Persuasi skala MLM

Apa hal pertama yang perlu dilakukan ketika seorang teman kita, entah itu teman socmed atau teman di mana pun, menawarkan suatu program dan mengajak kita ikut serta? Menyelidiki manfaat dari tawaran itu buat diri kita terlebih dahulu, atau menyelidiki dampak buruknya terhadap kita dahulu? Saya tentu memilih yang kedua: Dan pilihan ini sudah menghindarkan saya dari banyak jebakan yang mungkin mengubah hidup saya selamanya, jika saya tidak memilih untuk berpikir lebih kritis.
Saya pernah mendengar beberapa komentar orang di forum perihal gadget. [paraphrase] “…Sebelum membeli barang, apalagi barang mahal, orang akan cenderung cari kelebihan produk itu. Tapi sebaiknya, saran saya, kamu selidiki dulu kelemahannya, jangan kelebihannya doang. Apakah kamu bisa menerima kelemahan itu atau tidak, itu tergantung dari kamu-nya sendiri. Tapi sebelum memutuskan untuk membeli, cari dulu apa yang jelek dari suatu barang yang kamu incar…” Jangan ditanyalah siapa yang ngomong begitu dan kapan, saya tidak ingat lagi! Tapi pastinya saya mulai mencoba melaksanakan tips itu ketika ponsel sempat tiba-tiba rusak. Tidak cuma itu, saya pun mencoba mengaplikasikannya dalam beberapa hal lain, dan ternyata hasilnya pun sama buat saya: Kita bisa terhindar dari sesuatu yang tidak kita inginkan.
Kalau sudah ngomong soal menyelidiki-menyelidiki begini, pastilah tidak jauh dari MLM. Multilevel marketing, atau pemasaran multitingkat. Entah apa deh istilah Indonesianya, saya juga tidak tahu karena sejak berkenalan dengan sistem downline upline yang memusingkan itu saya sendiri pun tahunya cuma istilah MLM, tidak tahu istilah lainnya. Yang pasti, kalau dipikir 1000 kali pun, dengan logika sehat, MLM memang menjanjikan keberhasilan, namun ia pun menjanjikan kejenuhan. Kejenuhan di sini bukan berarti kebosanan lho, beda… Kejenuhan yang saya maksud adalah bahwa di satu titik MLM hanya akan mendatangkan keuntungan bagi para pemain lama, dan pemain baru hanya akan terjebak dalam jaringan yang tak kunjung menghasilkan manfaat, baik ke atas maupun ke samping.
Di tahun 2006, saya pernah ditawari untuk ikut MLM pembalut. Saya tidak tahu bagaimana kelanjutan MLM yang berdalih di balik keterkaitan pembalut dan kanker serviks, tapi yang pasti saya pernah dapat tawaran yang sama lagi di tahun 2010 (waktu itu yang datang ibu-ibu. Begitu dia menjelaskan konsep produknya dan saya tanya balik, malah gelagapan. Setelah saya ngotot tidak percaya konsep teorinya, dia malah langsung ambil langkah seribu). Kemudian di tahun 2014 (ini baru!) pernah ditawari juga untuk beli produk-produk MLM yang dalihnya bisa bikin langsing. Dan yang terbaru, ada salah satu teman yang sibuk mempromosikan “You ….. …. ….. (isi sendiri!)” di status-status socmed-nya.
Lantas kita menilik kembali aturan perusahaan (atau barangkali profesional lainnya). Karyawan biasanya selalu dilarang untuk berjualan barang yang tak berhubungan dengan pekerjaannya di lingkungan kantor, apalagi kalau dia berjualan di jam kerja. Atau kalangan profesional (karena ada teman sejawat yang main beginian juga, believe it or not), mereka pun bahkan dilarang mempromosikan produk merk tertentu. Sebagai contoh, dokter. Hal ini sudah lumrah dilarang demi kepentingan pasien, karena kalau dokter sudah “diarahkan” untuk meresepkan produk tertentu dari industri farmasi tertentu, yang terjadi adalah dokter itu akan cenderung terus meresepkan obat yang sama, padahal barangkali pasien tidak benar-benar memerlukannya. Maka dari itulah promosi seperti ini dilarang. Apalagi kalau yang dipromosikan adalah produk yang jelas-jelas tidak bakalan di-cover asuransi kesehatan, seperti susu formula atau suplemen/vitamin. Menurut saya, pengarahan seperti ini berlipat ganda “dosa”-nya. Yang pertama dosa karena memaksa pasien membayar produk yang mungkin tidak mereka butuhkan, padahal sudah jelas tidak di-cover asuransi kesehatan. Yang kedua dosa karena hal ini sama saja memanfaatkan ketidakpahaman pasien untuk mendatangkan keuntungan pribadi si dokter. 

