Hidup dan konsep robot semesta

Memperdalam arti kehidupan membuat kita terkadang merasa geli, bingung, sekaligus takjub. Geli, ketika berpikir dan sadar bahwa apa yang kita jalani, katakan, rasakan, kenali, dan ungkapkan adalah buah automatisasi yang entah bagaimana, sanggup kita pelajari dengan menakjubkannya. Bingung, ketika mencoba mendalami “mengapa saya hidup”, “untuk apa saya hidup”, dan pertanyaan seputar itu, sampai kita terkekeh geli sendiri membayangkan mengapa manusia semua bentuknya seragam, punya bahasa yang sebagian kita mengerti tapi sebagian lagi tidak, punya wajah yang bisa bergerak-gerak, lalu mengapa ada meja, mengapa kita menamai benda itu meja, mengapa manusia mau berepot-repot bikin meja padahal entah untuk apa dia hidup, dan seterusnya. Takjub membayangkan bagaimana kita sanggup eksis tanpa bertanya, berimplementasi di dunia tanpa kesan canggung, padahal kebingungan kerap menghantui soal eksistensi kita.
Ketika manusia tak yakin, ia diajarkan kerap memohon petunjuk Yang Maha Kuasa. Konsep Yang Maha Kuasa tak dapat dijamah fisik manusia, namun sebagian besar manusia merasakannya secara mental. Sebagian lagi malah terus menuntut dan bertanya, apa sebetulnya substansi riil yang menghidupi kita? Benarkah rangkaian asam amino, monosakarida, dan asam lemak bisa menciptakan kehidupan semula jadi? Benarkah pula bahwa Dia Yang Maha Kuasa sanggup membalik telapak tangan dan terciptalah alam semesta semula jadi? Jika saya yang ditanyai demikian, jawaban saya adalah satu: Relatif. Tergantung dari mana kita memandangnya.
Tatkala ilmu pengetahuan tak sanggup menjelaskan mengapa kita ada, mengapa kita hidup, sebagian besar manusia akan lari ke soal keyakinan. Tatkala keyakinan tak demikian nyata menjawab rasa penasaran manusia soal mengapa kita ada, manusia sibuk mencari jalan penyelesaian lewat ilmu pengetahuan. Mungkin keduanya tak akan sanggup jalan bersama, karena memang keduanya berlawanan kutub. Namun kembali ke persoalan semula. Membayangkan makna hidup, bahwa kita ada di sini, sedang duduk, mengetik, menghadapi manusia lain… Menyadarkan kita bahwa kita hanyalah makhluk hasil automatisasi kombinasi pengetahuan dan metafisika. Kita dipaksa untuk mengabaikan itu. Salah satunya ataupun keduanya. Kita dipaksa untuk hanya memikirkan warna hidup, bukan esensi hidup. Kita dipaksa untuk menguasai keterampilan tertentu yang terkadang kita pun tak tahu apa gunanya. Ketika kita merenung, melihat ke sekeliling kita, dan berpikir mengapa saya hidup, mengapa begini, mengapa begitu… Maka kita tersadar kembali. Automatisasi.
Saat memikirkannya justru membuat kita tertawa sekaligus bingung, lalu kita tak paham mengapa kita terkurung dalam kehidupan yang entah mengapa harus dibatasi ini dan itu… Kita terdorong secara otomatis untuk kembali menjalani hidup bagaikan robot. Kini begini, besok begitu. Tujuan yang mau kita capai pun fana. Keyakinan seolah begitu nyata namun entah kita akan sampai ke sana atau tidak nanti, tak ada orang yang sudah ke sana dan kembali ke dunia untuk menceritakannya kepada kita, dengan jelas. Seolah, kita para manusia memang dilarang berpikir ke sana. Dilarang bertanya mengapa kita hidup, mengapa kita ada di sini, berwujud seperti ini, menjalani kenyataan begini… Dan tiap kita berpikir ke sana, ada mesin automatisasi itu, yang seolah melarang kita masuk dan menjaga kita agar kekal dalam kerobotan yang telah mendarah daging.
Entah mengapa, kita hanya menjadi robot di tengah ini semua.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s