[Swedia dan Denmark] Antara Euro (EUR), Swedish Krone (SEK), dan Danish Krone (DKK)

Soal mata uang, beberapa negara Uni Eropa memang punya kebijakan unik. Misalkan Swedia dan Denmark yang tetap menggunakan Krone sebagai mata uang masing-masing. Swedish Krone atau SEK di Swedia, dan Danish Krone atau DKK di Denmark. Konon mereka bersikap begini supaya ekonomi lebih stabil, katanya. Namun, dampaknya buat para traveler tentunya satu: Mereka wajib menukarkan uang yang mereka pegang ketika memasuki negara-negara tersebut.

Tempat penukaran uang di Arlanda Airport, Stockholm, Swedia.

Tak ada di Indonesia

Kalau kita iseng buka-buka klikbca (saya yakin 95% dari kita punya rekeningnya), maka di salah satu website andalan ketika mau gajian ini tercantum kurs IDR (Indonesian Rupiah) terhadap SEK dan DKK. SEK 1 bernilai lebih kurang IDR 1600, sementara DKK 1 bernilai lebih kurang IDR 2050 (saya lupa berapa persisnya). Namun kendalanya, upaya untuk menukarkan IDR kita dengan SEK atau DKK di Indonesia bisa sangat sulit, jika bukan tidak mungkin.

Pedagang valuta asing di Indonesia tentu menerapkan prinsip ekonomi. Mata uang mana yang peminatnya banyak, itulah mata uang yang mereka jual. THB, VND, SGD, MYR, HKD, SAR, USD, EUR, AUD (kepanjangannya cari sendiri ya) termasuk mata uang favorit pelanggan valas, sehingga mata uang yang kurang laris manis seperti SEK dan DKK tidak diprioritaskan oleh mereka. Alhasil ya itu tadi. Giliran bertanya ke valuta asing, “Pak, ada Swedish Krone?”, malah ditimpal, “Mata uang apa itu Mbak?”

Ya sudah. Ganti taktik. Beli EUR dulu, nanti EUR itu yang ditukar sama SEK atau DKK. Betul? Eh, jadi kalau mau tukar USD, atau kalau mau ekstrim, GBP (Great Britain Poundsterling), bisa nggak? Ya bisa aja sih. Tapi kenapa saya lebih menganjurkan tukar EUR?

Sebetulnya mata uang mana yang jadi pilihan sangat tergantung situasi nilai tukar dan tujuan lain bepergian selain Swedia dan/atau Denmark. Karena umumnya orang memasukkan negara Eropa lain selain Swedia/Denmark dalam itinerary mereka sekali bepergian, maka menukar uang ke Euro adalah pilihan paling logis. Seandainya kita mau ke Inggris dan Swedia, lain ceritanya. Di kasus ini, menukar uang ke GBP tentu lebih dari masuk akal.

Jadi? Anggap saja, bungkus Euro dulu dari Indonesia. Lalu bagaimana langkah selanjutnya?

Menukar uang: di bandara atau di bank?

Dasar negara super-teratur, Swedia dan Denmark menyediakan beberapa posko valuta asing di bandara masing-masing. Di Arlanda Airport terminal 2, posisi pintu keluar setelah mengambil bagasi persis berhadapan dengan bagian informasi dan valuta asing bernama Forex Bank (sesuai foto). Sementara di Copenhagen Kastrup Airport, tempat penukaran valuta asing diposisikan satu ruang dengan ruang pengambilan bagasi. Jadi, memang sangat mudah menukar uang Euro kita menjadi SEK atau DKK di bandara. Oh ya. Jangan harap IDR laku ya di sana!

Namun masalah utama di sini adalah nilai tukar. Masalah ini bisa dibilang cukup besar. Pasalnya, valas bandara kerap mengambil kurs yang begitu rendah, plus biaya komisi yang lumayan bikin turis dari negara bermata uang kecil mengelus dada.

Di Google dengan mudah kita menemukan rate EUR ke SEK, sekitar 9,3. Namun begitu kita berhadapan dengan petugas valas di bandara, nilai tukar melorot hingga di bawah 9. Di Denmark setali tiga uang. Rate EUR ke DKK yang masih di sekitar angka 7,5; hanya dibanderol 7 koma nol sekian oleh petugas valas. Dan kemerosotan nilai tukar itu belum dipotong lagi dengan biaya komisi…

Oh ya satu lagi. Valas-valas itu mau menerima koin, tapi koinnya harus koin utuh bukan koin sen. Artinya, mereka menerima koin EUR 1 tapi tidak menerima koin 50 sen.

