[Amsterdam] Transportasi Teratur, tapi Membingungkan

Ada yang pernah bilang transportasi di Amsterdam itu konon kacau balau. Ada juga yang beranekdot, transportasi di Jakarta kacau balau juga lantaran copas sistemnya Amsterdam. Saya putuskan untuk mengabaikan itu semua. Alhasil, sebelum benar-benar memasuki kota Amsterdam, saya tidak mengantisipasi sama sekali soal transportasi di ibukota Belanda ini. Yang saya tahu tidak lebih dari dua hal ini saja:

  1. Amsterdam punya banyak kanal dan transportasi dengan perahu masih cukup umum.
  2. Tidak ada sistem subway di Amsterdam. Alasannya? Bisa dipikir sendiri 😀

Ya, dengan modal pengetahuan yang cuma segitu, plus tidak ada antisipasi…

Dibandingkan negara Eropa lain yang kebetulan saya lewati, bahkan dibandingkan Singapura, Cina, dan Hong Kong sekalipun, sistem transportasi Amsterdam agak susah dipahami. Saya butuh 2-3 hari untuk benar-benar paham, sementara di negara lain saya bisa langsung paham dengan mudahnya dalam sekali “terjun”. Sebetulnya Amsterdam sudah punya sistem transportasi yang baik dan teratur, namun memang butuh waktu agak lama untuk memahaminya, ketimbang ketika kita berusaha memahami sistem transportasi kota di negara lain. Kenapa begitu?

Basis transportasi Belanda

Belanda tidak membudayakan rakyatnya naik pesawat kalau tujuannya masih di Belanda-Belanda juga. Akibatnya, Belanda hanya punya satu bandara, yaitu Schiphol (AMS), dan bisa dipastikan bandara ini internasional. Schiphol sendiri adalah bandara unik karena merupakan satu-satunya bandara di dunia yang ketinggiannya di bawah permukaan laut (hehe, jadi pertanyaan tadi sudah kejawab satu ya!).

Untuk berkelana dari salah satu kota di Belanda ke kota lain yang masih juga di Belanda, satu-satunya cara adalah naik kereta. Kereta ini bernama Intercity (atau Sprinter, atau NS) dan hanya bisa dibeli di stasiun.

Paket transportasi

Nah sekarang spesifik soal Amsterdam-nya saja. Pada dasarnya sistem transportasi utama Amsterdam, yang dioperasikan GVB, agak mirip Paris. Seluruh wilayah kota dan sebagian kecil daerah pinggiran kota di-cover, tapi bandaranya tidak. Kalau seorang turis ingin menempuh perjalanan dari pusat kota menuju Schiphol atau sebaliknya, ia akan butuh tiket lain yang dikelola GVB namun termasuk paket Intercity, Sprinter, atau NS. GVB itu sendiri meliputi layanan tram dan bus. Kalau NS, hanya kereta yang berjalan di Centraal Station. Terdengar sederhana.

Masalah keruwetan transportasi Amsterdam sudah terasa sejak seorang turis ingin membeli tiket transportasi untuk kebutuhannya selama tinggal di sana. Bagian Information di Schiphol Airport, hanya ada satu dan hampir selalu RAMAI pengunjung. Sewaktu saya baru mendarat di Schiphol saja yang mengantri ke Informasi sampai 25-50 meter keluar pintu!

Begitu dapat giliran, kita disuguhi bejibun pilihan paket transportasi: OV-Chipkaart, GVB card, Amsterdam 1/2/3-day pass, Iamsterdam Card. Hanya itu yang saya ingat, jadi barangkali masih ada kartu lainnya lagi (yang saya tidak tahu).

Memilih kartu transportasi

Lalu cara memilihnya bagaimana? Ini juga yang jujur agak bikin keblinger.

Misalkan kita berencana tinggal di Amsterdam selama 2 hari, dengan hari terakhir keberangkatan ke airport Schiphol, maka kartu yang ideal adalah Amsterdam 3-day pass. Kenapa kok bukan 2-day pass? Karena istilah “day” di sini selalu berakhir pada jam 04.00 pagi, dengan kata lain jika kita hanya membeli karcis 2-day pass maka hari terakhir sudah pasti tidak ter-cover.

Lalu bagaimana kalau kasusnya sama, rencana tinggal 2 hari, tapi teman kita sudah janji mau mengantarkan kita ke airport Schiphol atau Centraal Station sebelum kita pindah negara? Berarti yang dibeli tiket GVB saja, karena harganya lebih murah, lantaran tidak ada paket transportasi dari dan ke airport di dalamnya.

