[Paris] Pont des Arts: Korban Vandalisme Berkedok Romantisme

Mumpung berita soal jembatan yang satu ini masih hangat, dan saya mungkin termasuk satu dari jutaan manusia yang menyaksikan sisa hidup simbol jembatan ini di bulan terakhirnya (Mei 2015), saya akan bahas tentang Pont des Arts, Paris. Buat yang tidak tahu: Ini adalah jembatan di Paris yang terkenal selama periode 2008-2015 sebagai tempat memasang gembok cinta.

How to get there

Ada beberapa stasiun metro yang cukup dekat dengan Pont des Arts. Antara lain Pont Neuf yang paling dekat, atau jika bersedia menambah sedikit extra effort berjalan kaki kita juga bisa mencapai jembatan ini lewat sisi Louvre yang menghadap ke Seine River (turun di stasiun metro Louvre-Rivoli atau Palais-Royal/Musee de Louvre).

Famous or infamous?

Banyak pasangan yang menganggap mengunjungi Paris adalah identik dengan simbol romantisme. Salah satu simbol yang dianggap mewakili cinta abadi, konon digambarkan lewat “penyantolan” gembok di sebuah jembatan bersejarah di Paris ini, dan kuncinya harus dibuang ke Seine River di bawahnya.

Namun, hanya bagian itukah yang dikenal dunia tentang Pont des Arts? Sayang, banyak yang hanya mengenal jembatan ini karena hal romantisme itu. Padahal, nilai sejarah Pont des Arts lumayan tinggi.

Sekilas tentangnya, Pont des Arts adalah jembatan pedestrian yang terbuat dari kayu dan berpagar besi jejaring, melintasi Seine River, antara Institut de France dan Louvre. Jembatan ini didirikan di awal abad ke-19, dan sejak 1975 telah diresmikan pemerintah Prancis sebagai salah satu situs bersejarah milik negara. Bahkan di tahun 1991 UNESCO turut memasukkan jembatan yang telah menjadi saksi berbagai perang ini, sebagai salah satu anggota World Heritage Site.

Korban Vandalisme

Sejak 2008, jembatan ini laris manis menjadi sasaran love gesture dari para wisatawan yang saling menyatakan cinta. Dalam waktu tak sampai 5 tahun, tradisi ini mewabah dengan hebat sehingga pagar jembatan Pont des Arts yang tadinya rapi perlahan-lahan mulai dikerubungi gembok dari ujung ke ujung.

Kondisi blok gembok yang terakhir ditutup pada Mei 2015. Kira-kira tiga minggu setelah foto yang saya ambil ini, seluruh gembok di Pont des Arts resmi dibongkar pemerintah setempat.

Di tahun 2012 hingga 2014, jumlah wisatawan yang menyantolkan gembok sudah tak terbendung, hingga puncaknya di tahun 2014 salah satu pagar jembatan roboh dan jatuh ke Seine River karena beban gembok yang terlalu berat!

Bukti nyata lain, bisa dilihat di foto berikut. Kawat jembatan sampai putus karena menanggung beban gembok yang teramat berlebih!

Bagian pagar jembatan yang sudah roboh karena keberatan beban.

Tak heran, sesudah itu pemerintah demikian hati-hatinya, dan perlahan mulai melarang “praktik vandalisme berkedok romantisme” di sini. Meskipun tidak benar-benar dilarang. Tak heran yang bandel masih berkeliaran.
Mei 2015, pagar jembatan ini sudah nyaris “ditertibkan” total oleh pemerintah. Akhir riwayat sudah dekat, kelihatannya. Dari sekian puluh pagar, hanya tinggal 3-6 pagar yang masih dibiarkan berdiri tegak dengan gembok-gemboknya dan terbuka lebar. Selebihnya sudah mulai ditutupi pagar plastik dan triplek yang tidak lagi berjejaring.
Dan jangan heran kalau saya ternyata masih menemukan pasangan nekat yang masih saja merasa harus memperberat beban pagar Pont des Arts, plus menambah limbah di dasar Seine River. Ketika saya lewat, mereka sedang sibuk memasang gembok, kemudian sibuk berfoto we-fie ketika mau membuang kunci ke Seine River (saya tidak memotret mereka kok, tenang saja). Bahkan di triplek itu saja masih ada yang demikian iseng merangkai gembok seperti ini.

Suasana jembatan ini sebetulnya tidak buruk. Pemusik lokal siap menghibur dengan lagu-lagu folk Prancis di sini. Penjual gembok dan spidol juga ada beberapa. Mereka tentu masih berharap banyak pada wisatawan yang menganggap penyantolan gembok ini sebagai “segalanya” dalam urusan menyatakan cinta. Ditambah, apabila cuaca cerah, jembatan ini bisa jadi salah satu titik untuk menikmati pemandangan Paris diiringi aliran Seine River.

(catatan: Jangan terlalu lama mengamati Seine River. Karena sungainya cukup kotor dan warna airnya sudah seperti susu cokelat).

Berhubung ini jembatan pedestrian dari kayu, saya pun merasa agak ngeri waktu berjalan di atas jembatan ini. Mengapa? Satu, karena kayunya, entah bagaimana, terasa berderak ketika diinjak, jadi bayangan jatuh ke sungai pun selalu menghantui. Belum lagi manusia yang tengah menginjak jembatan juga sedang banyak. Dan dua, karena kalau ada apa-apa, saya rasa saya tak mungkin bisa mengandalkan pinggir jembatan untuk dipegangi. Wong isinya gembok semua, mau pegang di mana? Ada lagi yang ketiga, terkadang ada scammer lewat, sehingga harus siap siaga. Duh.

Tamatnya riwayat gembok cinta

Saya pun sudah tak kaget ketika membaca berita 1 Juni, pemerintah Prancis memutuskan menertibkan total pagar Pont des Arts, karena mereka telah sepakat bahwa vandalisme ini membahayakan situs bersejarah negara. Urusan romantismenya? Mereka akan usahakan cari cara alternatif, tapi entah kapan, entah bagaimana.

Saya juga tidak kaget waktu membaca berita bahwa masih ada juga pasangan yang nekat memasang gembok meskipun pemerintah sudah jelas melarang.

Oh Pont des Arts, riwayatmu kini…
[20150601]
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s