Mari kita pamerkan ini ke teman-teman sekolah dulu!

Tujuan reuni sekolah hanya ada dua, dan salah satu tujuan yang lebih penting adalah PAMER.
(@triskaidekaman tweeted on May 31, 2015; 11.34 GMT +7, Tweetbot for iOS)

Nah loh kenapa saya sampai ngetwit begitu?

Saya baru melihat ada beberapa teman mengajak reuni sekolah. Lalu saya berpikir dan muncullah tulisan semacam ini.

Pertama saya pisahkan dulu soal reuni sekolah dan pamer. Itu dua hal yang berbeda, meskipun ada unsur keterkaitannya.

Sebagai grammar nazi, saya harus mulai bahasan ini dengan cara begini: Reuni adalah kata serapan dari bahasa Inggris (sepertinya), yang artinya bersatu kembali. Reuni bisa diidentikkan pula dengan istilah yang lebih “Indonesia”, yaitu temu kangen. Di Indonesia ini reuni memang identik dengan acara pertemuan kembali dengan teman lama, entah itu teman satu sekolah waktu kecil, teman satu sekolah waktu remaja, teman kuliah, teman di perkumpulan yang pernah ada di masa lalu, atau teman di kantor lama. Pokoknya, selama ada unsur “dulu pernah kenal”, “sekarang tidak bersama lagi”, dan “sudah lama tidak ketemu”; maka pertemuan itu bisa disebut sebagai reuni.

Sementara itu di kutub lain, pamer adalah kebutuhan dasar manusia secara naluriah. Manusia ingin diperhatikan, ingin dilihat orang, ingin dianggap ada. Jadi kalau seseorang memamerkan sesuatu, pastilah harapannya adalah agar orang lain memperhatikan. Entah rasa apa yang diharapkan dari seberang sana: Iri dengki, mupeng, prasangka, motivasi, atau apapun. Sering si pemamer tidak ingin tahu. Yang penting ya pamer aja, reaksi orang bagaimana ya terserah orang itu. Dari sisi kita, jika melihat teman yang pamer makanan, kita jadi lapar, atau jadi penasaran makanan apa itu ya kok kelihatannya enak? Jika melihat teman yang pamer foto jalan-jalannya, kita jadi takjub melihat foto yang bagus, penasaran dia pakai tur apa, atau malah berprasangka buruk apakah teman kita itu habis mengguna-gunai bos-bos sehingga bisa bepergian terus setiap bulan. Atau melihat teman yang pamer anak, kita jadi gemas melihat bayi yang lucu, atau malah marah-marah sendiri karena kebetulan ibu mertua ikut melihat foto tersebut dan langsung mengarahkan tatapan menyindir.

Sial, jadi ke mana-mana.

Balik lagi soal hubungan antara reuni sekolah dan pamer. Kali ini lebih serius.

Reuni sekolah, apalagi buat yang sudah T** alias berumur, tentu menjadi ajang perlombaan terselubung, yang entah memang jadi tradisi reuni sekolah ataukah memang adat manusia yang hobi membanding-bandingkan. Mengapa demikian? Coba perhatikan siapa saja orang-orang yang biasanya mau jadi panitia reuni sekolah. Biasanya mereka yang sudah (biasa disebut) sukses dalam hal kebutuhan pokok, pekerjaan, dan keluarga. Biasanya mereka-merekalah yang sibuk mengumpulkan teman-teman lainnya. Memangnya pernah orang yang sedang menghadapi kasus perceraian, misalnya, mengajak reuni sekolah?

Waktu reuni yang direncanakan itu akhirnya tiba, pasti ada sebagian yang berpikir tidak mau datang karena tidak punya baju pesta yang bagus. Minder takut dibilang “sudah tua koq masih belum mapan juga” sama teman seangkatan. Giliran yang bajunya selemari, malah sibuk mencari baju baru karena percaya baju yang sudah dipakai ke pesta nikahan teman lain tidak boleh lagi dipakai reuni. Lomba baju bagus ceritanya.

Waktu reuni yang ditunggu-tunggu itu datang, pasti ada sebagian yang sengaja membawa pasangan dan anak-anaknya. Entah untuk menunjukkan kebahagiaan keluarga atau untuk menyindir teman yang belum punya keturunan, bahkan mungkin belum berpasangan. Lomba pasang-pasangan dan keluarga-keluargaan ceritanya.

Bahkan sebelum reuni yang digembar-gemborkan itu menghampiri, sebagian sibuk mempersiapkan diri supaya lebih fotogenik. Karena pastinya nanti reuni itu ada sesi foto-fotonya. Entah bagaimana upaya yang dilakukan yang penting wajah terlihat lebih awet muda (terlepas dari berapakah umur para peserta reuni). Lomba muda-mudaan ceritanya.

Sebelum reuni akbar sampai waktunya, terkadang kursus mengarang indah dan kursus mengeles bisa jadi laris, kalau ada. Mengarang indah untuk mengarang-ngarang cerita hidup selama mereka tidak menyaksikan. Entah ingin dibuat indah supaya yang lain pada sirik, atau ingin dibuat menderita supaya yang lain pada iba. Mengeles tentu saja sangat diperlukan apabila peserta reuni belum punya pasangan, sudah punya pasangan tapi belum punya anak, belum punya rumah, belum punya mobil, belum punya usaha, atau belum punya gaji besar.

Berapa besar porsi keinginan reuni yang memang murni temu kangen? Karena rindu dengan pertalian pertemanan yang sudah lama tidak tersambung?

Berapa besar porsi niat datang ke reuni hanya untuk berkumpul kembali dengan teman lama, bertemu muka secara langsung tak hanya lewat ponsel pintar atau komputer, dan semata-mata menyambung silaturahmi dengan bertatap mata dan berdialog sampai pagi?

Berapa pula besar porsi niat datang ke reuni untuk sekadar pamer dan membanding-bandingkan prestasi dan pencapaian dengan teman lain?

Bukankah reuni seharusnya berakhir dengan pertemanan yang kembali berkait dan pemuasan atas kerinduan bertahun-tahun?

Bukankah reuni seharusnya tidak berakhir dengan rasa cemburu berlebih terhadap prestasi teman, keputusasaan, keminderan, bahkan depresi dan kehilangan rasa percaya diri hanya karena ada aspek di mana salah satu peserta reuni “kalah tanding” dari temannya?

Reuni sekolah seharusnya berujung bahagia. Teman-teman lama berkumpul dan bersenang-senang, siapa tahu nanti anak-anak juga. Jika saling membutuhkan, sudah tahu bisa menghubungi siapa.

Reuni sekolah seharusnya tidak berujung rasa mengganjal. Teman-teman sudah punya ini, kenapa saya belum. Atau tidak berujung rasa sombong dan angkuh. Teman-teman saya belum ada yang punya ini, baru saya sendiri.

Bisakah kita membandingkan dua hal yang benar-benar berbeda satu sama lain? Bisa pulakah kita membandingkan dua manusia yang benar-benar berbeda latar belakang, cerita kehidupan, dan lingkungannya?

Maka dari itulah:

  • Bertanding dan membandingkan tidak ada habisnya, selalu ada cara untuk itu.
  • Berteman dan menyambung persahabatan juga tidak bisa dilakukan dengan berbagai cara.

Tinggal kita yang memilih.

By the way, kalau ada yang merasa tersinggung, ya sudah. Urusan masing-masing.

 

[20150605]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s