Nah, bisa beda cerita kalau kita menukarkan uang di bank. Kalau kebetulan kita punya kenalan atau kerabat yang bisa menjemput dari bandara dan mengantarkan kita ke bank, barangkali ada harapan kita bisa mendapatkan nilai tukar yang lebih oke. Namun, kalau kita adalah solo-traveler atau tidak punya siapa-siapa di negara dingin tersebut, sebaiknya pikirkan kembali niat menukar uang Euro di bank, karena untuk mencapai bank, kita harus membeli tiket transportasi dalam mata uang setempat (dan… Eng ing eng kita belum punya mata uang itu!), atau memilih naik taksi yang bisa dibayar dengan kartu kredit, tapi harganya selangit.

Nah, kalau begitu bagaimana kiat menghadapi masalah-masalah tukar uang ini? Berikut tips yang bisa dicoba.

Hitung prediksi seluruh pengeluaran di negara bermata uang beda ini. Lalu lebihkan 30-50%. Konversikan ke mata uang yang kita pegang saat ini, lalu hasilnya dibulatkan ke atas.

Bingung?

Misalkan saya memperkirakan dalam 4 hari akan menghabiskan DKK 3000. Saya lebihkan sepertiganya jadi DKK 4000. Lalu saya hitung berapa Euro-kah ini, saya bagi 7,5 dan hasilnya adalah sekitar EUR 535. Berarti kita perlu menukar EUR 550-575. Jika dana lebih, bulatkan jadi EUR 600 juga boleh.

Mengapa harus hitung seluruh pengeluaran? Karena kita harus mengupayakan cukup sekali berurusan dengan valuta asing selama kunjungan ke negara tersebut. Berurusan dua kali berarti membayar komisi dua kali, apakah kalian rela? Kalau tiga kali? Silahkan dipertimbangkan sendiri.

Lalu mengapa kita harus melebihkan dana 30-50%? Karena selalu ada peluang terjadi hal buruk, hal tak diinginkan, atau harga faktual ternyata lebih tinggi daripada penuturan orang-orang di internet. Ingat, tulisan di internet semuanya mencantumkan masa lalu. Bisa saja saat itu harganya masih berapa, eeh sekarang sudah naik. Jadi dengan demikian kita tetap punya dana cadangan untuk menolong diri kita sendiri.

Dari Swedia ke Denmark atau sebaliknya

Kalau kita kebetulan bepergian dari-ke kedua negara yang sedang dibahas ini, maka ada untungnya kita menukarkan DKK ke SEK atau sebaliknya. Mengapa begitu?

Jawabannya sama saja dengan tadi. Uang DKK atau SEK nyaris tak ada di Indonesia, jadi tidak ada gunanya membawa pulang uang DKK atau SEK ke Indonesia. Tukarkan saja jika memang bersisa. Menurut saya lebih baik rugi kurs ketimbang uang sisanya tidak laku.

Bagaimana kalau duitnya kurang?

Nah ini sih amit-amit. Kalau daya prediksi kita kurang bagus maka bencana semacam ini bisa saja menghampiri. Belum lagi memang harga apapun di Denmark sangat mahal (Swedia malah tidak terlalu), bisa-bisa perhitungan meleset jauh jika kita tidak meriset harga pasaran dengan baik.

Sebaiknya jika kita kehabisan uang lokal, gunakan kartu kredit. Namun perhatikan, tidak semua hal bisa dikartukreditkan. Misalnya jajan makanan di warung tenda atau food truck, bagaimana cara pakai kartu kredit di sana? Ada baiknya prioritaskan pemakaian kartu kredit untuk belanja dan makan di restoran, sementara untuk keperluan tetek bengek tetap gunakan uang tunai. Sekali lagi, rencanakan semua dengan baik! Riset harga di internet sangat membantu, silahkan dicoba.

 

Jadi intinya jangan khawatir soal tukar-menukar EUR dan SEK atau DKK, yang penting, rencanakan semua pengeluaran dengan baik sehingga jangan sering-sering berurusan dengan valuta asing. Terlalu sering berurusan dengan valuta asing di negara tempat traveling memang selalu identik dengan kerugian akibat nilai tukar kurs yang mini dan biaya komisi yang melambung.

 

[20150512]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s