Bentuk kartu Amsterdam Travel Ticket 1-Day. Kartu ini bisa dilebarkan karena di baliknya ada peta yang terlipat menjadi 16 bagian.

Barangkali karena pusing atau kebingungan, saat itu saya membeli kartu transportasi yang salah karena petugas yang saya tanyai mengira saya butuh kartu yang bisa meng-cover airport Schiphol, dan saya kurang ngeh soal tram NS yang katanya dicover kartu itu (padahal tidak!).

Jadi ceritanya begini. Untuk turis biasanya direkomendasikan tiga jenis kartu yaitu GVB, Amsterdam Travel Ticket, dan Holland Pass. Isi paketnya:

1. Kartu GVB: Berlaku untuk seluruh transportasi di dalam kota Amsterdam, baik tram, bus, ferry. Tidak berlaku untuk ke ataupun dari Schiphol, tidak berlaku untuk ke ataupun dari kota lain di Belanda. Keukenhof, Zaanse Schans, Volendam termasuk daerah yang TIDAK di-cover. Tersedia dalam paket 1 sampai 7 hari. Info lebih lanjut [lihat di sini].

2. Amsterdam Travel Ticket: Sama dengan kartu GVB tapi bisa dipakai bolak balik ke Schiphol. Tidak berlaku untuk ke ataupun dari kota lain di Belanda. Tersedia dalam paket 1 sampai 3 hari. Info lebih lanjut [lihat di sini].

3. Ada juga Holland Pass: Mirip Amsterdam Travel Ticket tapi tiket ke Schiphol hanya satu arah, dan di paket ini juga meliputi museum. Jadi pengguna tiket ini bisa masuk museum tanpa biaya tambahan (karena sudah termasuk dalam harga paketnya), atau terkadang mendapat diskon khusus. Info lebih lanjut [lihat di sini].

Sebetulnya ada satu paket lagi yaitu OV-Chipkaart, yang biasa dipakai penduduk lokal. Kartu ini bisa dipakai dengan cara mengisi sejumlah uang ke dalam kartu, dan setiap kali naik angkutan umum dan melakukan check in, maka biaya transportasi akan didebit dari dana yang ada di dalam kartu. Kurang direkomendasikan untuk para turis.

Bentuk stasiun check in di dalam bus atau tram di Amsterdam.

 

Posisi halte

Entah karena letaknya di permukaan tanah atau bukan, posisi halte bus dan tram di Amsterdam relatif sangat ribet bahkan untuk lini bus atau kereta yang resiprokal. Belum lagi kalau lini bus disatupadukan dengan lini tram, bisa-bisa halte busnya di mana, halte tramnya di mana (padahal nama haltenya sama, tapi kadang kita harus jalan kaki belok sana sini sampai puluhan meter untuk menemukan halte yang tepat).

Adapun yang saya maksud dengan “halte yang tepat” adalah halte yang bertuliskan nomor bus dan tram yang akan kita naiki lengkap dengan jurusannya. Meskipun nama halte sudah benar tapi kalau nomor bus atau tram tidak cocok, artinya itu bukan halte yang benar. Terkadang satu halte bisa punya lebih dari dua terminal. Ada yang empat malah.

Sebagai contoh yang seperti ini adalah halte Dam, Leidseplein, dan Museumplein. Halte Museumplein contohnya, punya sepasang halte yang terletak persis di depan Concertgebouw (menghadap ke Museumplein itu sendiri), namun anehnya juga punya sepasang halte lain bernama sama yang letaknya sekitar 100-150 meter jauhnya, dan harus pakai belok dulu baru ketemu. Halte yang terletak depan Concertgebouw bisa digunakan untuk naik bus 18 atau tram 3, misalnya. Tapi kalau mau naik bus airport bernomor 157? Tidak bisa di situ, tapi harus di halte yang satunya.

Waduh, membayangkannya sudah pusing? Ada lagi pemusing lain.

Peta tram-nya di mana ya?

Anehnya, saya tidak berhasil menemukan peta jalur tram (Railkaart) di buku Lonely Planet, panduan dalam kartu transportasi yang dibeli, dan di panduan manapun yang bisa saya bawa-bawa. Tapi anehnya peta itu hanya ada di dalam tram. Mungkin saya yang kurang pintar mencari. Jadi setiap kita butuh mempelajari rute, kita harus masuk ke dalam sebuah tram, cari posisi di dekat poster Railkaart, dan menentukan rute yang diinginkan. Repot sih.

Omong-omong, peta Railkaart bisa dilihat di sini (ini bukan saya yang upload, cuma nyomot dari Google…)

Naik dan turun

Naik dan turun dari angkutan umum di Amsterdam wajib disertai dengan check in dan check out, yang caranya sama saja, yaitu dengan menempelkan kartu ke depan panel sensor yang ada di dekat setiap pintu angkutan umum. Jangan sampai lupa check in dan check out, khususnya buat pemilik OV-Chipkaart, karena ada dendanya lho!

