Tips mengoptimalkan Google Maps untuk traveling

Beberapa teman takjub dengan keberhasilan saya keliling beberapa negara yang jauh tanpa bantuan travel agent, tanpa orang yang saya kenal di negara tujuan, dan tanpa sinyal internet dari kartu SIM lokal. Bagaimana saya tetap bisa menikmati liburan dengan baik?

Saya beritahu salah satu rahasianya: Meminta bantuan Google Maps.

Di zaman sebelum semua hal didigitalkan, barangkali menyusun itinerary atau rencana perjalanan sendiri adalah tak mungkin. Alias missionimpossible. Namun dengan diciptakannya Google Maps, dan sejumlah aplikasi peta digital lainnya, keinginan untuk traveling sendiri tanpa bantuan tour atau pihak traveling menjadi sangat mungkin, bahkan mudah. Fasilitas yang ada di Google Maps tidak hanya meliputi peta, namun ia juga memfasilitasi GPS, penentuan jarak tempuh, lama perjalanan, rute angkutan umum, hingga kepadatan lalu lintas; semua sudah bisa disajikan secara gamblang dalam beberapa klik saja! Maka jelaslah kita sebagai traveler harus memuji aplikasi ini sebagai salah satu penemuan penting yang mendorong animo pertravelan dunia. Karena kehebatan Google Maps inilah, sejak merencanakan itinerary dari Indonesia, bahkan sampai ketika ada di jalanan di Eropa, saya masih saja mengandalkan Google Maps.
Nah, kali ini saya coba jabarkan beberapa tips dan trik memanfaatkan Google Maps, yang mungkin bisa berguna buat kalian selama traveling.
Tips #1: Tidak beli kartu SIM lokal? Andalkan Wi-Fi untuk pancing sinyal GPS di Google Maps.
Kalau kita traveling ke negara maju dan ke kota besarnya, biasanya kita tidak perlu membeli kartu SIM lokal karena seluruh kota sering sudah dijangkau sinyal wi-fi.
Nah, manfaatkan sinyal wi-fi tersebut bukan cuma untuk eksis di socmed dan pamer ke teman-teman. Daripada nanti kesasar, selalu manfaatkan waktu di mana kita bertemu sinyal wi-fi ketika makan siang, masuk supermarket, atau kapan saja bertemu wi-fi deh pokoknya, untuk mengaktifkan fitur GPS di Google Maps. Jadi, berdasarkan pengalaman saya mengaktifkan GPS di Google Maps dengan platform iOS 7.1.2, setelah kita meninggalkan daerah ber-wi-fi kita masih bisa menggunakan fitur GPS untuk menuntun kita ke tempat yang kita inginkan di Google Maps.
Tips #2: Rencanakan. Titik.
Kalau kita tinggal di hostel, bed and breakfast, ataupun hotel; biasanya akan ada sinyal wi-fi yang bisa kita akses semalaman. Manfaatkan juga akses di malam hari ini untuk merencanakan itinerary besok dengan tepat.
Teknik merencanakan itinerary tanpa bantuan tour sebetulnya mudah saja selama ada sinyal internet. Langkah-langkahnya kira-kira seperti ini:
1. Tentukan tempat mana saja yang ingin kita kunjungi di kota tersebut.
2. Tentukan titik-titik mana yang ingin dikunjungi dan tandai sebagai Favorite di Google Maps. Tempat yang kita masukkan ke wishlist ini akan bertanda bintang.
3. Kemudian lihat distribusi tanda bintang, sambil lihat skala Google Maps yang berlaku. Gabungkan titik-titik yang masuk dalam radius 1-2 km dalam itinerary untuk satu hari. Berikut contoh cara saya menandai peta Copenhagen, Denmark. Lihat skala di sisi bawah, untuk menduga-duga berapa jarak antara satu bintang ke bintang lainnya.
4. Tentukan kita akan mulai dari mana. Pastikan kalian sudah tahu bagaimana cara menuju tempat tujuan pertama dari tempat tinggal. Entah itu via jalan kaki, angkutan umum, ataupun menggunakan mobil sewaan. 
5. Catat rute yang direkomendasikan Google Maps dengan baik dan ikuti rute yang kalian buat sendiri tersebut. Buat rute dengan telaten mulai dari meninggalkan tempat tinggal hingga kembali lagi ke tempat tinggal.
