[Paris] Tips menangkal Scammers

Paris memang terkenal dengan berbagai bangunan artistiknya yang tertata di sekitar Seine River dengan indah, namun keindahan ini sering tercoreng dengan ulah scammers. Bahkan scammers ini sudah sedemikian parahnya sampai banyak turis pulang ke negara mereka sambil menceritakan pengalaman kena copet atau kena tipu dan berhasil membuat banyak orang jadi paranoid dan takut untuk mengunjungi Paris.

Scammers adalah penipu-penipu yang biasanya berkedok sebagai pedagang suvenir atau pekerja sosial. Sesuai kata dasarnya scam yang berarti penipuan.  Wujud mereka biasanya khas, yaitu pria-pria cepak/plontos yang berpostur tinggi besar. Secara fisik scammer yang satu sangat mirip dengan scammer lainnya yang beroperasi di daerah berdekatan, sehingga kita bakal kesulitan membedakan mereka satu sama lain.

(Catatan: Saya tidak akan pasang foto mereka di sini meskipun saya sempat memotret, karena pertimbangan tertentu.)

Mereka juga sepertinya punya perkumpulan, karena saya pernah menyaksikan mereka sedang “meeting” di lapangan dekat Eiffel Tower, dan sekali lagi menyaksikan mereka berkumpul dalam jumlah cukup besar di lapangan di bagian bawah Basilique du Sacré-Cœur. Bisa ditebak, mereka ini sering beroperasi di daerah yang ramai wisatawan. Selain dua tempat yang sudah saya sebutkan, mereka juga beroperasi di lapangan seberang Musee de Louvre. Barangkali mereka juga ada di tempat lain yang belum sempat saya kunjungi.

Ada beberapa ulah scammers yang biasa kita dengar, ketika kita mempelajari Paris sebagai kota tujuan traveling kita. Berikut contohnya:

1. Menjual suvenir. Entah memang berniat jahat atau tidak, mereka menjual suvenir khas Prancis versi abal-abal dengan harga abnormal (alias kalau bukan miring sekali, ya mahal sekali). Mulai dari gelang, replika menara Eiffel, kereta-keretaan, sampai boneka pun mereka jual. Terkadang, seperti di gereja Basilique du Sacré-Cœur, pedagang gelang memaksa turis membeli sambil meraih tangan turis secara paksa. Tapi terkadang juga, seperti di Eiffel Tower, mereka tak ubahnya seperti penjual suvenir keliling biasa. Mereka tidak memaksa turis membeli dagangan mereka seperti halnya di gereja.

2. Menandatangani petisi. Kita akan disuruh menandatangani kertas yang entah apa isinya. Nah, setelah kita selesai menandatangani petisi jadi-jadian itu, kita akan dimintai uang yang jumlahnya lumayan, biasanya EUR 10-20. Kalau kita menolak membayar, mereka akan mengejar kita terus sampai kita risih dan memutuskan membayarnya saja.

3. Mencopet (betulan). Menyimpan dompet di saku belakang celana adalah kesalahan fatal di Paris karena itu memancing pencopet untuk beraksi. Namun, ketika kita menyimpan dompet di saku dalam jaket, saku depan celana, atau bahkan money belt, mereka justru tidak tertarik. Barangkali karena sudah tahu mengambilnya bakalan susah.

4. Penyaji atraksi. Biasanya mereka menampilkan game di hadapan kita, misalnya permainan kocok gelas dan kita bakal disuruh menebak gelas mana yang berisi bola, setelah gelas diputar-putar. Mereka sudah mengatur permainan sedemikian rupa sehingga mereka selalu menang dan kita selalu penasaran sambil tanpa sadar menghabiskan uang kita.

Di luar semua hal menakutkan tentang scammers itu, ada fakta yang cukup “melegakan” (dan ini sudah saya buktikan sinkron antara hasil googling saya dan kenyataan yang saya lihat): Scammers cenderung tidak akan mengambil tindakan kekerasan atas inisiatif sendiri, termasuk apabila korbannya aware dan bisa melindungi diri. Jadi, tidak ada ceritanya scammers mencoba memaksa kita membeli dagangannya, lalu ujug-ujug kita kena keroyok oleh kawanan scammers. Tidak pernah ada kejadian seperti itu (yang saya tahu sejauh ini).

Tidak ada maksud membela pemerintah Prancis (saya bukan Mbak Anggun dan tentu bukan warga negara sana), tapi sebetulnya kita sangat bisa melindungi diri kita dari scammers.

Berikut beberapa tips yang bisa dicoba untuk melindungi diri dari scammers.

Tip #1: Sebar uang yang dibawa 

Sejak kedatangan di Paris: Selalu pegang prinsip don’t put all your eggs in one basket.

Sebar uang yang dibawa di money belt dan dompet, kalau saking barbarnya silahkan sebar juga uang di dalam b*** atau kaos kaki (ups!). Maaf, bercanda. Maksud saya, bisa coba sebar juga uang ke tempat-tempat yang tak terduga oleh pencopet. Dan satu hal, jangan pernah meletakkan dompet di saku belakang celana. Jangan lupakan paspor dan kartu kredit (jika punya), kedua benda itu juga harus selalu diamankan sebagai barang berharga ketika traveling.