Bergunakah jika bertanya?

Saya pernah beberapa kali (baca: sering) tersasar di Amsterdam sekalipun, sehingga saya pernah bertanya kepada penduduk beberapa kali. Reaksi mereka berbeda-beda.

Pertanyaan pertama diajukan ke polisi di Centraal Station, yang malah dibalas dengan jawaban ngaco yang mengakibatkan saya semakin nyasar! Akhirnya saya menemukan jalan yang benar berkat nekat menuju arah sembarang dan membaca papan peta yang tersedia di lokasi yang saya tuju itu.

Pertanyaan kedua diajukan ke wanita muda saat turun dari bus. Saya diarahkan ke arah yang “benar tapi salah”. Benar karena memang lokasi yang saya tanyakan bisa ditempuh lewat jalan yang ditunjuk. Tapi sekaligus pula salah, karena ada jalan lain yang lebih dekat.

Pertanyaan selanjutnya saat saya di Haarlemmerplein, kembali saya nyasar karena salah belok. Saya bertanya ke seorang kakek dan kali ini arah tunjukannya tepat.

Pertanyaan lain lagi sempat saya ajukan ke seorang nenek, kali ini malah si nenek bersedia sukarela untuk menunjuk sambil menuntun sampai saya menemukan tempat yang ditanya.

Pernah lagi sekali, saya bertanya ke pria dewasa muda. Pria ini kelihatan agak segan menjawab dan ingin cepat-cepat pergi dari situ, namun arah tunjukannya juga tepat dan tidak menyesatkan seperti sang polisi.

Lantas saya berpikir, barangkali orang Indonesia mewarisi sifat ini ya dari mantan penjajahnya. Kalau ketemu orang asing di jalan langsung lari, atau menjawab tapi terbata-bata, atau tetap menjawab seadanya, karena takut orang asing itu berniat jahat. Semoga saya salah ya. Hihi.

Setelah itu, saya mulai paham soal transportasi. Dibantu dengan pola pikir baru “lebih baik pakai peta ber-GPS” ditambah dengan kemalasan bertanya yang semakin tinggi plus agak trauma soal dikibuli polisi di Centraal Station, saya malah hanya tersasar satu kali saja sesudahnya.

Jadi, bergunakah bertanya? Jawabannya: Berguna, tapi harus antisipasi bahwa penjawab mungkin saja tidak memberikan arah yang benar. Lebih baik kita punya backup lain soal arah dan peta.

Travel Planner

Beruntung pula Belanda punya jurus sendiri untuk menanggulangi keribetan sistem transportasinya. Belanda punya website www.9292.nl, yang bisa membantu kita untuk mengetahui rute apa yang harus kita tempuh untuk mencapai suatu tempat tujuan.

Jangan remehkan peran 9292 lho. Sebetulnya saya sudah cukup lama mendengar soal 9292. Tapi saya nekat tidak mau menggunakan layanan ini pada awalnya. Hasilnya bisa ditebak: Saya malah kesasar terus!

Berdasarkan sejumlah faktor penghalang yang sudah saya sebutkan, mungkin ada beberapa tips yang bisa dimanfaatkan untuk meminimalisasi peluang kesasar dan salah naik atau salah turun bus/tram.

  1. Tetapkan itinerary lengkap untuk sehari. Buat travel planner dengan bantuan 9292.nl, dan catat semua hasilnya ke kertas (atau di-print, atau di-screenshot).
  2. Kalau sedang naik tram, ambil foto peta berjudul Railkaart yang tertempel di dinding tram. Peta ini tentu saja berguna untuk mengecek jalur kereta. Namun sayangnya peta ini tidak selalu tersedia di bagian informasi di Schiphol Airport.
  3. Hapalkan titik kutub jalur tram atau bus yang mau dinaiki jika tujuanmu bukan ke Centraal Station.
  4. Tidak ada salahnya bertanya jalan kepada penduduk namun ada baiknya kita juga punya backup peta ber-GPS dan 9292. Lihat-lihat juga tampang orang yang kita tanyai. Jika raut muka mereka terlihat masam atau terkesan buru-buru waktu menjawab, ada kemungkinan mereka tidak memberikan jawaban yang “benar”.
  5. Jika memungkinkan, pilih posisi dalam tram atau bus di mana kita bisa melihat tulisan “Next stop” dengan jelas. Hal ini bisa membantu mencegah kita tersasar.

 

[20150504]
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s