6. Soal kecepatan: Be realistic. Tidak mungkin kita sanggup menyelesaikan itinerary yang berisi 15 tempat wisata dengan jarak jangkau 20 km dalam sehari! Alias, saya mau bilang: kalau buat itinerary harus masuk akal dan jangan terlalu serakah binti muluk-muluk. Cara menentukan tingkat realisme itinerary akan saya bahas dalam tulisan tersendiri nanti.
Tips #3: Hati-hati menginterpretasikan walking distance.
Biasanya Google Maps selalu menampilkan jarak tempuh jalan dengan garis biru putus-putus dan disebutkan berapa menit waktu tempuhnya. Jika kalian banyak mengandalkan tenaga kaki untuk traveling, hati-hati menginterpretasikan fitur Google Maps yang satu ini.
Bukan berniat mengungkit rasisme: Perhatikan bahwa lama tempuh untuk jarak tempuh tertentu dibuat berdasarkan kemampuan fisik bangsa Kaukasian (kulit putih). Berarti bisa dianggap, lama tempuh untuk ras Afrikan (kulit hitam) bisa lebih cepat (karena fisik mereka lebih besar-besar dan tinggi sehingga jalannya juga otomatis diasumsikan lebih cepat), dan untuk ras Asia akan lebih lambat.
Ayo ngaku siapa yang pernah membandingkan kecepatan jalan kaki diri sendiri dengan orang kulit putih, cepetan siapa? Ras Kaukasian memang jalannya cepat, terlebih mereka memiliki tinggi badan di atas rata-rata ras Asia, yang artinya tungkai mereka lebih panjang dan hanya dibutuhkan lebih sedikit tenaga untuk melangkahkan kaki lebih jauh. Sementara ras Asia, selain tubuhnya kecil juga kecepatan jalannya termasuk pelan. Wajar karena tungkainya pendek dan alhasil untuk menempuh jarak yang sama, ras Asia butuh jumlah langkah kaki lebih banyak daripada Kaukasian.
Jadi, kalau Google Maps mengeluarkan hasil “jalan kaki 800 meter atau 10 menit”, artinya jarak tempuh benar 800 meter. Tapi waktu yang dibutuhkan kita sebagai orang Asia bisa lebih lama. Bisa jadi, orang Asia butuh 15 menit untuk menempuh jarak 800 meter tersebut. Bukan 10 menit seperti yang Google Maps bilang.
Tips #4: Gunakan jurus kompas.
Biasanya smartphone sudah dilengkapi dengan aplikasi kompas. Kalau kita kebetulan memegang peta offline dan bingung jalanan mana yang harus ditempuh untuk menuju suatu tempat, gunakan saja ilmu kompas.
Dasar ilmu kompas adalah (setengah) ilmu trigonometri. Jadi utara itu 0 derajat, timur 90 derajat, selatan 180 derajat, barat 270 derajat. Itu saja prinsip dasarnya.
Caranya mudah: Lihat titik di mana kalian berada sekarang. Lalu lihat titik tujuan kalian. Nah, untuk menuju ke sana kalian menuju ke arah berapa derajat? Misalkan kalian mau menuju ke arah timur laut. Berarti arah tersebut kira-kira setara dengan 30-45 derajat atau 45-60 derajat. Kalau sudah tahu arahnya kira-kira ke berapa derajat, coba buka aplikasi kompas dan putar kompasnya sampai kalian membaca angka 30, 45 atau 60 di layar aplikasi. Nah, kalian tinggal lihat arah yang ditunjuk menuju ke mana, dan kalian tinggal berpatokan bahwa jalan manapun yang diambil, arahnya harus tetap ke arah tujuan.
Cara ini sudah berkali-kali berhasil menolong saya dari tersasar.

Tips #5: Gunakan hanya layer peta yang berguna.
Google Maps memiliki sejumlah layer alternatif yang bisa kita pilih untuk ditampilkan, sesuai kebutuhan. Namun ingat bahwa memasang semua layer hanya akan berakhir pada pemborosan mubazir, dan membuat peta kalian lama loadingnya.
Maka dari itu pilih layer yang perlu saja. Jika kita mengandalkan mobil sewaan, maka kita perlu menggunakan layer Traffic. Kalau kita pejalan kaki dan gampang keder dengan gunung atau perbukitan, jangan lupakan Terrain. Atau kalau sering tersasar karena bingung banyak belokan yang sama, gunakan layer Satellite. Namun jika kita menggunakan sepeda, ada gunanya menggunakan layer Biking. Dan akhirnya, penggemar angkutan umum wajib memasang layer Public Transit.
Nah, semoga tips ini bermanfaat buat menginspirasi kalian untuk coba-coba wisata kota sendirian. Happy traveling!

(20150622)
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s