Salah satu kebiasaan orang Asia dalam berwisata adalah mereka sering membawa uang tunai dalam jumlah besar ketika berjalan-jalan. Jika kalian masih termasuk orang-orang yang seperti ini, berhati-hatilah karena kalian bisa jadi dalam bahaya ketika berjalan-jalan di Paris. Maka dari itu, teknik menyebar uang tunai yang dibawa cukup penting.

Tip #2: Jangan takut berlebihan

Jangan pasang muka takut atau mimik khawatir terus-menerus. Santai saja, yang penting selalu awas jika ada orang asing yang mencoba menarik tangan kita atau mencolek barang-barang bawaan kita.

Satu hal yang harus diingat adalah bahwa Paris masih bisa dibilang sangat aman, meskipun barangkali tidak seaman ibukota-ibukota negara Eropa Barat atau Eropa Utara.

Tip #3: Jangan menciptakan peluang dengan tas pinggang dan money belt

Jika menggunakan tas selempang atau tas pinggang, jangan sembarang membuka tas (termasuk dompet) di tempat umum. Pastikan tas selalu ada di depan muka kita, atau setidaknya di tempat di mana kita bisa melihatnya terus. Hindari menggeser tas ke belakang karena ini berakibat sama saja dengan menaruh dompet di saku belakang celana.

Ini yang namanya money belt. Bentuknya agak mirip tas pinggang tapi flat (datar), dan bisa dengan mudah diselipkan ke dalam pakaian. Money belt juga nyaman dibawa jalan-jalan. (Foto dari GoGreen Travel Green, Google search)

Kebiasaan turis membuka money belt ketika akan membayar di toko atau restoran, sebetulnya sudah lazim terlihat di Paris. Yang perlu diingat di sini adalah retsleting money belt harus selalu tertutup setelah digunakan, dan posisinya harus benar-benar diamankan di dalam pakaian sebelum kita melanjutkan perjalanan. Scammers akan keder sendiri mencoba mengambil barang berharga kita yang ada di money belt karena bakal susah dirogoh!

Tip #4: Gagah berani melewati hadangan scammers

Ketika melintas di tempat yang banyak scammers-nya: Cuek saja, intinya jangan mau tangan kita dipegangi dan tarik tangan kita dengan segera sambil bilang “No, thanks” atau sejenisnya terus-menerus. Mempercepat langkah juga penting.

Merasa keder dengan jumlah scammers yang banyak dan sedang mengelompok? Coba amati adakah rombongan orang yang mau melintasi mereka? Kalau ada, cepat-cepatlah menyelip di antara mereka (Jangan terlalu khawatir, biasanya sich ada terus). Di antara mereka, ya. Jangan di depanTujuannya supaya perhatian scammer teralih ke orang-orang di barisan depan rombongan dan mereka tidak mengincar kita.

Bukan bermaksud rasis, maaf sebelumnya (mohon dibaca dengan pikiran terbuka), namun akan sangat lebih baik jika rombongan yang kita “selipi” itu adalah rombongan dari bangsa sejenis. Misalnya rombongan Jepang, China, atau rombongan lain yang “terlihat Asia”. Maka scammers akan kebingungan. Mereka akan menyangka kita dan rombongan itu sepaket (padahal belum tentu).

Tip #5: Peran polisi patroli masih kurang jelas

Jangan menggantungkan nasib kepada polisi. Polisi sering tampak berpatroli di tempat-tempat wisata utama Paris, namun jelas mereka tidak akan banyak menolong apabila kita sampai mengalami sesuatu. Bahkan, banyak polisi bisa jadi pertanda kita patut waspada lantaran tempat di mana ada banyak polisi itu biasanya adalah tempat di mana sering terjadi aksi scammersApalagi kalau kita sampai kehilangan paspor. Karena kalau sampai kita kehilangan paspor, kita harus melapor ke kedutaan. Polisi tidak dapat berbuat banyak.

Tip #6: Posisikan diri sebagai scammer

Kebingungan dengan taktik menjaga diri dan barang bawaan? Taktik umum yang bisa dipakai adalah self-positioning. Coba bayangkan kita tidak mengenal salah seorang teman kita. Ketika kita melihat cara teman kita itu membawa barang-barang berharganya, apa yang ada di pikiran pencopet? Tentu ada beberapa teknik yang bisa dilogika, misalnya jangan bermain ponsel di tempat yang terlalu ramai, jangan memamerkan diri sebagai turis, selalu taruh barang bawaan di depan, dan sebagainya. Teknik ini tampaknya sudah cukup lazim dikenal di Jakarta.

Tip #7: Meniru warga lokal

Atau barangkali teknik yang juga bermanfaat adalah mimicry tactic. Ketika melihat seseorang menjajakan barang yang tampak menarik buat kita namun tak ada orang yang mau mendekat padahal situasi sedang ramai, berhati-hatilah. Warga setempat biasanya sudah tahu mana yang scammers dan yang bukan. Secara umum warga setempat bakal cuek ketika melihat scammers meskipun barang dagangan mereka menarik. Filosofi “cari barang menarik di toko suvenir saja” pun patut dicamkan baik-baik.

 

Semoga kalian tidak takut lagi kalau ingin traveling ke Paris. Au revoir!

[20150614]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s