Twivortiare (Ika Natassa, 2012)

Identitas Buku

Judul buku: Twivortiare
Penulis: Ika Natassa
Genre: Fiksi, metropop, dewasa
Ukuran: 13.5 x 20 cm
Tebal: 360 halaman
Terbit: Agustus 2012
Cover: Softcover
ISBN: 978-979-22-8674-8

 

 

 

 

Sinopsis Official

“Commitment is a funny thing, you know? It’s almost like getting a tattoo. You think and you think and you think and you think before you get one. And once you get one, it sticks to you hard and deep.”

Do busy bankers tweet? Yes, they do. Empat tahun setelah Divortiare, Alexandra membuka kembali hidupnya kepada publik melalui akun Twitter-nya @alexandrarheaw. Lembar demi lembar buku ini adalah hasil “mengintip” kehidupannya sehari-hari, pemikirannya yang witty dan sangat jujur, spontan, chaotic, dan terkadang menusuk, yang akhirnya akan bisa menjawab pertanyaan: “Dapatkah kita mencintai dan membenci seseorang sedemikian rupa pada saat bersamaan?”

Twivortiare adalah kisah klasik tentang cinta dan luka, terangkai dalam tweets, mentions, dan DM yang lahir lewat ujung-ujung jemari karakter-karakternya.

Resensi

Ika Natassa is back with her new book, still with her distinctive style!

  1. Kisah bankir wanita dan dilematika percintaannya.
  2. Gaya hidup hedonisme meluap di mana-mana.
  3. Bonus luberan istilah Inggris dalam obrolan berlabel metropolitan modern.

Twivortiare adalah lanjutan dari Divortiare. Para pembaca yang tidak suka buku Divortiare, seharusnya tidak lagi mengikuti perkembangan kisah para karakternya. Bisa karena muak, karena benci melihat naik turun hubungan yang amat dibuat-buat, atau perasaan sejenis itu. Tapi buat saya, yang sudah telanjur dapat tiga buku sekaligus (Divortiare, Twivortiare, dan Twivortiare 2) karena promo, membaca Twivortiare adalah tiga perempat keterpaksaan. Seperempatnya lagi adalah karena saya sedang latihan kebugaran dengan memaksakan diri membaca buku yang tidak sesuai genre favorit.

Kalau sudah pernah baca Divortiare, rasanya latar belakang kisah buku ini tidak usah dibahas lagi. Tapi kalau belum, ini ringkasannya: Alexandra, seorang banker workaholic dan bermasa depan karir yang cerah tapi kekanak-kanakan dan gampang merajuk, versus Beno, dokter bedah toraks kardiovaskuler (di mata orang awam medis dibaca: bedah jantung) yang lebih tua 8 tahun, tanpa ekspresi, tidak romantis, tapi sangat sopan dan baik hati. Mereka tadinya pasangan suami istri namun sudah bercerai setelah menikah 3 tahun. Di sini Divortiare bermula. Kemudian, Alex sempat didekati pria lain. Setelah rentetan beberapa kejadian terkait itu, Divortiare berakhir dengan ending terbuka yang melahirkan sejumlah spekulasi. Dua tahun kemudian, dimulailah kisah Twivortiare. Alexandra terlihat lebih bahagia sekarang, lebih matur (sedikiiiiit saja), dan… Nikmati saja.