Haduh, kenapa jadi bahas ini? Back to laptop.
Menghadapi orang-orang yang mencari jalan pintas penghasilan tambahan seperti itu, saya malah berpikir begini.

1. Kalau yang mempromosikan MLM adalah mahasiswa
*Mengelus dada sambil berpikir barangkali ia desperately butuh uang saku tambahan. Maklum, mahasiswa dituntut serbabisa, termasuk harus sanggup hidup dengan dana bulanan minimalis, tanpa boleh mengabaikan tugasnya dalam belajar.
*Tiga tahun kemudian setelah si mahasiswa itu lulus, saya terpancing pengen tahu bagaimana nasib MLM-nya. (Tapi saya tidak tahu cara bertanyanya bagaimana, karena katakanlah 100% dia gagal di MLM, terus bagaimana saya menanyakan hal buruk itu kepadanya, ada juga dia bakal lari dan gak mau kontak dengan saya lagi!)
2. Kalau yang mempromosikan MLM adalah profesional
*Bersyukur dulu: Gaji profesional itu pasti lebih besar. Tapi, sebegitu desperate-nya-kah dia butuh uang? Berarti, cara saya mengelola gaji masih lebih baik daripada dia.
*Setelah itu saya bertanya-tanya: Bagaimana cara tempat kerjanya mengizinkan dia jualan seperti itu? Lalu saya berkesimpulan, profesional ini pasti sangat oportunis.
*Lalu kebingungan penuh tanda tanya: Dia mengajarkan agar kita jangan mau jadi profesional lepas atau karyawan. Tapi kok dia berani mengajak berhenti jadi profesional padahal dia masih jadi profesional juga? Saya berpikir ada baiknya filosofi cermin diserantakan ulang. Termasuk ke sini.
3. Kalau yang mempromosikan MLM adalah karyawan:
*Pikiran pertama: Pasti ini orang yang gajinya kayak menstruasi. Saya maklum dulu, semua orang butuh uang untuk disimpan.
*Eh, ternyata dia bukan? Mungkin dia dipaksa keluarganya. Jangan negative thinking dulu.
*Ternyata keluarganya tiak memaksa dia juga? Waduh, berarti kita balik ke anggapan oportunisme tadi. Jangan-jangan orang ini oportunis juga. Tapi saya masih belum mau berpikir negatif. Siapa tahu saya butuh sesuatu dan saya bisa beli sama dia? Apalagi kalau dia ikut MLM dengan objek berupa barang yang kita butuhkan, kan seru. Kita bisa ikutan beli-beli
*Terus kalau semua-semuanya tidak memenuhi? Baca buku peraturan kantor kalau tidak percaya, semua kantor melarang itu kok! Jadi, apakah kita salah kalau kita seruduk?
Kita tentu sudah mengetahui bahwa MLM itu punya titik jenuh. Entah dari segi jumlah personel yang terjaring (atau terjebak, kalau menurut kamus saya), ataupun dari segi keterbaruan konsep produk. Saya sadar sepenuhnya bahwa Robert Kiyosaki tidak salah total, namun memercayai beliau tanpa bersikap kritis adalah kebodohan absolut. 
Lain kasus, saya tak habis pikir juga melihat rekan kerja yang notabenenya sudah menginjakkan kaki di kota di dunia sejumlah mungkin 3-4 kali lipat saya, tapi masih juga terpancing salah satu program MLM travel yang demikian sanggup membodohinya. Padahal, dia karyawan yang sudah cukup nyaman dengan posisinya, dan pekerjaannya sekarang pun sudah menjanjikan kemungkinan traveling yang luar biasa load-nya. Saya jadi berpikir ulang, demikian kecilkah gajinya sehingga dia butuh tambahan penghasilan sampai demikian putus asanya? Tak cukup puaskah dia keliling kota (dan dunia) sehingga dia butuh tambahan cap di paspor atau varian check in di Swarm-Foursquare atau Path-nya? Jika saya tidak pikir-pikir lagi sudah pasti saya block, tapi mau bagaimana…
Kita sulit menghindari orang-orang seperti ini di dunia kita sehari-hari. Mau damprat langsung tak enak. Mau diam saja, mengganggu dan tak enak dilihat.
Mungkin lebih baik adalah 3 diam. Diam-diam hide feed. Diam-diam dalam kepura-puraan saat dia mengontak. Dan diam-diam block jika benar-benar keterlaluan.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s