Tips Survive dengan Transportasi Umum di Manapun

Salah kalau pertama kali masih bisa dimaklumi. Apalagi kalau berkaitan dengan sistem transportasi. Wah, itu sudah biasa. Tapi, pernahkah kalian merasa penasaran koq ada teman kita yang bisa selamat tanpa nyasar waktu naik MRT (mass rail transport) meskipun dia baru pertama kali naik MRT di negara itu? Sementara kalian sendiri nyasar melulu? Memang adakah rahasianya koq teman kita itu bisa selalu baik-baik saja ketika naik MRT, apakah memang faktor keberuntungan ataukah ada jurus tertentu ya?

Tenang, ternyata memang ada jurus tertentu yang bisa kalian praktikkan seandainya kalian termasuk kelompok yang sering nyasar waktu naik transportasi umum yang baru pertama kali dikenali. Mari kita lihat…

Tips #1: Ketahui tujuan terlebih dahulu
Kata Oom Stephen Covey (penulis The 7 Habits of Most Effective People), kebiasaan efektif nomor 2 memiliki makna bahwa kita akan lebih mudah sukses apabila kita terlebih dulu tahu tujuan kita tuh mau ke mana. Nah, ini berlaku juga untuk traveling, khususnya ketika naik kendaraan umum.
Kalau kita mau naik taksi, gampang tinggal sebut mau ke mana ke sopirnya, beres.
Tapi kalau naik MRT bagaimana? Mau tidak mau, kita harus menentukan dulu kita mau ke mana. Misalnya, ke museum X. Atau monumen Y. Lalu setelah itu, selidiki dulu stasiun bus atau stasiun MRT terdekat dari museum X atau monumen Y tersebut.

Tips #2: Tentukan metode transportasi yang diinginkan
Seandainya tempat tujuan kalian berjarak sangat dekat dari sebuah stasiun bus atau stasiun MRT, tentu sangat mudah memutuskan: Baiklah kita akan naik bus atau naik MRT saja. Tapi kalau jauh?
Tenang, kalau kebetulan tempat tujuan kalian jauh dari stasiun bus atau MRT, kalian bisa mempertimbangkan pakai taksi. Atau kalau tempat tujuan tersebut adalah sebuah tempat atraksi yang menawarkan bus shuttle, sebaiknya manfaatkan saja layanan tersebut.

Tips #3: Bayangkan rute di kepala: Hapalkan titik kutub dan lokasi ganti kereta
Barangkali awalnya jurus ini sulit dikuasai, tapi kalau kalian sudah menguasainya, dijamin kalian bisa menaklukkan sistem transportasi nyaris di seluruh dunia.
Untuk membahas jurus yang satu ini saya langsung pakai contoh saja supaya gampang. Kita ambil contoh sistem MRT Singapore.
Andaikan kita berangkat dari Sengkang dan ingin melihat Marina Bay Sands. Sesuai tips nomor 1, Marina Bay Sands ada di dekat stasiun MRT Marina Bay, NS27. Sementara Sengkang tentu ada di dekat stasiun NE16. Bagaimana caranya kita bergerak dari Sengkang menuju Marina Bay? (gambar bisa diklik untuk memperbesar)

Buka peta MRT Singapore dan lihat di mana posisi NE16. Lalu cari di mana posisi NS27.
Supaya gampang saya sudah beri tanda panah berwarna oranye di peta di atas.
Sekarang kita coba reka-reka bagaimana rute yang harus ditempuh.
Kita bisa lihat di peta bahwa NE16 memiliki jalur warna ungu dan NS27 memiliki jalur merah. Cari di mana perpotongan antara jalur ungu dan merah.
Sudah lihat?
Ya betul, perpotongan ada di stasiun Dhoby Ghaut interchange, NE6/NS24.
Lihat nama stasiun yang ada di ujung jalur NE setelah Dhoby Ghaut, alias NE1. Stasiun Harbourfront.
Kemudian lihat nama stasiun yang ada di ujung jalur NS setelah Dhoby Ghaut, alias NS27. Stasiun Marina Bay itu sendiri.
Ini artinya:
1. Di jalur ungu (NE), kita naik dari stasiun Sengkang, dan kita harus mengambil MRT yang menuju ke arah Harbourfront, kemudian turun di stasiun Dhoby Ghaut interchange.
2. Setelah turun, pindah ke jalur merah (NS), naik dari stasiun Dhoby Ghaut interchange, ambil MRT yang menuju ke arah Marina Bay. Turun di terminal paling ujung.

Nah, coba latihan pakai sistem metro Barcelona, Spanyol berikut ini.
Kasusnya kita mau naik metro dari stasiun Collblanc (line ungu) menuju ke stasiun Catalunya (line merah). Coba bayangkan seperti apa rute yang harus kalian tempuh, harus tukar jalur kereta di mana, dan sebagainya. (gambar bisa diklik untuk memperbesar)

Kalau sudah tahu caranya, saya bisa jamin 90% kalian akan bisa survive dengan sistem transportasi di hampir seluruh belahan dunia. Karena prinsip sistem transportasi umum di manapun di dunia ini (yang saya ketahui) selalu dibaca dengan metode yang sama.

