Sine Qua Non – Dancing with The Holy Spirit – 1964-2014 (Marga T, 2014)

Sine Qua Non – Dancing with The Holy Spirit adalah buku baru dari penulis legendaris Indonesia, Marga T., yang juga merupakan seorang dokter. Terkenal lewat cerita bersambungnya Karmila, yang ngetop di era 1970-an, buku ini merupakan penanda lima puluh tahun karir kepenulisan wanita yang tak lain merupakan keturunan Tionghoa ini. Lalu apa yang membuat buku ini menarik buat saya? Jujur hal pertama yang menarik buat saya, adalah sampulnya. LHO? Betul. Sampulnya itu kalau diperhatikan dengan baik ada bayangan kliping klasik. Ditambah pula ada embel-embel 1964-2014-nya. Wah, berarti ini buku kumpulan cerpen klasik? Seperti apa sih cerpen di masa 60-an hingga 80-an itu? Tentu saja saya penasaran, karena saya baru pertama kali baca cerpen di tahun 2000-an (sial, telat banget ya!?).

Lalu soal judulnya. Sine qua non artinya kira-kira “sesuatu yang wajib ada”. Arti harfiahnya adalah “tanpa itu, maka x bukanlah y”. Istilah ini berkenaan dengan semua ilmu, tidak hanya kedokteran. Jika istilah ini dipakai, berarti segala sesuatu itu bisa ditentukan sebabnya apa. Kalau melihat buku ini dan bagaimana kaitannya dengan judul, mungkin (mungkin loh ya) buku ini dinamai demikian karena karir kepenulisan Marga T. kurang lengkap tanpa adanya cerpen-cerpen ini.

Saya sendiri belum pernah baca satu pun buku Marga T. secara utuh, baru kali ini (Karmila pernah baca, tapi tidak utuh. Ujung-ujungnya baca sinopsisnya saja. Ugh, maaf). Ada tujuh belas cerita pendek, sembilan lokal, dan delapan sisanya dimuat dalam dua bahasa (Indonesia dan Inggris). Soal makna kalimat ujungnya, Dancing with The Holy Spirit… Bisa dibaca di cover belakang bukunya.

Meskipun bagi saya sederhana temanya dan sebagian agak kurang relevan lagi dengan abad modern (karena kebanyakan kisahnya dimuat di tahun 1964 sampai 1980-an; sehingga ada aspek ilmu kedokterannya yang sudah tidak cocok dengan zaman sekarang), tapi cerita-cerita dalam buku ini cukup menarik jika disimak kembali dan ditarik hikmahnya di era 2010-an. Marga memang menekankan beberapa hal dalam cerita-ceritanya, berikut beberapa hal yang bisa saya simpulkan:

  1. Kesederhanaan nama tokoh. Kontras dengan penulis masa kini yang biasanya menggunakan nama aneh-aneh sekaligus bernuansa luar negeri untuk karakternya, di era 1960-an sampai 1980-an (setidaknya dari cerpen-cerpennya saja), Marga konsisten dengan nama sederhana. Semisal “Susi” dan “Anna” untuk wanita, dan “John” dan “Budi” untuk pria. Karakter orang asingnya pun ada yang dibuat tanpa nama, seperti di cerita Ketika Waktu Membeku. Karakternya tanpa nama, tapi mudah diingat pembaca.
  2. Tema utamanya adalah “ketulusan hati dan kebaikan akan mengalahkan prasangka buruk”. Terkecuali Dalam Ruang Tunggu yang menurut saya kelewat modern untuk zamannya (salut buat Ibu Marga yang bisa berpikir ke sana di zaman itu!), Seven O’clock Sharp, dan When Aurora Shines No More, yang saya rasa agak nyeleneh dari cerita-cerita lainnya; hampir semua cerita dalam buku ini berpusat pada tema utama itu.
  3. Gaya penulisan yang “Indonesia banget”. Marga sama sekali tidak menonjolkan urusan kebarat-baratan meskipun sebagian cerpennya dibuat pertama kali dalam bahasa Inggris. Sekali lagi, ini membedakan beliau dengan penulis-penulis masa kini yang kerap memasukkan unsur barat (beberapa penulis bahkan sampai berlebihan) dalam tulisannya.

Favorit saya yang mana? Kalau ditanya begitu, saya memilih seksi yang terpanjang: Secercah Sinar Pagi. Cerita ini satu-satunya nonfiksi dalam buku ini karena dibuat berdasarkan pengalaman pribadi beliau saat menempuh pendidikan dokter, tapi cukup mengena kepada gambaran perjuangan calon-calon dokter di masa lalu; di mana mereka para mahasiswa FK swasta masih harus menghabiskan waktu lebih dari 10 tahun untuk mendapatkan gelar dokter umum saja, dan sebagian besar dari mereka barulah bisa jadi dokter di usia kepala tiga. Para dokter zaman sekarang seharusnya bersyukur bisa menyandang gelar dokter di umur 23. Soal si pasien yang diceritakan, kita bisa membatin sendiri betapa majunya bidang kedokteran dalam hanya selang empat puluh tahunan. Dan tentunya cerita ini sungguh menginspirasi untuk melihat bagaimana zaman telah berubah!

Sebagai penutup, buku ini bisa saya katakan patut direkomendasikan. Terutama jika kalian ingin mencoba mengeksplorasi pemikiran klasik untuk keruwetan permasalahan masa kini, buku ini cocok dijadikan refleksi perubahan zaman.

Rating:
Story 7/10
Excitement 6/10
Readers grasp 7/10
Tagline association 6/10
Moral value 7/10

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s