Patut diakui bahwa Twivortiare menggunakan metode penulisan unik yang kreatif. Kala rakyat Indonesia mulai tergila-gila dengan (sekaligus menyalahgunakan) Twitter dan memakainya untuk ngobrol ketimbang berbagi berita atau info penting, Ika Natassa pun dengan kreatifnya memanfaatkan demam (abuse) Twitter ini dengan gaya penulisan novel yang superinovatif. Bayangkan saja usaha Ika dalam membuat account Twitter untuk Alex, untuk Wina sahabatnya. Cukup untuk membuat sejumlah pembaca sangsi bahwa buku fiksi yang mereka baca itu “jangan-jangan nyata?”. Tapi, saya sendiri merasa malah kisah ini jelas-jelas fiksi. Memangnya ada ya orang yang mau mengungkapkan hidupnya blak-blakan sekali lewat Twitter, meskipun Twitter-nya digembok? Lalu soal gaya tidur, berantem-berantem, ucapan orang lain… Waduh. Dengan logika sehat saja, Alex diceritakan supersibuk. Kok bisa-bisanya ngetwit paraphrase sepanjang itu sampai puluhan per hari? Tidak capek ngetiknya? Katanya lagi meeting? Ugh… Dan banyak hal tak masuk logika lainnya soal “kok Alexandra sempat ngetwit” itu.

Emosi yang dimasukkan ke tokoh-tokoh di dalam cerita ini, sebetulnya biasa saja, namun dengan jurus jitunya, Ika menggoreng sisi galau dari aspek emosionalitas karakter Alexandra, sisi “miss gossip” dari karakter Wina, dan sisi unromantic dari karakter Beno sedemikian rupa, alhasil pembaca pun mau tak mau dibuat penasaran. Habis ini karakter A bakal ngapain, B bakal ngapain, apa yang akan terjadi nih, dan sebagainya. Suka atau tak suka, rasa ingin tahu pembaca seolah dipaksa! Di sinilah saya harus mengakui kehebatan Ika. Karena saya yang sudah benci setengah mati dengan karakter Alex kalau sedang galau pun terpaksa dibuat penasaran! Namun, jika ada sensasi rollercoaster ketika membaca Divortiare, maka sensasi itu terasa agak berkurang di buku ini. Mungkin karena A dan B sudah belajar dari kesalahan mereka ketika zaman sebelum Divortiare.

Soal istilah Inggris yang sana sini bertaburan, saya sudah malas mengomentari. Sebetulnya tak sedikit kisah yang bisa dinikmati tanpa terlalu banyak menyelipkan istilah Inggris. Bahkan ketika kisah itu adalah tentang seseorang yang bersekolah atau bertempat tinggal di luar negeri (saya jadi ingat review buku Marga T dan buku Threes Emir yang sempat saya buat di blog ini). Toh buku ini bakal dikonsumsi orang Indonesia, yang lebih paham bahasa Indonesia daripada bahasa Inggris. Namun seperti halnya Dhonny Dirgantoro yang saya kenal lewat luberan musisi, judul lagu, dan lirik lagu dalam 5 cm, saya rasa ini adalah ciri khas penulisan cerita-cerita Ika (saya tidak bermaksud memaksa Ika untuk mengubah cara menulisnya. Tapi jujur saja saya merasa agak risih melihat luberan istilah yang menurut saya sudah kelewatan sok kebarat-baratan. Cuma, lama-lama jadi biasa dan saya malah capek hati sendiri sebelum sanggup merasa risih).

Kalau kalian kebetulan suka dengan buku ini, silahkan follow Twitter Alexandra. Twitter fiktif ini tertera kok di bukunya, bisa dicari sendiri. Saya bagaimana? Belum berminat.

Hingga ketika saya membaca ulang tagline “Mungkinkah kita mencintai sekaligus membenci seseorang secara bersamaan?”, saya menganggap tagline yang pas buat komentar saya adalah “Mungkinkah kita penasaran sekaligus membenci sebuah buku secara bersamaan? Ya! Buku inilah jawabannya. Saya benci buku ini, tapi penasaran pula dengan buku ini.”

Dan kalau ditanya apakah saya akan baca dan review Twivortiare 2, jawabannya: Tentu saja! Tapi, sabar ya…

 

My ratings

  • Story 6/10
  • Excitement 6/10
  • Readers grasp 8/10
  • Tagline association 7/10
  • Moral value 5/10
  • Personal Goodreads Rating 3/5
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s