Tips #4: Minta tolong website travel planner
Saya hanya hapal tiga: Singapore punya gothere.sg. Belanda punya 9292.nl. Dan Denmark punya rejseplanen.dk.
Jadi, kalau kalian kebingungan menentukan rute yang harus ditempuh, gunakan saja website-website travel planner seperti itu. Tinggal masukkan titik (alamat) asal kalian, titik tujuan kalian, dan kalian akan diberi rute yang di-generate oleh website tersebut. Web semacam ini cocok untuk kalian yang daya imajinasi rutenya kurang baik.

Tips #5: Pertimbangkan beli kartu
Kalau kita kebetulan akan berkunjung cukup lama ke suatu kota dan bakalan sering menggunakan sarana transportasi tertentu (1 hari bakal lebih dari 3-5 kali menggunakan sarana transportasi tersebut), pertimbangkan untuk membeli kartu layanannya apabila ada. Karena jika kita sering menggunakan salah satu sarana transportasi, kartu semacam ini sangat membantu kita dalam menghemat anggaran kala traveling.
Umumnya negara maju sudah memiliki sistem transportasi terintegrasi sehingga siapapun cukup membeli satu kartu yang bisa dipakai di berbagai sarana transportasi. Misalkan di Amsterdam, semua masalah transportasi bisa diselesaikan dengan kartu GVB. Atau di Hongkong dengan Octopus Card, Singapore dengan EZ-Link, dan di Madrid dengan Abono Turistico.
Jadi, jangan khawatir dompet akan terkuras kalau membeli paket transportasi ini. Namun satu hal lain yang perlu diperhatikan adalah jangan lupa menjaga kartu paket transportasi ini dengan baik, karena terkadang kartu tersebut demikian kecil dan mudah jatuh, terselip, atau hilang.

Tips #6: Hindari taksi (kalau tidak sedang kepepet)
Berpikir bahwa semua masalah soal transportasi bisa diselesaikan dengan taksi adalah KELIRU BESAR. Masalah taksi di Indonesia lebih ke soal keamanan dan kompetensi sopir. Tapi masalah taksi di negara maju lebih ke soal tarif.
Sopir taksi di negara maju umumnya sangat kompeten. Tidak ada namanya sopir yang tidak paham jalanan seperti sopir taksi premium di Jakarta. Bahkan beberapa penyedia layanan taksi sampai menyediakan servis bayar taksi pakai kartu kredit, lho.
Karena itulah kenyamanan naik taksi memang patut dibayar dengan harga yang setimpal. Naik taksi pun langsung identik dengan pengeluaran dana yang lebih besar. Kalau hanya sekali dua kali naik taksi, misalnya dari pusat kota menuju bandara atau sebaliknya, mungkin kantong kita masih tidak terlalu terkuras. Tapi kalau setiap ke mana pun selalu naik taksi, apalagi di negara mahal, sebaiknya jangan coba. Dompet terkuras dan (barangkali) kita pun nangis dibuatnya.
Sebagai referensi, berikut hasil observasi saya terhadap argometer taksi ketika flag down di beberapa kota:

  • Madrid, Spanyol: sekitar EUR 7 kalau dicegat di jalan, EUR 30 kalau pesan borongan.
  • Barcelona, Spanyol: EUR 6,5 kalau ditangkap di terminal taksi airport.
  • Stockholm, Swedia: SEK 101 kalau pesan pakai telepon.
  • Copenhagen, Denmark: DKK 75 kalau dicegat di jalan.
  • Amsterdam, Belanda: tidak ingat tepatnya, tapi sekitar EUR 5-7 kalau pesan pakai telepon.

Ah iya satu lagi. Beberapa negara memiliki keanehan dalam hal pemesanan taksi dan tentunya kita harus aware. Misalnya di Paris, Prancis: Kota ini punya kebijakan tak tertulis di mana kalau kita memesan taksi lewat telepon, maka argometer taksi sudah berjalan sejak taksi tersebut kita panggil. Jadi ketika kita naik ke taksinya, argometernya sudah berjalan beberapa waktu dan menunjukkan angka sekitar EUR 7-15. Jangan kaget karena ini hal wajar di Paris.
Jangan lupa soal Indonesia. Jakarta, kota di mana sopir taksi inkompeten yang tidak tahu jalan masih berkeliaran, justru mengenal kebiasaan memberi tip dalam jumlah cukup besar untuk sopir. Biasanya sopir minta tip (baik secara halus maupun kasar) sejumlah 5-10% dari tarif total yang dibayarkan.

Di negara maju, ingatlah bahwa prinsip “kapan saya boleh memakai taksi” ada tiga yaitu UPO.

  1. Unavailability: Apabila sistem transportasi kota tersebut tidak menyediakan metro/MRT dan tidak juga menyediakan bus dari pusat kota ke airport atau sebaliknya.
  2. Potential of danger: Apabila sistem transportasi umum kota tersebut masih kacrut sekacrut-kacrutnya sehingga menaiki sarana transportasi umum bisa mengundang bahaya.
  3. Overloaded: Apabila barang bawaan kita sangat banyak dan tentu kita tak sanggup menggotong semuanya naik ke sarana transportasi umum, turun darinya, dan jalan kaki sesudahnya.

Nah, semoga setelah membaca ini kalian bisa jadi sejago rekan kalian yang tak pernah tersesat di stasiun transportasi, ke manapun kalian jalan-jalan. Happy traveling!


Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s