[Review Maskapai] Citilink

Meskipun sudah agak lama launching-nya, saya baru sekali naik Citilink. Jika dilihat dari kacamata warga Indonesia tentu saya harus malu karena kok lama sekali tapi belum mencoba maskapai versi budget-nya Garuda Indonesia ini.

Mengenal Citilink

Citilink adalah layanan budget dari Garuda Indonesia yang resmi berdiri Mei 2011 dan secara entitas bisnis terpisah dari Garuda Indonesia. Citilink memiliki kode penerbangan (IATA) QG dan saat ini seluruh armadanya masih menggunakan pesawat Airbus A320. Warna resmi dari Citilink adalah hijau daun dan putih.

Harga vs Servis di bandara

Citilink beroperasi dengan hub utama di bandara Juanda Surabaya (SUB) dan Hang Nadim International Airport Batam (BTH), plus hub tambahan di bandara Soekarno-Hatta (CGK). Dari Jakarta, pelayanan Citilink ada di bandara Halim Perdanakusuma (HLP) Jakarta ditujukan untuk penerbangan Jawa-Sumatera dan bandara Soekarno-Hatta (CGK) Jakarta terminal 1C untuk penerbangan Surabaya dan sisanya. Memang penerbangan Surabaya unik karena calon penumpang bebas memilih mau berangkat dari bandara yang mana dari Jakarta.

Harga tiket Citilink memang bisa dikatakan murah dan bersaing dengan sesama budget airlines seperti AirAsia. Harga untuk jurusan yang sama memang jauh lebih murah daripada harga tiket Garuda Indonesia kelas V (promo tanpa frekuensi) dengan jurusan yang sama. Jadi, untuk apa naik Garuda mahal-mahal kalau frekuensi untuk GarudaMiles-nya tidak dapat, mending naik Citilink – begitu pemikiran sebagian orang. Sebagai contoh, Jakarta-Denpasar. Harga antara tiket bolak balik dari Garuda dan Citilink bisa selisih Rp 800 ribu.

Check-in Citilink masih konvensional, semua serba manual dan harus di konter yang ada di bandara. City check-in mobile bisa 24 jam sebelum terbang namun sayangnya luggage drop baru bisa dilakukan 2 jam sebelum jadwal penerbangan. Jadi, kalau mau naik Citilink, tidak ada gunanya datang terlalu awal ke bandara.

Boarding time 45 menit bisa dibilang cukup lama. Tapi yang pasti penumpang memang benar ditunggui sampai tampak batang hidungnya. Adapun boarding pass Citilink memiliki bentuk bervariasi tergantung kebijakan bandara setempat. Sebagai contoh di CGK, boarding pass berbentuk karcis dengan QR code. Sementara di bandara lain boarding pass bisa berbentuk kartu biasa seperti boarding pass pada umumnya.

Contoh potongan boarding pass Citilink.



Soal ketepatan jam terbang, Citilink bisa dibilang tepat waktu tapi ciri khas Indonesia-nya tetap ada: “Beda lima menit gapapalah ya” rasanya sudah menancap juga di maskapai ini. Semua hal beda lima menit dari timetable. Tapi untuk sebuah maskapai budget baru rasanya ini sudah cukup baik.

Di dalam pesawat
Pramugari Citilink sebelas dua belas dengan Garuda Indonesia. Menurut penilaian sekilas dari saya: Harus cantik, khas Indonesia, tingginya harus 170 cm, cara jalan diatur banget, tapi soal kekuatan saya tidak terlalu paham apakah mereka memang sanggup mengangkat bagasi kabin yang rada berat. Karena toh ujung-ujungnya yang mengangkat-angkat beginian malah penumpang pria yang berotot, bukan mereka. Barangkali pembedanya hanya masalah seragam.

Informasi penerbangan Citilink dikemas dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Namun ciri paling khas soal informasi penerbangan dari awak kabin Citilink adalah pantun yang mereka sampaikan ketika membuka dan menutup pesan dalam bahasa Indonesia. Pantun-pantun tersebut diplesetkan sedemikian rupa sehingga kata-katanya pas untuk Citilink berpromosi. Satu yang saya ingat, kira-kira begini: “Kalau ada sumur di ladang, boleh kita menumpang mandi. Kalau lain kali akan terbang, jangan lupa pakai Citilink lagi.” Kreatif ya 🙂

Saya sempat mendengar penumpang sebelah bisik-bisik ke istrinya: “Gimana tuh pantunnya pas versi Inggris?” Jawabannya: Tidak ada pantun di versi Inggris. Period.

Soal kebutuhan pangan di pesawat, seperti halnya maskapai budget lainnya di penerbangan Citilink pun kita harus bayar untuk makan dan minum. Makanan paling laku keras di sini biasanya PopMie. Tak heran begitu acara gelar makanan dan minuman berlangsung di penerbangan, wangi khas PopMie merebak ke seluruh kabin. Saya yang tertidur saja bangun gara-gara wangi PopMie. Haha.

Citilink tak lupa menghadirkan majalah. Ajaibnya menurut saya penulis artikel traveling di majalah bertajuk Link ini hebat. Kalau tidak salah namanya Dewi Tunjungsari (maafkan namanya kalau kesenggol dan kalau keliru). Saya kebetulan membaca artikel soal Bandung di edisi Juni. Wah, penulisnya ini teliti benar. Semua dibahas sampai lengkap sekali. Diam-diam saya memuji Link ternyata lebih point-to-point ketimbang kakaknya Colours (majalahnya Garuda Indonesia). Titik beda lainnya adalah Link lebih fokus ke destinasi travel lokal, beda dengan Colours yang masih menjejak lokal sedikit meskipun serasa kaki sebelahnya ingin terbang ke luar negeri saja.

Kesimpulan:
Untuk mendapatkan layanan terbang budget namun berkualitas cukup baik, kita bisa mencoba Citilink. Jangan lupa antisipasi saat-saat lapar dan haus dalam penerbangan karena tidak ada makanan dan minuman gratis di sini. Pantun di pembuka dan penutup informasi penerbangan juga menjadi ciri khas Citilink.

Rating: 6,5/10

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s