9 trivial things you did not aware about Copenhagen/Denmark

Copenhagen, ibukota Denmark, sering dianggap sebagai representasi kebahagiaan manusia di dunia. Namun sama halnya dengan komunitas manapun di dunia, penduduk CPH juga memiliki beberapa ciri unik yang membedakan mereka dari komunitas lain di tempat lain. Berikut akan kita lihat sembilan hal unik tentang mereka, dari hasil pengamatan saya selama 3 hari.

Seperti biasa, tulisan model begini tidak dimaksudkan untuk menyanjung atau memojokkan ras atau bangsa tertentu. Selain itu, tulisan ini jangan dijadikan alasan untuk generalisasi, karena ini hanyalah hasil pengamatan saya selama beberapa hari mengunjungi CPH; jadi peluang bahwa saya keliru tentu masih cukup besar.

Mari kita mulai.

Fact #1: Hujan? Sudah “makanan” sehari-hari. 

CPH_raining

Terlebih di musim semi, hujan sudah jadi hidangan sehari-hari di bumi CPH. Terkadang singkat hanya 2 menit, terkadang hanya gerimis, terkadang sampai hujan lebat, terkadang hanya geli-geli doang, terkadang titik air yang menetes malah tidak sekencang anginnya. Berbagai variasi hujan derajat ringan sampai sedang sudah lumrah dalam keseharian. Bahkan saking lumrahnya ada sebagian penduduk yang nekat hanya memakai jaket multifungsi namun enggan menenteng payung ke mana-mana.

Buat turis tentu pilihan di tangan masing-masing. Mau direpotkan payung atau mau diberatkan jaket, silahkan pilih.

 

Fact #2: Lampu merahnya cuma segitu?

Lampu lalu lintas CPH terkenal singkat ringkas padat dan jelas. Lampu merahnya apalagi. Jalan raya yang bisa dibagi jadi 6-8 jalur harus kita terabas dalam waktu hanya 17 detik ketika menyeberang jalan. Catat ya. 17 detik.

Barangkali buat penduduk lokal yang umumnya jangkung dan memiliki langkah kaki lebih panjang, ini bukan masalah serius. Tapi buat orang yang bertubuh pendek ini sangat-sangat berpotensi jadi masalah. Lengah atau tersandung sedikit alamat bakal telat mencapai tepi trotoar seberang, dan kalian pun berisiko tersenggol sepeda, mengingat jalur paling kanan dari jalanan adalah jalurnya sepeda.

 

Fact #3: Berjalanlah dengan cepat (supaya tidak kedinginan).

CPH memiliki iklim musim dingin lumayan dingin, namun musim panasnya moderat dan masih sejuk. Suhu terdingin bisa mencapai minus beberapa derajat di Januari, sementara suhu tertinggi bisa mencapai 15-24 derajat Celsius di bulan Juli-Agustus. Suhu yang rendah bahkan di musim panas inilah, plus tinggi badan yang rata-rata lebih dari 175-180 cm, yang membuat warga CPH cenderung selalu berjalan dengan cepat bahkan saat mereka tidak terburu-buru. Hebatnya lagi Nordics ini terlihat tidak terlalu banyak mengeluarkan tenaga untuk melangkahkan kaki begitu jauh. Terkadang itu membuat iri, lho.

Konon, mereka “hobi” berjalan cepat untuk mengusir rasa dingin. Kalau mereka berjalan terlalu pelan, metabolisme dalam tubuh lebih pelan akibat minimnya pembakaran energi kinetik. Coba buktikan dengan berjalan pelan-pelan di udara terbuka CPH. Apakah masih dingin?

 

Fact #4: Sepeda lebih “mengancam” daripada mobil.

CPH-bike-bus-lanes

Sepeda adalah kendaraan rakyat di Denmark sehingga tak heran pemerintah membuatkan jalur sendiri buat kendaraan roda dua manual ini. Namun jangan kaget kalau rakyat CPH khususnya, cukup berani dalam memacu sepeda mereka hingga kecepatan lumayan kencang. Bahkan saya perhatikan, kecepatan mereka sering mengalahkan mobil! Sebagai info tambahan, jumlah mobil bisa dibilang lumayan sedikit di negara ini, setidaknya di ibukotanya.

