini sering berjumlah ganjil (tidak bulat) sehingga bukan tak mungkin apabila kita memilih pengembalian dana tunai, maka sebagian dana yang kita terima justru berupa koin.

Jangan sampai urusan VAT malah membebani kita dalam “menanggung beban” mata uang asing. Gunakan kartu kredit untuk urusan pengembalian VAT, agar kita tidak perlu membawa-bawa terlalu banyak koin mata uang asing pulang ke negara asal kita.

 

Semoga kalian tidak lagi menghadapi masalah tumpukan koin uang logam yang berat dan mengganggu ketika pulang dari negara lain, happy traveling!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s