Sebagai info saya pernah menyaksikan sendiri seorang turis wanita pejalan kaki tertabrak oleh pesepeda pria. Dan sesuai dugaan, si pesepeda marah, meskipun si turis wanita sudah berkali-kali menunjukkan gestur minta maaf. Jadi, tetap hati-hati kalau menyeberang dan menggunakan jalan raya.

 

Fact #5: Uang logam dan donat.

Saya baru menyadari hal ini di hari kedua, bahwa uang logam Denmark itu berlubang di tengahnya apabila nilainya DKK 5 atau kurang. Uang DKK 10 logam tidak berlubang di tengahnya. Entah desain ini dimaksudkan untuk mengenali koin nilai besar dan nilai kecil atau bagaimana, saya belum paham.

 

Fact #6: Jangan khawatir berbahasa Inggris. Tapi?

Nyaris 100% warga Denmark bisa berbahasa Inggris dengan sangat baik, sehingga turis yang hanya bermodal bahasa Inggris tentu bisa hidup dan berkomunikasi dengan mudah di sini. Tapi? Nah, memang ada tapinya. Ini: Sebagian besar petunjuk di fasilitas umum, termasuk bus, petunjuk jalan, tanda larangan, dan sebagainya tidak memasang terjemahan Inggris untuk istilah Denmark yang digunakan. Kalau sudah begini mungkin jalan keluar terbaik adalah main intuisi saja.

Atau barangkali kalian ada yang mengerti bahasa Jerman? Nah, pengetahuan bahasa Jerman ada gunanya di sini karena bahasa Denmark dan Jerman lumayan mirip di beberapa kata.

Namun ada anggapan bahwa penduduk lokal kurang menyukai orang-orang yang mengajak mereka bicara bahasa Inggris dan tinggal menetap di sana. Benarkah demikian? Mungkin hanya mereka-mereka yang pernah lama di Denmark yang tahu… (coba lihat ke sini untuk lebih jelasnya)

 

Fact #7: Menggemari liburan ke Canary Islands

las_palmas_tree

Ini tidak hanya berlaku di Denmark namun juga Scandinavian countries lain. Canary Islands, koloni Spanyol yang terletak di barat laut Maroko di Samudra Atlantik, termasuk salah satu lokasi dengan iklim terbaik buat manusia di bumi ini. Matahari bersinar sepanjang tahun tanpa hujan yang sebentar-sebentar mengganggu kehidupan sehari-hari membuat rakyat Skandinavia umumnya gemar mengunjungi Canary Islands.

Tak heran jika penerbangan seperti Norwegian Airlines dan Scandinavian Airways membuka jalur terbang langsung dari ibukota negara Skandinavia menuju Canary Islands. Bahkan beberapa penduduk yang saya perhatikan di penerbangan kedatangan, terlihat amat antusias usai berlibur ke Spanyol. Suatu pertanda bahwa rakyat Skandinavia, khususnya Denmark, menginginkan iklim/cuaca yang lebih bersahabat dari apa yang tersedia di negara mereka sendiri.

 

Fact #8: Diamkan saja soal harga

Harga nyaris semua barang dan makanan di CPH memang sangat tinggi, namun tahan agar jangan mengungkapkan hal ini secara langsung, apalagi posisi kita sebagai turis. Itu kesan yang saya lihat ketika para pelayan restoran menyodorkan bill. Struknya semua ditulis dalam bahasa setempat TANPA bahasa Inggris, dan selalu disodorkan dengan cepat ke arah pengunjung, baik ketika kita meminta bill dari kursi kita, ataupun ketika kita langsung ke kasir. Konon, penduduk setempat pun risih dengan harga yang demikian tinggi, dan bukan rahasia lagi beberapa penduduk yang mampu justru memilih menyeberang ke Swedia dan belanja di sana.

 

Fact #9: Jangan bicara soal Swedia (terutama yang bagus-bagus).

Sejarah kedua negara ini pernah bersaing satu sama lain dalam memperebutkan wilayah. Bisa dilihat hasilnya di dunia modern, berapa besar wilayah Swedia, berapa besar wilayah Denmark (jangan hitung Faroe Islands dan Greenland ya). Maka dari itu, hindari bicara apapun yang sekiranya lebih “positif” di Swedia, kalau tidak mau langsung dibantah habis-habisan atau lebih buruk lagi.

 

[Catatan: Semua foto dalam postingan ini adalah ilustrasi dan bukan hasil jepretan saya sendiri]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s